Share

Bab 29

Author: RR Maesa
last update publish date: 2026-09-07 21:56:29

Balasan pesan dari Louis masuk hanya dalam hitungan detik.

‘Aku selalu punya waktu untuk klien istimewaku. Di tempat biasa jam delapan malam?’

Melihat balasan singkat namun menenangkan itu, dada Jessica yang sebelumnya terasa sesak mendadak sedikit melonggar. Ia membalasnya dengan satu ketukan tanda setuju, lalu menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar yang terkunci.

Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki Morgan yang menjauh diikuti dentuman pintu utama yang ditutup keras. Pria itu pasti pergi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 32

    Setelah perjalanan hampir empat puluh menit, mobil mewah itu berbelok memasuki kawasan perbukitan eksklusif dan berhenti di depan sebuah villa megah bergaya modern kontemporer yang menghadap langsung ke Danau Zurich."Kita sudah sampai," ujar Louis seraya keluar dan kembali membukakan pintu untuk Jessica.Jessica melangkah keluar, terpana menatap bangunan megah berlantai tiga dengan dinding kaca besar yang memantulkan kilauan air danau. Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi menyambut mereka di pintu utama dengan bungkukan dalam."Selamat datang kembali di villa, Tuan Louis. Seluruh fasilitas dan kamar utama sudah siap sesuai instruksi Anda," ucap pria itu dalam bahasa yang fasih, membuat Jessica terbelalak kaget.Jessica menoleh cepat ke arah Louis yang berdiri santai di sampingnya, tatapannya menuntut penjelasan penuh. "Tuan Louis? Villa milikmu?"Louis tertawa kecil, melangkah mendekat dan merangkul pinggang Jessica secara alami untuk membawanya masuk ke dalam hall utama

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 31

    Suara gemuruh halus dari mesin turbin yang mulai menyala memutus tatapan tajam di antara mereka. Pesawat bergerak perlahan menuju landasan pacu, bersiap untuk lepas landas. Jessica menghela napas panjang, membiarkan jemari hangat Louis menggenggam tangannya lebih erat saat gaya gravitasi mulai menarik tubuh mereka ke sandaran kursi.Di luar jendela, gemerlap lampu kota yang selama ini menjaragkan kebebasannya perlahan menyusut menjadi titik-titik cahaya kecil, sebelum akhirnya sepenuhnya lenyap tertutup lautan awan gelap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jessica merasa terlepas dari cengkeraman ketakutan yang biasa membayanginya di rumah Bratapura.Louis memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Jessica. Garis-garis kecemasan yang tadinya terpatri keras di dahi wanita itu perlahan melunak, digantikan oleh kelelahan yang sangat dalam."Istirahatlah," ujar Louis lembut, suaranya mengalun hangat menembus keheningan kabin. Ia berdiri, mengambil sebuah selimut rajut berbah

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 30

    Jessica terperanjat saat jemari hangat Louis tiba-tiba meraih dan menggenggam erat pergelangan tangannya. Sebelum otak Jessica sempat mencerna situasi, Louis sudah menariknya berdiri dan membawanya melangkah lebar keluar dari kafe menuju mobil mewah yang terparkir di pelataran."Louis! Apa-apaan ini?!" seru Jessica setengah berbisik, berusaha menyeimbangi langkah kaki Louis yang panjang seraya menahan keterkejutannya. "Kita mau ke mana?!"Louis membukakan pintu penumpang depan untuk Jessica dengan gerakan tangkas dan elegan, lalu menunduk menatap wajah wanita itu yang dipenuhi kepanikan. Senyum tipis nan penuh pesona terpatri jelas di wajahnya."Mau ke mana lagi?" bisik Louis rendah, kilatan matanya begitu tegas dan tak tertahankan. "Ke Swiss. Sekarang juga.""Sekarang?!" Jessica membelalakkan mata, menahan napasnya. "Tapi aku bahkan belum berkemas! Aku tidak membawa paspor, tidak membawa baju ganti, dan ….""Semua urusan dokumen dan kebutuhanmu sudah ada yang mengurus," potong Louis

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 29

    Balasan pesan dari Louis masuk hanya dalam hitungan detik.‘Aku selalu punya waktu untuk klien istimewaku. Di tempat biasa jam delapan malam?’Melihat balasan singkat namun menenangkan itu, dada Jessica yang sebelumnya terasa sesak mendadak sedikit melonggar. Ia membalasnya dengan satu ketukan tanda setuju, lalu menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar yang terkunci.Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki Morgan yang menjauh diikuti dentuman pintu utama yang ditutup keras. Pria itu pasti pergi melampiaskan kekesalannya bersama Erika. Jessica memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa kekuatan yang ia miliki sebelum beranjak untuk bersiap-siap.Malam harinya, tepat pukul delapan, Jessica sudah berada di sudut paling privat sebuah kafe bernuansa remang dan tenang di pinggir kota. Denting piano berirama lembut mengalun pelan, kontras dengan gemuruh yang menggelegak di dalam dadanya.Tak berapa lama, aroma cologne maskulin berkayu yang sangat khas tercium. Louis berjalan mendekati meja,

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 28

    Jessica memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Aku benar-benar pusing. Aku tidak tahu apa mau Tuan Matthew Parker sebenarnya. Dan yang lebih mengesalkan lagi..."Jessica menoleh menatap Louis dengan tatapan polos sekaligus prihatin. "...semua masalah ini makin menumpuk, padahal aku masih harus memikirkan tarif bayaranmu yang sangat mahal setiap kali aku membutuhkan bantuanmu."Hearing ucapan jujur dari bibir Jessica, Louis yang sedang mengemudi hampir saja tersedak salivanya sendiri. Senyum tipis yang berusaha dia tahan akhirnya mengembang lebar di sudut bibirnya."Jadi... kamu memikirkanku juga di tengah kekacauan itu?" bisik Louis dengan nada godaan yang halus, membuat pipi Jessica mendadak merona merah.Wajah Jessica seketika memanas. Dia dengan cepat memalingkan wajah ke arah jendela luar, menutupi rona merah yang menjalar hingga ke lehernya."Aku memikirkan isi dompetku, Louis, bukan memikirkanmu!" sanggah Jessica dengan nada ketus yang dibuat-buat, berusaha mempertahankan

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 27

    Pagi harinya, suasana rumah keluarga Bratapura mendadak gempar. Sebuah truk boks mewah berlogo resmi Parker Group terparkir anggun di halaman depan. Beberapa petugas berjas rapi hilir-mudik membawa puluhan kotak hadiah eksklusif, tas bermerek, hingga perhiasan bernilai fantastis langsung ke dalam rumah.Sebuah surat berstempel emas diserahkan langsung ke tangan Jessica. Surat itu berisi permohonan maaf pribadi dari Tuan Matthew Parker atas insiden tidak menyenangkan yang dialami Jessica di pesta semalam.Jessica berdiri terpaku di ruang tamu. Matanya membelalak menatap tumpukan barang-barang bermerek dan perhiasan berlian yang berkilauan di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa terkejut yang luar biasa.Bagaimana mungkin seorang tokoh besar seperti Tuan Matthew Parker mengirimkan semua ini untukku? Aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya! batin Jessica kebingungan, mencoba mencerna teka-teki besar yang kini berada di depan matanya.Erika, yang baru saja turun dari lantai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status