MasukEsme menerima ponsel Noe dan menyapa Jason dengan acuh tak acuh. “Hai, Tuan Jason Hall.”
Suara tenang dan santai terdengar tajam di ujung telepon. Meskipun Jason sangat yakin ini adalah bagian dari trik-nya, dia mengakui kemampuan Esme ini membuatnya merasakan kejutan terus menerus. “Esme Andreas, trik apalagi yang akan kau mainkan sekarang?” Dia cukup murah hati untuk memberikan Esme lima puluh juta dolar dengan apartemen kelas atas, tapi Esme masih berpikir jika itu belum cukup. “Kau berpikir aku sedang bermain trik denganmu?” Esme menertawakannya. “Tuan Jason Hall, Anda terlalu berharga untuk diri sendiri.” “Esme Andreas!” Satu kali dihina oleh Esme, dan sekarang untuk kedua kalinya. Jason Hall merasa sangat kesal. “Ubah perjanjian distribusi aset, dan semua akan berjalan lancar.” Sudut bibir Jason melengkung dengan ekspresi mengejek. “Bagaimana kau ingin itu diubah?” “Aku ingin sepuluh persen dari saham Hall Industry dan vila keluarga Hall di sungai selatan. Juga, kau harus menyetor seratus juta ke dalam akunku.” Saat mengatakan semua ini, nada Esme dibuat seolah semuanya itu bukan apa-apa. Tapi di belakangnya, Emilia dan Noe hampir jatuh karena keterkejutan mereka. Vila dan uang memang bukan masalah, yang mengejutkan adalah sepuluh persen saham dari Hall Industry. Dalam hati Noe mengungkap kekecewaannya pada Esme. Apakah dia sedang mencoba merampok seseorang? Mendengar ini, kemarahan menjalar di sekujur tubuh Jason. Suaranya sedingin es saat dia memperingatkan, “Esme Andreas, kau menempatkan dirimu di atas tumpuan tinggi. Apakah kau berpikir dirimu itu sangat berharga?” “Ini bukan mengenai harga diriku dengan sebanyak apa yang aku minta. Ini tentang dirimu. Jika kamu merasa ini sepadan, maka tuliskan sesuai dengan apa yang aku katakan. Jika tidak, maka itu juga baik. Aku akan berpura-pura tidak pernah melihat dokumen ini dan tentu aku tidak akan melakukannya.” Esme tertawa halus dengan santai. Kekesalan Jason terus meningkat. Dari nada yang diucapkan Esme, seolah-olah dia tidak merasa bersalah sama sekali. “Kau tahu, aku punya metode untuk membuatmu merasa bersalah.” “Oke. Aku menunggumu untuk memamerkan metode itu sebelum kita membahasnya lebih lanjut.” Esme tidak mengakhiri panggilan. Sebaliknya, dia memberikan ponsel itu pada Noe dengan berkata, “Ambil ponselmu dan keluar dari ruangan ini. Jangan muncul di depanku. Menyebalkan!” Dan kata-kata itu sepenuhnya dikirim ke telinga Jason Hall. Kerutan di dahi Jason menjadi lebih buruk dan menyeramkan. Apa yang baru saja dia dengar? Esme kesal pada Noe? Dia mengusir Noe juga? “Direktur Hall, apakah Esme menolak untuk memberikan tanda tangannya?” Layla mengintip ke arah Jason dan bertanya dengan hati-hati. Jika melihat ekspresi Jason saat ini, bahkan orang lain pun akan berusaha bernapas tanpa suara. Pandangan Jason terangkat pada Layla tanpa ekspresi. Tangan kekarnya itu melewati desain sketsa Layla dan dia menyandar ke belakang. Jason sepenuhnya mengabaikan pertanyaan wanita itu. “Desain ini cukup bagus. Seharusnya tidak akan jadi masalah untuk memasuki kompetisi mode tahun ini.” Layla menerima desain sketsanya dengan menunjukkan kekecewaan. “Terima kasih. Selanjutnya saya akan kembali untuk menyiapkan sampel produk.” “Hm.” Jason hanya membalasnya dengan satu suku kata, lalu mengalihkan pandangannya lagi untuk mengambil dokumen lain dan mulai membaca serius. Seorang pekerja yang serius adalah makhluk yang paling tampan. Selain itu, Jason tampak sangat mempesona saat melakukannya. Ya, walaupun yang dia lakukan hanya diam dan membaca saja. Bahkan saat pria itu bernapas tanpa melakukan apa-apa, dia terlihat begitu mulia. Adegan ini membuat Layla tidak bisa melepas pandangannya. Beberapa menit kemudian, Jason sadar dan mengangkat pandangannya pada Layla. “Kenapa kau masih ada di sini?” Dan kembali membaca dokumennya lagi tanpa melihat Layla lebih lama. Layla mengerjap. Rasa kehilangan muncul di kilatan matanya sebelum dua berdiri untuk meninggalkan ruangan Presiden. Setelah Layla pergi, kepala Jason terangkat menatap langit. Matanya almondnya menyipit menjadi garis lurus. Sepuluh persen dari Hall Industry? Teruslah bermimpi! Memiliki sepuluh persen saham, hanya satu bulan deviden sudah cukup untuk menghabiskan seumur hidup. Wanita ini benar-benar meminta langit! ...... Setelah tinggal selama dua hari di rumah sakit, akhirnya Esme mendapat izin untuk pulang. Dia dengan Emilia memanggil taxi lalu pulang ke vila keluarga Hall. Meskipun Jason tidak pernah mencintainya dan tidak pernah menginginkan dia pulang, Esme akan selalu pulang setiap malam ke sana. Begitu mereka tiba, Esme berdiri mematung di ruang tamu, mengamati vila mewah ini dengan kerutan tipis di dahinya. Mengapa dia menginginkan vila ini tadi pada Jason? Karena vila ini berharga? Tidak. Karena di sinilah pemilik tubuh yang asli pertama kali bertemu dengan Jason. Meskipun saat ini dia hanya memakai tubuh pemilik asli dan menjalani kehidupannya sendiri, dia tetap tidak bisa mengabaikan hal-hal yang menurut pemilik tubuh asli sangat berharga. Jika tidak, dia tidak akan mungkin menambahkan vila keluarga Hall dalam perubahan pendistribusian aset. Emilia menghampiri Esme dengan senyuman lalu berkata, “Nona, sebaiknya Anda naik dan beristirahat. Saya akan pergi untuk menyiapkan makanan.” Melihat Emilia yang tidak pernah berhenti melayani tapi masih begitu sabar padanya, pikiran Esme jadi terganggu. Ingatan yang dia warisi dari pemilik tubuh asli adalah potongan-potongan intermittent. Dia secara alami tidak tahu segalanya. “Apa tidak ada pelayan lain di vila sebesar ini? Kau sudah bekerja keras tanpa istirahat untuk menjagaku. Kau juga perlu istirahat, Emilia.” Emilia terkejut sesaat mendengar pertanyaan Esme, kemudian dia menjawab, “Nona, Anda memecat semua pelayan di vila ini. Apakah Anda tidak ingat?” Sekarang Esme yang terkejut dengan dirinya sendiri. Wajah Esme mengerut semakin dalam. Dia berusaha untuk mendapatkan ingatan pemilik tubuh asli apa yang telah dia lakukan di masa lalu. “Sebelumnya ada lima pelayan yang bekerja di vila ini. Mereka semua muda dan cantik.”Sekarang Esme sudah memahaminya tanpa dia mengingat lebih jauh. Hal itu sudah jelas dengan sikap pemilik tubuh asli sebelumnya. Hanya mendengar kata ‘muda dan cantik’ dia sudah bisa menggambarkan apa yang terjadi di sini.
“Aku tahu.” Esme tiba-tiba memotong ucapan Emilia. Pada dasarnya dia sendiri pun merasa geli melihat kelakuan pemilik tubuh asli ini dalam ingatannya. Dan sekarang, setelah wanita itu mati, dia yang harus menanggung dan membereskan kekacauannya. Pemilik tubuh yang asli adalah orang yang keras kepala, dan menjadi lebih buruk setelah menikah dengan Jason. Dia selalu memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal, merusak ketenangan dan meningkatkan kecemburuannya. Setiap wanita muda yang ‘berdengung’ di sekitar Jason, dia akan berharap bagi mereka untuk pergi dan mati lebih cepat. Jason memang tidak mencintainya, tapi Jason selalu kembali ke vila setiap malam setiap harinya. Jadi pemilik tubuh asli tidak bisa mentolerir jika ada wanita muda yang cantik di sekitarnya meskipun itu hanya pelayan. Sehingga dia memecat mereka semua. Semua pekerjaan rumah tangga di vila sekarang benar-benar dilakukan oleh Emilia seorang. “Saya akan pergi untuk membuat sesuatu yang bisa Anda makan.” Emilia membungkuk lalu berbalik menuju dapur. Melihat punggung Emilia, dia merasa bersalah. Setelah makan siang, Esme pergi ke kamar dan berbaring di tempat tidur ukuran besar. Saking besarnya, tubuh Esme terlihat menciut di tengah-tengah. Tatapannya lurus menatap langit, membayangkan banyak hal. Tiba-tiba datang di zaman ini, melintasi waktu, dia merasa bukan berada di tempatnya, bahkan pada saat ini. Apa yang ada di sektarnya sangat-sangat baru baginya. Jika bukan karena merasuki tubuh wanita lain, dia pasti akan menjadi orang bodoh di zaman ini. Mungkin orang juga akan mengatakannya idiot. Lalu, dia memutar ingatan pemilik tubuh asli.Meskipun dia putri keluarga Andreas, tapi dia tidak lebih dari seseorang yang menyedihkan. Ibunya―Alma Laurance adalah seorang penyanyi bar. Dia sendiri lahir di luar nikah.
Alma meninggal saat dia berusia lima tahun. Pada saat itulah Adam Andreas membawanya kembali ke keluarga Andreas.Dan di sana, dia harus menghadapi penghinaan konstan dari Ibu tirinya. Sebenarnya Esme sama sekali tidak menyukai keluarga itu. Dia juga bukan wanita manja yang bandel.
Apa yang dia lakukan sebenarnya hanya sebagai bentuk balasan jika Ibu tirinya memarahi dia dan terkadang sampai memukulnya. Dia tidak mengerti mengapa orang di luar sana memberikan stempel padanya jika dia adalah wanita yang manja dan susah diatur. Namun, semua ini tidak lagi penting. Saat ini, dia harus memikirkan cara agar dia bisa menjalani kehidupannya tanpa menahan diri dan berbahagia dengan dirinya sendiri.Menurut tingkat kebencian Jason pada pemilik tubuh yang asli, pria itu pasti menceraikannya.
Esme berbalik, menyesuaikan posisinya dengan tempat tidur sebesar itu. Rasanya begitu nyaman dan empuk. Dia percaya jika Jason Hall menceraikannya, keluarga Andreas pasti tidak akan mengizinkannya masuk walau sejengkal saja. Sedangkan reputasinya di kota Ford ini sudah ternoda. Tidak akan mudah untuk mencari pekerjaan yang baik. Itu sebabnya dia meminta Jason memberikannya kompensasi dalam jumlah yang begitu banyak. Selain sikap Jason yang sudah sangat buruk pada pemilik tubuh asli, itu juga sebagai jaminan kesejahteraannya. Dia telah meminta sepuluh persen perusahaan keluarga Hall. Itu bukan hanya perkara uang, tapi itu juga demi sisa rasa cinta pemilik tubuh asli pada Jason. Namun, Jason tentu saja tidak akan setuju untuk memberikan sepuluh persen saham perusahaan padanya. ***Selama sebulan setelah kematian Seth, hidup Jason seperti berhenti bergerak.Bukan hanya karena ia kehilangan seorang sahabat—satu-satunya orang yang ia percaya sepenuh hati—tetapi karena sesuatu di dalam dirinya ikut mati bersamanya.Rumah terasa kosong. Ruang kerja terasa asing. Bahkan napasnya sendiri terkadang terasa berat, seolah ia sedang hidup dengan tubuh yang bukan miliknya.Jason menjadi semakin bungkam.Malam-malamnya lebih sering dihabiskan di bar. Duduk sendirian, menatap gelas tanpa benar-benar minum, membiarkan waktu mengalir tanpa makna. Cahaya lampu yang redup, musik pelan, dan suara orang-orang yang tertawa samar justru membuat kesunyian di dadanya semakin nyaring.Noe beberapa kali mencoba mendekat.Awalnya dengan secangkir kopi. Lalu dengan laporan. Hingga akhirnya hanya dengan duduk diam di seberangnya. Namun setiap kali Noe membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar formalitas, Jason menatapnya dingin.“Keluar,” katanya singkat.Noe tidak lang
Satu bulan setelah kematian Seth.Esme tinggal di sebuah vila putih di dekat pantai, jauh dari hiruk-pikuk kota. Tempat itu tenang. Debur ombak terdengar teratur, angin asin menyentuh kulit, dan matahari sore selalu jatuh miring ke teras kayu dengan warna keemasan yang lembut. Vila itu bukan pilihannya. Itu pemberian Nyonya Jier.“Setidaknya tinggallah di sini,” kata wanita itu waktu itu, dengan nada yang tidak memberi ruang penolakan. “Aku ingin bisa menemuimu kapan pun.”Ia memintanya tinggal bersama Emilia. Ia juga meminta sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar vila.Memanggil dia dengan sebutan Ibu, menerimanya sebagai Ibunya, karena Nyonya Jier menyayanginya. Terlepas dari siapa dia sebenarnya.Dan Esme … tidak menolak.Selama sebulan itu, Esme memang hidup.Ia tercukupi. Tidak ada yang kurang. Ia tidak perlu bekerja, tidak perlu memikirkan uang, tidak perlu memikirkan apa pun yang bersifat duniawi. Pelayan tersedia. Makanan selalu tersaji hangat. Emilia ada di sisinya setiap
Nyonya Jier mengusap wajahnya yang basah. Napasnya masih tersengal, tapi ia memaksa dirinya bicara dengan lebih stabil.“Tidak apa-apa jika kau tidak memaafkanku,” katanya lirih. “Aku pantas menerima itu.” Ia menatap Esme dengan mata yang penuh harap dan takut sekaligus.“Tapi … jangan diam seperti ini. Jangan menatapku seolah aku orang asing. Setidaknya—katakan sesuatu padaku. Apa kau akan pergi? Kenapa kau membawa koper? Kenapa kau meninggalkan suamimu?”Mobil kembali tenggelam dalam keheningan.Beberapa detik berlalu. Lama.Lalu Esme akhirnya berbicara.Ia tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, menembus kaca jendela, seolah kata-kata itu tidak diarahkan pada Nyonya Jier, melainkan pada dunia yang sudah terlalu kacau untuk dipahami.“Saya minta maaf,” ucapnya pelan. Suaranya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pengakuan yang akan menghancurkan segalanya. “Tapi saya memang tidak bisa merespons seperti yang Anda harapkan.”Nyonya Jier menegang.“Saya … bukan Esme Andreas.”Kalimat i
Esok itu, vila Jason dipenuhi kesedihan yang pekat, seperti udara dingin yang tak terlihat namun menekan dada siapa pun yang berada di dalamnya.Tidak ada suara yang benar-benar keras, tidak ada tangisan yang meledak, namun setiap sudut vila seakan menyimpan duka yang mengendap, lama, dan tak terucap.Esme mengemas barang-barangnya dengan tenang. Terlalu tenang, justru itulah yang membuatnya terasa menyakitkan. Setiap pakaian dilipat rapi, setiap benda kecil dimasukkan ke dalam koper tanpa ragu, seolah ia telah membuat keputusan itu jauh sebelum pagi ini tiba.Emilia berdiri di ambang pintu, memperhatikannya tanpa berani mendekat. Ia tidak benar-benar tahu apa yang terjadi antara Tuan Muda dan Nona Muda-nya.Namun satu hal bisa ia lihat dengan jelas—kesedihan di wajah Esme hari ini jauh lebih dalam dari apa pun yang pernah ia saksikan selama bertahun-tahun mengabdi di sisinya. Kesedihan yang tidak menjerit, tidak memohon, hanya diam… dan itu justru paling melukai.Dengan suara pelan n
Buku catatan itu terasa lebih berat dari yang terlihat.Tulisan tangan memenuhi hampir setiap halaman.Rapi. Tegas. Namun di beberapa bagian, goresannya terlihat lebih dalam, seolah pena itu ditekan dengan emosi yang tidak bisa diredam. Di sela-sela tulisan, ada halaman-halaman yang tidak berisi kata-kata sama sekali—hanya gambar.Wajahnya.Digambar dengan tangan. Berkali-kali. Dari berbagai sudut. Ada yang hanya garis tipis, ada yang begitu detail hingga sorot matanya terasa hidup. Tidak satu pun terlihat dibuat tergesa-gesa.Esme menatap gambar-gambar itu lama.Selama ini, ia hidup dengan satu keyakinan yang tak pernah ia goyah.Bahwa Dong Fang Xuan adalah kaisar paling kejam yang pernah ia kenal.Ia menemaninya ke medan perang. Berdiri di sisinya saat darah dan mayat menumpuk. Namun setelah kemenangan diraih, Dong Fang Xuan justru membunuh sembilan koneksi keluarganya—satu demi satu—seolah ingin memutus seluruh jalan pulang baginya.Ia percaya Dong Fang Xuan membencinya.Ia percaya
Langit hari itu kelabu, seolah tahu siapa yang sedang mereka antar pulang.Pemakaman Seth digelar dengan kehormatan penuh—bukan sebagai seorang prajurit yang gugur di medan perang, melainkan sebagai putra dari seorang jenderal besar, dan sebagai pria yang namanya dikenal luas di lingkaran kekuasaan, bisnis, dan keluarga-keluarga berpengaruh.Deretan mobil hitam memenuhi area pemakaman. Pelat nomor khusus. Pengawalan resmi. Bendera setengah tiang berkibar pelan tertiup angin. Para perwira tinggi, mantan jenderal, tokoh pemerintahan, pengusaha besar, hingga orang-orang yang tak pernah muncul di hadapan publik, berdiri dalam diam yang sama—sunyi, tertunduk, dan penuh hormat.Tidak ada bisik-bisik.Tidak ada tatapan ingin tahu.Semua yang hadir tahu, kematian Seth bukan kematian biasa.Peti jenazahnya terbuat dari kayu gelap, dipoles rapi, dikelilingi karangan bunga yang terlalu banyak untuk dihitung. Namun tak satu pun bunga itu mampu mengimbangi beratnya kehilangan yang menggantung di u







