Beranda / Romansa / Istrimu Adalah Takdirku / Bab 4. Kedatangan Erika

Share

Bab 4. Kedatangan Erika

Penulis: RR Maesa
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 00:46:31

Baru saja Jessica hendak membalikkan badan untuk kembali ke kamarnya, suara deru mobil mewah terdengar berhenti tepat di halaman. Tak lama kemudian, pintu besar utama terbuka tanpa diketuk.

Seorang wanita dengan kacamata hitam besar, gaun ketat yang mencolok, dan sepatu hak tinggi melangkah masuk dengan anggun. Di belakangnya, seorang sopir tampak kepayahan mengangkut tiga koper besar bermerek luar negeri.

Itu Erika.

Jessica menghentikan langkahnya, berdiri mematung di ujung koridor sambil melipat kedua tangan di dada.

Erika menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Jessica dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara.

"Kenapa menatapku seperti itu, Jessica? Terkejut?" cibir Erika sambil melepaskan kacamata hitamnya. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di sini. Menemani Morgan-ku tercinta agar dia tidak bosan setengah mati melihat wajah kunomu setiap hari."

Jessica menarik napas dalam-dalam, menahan rasa jijik yang menggelitik dadanya. "Tinggal di sini? Kau benar-benar tidak tahu malu!”

“Malu? Kenapa aku harus malu? Morgan mencintaiku, tapi tidak mencintaimu. Justru kaulah yang seharusnya malu berlaga jadi Nyonya rumah padahal kau tidak diinginkan!”

Belum juga Jessica menjawab, Erika langsung melangkah pergi sambil menyenggol bahunya Jessica. “Awas! Menghalangi jalan saja!”

Jessica benar-benar kesal melihat kelakuannya Erika.

Pak supir yang membawa barang buru-buru mengikuti Erika yang langsung naik tangga. “Nona, koper ini disimpan dimana?”

“Tentu saja di kamarnya Tuan Morgan, dimana lagi?” bentak Erika, kesal.

Mendengar itu, Jessica benar-benar marah, diapun menyusul pak supir yang sedang menaiki tangga, lalu merebut kopernya dilempar ke bawah.

Brak! Brak! Koper itu berguling akhirnya jatuh ke lantai menimbulkan suara yang nyaring.

“Eh Nyonya!” Pak Supir tampak kaget tidak menyangka kalau Jessica akan melakukan itu.

Erika menoleh mendengar suara benda jatuh dan langsung terbelalak saat melihat kopernya berantakan ada dilantai bawah tangga.

Diapun menoleh pada Jessica dengan mata yang melotot. “Kau! Berani sekali kau!” bentaknya, lalu menoleh keatas dan berteriak.

“Sayang! Sayang! Sayang Morgan!” teriaknya dengan kencang, membuat Morgan terburu-buru menghampiri arah suara.

“Sayang, ada apa?” tanya Morgan, setengah berlari. “Kau sudah datang?”

Erika langsung merajuk manja membuat Jessica muak melihatnya. “Koperku, Sayang. Koperku, kau lihat itu?” Erika menunjuk kopernya.

“Koper? Ada apa dengan kopernya?”

“Koperku dilempar wanita itu!” Erika menunjuk Jesssica.

Morgan langsung melotot menatap Jessica. “Kau, beraninya kau!”

Jessica malah melipat kedua tangannya bersikap masa bodoh.

“Erika wanita yang aku cintai, seharusnya kau hormat padanya!”

Jessica langsung melotot mendengar perkataannya Morgan. “Menghormati? Apanya yang dihormati? Wanita itu tidak tahu diri mau menaruk kopernya di kamarmu!”

Morgan segera turun menghampiri Jessica. “Memangnya kenapa? Hah? Memangnya kenapa?”

“Memangnya kenapa? Itu bukan kamarmu saja, tapi kamarku juga!” Jessica balas berteriak.

“Huh, mimpi! Ngaku-ngaku! Mulai sekarang, kau keluar dari kamarku! Kemasi barangmu!”

Jessica mengernyitkan dahinya. “Boleh saja, aku tinggal video call dengan Kakek didalam kamar yang bukan kamarmu.”

Morgan kesal mendengarnya, dia takut kalau dilaporkan pada kakeknya. Diapun menoleh pada Erika.

“Sayang, kau tinggal di kamar tamu saja.”

Erika terbelalak marah. “Kok di kamar tamu?”

Melihat kekasihnya yang marah, Morgan kembali menaiki tangga dan langsung menggenggam tangannya Erika. “Kau tenang saja, meskipun kau tinggal di kamar tamu, aku akan selalu menemanimu.”

Marah Erika langsung hilang, senyum mengembang dibibirnya. “Sayangku, aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga.” Merekapun saling berciuman membuat Jessica semakin sebal saja. Untung saja dia tidak ada rasa pada Morgan, kalau tidak, dia akan sakit hati dan pastilah sangat menderita melihat suami sendiri dengan teganya bersikap seperti itu dengan kekasihnya alias selingkuhannya.

Jessicapun memilih pergi ke ruang keluarga, lalu duduk dengan lesu. Rumah ini benar-benar telah berubah menjadi medan perang

**

**

**

Kamar Tamu.

Erika membongkar isi kopernya, mengeluarkan kotak kosmetiknya.

“Sayang, untuk menyambut kedatanganku ke rumah ini, bagaimana kalau nanti malam kita undang teman-teman untuk berpesta?” usul Erika.

“Boleh, aku setuju!” seru Morgan.

“Dan untuk membalas kelakukan pelayan itu, bagaimana kalau kita suruh dia menyiapkan makanan untuk pesta? Kita bisa meminta pelayan lain untuk tidak membantunya. Bagaimana?”

Morgan semakin setuju saja, dia memang ingin membuat Jessica kesal terus, karena gara-gara Jessica, dia tidak bisa menikahi Erika.

“Aku sangat setuju. Pelayan akan kembali jadi pelayan.”

Erikapun tersenyum senang. “Baiklah, aku akan segera memberitahukan tugas barunya itu. Kau istirahat disini saja, Sayang.”

Erika mengecup Morgan lalu melangkahkah kakinya keluar dari kamar itu. Diapun mencari Jessica yang ternyata ada diruang membaca sedang membaca tabloid.

“Hemmm, sepertinya ada pelayan yang lupa tugasnya. Bukannya bersih-bersih malah santai-santai saja membaca di ruang baca,” ucap Erika, menghampiri Jessica.

Jessica malah beradu mulut dengan Erika, dia mengabaikannya dan tetap membaca.

Erika kesal melihatnya, lalu berjalan cepat menghampiri Jessica lalu membungkuk dan berteriak sekeras-kerasnya ditelinga Jessica. “Woy! Dengar aku tidak?”

Jessica tidak menyangka Erika akan melakukan itu, sangat terkejut karena telinganya jadi sakit, diapun menutup tabloidnya dengan keras, lalu mendongak menatap Erika yang senyum-senyum.

“Apa yang aku lakukan, bukan urusanmu!” bentak Jessica.

“Bukan? Tentu saja itu urusanku karena sekarang aku tinggal disini. Aku adalah wanita yang dicintai pemilik rumah ini jadi aku bebas melakukan apa saja.”

Jessica langsung bangun. “Malas meladenimu!” Diapun beranjak pergi.

Erika langsung berteriak. “Nanti malam akan ada pesta, siapkan makan malam yang enak untuk kami!”

Jessica menghentikan langkahnya dan berbelik menghadap Erika. “Apa? Pesta?”

“Ya, pesta menyambut kedatanganku ke rumah ini. Jumlahnya sekitar 10 orang.”

“Kau pikir aku mau melakukan itu semua? Kerjakan saja sendiri! Aku bukan pelayanmu!”

Erika semakin kesal karena ternyata Jessica tidak menurut padanya. Sepertinya Jessica benar-benar sok jadi Nyonya rumah.

“Kau harus mau atau Morgan akan marah padamu! Ingat, disini tidak ada yang akan membelamu!”

“Coba saja kalau berani!” Jessica kembali mengabaikan Erika lalu pergi.

Erika menghentakkan kakinya dengan kesal. “Kau benar-benar mengesalkan!”

**

**

**

Erika pergi ke kamarnya dan melihat Morgan yang sedang tiduran bersantai. Dia tidak pergi ke kantor, karena hari ini masih jadwal cutinya yang seharusnya berbulan madu.

“Sayang, wanita itu benar-benar keterlaluan!”

Morgan langsung bangun. “Keterlaluan kenapa?”

“Masa dia tidak mau memasak untuk acara pesta kita? Sepertinya kau harus lebih keras padanya supaya dia menurut.”

Morgan garuk-garuk kepalanya, merasa sudah lelah. “Sudahlah, lebih baik kita telpon teman-teman kita untuk berkumpul nanti malam.”

“Huh, ini nih, kau terlalu mengalah.”

“Bukan mengalah, tapi dia bisa mengadu pada Kakek, lebih baik kita focus pada warisan itu. Aku harus segera mendapatkan warisan kakek.”

Mata Erika langsung berbinar, lalu mendekati Morgan yang langsung memeluknya. “Apa kau punya ide?”

“Tentu saja. Dan aku pastikan wanita itu tidak bisa lolos lagi.”

****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 32

    Setelah perjalanan hampir empat puluh menit, mobil mewah itu berbelok memasuki kawasan perbukitan eksklusif dan berhenti di depan sebuah villa megah bergaya modern kontemporer yang menghadap langsung ke Danau Zurich."Kita sudah sampai," ujar Louis seraya keluar dan kembali membukakan pintu untuk Jessica.Jessica melangkah keluar, terpana menatap bangunan megah berlantai tiga dengan dinding kaca besar yang memantulkan kilauan air danau. Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi menyambut mereka di pintu utama dengan bungkukan dalam."Selamat datang kembali di villa, Tuan Louis. Seluruh fasilitas dan kamar utama sudah siap sesuai instruksi Anda," ucap pria itu dalam bahasa yang fasih, membuat Jessica terbelalak kaget.Jessica menoleh cepat ke arah Louis yang berdiri santai di sampingnya, tatapannya menuntut penjelasan penuh. "Tuan Louis? Villa milikmu?"Louis tertawa kecil, melangkah mendekat dan merangkul pinggang Jessica secara alami untuk membawanya masuk ke dalam hall utama

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 31

    Suara gemuruh halus dari mesin turbin yang mulai menyala memutus tatapan tajam di antara mereka. Pesawat bergerak perlahan menuju landasan pacu, bersiap untuk lepas landas. Jessica menghela napas panjang, membiarkan jemari hangat Louis menggenggam tangannya lebih erat saat gaya gravitasi mulai menarik tubuh mereka ke sandaran kursi.Di luar jendela, gemerlap lampu kota yang selama ini menjaragkan kebebasannya perlahan menyusut menjadi titik-titik cahaya kecil, sebelum akhirnya sepenuhnya lenyap tertutup lautan awan gelap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jessica merasa terlepas dari cengkeraman ketakutan yang biasa membayanginya di rumah Bratapura.Louis memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Jessica. Garis-garis kecemasan yang tadinya terpatri keras di dahi wanita itu perlahan melunak, digantikan oleh kelelahan yang sangat dalam."Istirahatlah," ujar Louis lembut, suaranya mengalun hangat menembus keheningan kabin. Ia berdiri, mengambil sebuah selimut rajut berbah

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 30

    Jessica terperanjat saat jemari hangat Louis tiba-tiba meraih dan menggenggam erat pergelangan tangannya. Sebelum otak Jessica sempat mencerna situasi, Louis sudah menariknya berdiri dan membawanya melangkah lebar keluar dari kafe menuju mobil mewah yang terparkir di pelataran."Louis! Apa-apaan ini?!" seru Jessica setengah berbisik, berusaha menyeimbangi langkah kaki Louis yang panjang seraya menahan keterkejutannya. "Kita mau ke mana?!"Louis membukakan pintu penumpang depan untuk Jessica dengan gerakan tangkas dan elegan, lalu menunduk menatap wajah wanita itu yang dipenuhi kepanikan. Senyum tipis nan penuh pesona terpatri jelas di wajahnya."Mau ke mana lagi?" bisik Louis rendah, kilatan matanya begitu tegas dan tak tertahankan. "Ke Swiss. Sekarang juga.""Sekarang?!" Jessica membelalakkan mata, menahan napasnya. "Tapi aku bahkan belum berkemas! Aku tidak membawa paspor, tidak membawa baju ganti, dan ….""Semua urusan dokumen dan kebutuhanmu sudah ada yang mengurus," potong Louis

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 29

    Balasan pesan dari Louis masuk hanya dalam hitungan detik.‘Aku selalu punya waktu untuk klien istimewaku. Di tempat biasa jam delapan malam?’Melihat balasan singkat namun menenangkan itu, dada Jessica yang sebelumnya terasa sesak mendadak sedikit melonggar. Ia membalasnya dengan satu ketukan tanda setuju, lalu menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar yang terkunci.Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki Morgan yang menjauh diikuti dentuman pintu utama yang ditutup keras. Pria itu pasti pergi melampiaskan kekesalannya bersama Erika. Jessica memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa kekuatan yang ia miliki sebelum beranjak untuk bersiap-siap.Malam harinya, tepat pukul delapan, Jessica sudah berada di sudut paling privat sebuah kafe bernuansa remang dan tenang di pinggir kota. Denting piano berirama lembut mengalun pelan, kontras dengan gemuruh yang menggelegak di dalam dadanya.Tak berapa lama, aroma cologne maskulin berkayu yang sangat khas tercium. Louis berjalan mendekati meja,

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 28

    Jessica memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Aku benar-benar pusing. Aku tidak tahu apa mau Tuan Matthew Parker sebenarnya. Dan yang lebih mengesalkan lagi..."Jessica menoleh menatap Louis dengan tatapan polos sekaligus prihatin. "...semua masalah ini makin menumpuk, padahal aku masih harus memikirkan tarif bayaranmu yang sangat mahal setiap kali aku membutuhkan bantuanmu."Hearing ucapan jujur dari bibir Jessica, Louis yang sedang mengemudi hampir saja tersedak salivanya sendiri. Senyum tipis yang berusaha dia tahan akhirnya mengembang lebar di sudut bibirnya."Jadi... kamu memikirkanku juga di tengah kekacauan itu?" bisik Louis dengan nada godaan yang halus, membuat pipi Jessica mendadak merona merah.Wajah Jessica seketika memanas. Dia dengan cepat memalingkan wajah ke arah jendela luar, menutupi rona merah yang menjalar hingga ke lehernya."Aku memikirkan isi dompetku, Louis, bukan memikirkanmu!" sanggah Jessica dengan nada ketus yang dibuat-buat, berusaha mempertahankan

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 27

    Pagi harinya, suasana rumah keluarga Bratapura mendadak gempar. Sebuah truk boks mewah berlogo resmi Parker Group terparkir anggun di halaman depan. Beberapa petugas berjas rapi hilir-mudik membawa puluhan kotak hadiah eksklusif, tas bermerek, hingga perhiasan bernilai fantastis langsung ke dalam rumah.Sebuah surat berstempel emas diserahkan langsung ke tangan Jessica. Surat itu berisi permohonan maaf pribadi dari Tuan Matthew Parker atas insiden tidak menyenangkan yang dialami Jessica di pesta semalam.Jessica berdiri terpaku di ruang tamu. Matanya membelalak menatap tumpukan barang-barang bermerek dan perhiasan berlian yang berkilauan di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa terkejut yang luar biasa.Bagaimana mungkin seorang tokoh besar seperti Tuan Matthew Parker mengirimkan semua ini untukku? Aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya! batin Jessica kebingungan, mencoba mencerna teka-teki besar yang kini berada di depan matanya.Erika, yang baru saja turun dari lantai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status