Istrimu Adalah Takdirku

Istrimu Adalah Takdirku

last updateLast Updated : 2026-06-24
By:  RR MaesaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi warisan, sang suami menyuruhnya hamil dengan pria lain. Namun, pria asing yang dia sewa di malam mabuknya ternyata adalah sang penguasa bisnis sesungguhnya yang siap merebutnya. Morgan tidak memperlakukan Jessica selayaknya istrinya, malah terang-terangan membawa kekasihnya ke rumahnya. Karena ayahnya akan mewariskan kekayaan hanya jika Jessica hamil, Morgan yang tidak menyukai Jessica menyuruhnya hamil oleh pria lain bahkan sengaja mendatangkan pria pria untuk membuat istrinya hamil. Jessica yang tertekan dengan kondisi itu, tidak sengaja melakukan ons dengan seorang pria yang dikiranya seorang pria bayaran yang sangat mahal tanpa tahu kalau pria itu sebenarnya seorang pengusaha kaya yang tinggal di luar negeri. Saat Jessica menyadari kesalahannya dan menyuruh Louis meninggalkannya justru membuat Louis malah jatuh cinta. Diapun mencoba merebut Jessica dari Morgan tapi Jessica ternyata menolaknya meskipun ternyata hamil anaknya Louis dan memilih merahasiakan kehamilannya pada Louis.

View More

Chapter 1

Bab 1. Istri Diatas Kertas

Jessica melangkah masuk ke kamar utama keluarga Brata dengan sangat berhati-hati, membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan beberapa butir obat di atasnya.

Di atas ranjang ukuran besar yang mewah, Pak Brata, yang menjadi pilar utama bisnis Brata Group, terbaring lemah. Tubuh yang dulunya gagah dan ditakuti di dunia bisnis itu kini digerogoti oleh penyakit menahun.

"Pak Brata... waktunya makan siang dan minum obat," ucap Jessica dengan suara yang sangat lembut. Dia meletakkan nampan di meja nakas, lalu dengan telaten membantu memposisikan bantal agar Pak Brata bisa duduk lebih nyaman.

Pak Brata membuka matanya yang sayu, beliau menatap Jessica, putri dari pelayan setianya yang sudah tiada. Beberapa tahun ini Jessica dengan tulus, sabar, merawatnya siang dan malam.

"Jessica..." suara Pak Brata parau, namun sarat akan ketetapan hati. "Panggil Morgan kemari, sekarang."

Jessica tertegun sejenak, namun segera mengangguk patuh. "Baik, Pak."

Lima belas menit kemudian, Morgan melangkah masuk ke kamar kakeknya dengan raut wajah kentara tidak sabar. Di belakangnya, Jessica mengekor dengan kepala sedikit tertunduk.

"Ada apa, Kakek? Aku sedang sibuk mempersiapkan rapat pemegang saham," ujar Morgan formal, bahkan hampir terasa dingin.

Pak Brata menghela napas berat. Dia melirik Morgan, lalu beralih pada Jessica. "Hari ini, di depan pengacara keluarga yang sudah menunggu di luar, Kakek minta kalian berdua menandatangani surat pernikahan."

Deg.

Jantung Jessica seolah berhenti berdetak. Dia mendongak dengan mata membelalak syok.

"Apa?!" Morgan berteriak, wajahnya seketika merah padam karena terkejut sekaligus murka. "Menikah? Dengan dia?! Kakek jangan bercanda! Dia itu cuma anak pelayan di rumah ini! Latar belakangnya tidak jelas, dan Kakek menyuruhku menikahinya?!"

Morgan menunjuk Jessica dengan tatapan mata yang penuh penghinaan dan rasa muak yang teramat sangat. Kata-kata itu menghantam dada Jessica seperti godam yang tidak kasat mata, membuatnya meremas ujung pakaiannya sendiri demi menahan rasa terhina.

"Jaga bicaramu, Morgan!" bentak Pak Brata, mendadak batuk hebat namun tatapannya mengunci sang cucu tunggal. "Jessica adalah wanita paling tulus yang pernah Kakek temui. Dia yang akan menjadi istrimu, pewaris Brata Group tidak boleh memiliki istri yang hanya tahu cara menghabiskan uang! Kakek yakin Jessica akan menjadi istri yang baik buatmu."

"Tapi aku mencintai Erika, Kek! Hanya Erika yang pantas menjadi nyonya Brata!" bela Morgan, suaranya meninggi.

Pak Brata tersenyum sinis. "Kalau begitu, silakan pergi bersama Erikamu itu. Tapi ingat satu hal..." Pak Brata menjeda kalimatnya, memberi penekanan mutlak pada setiap kata. "Seluruh hak waris tunggal Brata Group hanya akan jatuh ke tanganmu jika kamu menikahi Jessica. Dan seluruh aset itu baru akan dicairkan secara resmi... setelah kalian punya bayi."

Mendengar kata 'bayi', Morgan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Harta dan takhta adalah hidupnya, dia tidak mau hidup miskin. Apalagi Erika dari keluarga kaya, pasti akan meninggalkannya kalau tahu dia tidak mendapat warisan.

Morgan berbalik, menatap Jessica dengan pandangan mata yang begitu tajam, dingin, dan sarat akan rasa ilfeel yang mendalam. Baginya, Jessica tidak lebih dari sekadar benalu yang memanfaatkan kepolosan kakeknya demi naik kasta.

"Baik. Aku akan menandatanganinya," ucap Morgan kasar, suaranya terdengar sangat mematikan di telinga Jessica.

Morgan melangkah mendekati Jessica, lalu berbisik tepat di samping telinganya dengan nada merendah yang penuh racun.

"Selamat, Anak Pelayan. Kamu berhasil menjadi istriku di atas kertas. Tapi jangan pernah bermimpi aku akan sudi menyentuh tubuh murahanmu itu. Sampai mati pun, kamu membuatku muak." Setelah melisankan kalimat kejam itu, Morgan melangkah lebar keluar kamar untuk menemui pengacara,.

Pintu kamar berdentum tertutup, menyisakan kesunyian yang mencekam. Kata-kata kasar pria itu masih terngiang di telinga Jessica, menyisakan rasa perih yang teramat dalam di hatinya.

Dengan tangan yang gemetar, Jessica melangkah mendekati ranjang. Dia berlutut di sisi tempat tidur, menatap wajah sepuh Pak Brata yang masih terengah-engah setelah ketegangan tadi.

"Bapak... saya mohon, batalkan pernikahan ini," bisik Jessica dengan suara parau. Air mata yang sejak tadi dia tahan kini membasahi pipinya. "Saya tidak bisa menikah dengan Den Morgan. Dia... dia tidak menginginkan saya, Pak. Saya juga tidak memiliki perasaan apa pun pada Den Morgan."

Pak Brata menghela napas panjang. Beliau mengulurkan tangannya yang keriput dan gemetar, lalu menyentuh puncak kepala Jessica dengan penuh kasih sayang.

"Jessica, dengarkan Bapak," ujar Pak Brata, suaranya melunak namun tetap terdengar tegas. "Bapak melakukan ini bukan tanpa alasan. Brata Group adalah hasil keringat seumur hidupku. Morgan adalah cucu tunggal Bapak, tapi dia buta karena cinta. Erika... wanita itu hanya mencintai harta keluarga ini. Jika Morgan menikah dengan Erika, Bapak sangat yakin bisnis yang Bapak bangun dengan darah dan air mata ini akan hancur dalam sekejap di tangan mereka."

Pak Brata menatap lekat-lekat mata Jessica yang berkaca-kaca. "Hanya kamu, Jessica. Hanya kamu wanita baik, jujur, dan tulus yang bisa Bapak percayai untuk mendampingi Morgan dan menjaga garis keturunan keluarga ini. Tolong, bantu Bapak.."

Jessica tertegun. Pikirannya mendadak berkecamuk hebat. Di satu sisi, akal sehatnya berteriak menolak. Bagaimana mungkin dia menyerahkan masa depannya untuk menikah dengan pria yang sangat membencinya? Pria yang bahkan menganggapnya sebagai parasit rendahan.

Namun di sisi lain, Jessica melihat guratan keputusasaan di wajah tua Pak Brata. Ingatannya langsung melayang ke masa lalu, saat ibunya masih hidup dan bekerja sebagai pelayan di rumah ini. Ketika ibunya jatuh sakit keras, Pak Brata-lah yang membiayai seluruh pengobatan rumah sakit tanpa memotong gaji sepeser pun. Bahkan setelah ibunya tiada, Pak Brata memperlakukan Jessica dengan sangat baik, menyekolahkannya, dan tidak pernah membiarkannya telantar.

Kebaikan dan budi besar Pak Brata terlalu mati-matian untuk dilupakan. Jessica merasa berutang nyawa pada pria tua di hadapannya ini.

"Tapi, Pak..." Jessica mencoba mencari celah untuk menolak, namun lidahnya mendadak kelu.

"Saya mohon, Jessica... ini permintaan terakhir saya sebelum saya menutup mata," potong Pak Brata dengan tatapan memelas yang sangat sulit untuk ditolak.

Melihat pria berkuasa itu kini memohon dengan sisa-sisa kekuatannya, pertahanan Jessica akhirnya runtuh. Rasa bersalah dan kewajiban untuk membalas budi mengalahkan egonya.

Sambil memejamkan mata erat-erat, Jessica menarik napas dalam-dalam, lalu membuka matanya dan mengangguk pelan.

"Baik, Pak. Saya... saya bersedia menikah dengan Den Morgan," ucap Jessica pasrah.

Seketika itu juga, seulas senyum lega dan bahagia terukir di wajah pucat Pak Brata. "Mulai saat ini panggil Bapak, Kakek."

Pak Brata menggenggam erat tangan Jessica, merasa bebannya kini telah terangkat. Namun bagi Jessica, anggukan kepala itu adalah tanda bahwa dia baru saja menandatangani kontrak untuk masuk ke dalam neraka yang diciptakan oleh Morgan.

******

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status