INICIAR SESIÓNSaat meneliti sebuah lukisan, Mara—seorang arkeolog dari masa depan—secara misterius tersedot masuk ke dalam objek penelitiannya dan terdampar di era Kekaisaran Valedron. Nasib buruk membawanya ke tengah konspirasi berdarah karena wajahnya mirip dengan Lady Elara, selir Putra Mahkota Alaric yang baru saja dieksekusi mati atas tuduhan perzinaan. Diburu sebagai hantu yang kembali dari kematian, Mara bertahan hidup di dunia asing itu berbekal pengetahuan modern, sembari mencari jalan pulang. Namun, setiap langkahnya menyingkap kebenaran gelap di balik kematian Elara, dan membuatnya semakin tenggelam ke dalam intrik istana.
Ver más"Ah benar, maafkan aku... aku lupa bahwa kau pasti punya keluarga. Bagaimana jika kita memberi kabar pada keluargamu terlebih dahulu?" Mara tidak menjawab."Mereka juga akan ditempatkan di tempat yang aman, selama dirimu nanti hidup bersamaku," bisik Isolda lembut, jemarinya yang hangat menyeka bulir air mata yang terus meleleh di pipi gadis itu.Pertanyaan itu justru menghantam dada Mara lebih keras. Isaknya pecah, semakin tak terkendali. Pulang? Bagaimana bisa ia pulang jika dunia tempat ia berpijak sekarang terpisah oleh dimensi dan rentang waktu yang tak masuk akal?Lagi pula, rumah mana yang menunggunya? Di zamannya sendiri pun, ia sudah sebatang kara sejak kakeknya—satu-satunya keluarga yang ia miliki—meninggal dunia tahun lalu.Rasa kehilangan yang belum sepenuhnya sembuh kini berpadu dengan ketidakberdayaan di dunia asing ini, menggulung Mara dalam rasa sepi yang menghimpit dada."Countess, biarkan saya yang mengantarnya ke kamar," suara Alaric akhirnya memecah keheningan di r
Countess Isolda merangkul bahu Mara yang masih gemetar basah kuyup, menuntun gadis itu berbalik memunggungi takhta. Mara sempat melirik ke belakang untuk sekilas—mendapati Adelaide menatapnya dengan rahang mengeras dan mata yang dipenuhi kebencian.Di luar halaman aula istana, sebuah kereta kuda telah menunggu dan membentangkan daun pintunya, menyambut Mara dan Countess Isolda. Dua perempuan itu lantas masuk, menduduki kursi berpelapis beludru di dalamnya.Situasi mendadak hening dan canggung. Sejak kereta kuda meninggalkan istana, tak ada yang memulai pembicaraan, dua perempuan itu sibuk dengan pikiran masing-masing, membiarkan rasa itu berlarut hingga kereta kuda berhenti di depan sebuah mansion.Mansion itu dikelilingi hamparan mawar putih di tamannya. Kelopak-kelopak yang berguguran tertiup angin sore berserakan di sepanjang jalan, membuat ilusi sebuah bentangan altar pernikahan.Alaric yang sejak tadi mengiringi perjalanan mereka dari atas kuda hitamnya melompat turun dengan gerak
Countess Isolda Veyne berlari menerobos barisan prajurit, disusul oleh Alaric yang melangkah lebar dengan pedang berhulu rubi di tangannya.Kaisar Aurelian yang melihat kedatangan mereka perlahan menyunggingkan senyum sinis. "Ah, putraku yang beberapa waktu lalu kembali dari medan perang membawa kemenangan dan sulit sekali ditemui... akhirnya muncul juga," sambutnya seraya bertepuk tangan pelan.Alaric sama sekali tidak membalas sapaan itu. Tanpa mengalihkan pandangan, ia melangkah lebar menghampiri Mara yang masih berlutut di lantai.Dengan satu tebasan pedang, ia memotong tali yang mengikat kedua tangan Mara ke belakang, lalu membantunya berdiri. Rahang Alaric mengeras seketika saat mendapati sudut bibir gadis itu bengkak dan mengeluarkan amis darah segar.Adelaide yang melihat pemandangan itu menggigit bibirnya kesal, matanya menyala penuh dengki.Aurelian menyipitkan mata, kembali bersuara dingin, "Untuk seorang selir yang berzina, kau memperlakukannya terlalu baik, Putraku."Tat
Kehidupan istana dimulai sejak fajar menyingsing. Lonceng istana berbunyi, diiringi para pelayan yang berpacu waktu menyiapkan hidangan untuk sarapan, dan melayani majikan mereka untuk bersiap memulai hari. Alaric telah meninggalkan istana sejak subuh bersama ksatria pribadinya. Sementara itu, Mara memulai harinya dengan duduk bersantai di meja kerja Alaric.Rasa bosan mendera. Jemarinya sibuk melipat lembaran kertas menjadi origami berbentuk burung, sampai seorang pelayan masuk membawa nampan berisi sarapan."Silakan, Lady," ujar pelayan itu seraya menundukkan kepala.Mara menatap wajah pelayan itu sejenak. Sorot matanya terasa asing—jelas bukan pelayan yang kemarin memandikannya. Namun, enggan memperpanjang curiga, ia mengabaikannya dan meraih sendok untuk menyantap makanan.Pelayan itu bergeser ke arah jendela di belakang Mara, menata tirai yang terkulai.Tanpa peringatan, sebuah kain tebal berbau apak mendadak menyergap dari belakang, membekap rapat mulut dan hidung Mara!"Diam k


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.