Se connecterBaru saja Jessica hendak membalikkan badan untuk kembali ke kamarnya, suara deru mobil mewah terdengar berhenti tepat di halaman. Tak lama kemudian, pintu besar utama terbuka tanpa diketuk.
Seorang wanita dengan kacamata hitam besar, gaun ketat yang mencolok, dan sepatu hak tinggi melangkah masuk dengan anggun. Di belakangnya, seorang sopir tampak kepayahan mengangkut tiga koper besar bermerek luar negeri.
Itu Erika.
Jessica menghentikan langkahnya, berdiri mematung di ujung koridor sambil melipat kedua tangan di dada.
Erika menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Jessica dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara.
"Kenapa menatapku seperti itu, Jessica? Terkejut?" cibir Erika sambil melepaskan kacamata hitamnya. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di sini. Menemani Morgan-ku tercinta agar dia tidak bosan setengah mati melihat wajah kunomu setiap hari."
Jessica menarik napas dalam-dalam, menahan rasa jijik yang menggelitik dadanya. "Tinggal di sini? Kau benar-benar tidak tahu malu!”
“Malu? Kenapa aku harus malu? Morgan mencintaiku, tapi tidak mencintaimu. Justru kaulah yang seharusnya malu berlaga jadi Nyonya rumah padahal kau tidak diinginkan!”
Belum juga Jessica menjawab, Erika langsung melangkah pergi sambil menyenggol bahunya Jessica. “Awas! Menghalangi jalan saja!”
Jessica benar-benar kesal melihat kelakuannya Erika.
Pak supir yang membawa barang buru-buru mengikuti Erika yang langsung naik tangga. “Nona, koper ini disimpan dimana?”
“Tentu saja di kamarnya Tuan Morgan, dimana lagi?” bentak Erika, kesal.
Mendengar itu, Jessica benar-benar marah, diapun menyusul pak supir yang sedang menaiki tangga, lalu merebut kopernya dilempar ke bawah.
Brak! Brak! Koper itu berguling akhirnya jatuh ke lantai menimbulkan suara yang nyaring.
“Eh Nyonya!” Pak Supir tampak kaget tidak menyangka kalau Jessica akan melakukan itu.
Erika menoleh mendengar suara benda jatuh dan langsung terbelalak saat melihat kopernya berantakan ada dilantai bawah tangga.
Diapun menoleh pada Jessica dengan mata yang melotot. “Kau! Berani sekali kau!” bentaknya, lalu menoleh keatas dan berteriak.
“Sayang! Sayang! Sayang Morgan!” teriaknya dengan kencang, membuat Morgan terburu-buru menghampiri arah suara.
“Sayang, ada apa?” tanya Morgan, setengah berlari. “Kau sudah datang?”
Erika langsung merajuk manja membuat Jessica muak melihatnya. “Koperku, Sayang. Koperku, kau lihat itu?” Erika menunjuk kopernya.
“Koper? Ada apa dengan kopernya?”
“Koperku dilempar wanita itu!” Erika menunjuk Jesssica.
Morgan langsung melotot menatap Jessica. “Kau, beraninya kau!”
Jessica malah melipat kedua tangannya bersikap masa bodoh.
“Erika wanita yang aku cintai, seharusnya kau hormat padanya!”
Jessica langsung melotot mendengar perkataannya Morgan. “Menghormati? Apanya yang dihormati? Wanita itu tidak tahu diri mau menaruk kopernya di kamarmu!”
Morgan segera turun menghampiri Jessica. “Memangnya kenapa? Hah? Memangnya kenapa?”
“Memangnya kenapa? Itu bukan kamarmu saja, tapi kamarku juga!” Jessica balas berteriak.
“Huh, mimpi! Ngaku-ngaku! Mulai sekarang, kau keluar dari kamarku! Kemasi barangmu!”
Jessica mengernyitkan dahinya. “Boleh saja, aku tinggal video call dengan Kakek didalam kamar yang bukan kamarmu.”
Morgan kesal mendengarnya, dia takut kalau dilaporkan pada kakeknya. Diapun menoleh pada Erika.
“Sayang, kau tinggal di kamar tamu saja.”
Erika terbelalak marah. “Kok di kamar tamu?”
Melihat kekasihnya yang marah, Morgan kembali menaiki tangga dan langsung menggenggam tangannya Erika. “Kau tenang saja, meskipun kau tinggal di kamar tamu, aku akan selalu menemanimu.”
Marah Erika langsung hilang, senyum mengembang dibibirnya. “Sayangku, aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga.” Merekapun saling berciuman membuat Jessica semakin sebal saja. Untung saja dia tidak ada rasa pada Morgan, kalau tidak, dia akan sakit hati dan pastilah sangat menderita melihat suami sendiri dengan teganya bersikap seperti itu dengan kekasihnya alias selingkuhannya.
Jessicapun memilih pergi ke ruang keluarga, lalu duduk dengan lesu. Rumah ini benar-benar telah berubah menjadi medan perang
**
**
**
Kamar Tamu.
Erika membongkar isi kopernya, mengeluarkan kotak kosmetiknya.
“Sayang, untuk menyambut kedatanganku ke rumah ini, bagaimana kalau nanti malam kita undang teman-teman untuk berpesta?” usul Erika.
“Boleh, aku setuju!” seru Morgan.
“Dan untuk membalas kelakukan pelayan itu, bagaimana kalau kita suruh dia menyiapkan makanan untuk pesta? Kita bisa meminta pelayan lain untuk tidak membantunya. Bagaimana?”
Morgan semakin setuju saja, dia memang ingin membuat Jessica kesal terus, karena gara-gara Jessica, dia tidak bisa menikahi Erika.
“Aku sangat setuju. Pelayan akan kembali jadi pelayan.”
Erikapun tersenyum senang. “Baiklah, aku akan segera memberitahukan tugas barunya itu. Kau istirahat disini saja, Sayang.”
Erika mengecup Morgan lalu melangkahkah kakinya keluar dari kamar itu. Diapun mencari Jessica yang ternyata ada diruang membaca sedang membaca tabloid.
“Hemmm, sepertinya ada pelayan yang lupa tugasnya. Bukannya bersih-bersih malah santai-santai saja membaca di ruang baca,” ucap Erika, menghampiri Jessica.
Jessica malah beradu mulut dengan Erika, dia mengabaikannya dan tetap membaca.
Erika kesal melihatnya, lalu berjalan cepat menghampiri Jessica lalu membungkuk dan berteriak sekeras-kerasnya ditelinga Jessica. “Woy! Dengar aku tidak?”
Jessica tidak menyangka Erika akan melakukan itu, sangat terkejut karena telinganya jadi sakit, diapun menutup tabloidnya dengan keras, lalu mendongak menatap Erika yang senyum-senyum.
“Apa yang aku lakukan, bukan urusanmu!” bentak Jessica.
“Bukan? Tentu saja itu urusanku karena sekarang aku tinggal disini. Aku adalah wanita yang dicintai pemilik rumah ini jadi aku bebas melakukan apa saja.”
Jessica langsung bangun. “Malas meladenimu!” Diapun beranjak pergi.
Erika langsung berteriak. “Nanti malam akan ada pesta, siapkan makan malam yang enak untuk kami!”
Jessica menghentikan langkahnya dan berbelik menghadap Erika. “Apa? Pesta?”
“Ya, pesta menyambut kedatanganku ke rumah ini. Jumlahnya sekitar 10 orang.”
“Kau pikir aku mau melakukan itu semua? Kerjakan saja sendiri! Aku bukan pelayanmu!”
Erika semakin kesal karena ternyata Jessica tidak menurut padanya. Sepertinya Jessica benar-benar sok jadi Nyonya rumah.
“Kau harus mau atau Morgan akan marah padamu! Ingat, disini tidak ada yang akan membelamu!”
“Coba saja kalau berani!” Jessica kembali mengabaikan Erika lalu pergi.
Erika menghentakkan kakinya dengan kesal. “Kau benar-benar mengesalkan!”
**
**
**
Erika pergi ke kamarnya dan melihat Morgan yang sedang tiduran bersantai. Dia tidak pergi ke kantor, karena hari ini masih jadwal cutinya yang seharusnya berbulan madu.
“Sayang, wanita itu benar-benar keterlaluan!”
Morgan langsung bangun. “Keterlaluan kenapa?”
“Masa dia tidak mau memasak untuk acara pesta kita? Sepertinya kau harus lebih keras padanya supaya dia menurut.”
Morgan garuk-garuk kepalanya, merasa sudah lelah. “Sudahlah, lebih baik kita telpon teman-teman kita untuk berkumpul nanti malam.”
“Huh, ini nih, kau terlalu mengalah.”
“Bukan mengalah, tapi dia bisa mengadu pada Kakek, lebih baik kita focus pada warisan itu. Aku harus segera mendapatkan warisan kakek.”
Mata Erika langsung berbinar, lalu mendekati Morgan yang langsung memeluknya. “Apa kau punya ide?”
“Tentu saja. Dan aku pastikan wanita itu tidak bisa lolos lagi.”
****
Malam harinya, rumah megah keluarga Morgan berubah riuh. Morgan sengaja mengundang teman-teman dekatnya untuk berpesta di taman depan rumah. tersebut. Erika duduk manja di pangkuan Morgan, berlagak seolah dialah sang ratu semalam.Namun, di tengah keriuhan itu, beberapa teman Morgan mulai bertanya-tanya."Eh, Morgan! Mana istrimu? Bukannya katamu akan bergabung?" tanya salah satu temannya, memancing perhatian yang lain.“Iya, kami ingin segera melihatnya. Seperti apa dia sampai kau menolaknya?”Erika langsung tersenyum sini. “Lihat saja nanti.”Morgan merogoh ponsel di saku jasnya. Dia melangkah sedikit menjauh dari kerumunan, lalu menghubungi nomor Jessica.Di ruang membaca, Jessica sedang duduk tenang membaca buku. Dia sengaja menyalakan musik klasik kecil untuk meredam kebisingan pesta di depan. Begitu layar ponselnya menyala menampilkan nama Morgan, Jessica menggeser tombol hijau dengan malas."Halo?" ucap Jessica dingin."Heh, pelayan! Ke mana saja kamu?! Cepat keluar ke taman de
Baru saja Jessica hendak membalikkan badan untuk kembali ke kamarnya, suara deru mobil mewah terdengar berhenti tepat di halaman. Tak lama kemudian, pintu besar utama terbuka tanpa diketuk.Seorang wanita dengan kacamata hitam besar, gaun ketat yang mencolok, dan sepatu hak tinggi melangkah masuk dengan anggun. Di belakangnya, seorang sopir tampak kepayahan mengangkut tiga koper besar bermerek luar negeri.Itu Erika.Jessica menghentikan langkahnya, berdiri mematung di ujung koridor sambil melipat kedua tangan di dada.Erika menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Jessica dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara."Kenapa menatapku seperti itu, Jessica? Terkejut?" cibir Erika sambil melepaskan kacamata hitamnya. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di sini. Menemani Morgan-ku tercinta agar dia tidak bosan setengah mati melihat wajah kunomu setiap hari."Jessica menarik napas dalam-dalam, menahan rasa jijik yang menggelitik dadanya. "Tinggal di sini? Kau benar-benar tidak tahu malu
Jessica benar-benar shock, baru sehari menjadi istrinya Morgan, begitu banyak hal yang sangat menakutkan yang dialaminya.Morgan semakin kencang mencengkram lehernya Jessica. “Aku tidak main-main dengan ucapanku! Lakukan apa yang aku minta atau kau tidak akan bisa melihat matahari lagi!”Napas Jessica tersengal. Cengkeraman Morgan di lehernya kian mencekik. Namun, alih-alih menangis ketakutan, mata Jessica justru menyalang tajam, menatap langsung mata suaminya."Lepas ...," bisik Jessica parau."Ingat posisimu! Kau bukan siapa-siapa tanpa kakekku. Kalau kau tidak bisa berguna untuk mendapatkan warisan itu, kau tidak ada harganya di sini!"Dengan sisa tenaga, Jessica menampar menepiskan tangannya Morgan yang melemah.Jessica tersenyum sinis. "Menyuruhku hamil dengan pria lain demi ambisimu? Kau menjijikkan. Sampai kapan pun, aku tidak akan sudi menjadi alatmu!""Lakukan sesukamu. Tapi ingat, Kakek tidak akan selamanya ada untuk melindungimu. Aku akan membuat hidupmu di rumah ini seper
Malam itu, setelah seluruh rangkaian acara pernikahan yang melelahkan dan penuh kepalsuan selesai, Jessica melewati koridor rumah mewah Morgan.Dia berhenti di depan pintu kamar utama, kamar pengantin yang tiada lain di dalam Morgan. Jessica menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu perlahan memutar kenop pintu.Cklek.Pintu terbuka, dan pemandangan di dalam kamar seketika membuat Jessica terbelalak kaget.Di atas tempat tidur, Morgan sedang memeluk seorang wanita bergaun seksi. Itu Erika. Mereka tengah bermesraan mengabaikan fakta bahwa beberapa jam lalu Morgan baru saja mengucapkan janji suci pernikahan dengan wanita lain.Melihat pintu terbuka, Morgan menghentikan aktivitasnya tanpa rasa bersalah. Dia menoleh ke arah Jessica dengan memunculkan mata yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat."Bisa sopan sedikit tidak? Masuk ke kamar orang tanpa mengetuk pintu!" bentak Morgan kasar, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.Rasa syok yang sempat melumpuhkan Je
Jessica melangkah masuk ke kamar utama keluarga Brata dengan sangat berhati-hati, membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan beberapa butir obat di atasnya.Di atas ranjang ukuran besar yang mewah, Pak Brata, yang menjadi pilar utama bisnis Brata Group, terbaring lemah. Tubuh yang dulunya gagah dan ditakuti di dunia bisnis itu kini digerogoti oleh penyakit menahun."Pak Brata... waktunya makan siang dan minum obat," ucap Jessica dengan suara yang sangat lembut. Dia meletakkan nampan di meja nakas, lalu dengan telaten membantu memposisikan bantal agar Pak Brata bisa duduk lebih nyaman.Pak Brata membuka matanya yang sayu, beliau menatap Jessica, putri dari pelayan setianya yang sudah tiada. Beberapa tahun ini Jessica dengan tulus, sabar, merawatnya siang dan malam."Jessica..." suara Pak Brata parau, namun sarat akan ketetapan hati. "Panggil Morgan kemari, sekarang."Jessica tertegun sejenak, namun segera mengangguk patuh. "Baik, Pak."Lima belas menit kemudian, Morgan melangkah







