LOGINDemi warisan, sang suami menyuruhnya hamil dengan pria lain. Namun, pria asing yang dia sewa di malam mabuknya ternyata adalah sang penguasa bisnis sesungguhnya yang siap merebutnya. Morgan tidak memperlakukan Jessica selayaknya istrinya, malah terang-terangan membawa kekasihnya ke rumahnya. Karena ayahnya akan mewariskan kekayaan hanya jika Jessica hamil, Morgan yang tidak menyukai Jessica menyuruhnya hamil oleh pria lain bahkan sengaja mendatangkan pria pria untuk membuat istrinya hamil. Jessica yang tertekan dengan kondisi itu, tidak sengaja melakukan ons dengan seorang pria yang dikiranya seorang pria bayaran yang sangat mahal tanpa tahu kalau pria itu sebenarnya seorang pengusaha kaya yang tinggal di luar negeri. Saat Jessica menyadari kesalahannya dan menyuruh Louis meninggalkannya justru membuat Louis malah jatuh cinta. Diapun mencoba merebut Jessica dari Morgan tapi Jessica ternyata menolaknya meskipun ternyata hamil anaknya Louis dan memilih merahasiakan kehamilannya pada Louis.
View MoreJessica melangkah masuk ke kamar utama keluarga Brata dengan sangat berhati-hati, membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan beberapa butir obat di atasnya.
Di atas ranjang ukuran besar yang mewah, Pak Brata, yang menjadi pilar utama bisnis Brata Group, terbaring lemah. Tubuh yang dulunya gagah dan ditakuti di dunia bisnis itu kini digerogoti oleh penyakit menahun.
"Pak Brata... waktunya makan siang dan minum obat," ucap Jessica dengan suara yang sangat lembut. Dia meletakkan nampan di meja nakas, lalu dengan telaten membantu memposisikan bantal agar Pak Brata bisa duduk lebih nyaman.
Pak Brata membuka matanya yang sayu, beliau menatap Jessica, putri dari pelayan setianya yang sudah tiada. Beberapa tahun ini Jessica dengan tulus, sabar, merawatnya siang dan malam.
"Jessica..." suara Pak Brata parau, namun sarat akan ketetapan hati. "Panggil Morgan kemari, sekarang."
Jessica tertegun sejenak, namun segera mengangguk patuh. "Baik, Pak."
Lima belas menit kemudian, Morgan melangkah masuk ke kamar kakeknya dengan raut wajah kentara tidak sabar. Di belakangnya, Jessica mengekor dengan kepala sedikit tertunduk.
"Ada apa, Kakek? Aku sedang sibuk mempersiapkan rapat pemegang saham," ujar Morgan formal, bahkan hampir terasa dingin.
Pak Brata menghela napas berat. Dia melirik Morgan, lalu beralih pada Jessica. "Hari ini, di depan pengacara keluarga yang sudah menunggu di luar, Kakek minta kalian berdua menandatangani surat pernikahan."
Deg.
Jantung Jessica seolah berhenti berdetak. Dia mendongak dengan mata membelalak syok.
"Apa?!" Morgan berteriak, wajahnya seketika merah padam karena terkejut sekaligus murka. "Menikah? Dengan dia?! Kakek jangan bercanda! Dia itu cuma anak pelayan di rumah ini! Latar belakangnya tidak jelas, dan Kakek menyuruhku menikahinya?!"
Morgan menunjuk Jessica dengan tatapan mata yang penuh penghinaan dan rasa muak yang teramat sangat. Kata-kata itu menghantam dada Jessica seperti godam yang tidak kasat mata, membuatnya meremas ujung pakaiannya sendiri demi menahan rasa terhina.
"Jaga bicaramu, Morgan!" bentak Pak Brata, mendadak batuk hebat namun tatapannya mengunci sang cucu tunggal. "Jessica adalah wanita paling tulus yang pernah Kakek temui. Dia yang akan menjadi istrimu, pewaris Brata Group tidak boleh memiliki istri yang hanya tahu cara menghabiskan uang! Kakek yakin Jessica akan menjadi istri yang baik buatmu."
"Tapi aku mencintai Erika, Kek! Hanya Erika yang pantas menjadi nyonya Brata!" bela Morgan, suaranya meninggi.
Pak Brata tersenyum sinis. "Kalau begitu, silakan pergi bersama Erikamu itu. Tapi ingat satu hal..." Pak Brata menjeda kalimatnya, memberi penekanan mutlak pada setiap kata. "Seluruh hak waris tunggal Brata Group hanya akan jatuh ke tanganmu jika kamu menikahi Jessica. Dan seluruh aset itu baru akan dicairkan secara resmi... setelah kalian punya bayi."
Mendengar kata 'bayi', Morgan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Harta dan takhta adalah hidupnya, dia tidak mau hidup miskin. Apalagi Erika dari keluarga kaya, pasti akan meninggalkannya kalau tahu dia tidak mendapat warisan.
Morgan berbalik, menatap Jessica dengan pandangan mata yang begitu tajam, dingin, dan sarat akan rasa ilfeel yang mendalam. Baginya, Jessica tidak lebih dari sekadar benalu yang memanfaatkan kepolosan kakeknya demi naik kasta.
"Baik. Aku akan menandatanganinya," ucap Morgan kasar, suaranya terdengar sangat mematikan di telinga Jessica.
Morgan melangkah mendekati Jessica, lalu berbisik tepat di samping telinganya dengan nada merendah yang penuh racun.
"Selamat, Anak Pelayan. Kamu berhasil menjadi istriku di atas kertas. Tapi jangan pernah bermimpi aku akan sudi menyentuh tubuh murahanmu itu. Sampai mati pun, kamu membuatku muak." Setelah melisankan kalimat kejam itu, Morgan melangkah lebar keluar kamar untuk menemui pengacara,.
Pintu kamar berdentum tertutup, menyisakan kesunyian yang mencekam. Kata-kata kasar pria itu masih terngiang di telinga Jessica, menyisakan rasa perih yang teramat dalam di hatinya.
Dengan tangan yang gemetar, Jessica melangkah mendekati ranjang. Dia berlutut di sisi tempat tidur, menatap wajah sepuh Pak Brata yang masih terengah-engah setelah ketegangan tadi.
"Bapak... saya mohon, batalkan pernikahan ini," bisik Jessica dengan suara parau. Air mata yang sejak tadi dia tahan kini membasahi pipinya. "Saya tidak bisa menikah dengan Den Morgan. Dia... dia tidak menginginkan saya, Pak. Saya juga tidak memiliki perasaan apa pun pada Den Morgan."
Pak Brata menghela napas panjang. Beliau mengulurkan tangannya yang keriput dan gemetar, lalu menyentuh puncak kepala Jessica dengan penuh kasih sayang.
"Jessica, dengarkan Bapak," ujar Pak Brata, suaranya melunak namun tetap terdengar tegas. "Bapak melakukan ini bukan tanpa alasan. Brata Group adalah hasil keringat seumur hidupku. Morgan adalah cucu tunggal Bapak, tapi dia buta karena cinta. Erika... wanita itu hanya mencintai harta keluarga ini. Jika Morgan menikah dengan Erika, Bapak sangat yakin bisnis yang Bapak bangun dengan darah dan air mata ini akan hancur dalam sekejap di tangan mereka."
Pak Brata menatap lekat-lekat mata Jessica yang berkaca-kaca. "Hanya kamu, Jessica. Hanya kamu wanita baik, jujur, dan tulus yang bisa Bapak percayai untuk mendampingi Morgan dan menjaga garis keturunan keluarga ini. Tolong, bantu Bapak.."
Jessica tertegun. Pikirannya mendadak berkecamuk hebat. Di satu sisi, akal sehatnya berteriak menolak. Bagaimana mungkin dia menyerahkan masa depannya untuk menikah dengan pria yang sangat membencinya? Pria yang bahkan menganggapnya sebagai parasit rendahan.
Namun di sisi lain, Jessica melihat guratan keputusasaan di wajah tua Pak Brata. Ingatannya langsung melayang ke masa lalu, saat ibunya masih hidup dan bekerja sebagai pelayan di rumah ini. Ketika ibunya jatuh sakit keras, Pak Brata-lah yang membiayai seluruh pengobatan rumah sakit tanpa memotong gaji sepeser pun. Bahkan setelah ibunya tiada, Pak Brata memperlakukan Jessica dengan sangat baik, menyekolahkannya, dan tidak pernah membiarkannya telantar.
Kebaikan dan budi besar Pak Brata terlalu mati-matian untuk dilupakan. Jessica merasa berutang nyawa pada pria tua di hadapannya ini.
"Tapi, Pak..." Jessica mencoba mencari celah untuk menolak, namun lidahnya mendadak kelu.
"Saya mohon, Jessica... ini permintaan terakhir saya sebelum saya menutup mata," potong Pak Brata dengan tatapan memelas yang sangat sulit untuk ditolak.
Melihat pria berkuasa itu kini memohon dengan sisa-sisa kekuatannya, pertahanan Jessica akhirnya runtuh. Rasa bersalah dan kewajiban untuk membalas budi mengalahkan egonya.
Sambil memejamkan mata erat-erat, Jessica menarik napas dalam-dalam, lalu membuka matanya dan mengangguk pelan.
"Baik, Pak. Saya... saya bersedia menikah dengan Den Morgan," ucap Jessica pasrah.
Seketika itu juga, seulas senyum lega dan bahagia terukir di wajah pucat Pak Brata. "Mulai saat ini panggil Bapak, Kakek."
Pak Brata menggenggam erat tangan Jessica, merasa bebannya kini telah terangkat. Namun bagi Jessica, anggukan kepala itu adalah tanda bahwa dia baru saja menandatangani kontrak untuk masuk ke dalam neraka yang diciptakan oleh Morgan.
******
Malam harinya, rumah megah keluarga Morgan berubah riuh. Morgan sengaja mengundang teman-teman dekatnya untuk berpesta di taman depan rumah. tersebut. Erika duduk manja di pangkuan Morgan, berlagak seolah dialah sang ratu semalam.Namun, di tengah keriuhan itu, beberapa teman Morgan mulai bertanya-tanya."Eh, Morgan! Mana istrimu? Bukannya katamu akan bergabung?" tanya salah satu temannya, memancing perhatian yang lain.“Iya, kami ingin segera melihatnya. Seperti apa dia sampai kau menolaknya?”Erika langsung tersenyum sini. “Lihat saja nanti.”Morgan merogoh ponsel di saku jasnya. Dia melangkah sedikit menjauh dari kerumunan, lalu menghubungi nomor Jessica.Di ruang membaca, Jessica sedang duduk tenang membaca buku. Dia sengaja menyalakan musik klasik kecil untuk meredam kebisingan pesta di depan. Begitu layar ponselnya menyala menampilkan nama Morgan, Jessica menggeser tombol hijau dengan malas."Halo?" ucap Jessica dingin."Heh, pelayan! Ke mana saja kamu?! Cepat keluar ke taman de
Baru saja Jessica hendak membalikkan badan untuk kembali ke kamarnya, suara deru mobil mewah terdengar berhenti tepat di halaman. Tak lama kemudian, pintu besar utama terbuka tanpa diketuk.Seorang wanita dengan kacamata hitam besar, gaun ketat yang mencolok, dan sepatu hak tinggi melangkah masuk dengan anggun. Di belakangnya, seorang sopir tampak kepayahan mengangkut tiga koper besar bermerek luar negeri.Itu Erika.Jessica menghentikan langkahnya, berdiri mematung di ujung koridor sambil melipat kedua tangan di dada.Erika menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Jessica dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara."Kenapa menatapku seperti itu, Jessica? Terkejut?" cibir Erika sambil melepaskan kacamata hitamnya. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di sini. Menemani Morgan-ku tercinta agar dia tidak bosan setengah mati melihat wajah kunomu setiap hari."Jessica menarik napas dalam-dalam, menahan rasa jijik yang menggelitik dadanya. "Tinggal di sini? Kau benar-benar tidak tahu malu
Jessica benar-benar shock, baru sehari menjadi istrinya Morgan, begitu banyak hal yang sangat menakutkan yang dialaminya.Morgan semakin kencang mencengkram lehernya Jessica. “Aku tidak main-main dengan ucapanku! Lakukan apa yang aku minta atau kau tidak akan bisa melihat matahari lagi!”Napas Jessica tersengal. Cengkeraman Morgan di lehernya kian mencekik. Namun, alih-alih menangis ketakutan, mata Jessica justru menyalang tajam, menatap langsung mata suaminya."Lepas ...," bisik Jessica parau."Ingat posisimu! Kau bukan siapa-siapa tanpa kakekku. Kalau kau tidak bisa berguna untuk mendapatkan warisan itu, kau tidak ada harganya di sini!"Dengan sisa tenaga, Jessica menampar menepiskan tangannya Morgan yang melemah.Jessica tersenyum sinis. "Menyuruhku hamil dengan pria lain demi ambisimu? Kau menjijikkan. Sampai kapan pun, aku tidak akan sudi menjadi alatmu!""Lakukan sesukamu. Tapi ingat, Kakek tidak akan selamanya ada untuk melindungimu. Aku akan membuat hidupmu di rumah ini seper
Malam itu, setelah seluruh rangkaian acara pernikahan yang melelahkan dan penuh kepalsuan selesai, Jessica melewati koridor rumah mewah Morgan.Dia berhenti di depan pintu kamar utama, kamar pengantin yang tiada lain di dalam Morgan. Jessica menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu perlahan memutar kenop pintu.Cklek.Pintu terbuka, dan pemandangan di dalam kamar seketika membuat Jessica terbelalak kaget.Di atas tempat tidur, Morgan sedang memeluk seorang wanita bergaun seksi. Itu Erika. Mereka tengah bermesraan mengabaikan fakta bahwa beberapa jam lalu Morgan baru saja mengucapkan janji suci pernikahan dengan wanita lain.Melihat pintu terbuka, Morgan menghentikan aktivitasnya tanpa rasa bersalah. Dia menoleh ke arah Jessica dengan memunculkan mata yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat."Bisa sopan sedikit tidak? Masuk ke kamar orang tanpa mengetuk pintu!" bentak Morgan kasar, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.Rasa syok yang sempat melumpuhkan Je












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.