LOGINSaat meneliti sebuah lukisan, seorang arkeolog dari masa depan bernama Mara secara misterius tersedot masuk ke dalam objek penelitiannya dan terdampar di era Kekaisaran Valedron. Nasib buruk membawanya ke tengah konspirasi berdarah karena wajahnya mirip dengan Lady Elara, selir Putra Mahkota Alaric yang baru saja dieksekusi mati atas tuduhan perzinaan. Diburu sebagai hantu yang kembali dari kematian, Mara bertahan hidup di dunia asing itu berbekal pengetahuan modern, sembari mencari jalan pulang. Namun, setiap langkahnya menyingkap kebenaran gelap di balik kematian Elara, dan membuatnya semakin tenggelam ke dalam intrik istana.
View More“Ha-hantu! A-Ada hantu Lady Elara!”
Jeritan melengking seorang wanita membuat Mara menoleh. Ia mengernyit mendengar dialek kuno yang begitu akrab baginya setelah setahun bergabung dengan tim ekspedisi Kekaisaran Valedron untuk meneliti situs-situs peninggalan masa lampau.
Mara mengedarkan pandangan. Ada sesuatu yang janggal di sekelilingnya, sesuatu yang belum mampu ia pahami.
Sebuah kastil megah menjulang di hadapannya, dengan menara-menara tinggi yang menembus langit. Orang-orang di sekitarnya mengenakan pakaian layaknya bangsawan dari era kerajaan kuno. Para wanita berbalut gaun beludru tebal dengan kerah renda kaku, sementara para pria mengenakan mantel berat berlapis bulu.
Seingat Mara, beberapa saat lalu ia masih berada di laboratorium, mengamati lukisan seorang wanita bergaun biru. Ia ingat betul bagaimana kanvas itu mendadak bergetar, sebelum memuntahkan dedaunan kuning yang menyelimuti tubuhnya dan menelannya bulat-bulat.
“Panggil penjaga!” teriak seseorang.
Mara tergagap saat melihat dua prajurit berzirah menerobos kerumunan dengan tombak terhunus di tangan mereka. Orang-orang sontak berhamburan.
Mara mengerjapkan mata beberapa kali. Ia masih belum memahami situasinya, tetapi nalurinya menggerakkan kakinya sendiri untuk kabur dari dua prajurit itu.
Derap sepatu bot menggema di sepanjang lorong.
Mara berbelok sembarangan, keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Dua prajurit yang mengejarnya, tinggal beberapa langkah lagi di belakang.
Mara mempercepat larinya menerjang semak-semak, sampai kedua matanya menangkap sebuah pintu yang sedikit terbuka. Ia segera menyelinap masuk, merapatkan dan menahan pintu itu dari dalam, lalu menahan napas.
Setelah suara langkah para prajurit menjauh, Mara mengembuskan napas lega. Ia merosot di balik pintu, memeluk lutut sambil mencengkeram jas laboratoriumnya yang kusut. Di tengah segala keanehan ini, pakaian itu menjadi satu-satunya hal yang masih terasa familier.
Aroma minyak tanah dan kayu lapuk memenuhi ruangan. Udara pengap yang menusuk hidung membuat Mara semakin sulit meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah mimpi.
Ia merogoh saku jas dan mengeluarkan senter kecil. Sorot cahayanya menyapu ruangan hingga berhenti pada sebuah kanvas raksasa di dinding utama. Kain penutupnya tersingkap, memperlihatkan sosok wanita bergaun biru malam.
“Lady Elara...” bisik Mara.
Ia melangkah mendekat, nyaris tak mampu mengalihkan pandangan dari wajah yang selama enam bulan terakhir menjadi objek penelitiannya.
Belum selesai ia mengamati lukisan itu lebih jauh, sebuah anak panah melesat melewati kepalanya dan menancap keras di dinding.
Mara tersentak, hingga senternya terlepas dari genggaman dan menggelinding di lantai.
Pintu ruangan dihantam hingga terbuka. Cahaya jingga sore membingkai sosok pria bertubuh tegap yang mengenakan mantel bersulam benang perak. Rambut keemasannya jatuh berantakan di dahi, sementara sebilah pedang berhulu rubi tergenggam erat di tangannya.
Pria itu melangkahi peti-peti tua dan menghampiri Mara dengan langkah tergesa. Namun, begitu berdiri tepat di hadapannya, ia mendadak membeku.
Pedang di tangannya terlepas dan jatuh beradu dengan lantai.
“Elara, kau... masih hidup?” Suaranya parau, nyaris tak terdengar.
Mara mengernyit.
Tanpa menunggu jawaban darinya, pria itu merengkuh tubuhnya erat-erat.
“Ma-maaf, Tuan! Lepaskan aku!” Mara mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga. “Anda salah orang. Namaku bukan Elara!” ucap Mara terbata mengeja Bahasa Valedron.
“Apa maksudmu kau bukan Elara?” balasnya dengan suara bergetar.
Pria itu mencengkeram tangan Mara dan menariknya ke depan sebuah cermin tembaga besar di sudut ruangan. Ia berdiri di belakangnya, satu tangan melingkari bahu Mara agar gadis itu tak bisa menghindar.
“Lihat cermin itu!”
Mara menatap pantulan mereka dengan napas memburu.
“Bintik hitam di sudut mata kirimu, garis rahangmu, bahkan caramu menatap...” Pria itu menunjuk pantulan wajah Mara. “Siapa lagi yang memiliki wajah seperti ini kalau bukan Elara-ku?”
Mara tertegun. Wajah di cermin itu memang wajahnya sendiri, tanpa perubahan sedikit pun.
“Tidak ada yang berubah. Ini wajahku,” bantahnya sambil menoleh, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Pria itu mengangkat alis, seolah penyangkalan Mara justru menguatkan kecurigaannya.
“Jika ada yang mengancammu hingga kau terpaksa bertindak seperti ini, katakan kepadaku, Elara. Aku akan selalu berada di pihakmu.”
Mara mengembuskan napas kasar. Dari semua yang dipelajarinya tentang sejarah Valedron, ia tahu siapa wanita yang terus disebut pria itu. Elara adalah selir Putra Mahkota yang dieksekusi karena skandal perzinaan dengan Pangeran Lucien—sosok dalam lukisan yang selama ini ia teliti.
“Ka-kalau begitu...” Mara mundur perlahan. “Kau Alaric?”
Alaric melangkah mendekat. Mara spontan mengangkat tangan untuk menghentikannya.
“Berhenti di situ!” serunya panik. Ia menoleh ke segala arah, berusaha memahami tempat asing yang kini menjadi jebakannya. “I-ini di mana?”
“Apa kau begitu mendambakan Lucien hingga rela bersandiwara demi menghapus jejak hubungan kalian?” tanya Alaric tajam.
Mara mengernyit. “Bersandiwara? Apa untungnya bagiku melakukan itu? Aku benar-benar bukan wanita yang kau maksud, dan aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa sampai di sini!”
“Cukup, Elara!” bentak Alaric.
“Aku bahkan memejamkan mata ketika kau menghabiskan waktu bersamanya di ruang melukis. Namun, jika kau pikir aku akan membiarkanmu melarikan diri sekali lagi dengan berpura-pura menjadi orang lain, kau salah besar.”
“Demi Tuhan, aku mengatakan yang sebenarnya!” Mara mulai kehilangan kesabaran. “Kalau kau memang tidak percaya kepadaku, bawa saja aku kepada orang-orang yang kau curigai terlibat dalam semua ini. Atau pertemukan aku dengan seseorang yang benar-benar mengenal Elara! Pelayan pribadinya, sahabatnya, keluarganya—siapa pun!”
“Kau pikir aku membutuhkan orang lain untuk mengenali istriku sendiri?” balas Alaric dengan rahang mengeras. “Aku tidur di sampingnya setiap malam selama tiga tahun. Aku—”
“Lalu, apa hasilnya setelah tinggal bersama selama tiga tahun?” potong Mara. “Kau bahkan tidak bisa membedakan kami! Mustahil ada dua orang yang benar-benar sama dalam segala hal. Bahkan saudara kembar pun punya kepribadian yang berbeda!”
Rahang Alaric mengencang. Ia menatap Mara selama beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah pintu.
“Matthew!”
Seorang pria segera muncul dari balik pintu.
“Bawa dia ke kamar menara di paviliun timur!” perintah Alaric dingin.
***
Mara menyusuri lorong-lorong sepi hingga tiba di area luar paviliun.Menyadari pintu utama dijaga ketat, ia mencari jalan lain dan menemukan jendela kamar Alaric yang kaitnya tidak tertutup sempurna. Ia pun memanjat dan menyelinap masuk.Baru saja kakinya menapak lantai, suara ketukan terdengar dari pintu depan.Mara sontak menoleh. Tak sempat berpikir panjang, ia buru-buru merunduk dan bersembunyi di kolong meja kerja besar di sudut ruangan.“Aku ingin masuk menemui Alaric!” Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu.“Maaf, Yang Mulia Putri Mahkota. Putra Mahkota sedang tidak berada di tempat,” jawab pengawal yang berjaga.“Aku sedang mengandung anaknya. Apakah aku masih memerlukan izin untuk menunggu suamiku?” Suara Adelaide meninggi, tajam dan disengaja.“Mohon maaf, Yang Mulia. Perintah Putra Mahkota sangat jelas. Tidak seorang pun diizinkan memasuki ruangan ini tanpa izin langsung darinya.”“Yang Mulia, sebaiknya kit
Para pejabat mulai membalik lembar demi lembar perkamen yang telah dibagikan sebelum sidang dimulai.“Penyelidikan ini bermula sekitar satu bulan lalu. Saat itu, beredar laporan mengenai krisis air bersih di sekitar wilayah Panti Asuhan St. Seraphina. Pemerintah setempat hanya mengandalkan distribusi pasokan makanan dari luar, sementara kerusakan lingkungan sama sekali tidak ditelusuri,” papar Alaric langsung pada inti masalah.Mara mengangkat wajah sedikit.Penjelasan Alaric tentang pemerintah setempat yang hanya sibuk menyalurkan bantuan tanpa menyelidiki akar persoalan mendadak mengingatkannya pada cerita yang pernah dibagikan seniornya saat ekspedisi.Seniornya pernah berkata, meski data lengkapnya belum berhasil disusun, sebuah wabah besar menyerang Kekaisaran Valedron beberapa waktu setelah kudeta Alaric. Wabah itu bermula dari krisis kesehatan di wilayah terpencil yang diabaikan dan tidak diselidiki semestinya, hingga akhirnya mencapai ibu kota.Seorang pejabat kekaisaran kemud
Suasana malam di kamar Mara terasa begitu hening setelah ia selesai membersihkan diri dan menghabiskan makan malamnya. Sesuai anjuran Gordon, ia juga telah meminum obat pencegah infeksi yang diberikan sebelum bersiap untuk tidur.Namun, baru saja ia hendak merebahkan diri, ketukan pelan terdengar dari balik pintu.Begitu pintu dibuka, sosok Eron sudah berdiri di ambangnya dengan wajah kaku. Pria itu menyodorkan sebuah keranjang rotan berisi berbagai camilan dan buah-buahan segar.Mara menatap keranjang tersebut, lalu mengangkat sebelah alis.“Biar kau tidak bosan selama masa pengurungan,” ujar Eron ketus. Tanpa menunggu tanggapan, ia langsung berbalik dan hendak pergi.“Tu-tunggu!”Mara buru-buru bangkit dari kursinya dan menyusul pria itu sebelum sempat menjauh.Eron meliriknya malas dari sudut mata. “Apa lagi?”Alih-alih langsung menjawab, Mara justru mengamati penampilan saudara angkatnya dari ujung kepala hingga kaki.“Selarut ini kau masih mengenakan seragam lengkap?” Ia menyipit
Di bawah pengawasan ketat para prajurit, ketiga anak yang meninggal dimakamkan di area pemakaman kecil milik panti asuhan.Tangisan para pengurus dan anak-anak yang ditinggalkan mengiringi prosesi hingga selesai, termasuk Ilyas yang akhirnya merelakan kepergian adiknya.Tak lama setelah pemakaman, Alaric mengeluarkan perintah evakuasi. Rombongan Mara yang terdiri dari Sarah, Emily dan Florencia diperintahkan kembali ke ibu kota, Kaisergard.Para prajurit ditinggalkan untuk mengawasi panti asuhan dan desa.Atas arahan Mara, setiap orang yang ikut dalam rombongan telah mengenakan masker kain yang dibuat khusus sebagai langkah perlindungan tambahan selama perjalanan.Hari telah beranjak sore ketika kapal penyeberangan akhirnya merapat di dermaga utama daratan Valedron.Pelabuhan yang biasanya dipenuhi kesibukan kini diselimuti ketegangan. Beberapa gerbong kereta kuda mewah dengan lambang keluarga bangsawan telah berderet menunggu di area dermaga.Rupanya, kabar mengenai kondisi di St. Se












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore