Home / Romansa / Istrimu Adalah Takdirku / Bab 5. Pesta Teman Morgan

Share

Bab 5. Pesta Teman Morgan

Author: RR Maesa
last update publish date: 2026-06-24 01:29:43

Malam harinya, rumah megah keluarga Morgan berubah riuh. Morgan sengaja mengundang teman-teman dekatnya untuk berpesta di taman depan rumah. tersebut. Erika duduk manja di pangkuan Morgan, berlagak seolah dialah sang ratu semalam.

Namun, di tengah keriuhan itu, beberapa teman Morgan mulai bertanya-tanya.

"Eh, Morgan! Mana istrimu? Bukannya katamu akan bergabung?" tanya salah satu temannya, memancing perhatian yang lain.

“Iya, kami ingin segera melihatnya. Seperti apa dia sampai kau menolaknya?”

Erika langsung tersenyum sini. “Lihat saja nanti.”

Morgan merogoh ponsel di saku jasnya. Dia melangkah sedikit menjauh dari kerumunan, lalu menghubungi nomor Jessica.

Di ruang membaca, Jessica sedang duduk tenang membaca buku. Dia sengaja menyalakan musik klasik kecil untuk meredam kebisingan pesta di depan. Begitu layar ponselnya menyala menampilkan nama Morgan, Jessica menggeser tombol hijau dengan malas.

"Halo?" ucap Jessica dingin.

"Heh, pelayan! Ke mana saja kamu?! Cepat keluar ke taman depan sekarang juga!" perintah Morgan tanpa basa-basi, suaranya meninggi di seberang telepon.

Jessica menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada ketus suaminya. "Untuk apa? Aku tidak punya kepentingan dengan teman-temanmu."

"Jangan banyak membantah! Teman-temanku menanyakan keberadaanmu. Cepat keluar, bawakan beberapa botol minuman tambahan dari gudang anggur, lalu layani teman-temanku seperti pelayan yang baik!" ucap Morgan, sengaja ingin merendahkan Jessica di depan umum jika wanita itu datang nanti.

Jessica mendecih pelan. "Aku tidak mau. Ini sudah malam, dan tugasku bukan untuk menjadi tontonan teman-temanmu yang kurang kerjaan. Silakan bersenang-senang dengan Erika-mu itu."

Klik.

Jessica langsung memutus sambungan telepon sepihak.

Morgan menatap layar ponselnya yang menggelap dengan mata melotot.

“Berani-beraninya dia menutup telponku?” umpatnya lalu melakukan telpon lagi.

Jessica kembali mengangkat dengan malas. “Apa lagi?”

"Jessica! Kamu benar-benar bosan hidup, ya?!" ancam Morgan, suaranya berdesis rendah namun sarat akan racun. "Jangan pikir karena aku menahan diri tadi pagi, kamu ngelunjak! Kalau dalam waktu lima menit kamu tidak menampakkan batang hidungmu di taman ini, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar! Jangan pikir aku tidak bisa berbuat kasar padamu!”

Blam! Morgan mematikan teleponnya dengan napas memburu.

Erika dan teman-temannya sampai terdiam memperhatikan Morgan.

“Jelas sekali dia memang membenci istrinya.”

“Jangan sebut istrinya, dia itu istri palsu! Dia cuma pelayan!” umpat Erika, merasa hatinya cemburu dan iri karena wanita lain yang disebut istri Morgan.”

Morgan kembali menghampri temannya. Erika buru-buru memeluknya.

“Sayang, jangan marah-marah terus. Kita kan sedang berpesta.”

“Wanita itu … lama-lama hilang kesabaranku!” Morgan menggerutu, sambil mengambil gelas minumnya dan diteguknya sampai habis.

“Aku juga. Tapi aku pastikan dia tidak akan lolos. Kita harus segera menyingkirkannya,” ucap Erika.

“Dia hamil saja belum, bagaimana untuk menyingkirkannya?”

“Dia akan kesini tidak?”

“Lihat saja kalau dia tidak datang,” ancam Morgan,mengeratkan giginya.

Sementara itu Jessica akhirnya menyimpan buku yang dibacanya, dia merasa ancaman Morgan itu tidak main-main. Diapun berpikir untuk sedikit mengalah, hanya membawakan minuman setelah itu dia pergi.

**

**

Jessica datang ke taman depan dengan membawa minuman ditangannya. Kedatangannya langsung menarik perhatian semua orang.

“Swuit, swuit ….!” Siulan langsung terdenger.

Suasana mendadak heboh melihat Jessica. Dua orang pria temannya Morgan malah langsung menyambutnya.

“Wah, wah, ini istrimu, Morgan? Ternyata sangat cantik. Apa seleramu sudah turun?”

Mendengar itu membuat Erika kesal, langsung melemparkan kotak tisu kearah temannya dan hampir saja mengenai kepalanya.

Swing! Pluk!

“Hentikan ocehanmu!” bentak Erika, merasa kesal karena ada yang memuji Jessica.

Sekarang bukan dua orang saja, tapi semua teman prianya Morgan mengelilingi Jessica. “Cantiknya ….”

“Awas, kalian menghalangi jalanku,” ucap Jessica.

Pria didepannya langsung menyingkir dan merentangkan kedua tangannya. “Silahkan Nona cantik.”

Erika semakin sebal saja melihat sikap teman-temannya yang malah meratukan Jessica.

“Heh, dia itu pelayan!” teriaknya, tapi teman-temannya tidak mendengarkan, malah berlalu kurang sopan dengan mengendus-endus mencium bau parfumnya Jessica.

“Kau benar-benar sangat wangi.”

Jessica tidak menggubris apapun yang dikatakan mereka, dia terus saja berjalan menghampiri Morgan yang duduk santai sambil menyeringai.

“Kau datang juga, pelayan.”

Jessica menyimpan botol diatas meja. “Nih, setelah ini jangan menggangguku lagi!”

Jessica akan pergi tapi Morgan segera bangun dan menghalangi jalannya. “Tunggu, tunggu!”

“Mau apa lagi?” bentak Jessica.

Morgan menepukkan kedua tangannya menyuruh teman-temannya berkumpul. Merekapun langsung berkumpul, berdiri dibelakangnya Morgan.

“Ini teman-temanku. Mereka tampan dan kaya. Kau boleh memilih mana saja yang kau suka untuk menemanimu mala mini,” ucap Morgan sambil menepuk bahu salah satu temannya.

Jessica sampai terbelalak saking kagetnya. “Kau gila?”

Erika datang menghampiri, lalu berdiri disamping Jessica. “Gila apanya? Ini teman-temanku, benar-benar pilihan. Morgan harus memiliki keturunan yang bagus.”

“Aku tidak mau!” umpat Jessica lalu bergerak maju akan pergi, tapi Morgan menghalangi jalannya.

“Kau menghina teman-temanku? Kau menolak mereka? Belagu!” Morgan semakin marah.

Erika memberi kode pada teman-teman wanitanya yang langsung membawakan minuman ditangannya.

“Buat dia mabuk saja! Susah diajak kompromi!”

Jessica kaget bukan main. “Aku tidak mau!”

Tapi penolakannya Jessica sama sekali tidak berguna. Dua wanita langsung memegang kedua tangannya Jessica dengan kuat lalu memaksanya meminum minuman itu.

“Aku tidak mau!” teriak Jessica.

Meskipun berusaha menolak, beberapa teguk minuman sudah masuk ke mulutnya. Jessica langsung memuntahkannya tapi hanya air ludah yang keluar.

“Kurang banyak, tambah lagi!” perintah Erika.

“Aku tidak mau!” bentak Jessica, kembali menolak. Tapi teman-temannya Morgan sama sekali tidak peduli.

Brukh! Jessica terduduk dilantai, dia benar-benar merasa mual. Perutnya terasa panas.

Erika berdiri didepan Jessica. Diapun mengangkat kakinya, disentuhkan kebahunya Jessica yang mencoba memuntahkan minuman yang sudah diminumnya.

“Pelayan belagu, benar-benar belagu!” umpat Erika, sambil mendorongkan kakinya ke bahunya Jessica sambil wanita itu tersungkur.

Morgan segera mendekat. “Sekarang, kau tidak bisa menolak lagi! Beri aku bayi!” bentaknya.

Pria itu lalu menoleh pada teman-temannya, memberi kode.

Jessica benar-benar panik, diapun segera bangun dan sekuat tenaga berlari meninggalkan halaman akan masuk ke rumah. Tapi langkahnya terhenti karena dua orang teman Morgan sudah menghalangi jalannya.

Jessicapun berpikir sepertinya kalau dia berlari ke rumah, dia tidak akan selamat. Yang harus dilakukannya Adalah dia harus pergi keluar dari rumah itu.

Jessica langsung berbalik arah tapi teman Morgan lainnya sudah menghalangi jalannya. Tanpa kehilangan ide, memanfaatkan kesadarannya, Jessica langsung menendang salah satu pria itu tepat diantara kakinya.

“Aw! Aduh!” teriaknya kaget dan langsung membungkuk kesakitan.

Tidak menyangka Jessica akan melakukan itu, dua pria terdekat malah memegang tangan temannya itu.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya mereka merasa khawatir karena tendangan itu sangat keras.

“Sakit, aduh sakit sekali. Dia akan merusaka keturunanku!” teriak pria yang ditendang Jessica itu.

Jessica memanfaatkan kesempatan itu untuk terus berlari menuju gerbang.

“Hei, dia kabur! Cepat susul!” teriak Morgan.

Jessica mempercepat larinya saat teman-temannya Morgan mengejarnya.

Beruntung gerbang rumah tidak dikunci karena sedan gada tamu-tamu, membuat Jessica dengan mudah membukanya.

“Taxi! Taxi!” teriaknya, langsung menyetop taxi yang tepat lewat didepannya.

Tanpa berpikir Panjang lagi, Jessica langsung masuk taxi itu. “Cepat-cepat!” perintahnya saat melihat teman-teman Morgan semakin dekat.

Taxipun segera melaju cepat meninggalkan rumahnya Morgan.

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 32

    Setelah perjalanan hampir empat puluh menit, mobil mewah itu berbelok memasuki kawasan perbukitan eksklusif dan berhenti di depan sebuah villa megah bergaya modern kontemporer yang menghadap langsung ke Danau Zurich."Kita sudah sampai," ujar Louis seraya keluar dan kembali membukakan pintu untuk Jessica.Jessica melangkah keluar, terpana menatap bangunan megah berlantai tiga dengan dinding kaca besar yang memantulkan kilauan air danau. Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi menyambut mereka di pintu utama dengan bungkukan dalam."Selamat datang kembali di villa, Tuan Louis. Seluruh fasilitas dan kamar utama sudah siap sesuai instruksi Anda," ucap pria itu dalam bahasa yang fasih, membuat Jessica terbelalak kaget.Jessica menoleh cepat ke arah Louis yang berdiri santai di sampingnya, tatapannya menuntut penjelasan penuh. "Tuan Louis? Villa milikmu?"Louis tertawa kecil, melangkah mendekat dan merangkul pinggang Jessica secara alami untuk membawanya masuk ke dalam hall utama

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 31

    Suara gemuruh halus dari mesin turbin yang mulai menyala memutus tatapan tajam di antara mereka. Pesawat bergerak perlahan menuju landasan pacu, bersiap untuk lepas landas. Jessica menghela napas panjang, membiarkan jemari hangat Louis menggenggam tangannya lebih erat saat gaya gravitasi mulai menarik tubuh mereka ke sandaran kursi.Di luar jendela, gemerlap lampu kota yang selama ini menjaragkan kebebasannya perlahan menyusut menjadi titik-titik cahaya kecil, sebelum akhirnya sepenuhnya lenyap tertutup lautan awan gelap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jessica merasa terlepas dari cengkeraman ketakutan yang biasa membayanginya di rumah Bratapura.Louis memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Jessica. Garis-garis kecemasan yang tadinya terpatri keras di dahi wanita itu perlahan melunak, digantikan oleh kelelahan yang sangat dalam."Istirahatlah," ujar Louis lembut, suaranya mengalun hangat menembus keheningan kabin. Ia berdiri, mengambil sebuah selimut rajut berbah

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 30

    Jessica terperanjat saat jemari hangat Louis tiba-tiba meraih dan menggenggam erat pergelangan tangannya. Sebelum otak Jessica sempat mencerna situasi, Louis sudah menariknya berdiri dan membawanya melangkah lebar keluar dari kafe menuju mobil mewah yang terparkir di pelataran."Louis! Apa-apaan ini?!" seru Jessica setengah berbisik, berusaha menyeimbangi langkah kaki Louis yang panjang seraya menahan keterkejutannya. "Kita mau ke mana?!"Louis membukakan pintu penumpang depan untuk Jessica dengan gerakan tangkas dan elegan, lalu menunduk menatap wajah wanita itu yang dipenuhi kepanikan. Senyum tipis nan penuh pesona terpatri jelas di wajahnya."Mau ke mana lagi?" bisik Louis rendah, kilatan matanya begitu tegas dan tak tertahankan. "Ke Swiss. Sekarang juga.""Sekarang?!" Jessica membelalakkan mata, menahan napasnya. "Tapi aku bahkan belum berkemas! Aku tidak membawa paspor, tidak membawa baju ganti, dan ….""Semua urusan dokumen dan kebutuhanmu sudah ada yang mengurus," potong Louis

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 29

    Balasan pesan dari Louis masuk hanya dalam hitungan detik.‘Aku selalu punya waktu untuk klien istimewaku. Di tempat biasa jam delapan malam?’Melihat balasan singkat namun menenangkan itu, dada Jessica yang sebelumnya terasa sesak mendadak sedikit melonggar. Ia membalasnya dengan satu ketukan tanda setuju, lalu menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar yang terkunci.Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki Morgan yang menjauh diikuti dentuman pintu utama yang ditutup keras. Pria itu pasti pergi melampiaskan kekesalannya bersama Erika. Jessica memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa kekuatan yang ia miliki sebelum beranjak untuk bersiap-siap.Malam harinya, tepat pukul delapan, Jessica sudah berada di sudut paling privat sebuah kafe bernuansa remang dan tenang di pinggir kota. Denting piano berirama lembut mengalun pelan, kontras dengan gemuruh yang menggelegak di dalam dadanya.Tak berapa lama, aroma cologne maskulin berkayu yang sangat khas tercium. Louis berjalan mendekati meja,

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 28

    Jessica memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Aku benar-benar pusing. Aku tidak tahu apa mau Tuan Matthew Parker sebenarnya. Dan yang lebih mengesalkan lagi..."Jessica menoleh menatap Louis dengan tatapan polos sekaligus prihatin. "...semua masalah ini makin menumpuk, padahal aku masih harus memikirkan tarif bayaranmu yang sangat mahal setiap kali aku membutuhkan bantuanmu."Hearing ucapan jujur dari bibir Jessica, Louis yang sedang mengemudi hampir saja tersedak salivanya sendiri. Senyum tipis yang berusaha dia tahan akhirnya mengembang lebar di sudut bibirnya."Jadi... kamu memikirkanku juga di tengah kekacauan itu?" bisik Louis dengan nada godaan yang halus, membuat pipi Jessica mendadak merona merah.Wajah Jessica seketika memanas. Dia dengan cepat memalingkan wajah ke arah jendela luar, menutupi rona merah yang menjalar hingga ke lehernya."Aku memikirkan isi dompetku, Louis, bukan memikirkanmu!" sanggah Jessica dengan nada ketus yang dibuat-buat, berusaha mempertahankan

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 27

    Pagi harinya, suasana rumah keluarga Bratapura mendadak gempar. Sebuah truk boks mewah berlogo resmi Parker Group terparkir anggun di halaman depan. Beberapa petugas berjas rapi hilir-mudik membawa puluhan kotak hadiah eksklusif, tas bermerek, hingga perhiasan bernilai fantastis langsung ke dalam rumah.Sebuah surat berstempel emas diserahkan langsung ke tangan Jessica. Surat itu berisi permohonan maaf pribadi dari Tuan Matthew Parker atas insiden tidak menyenangkan yang dialami Jessica di pesta semalam.Jessica berdiri terpaku di ruang tamu. Matanya membelalak menatap tumpukan barang-barang bermerek dan perhiasan berlian yang berkilauan di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa terkejut yang luar biasa.Bagaimana mungkin seorang tokoh besar seperti Tuan Matthew Parker mengirimkan semua ini untukku? Aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya! batin Jessica kebingungan, mencoba mencerna teka-teki besar yang kini berada di depan matanya.Erika, yang baru saja turun dari lantai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status