Masuk
Seharusnya hari ini Shanum sedang memilih warna lipstik untuk akad.
Seharusnya, setelah ini ada kata ‘sah’ menggema kepalanya. Namun, realita justru menamparnya dengan cara yang paling menyakitkan. “Kita putus.” Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Elzio. Singkat, tanpa beban, seolah waktu tiga tahun yang mereka habiskan tidak lebih dari sekadar kontrak bulanan. “M–maksud kamu?” Mata Shanum berkaca-kaca, menahan badai di dadanya. “Nesya hamil dan aku harus tanggung jawab.” Dunia Shanum runtuh seketika. Nesya adalah sahabatnya sendiri. Pengkhianatan ganda itu membuat telapak tangan Shanum mengepal hingga kukunya memutih. Banyak pertanyaan terus bergumul di benaknya. Bagaimana bisa? “Makanya kamu tuh gak usah sok suci. Buktinya Nesya mau ‘main’ sama aku dan sekarang hamil anakku.” Ucapan Elzio dari sebulan lalu kembali terngiang, menusuk tanpa ampun. Gila! Benar-benar gila! Shanum tidak ingat sejak kapan gelas ketiga itu habis. Atau keempat. Yang ia tahu, kepalanya terasa ringan—terlalu ringan untuk perempuan yang sebulan lalu kehilangan tunangan, sahabat, dan masa depan sekaligus. Saat ia hendak pulang dari bar untuk meluapkan emosi dan tangisnya, nama bosnya terpampang di layar ponselnya. Ngapain juga sang bos mengganggunya malam ini? “Ya, Pak? Ada apa?” ujarnya seraya berdeham setelah ponsel menempel pada daun telinga. Namun, matanya masih mengerjap kecil. Menyadarkan dirinya sebelum sadar suaranya tak terdengar. Berpacu dengan musik di belakangnya. “Belum pulang?” sahut pria itu di seberang telepon. “Belum, Pak,” jawab Shanum singkat. Lalu, dengan sedikit jeda, ia menambahkan, “Ada apa ya, Pak, hubungi malam-malam begini? Setahu saya, kerjaan saya sudah selesai.” Beberapa detik hening. Lalu, terdengar helaan napas singkat dari seberang. Shanum mengernyit samar. Pipi hangatnya ia tepuk pelan, berusaha tetap sadar. Ucapannya barusan … aman, ‘kan? Tidak akan membuat bosnya murka, ‘kan? “Tolong ambilkan flashdisk hitam di laci meja saya,” ujar sang bos akhirnya. Nadanya tegas, khas dirinya. “Antarkan ke Cafe Delonix. Setengah jam dari sekarang.” Lalu telepon itu diputuskan sepihak. Bosnya— agak gila ya? Menyuruh sesuka hati tanpa peduli ini jam berapa! Namun mau tak mau, ia menuruti sambil memegang kepalanya yang sudah berat. Perjalanan ke kantor terasa sangat aneh. Lampu jalan memanjang seperti garis-garis cair. Lift naik terlalu lambat, atau mungkin kepalanya yang terlalu cepat berputar. Shanum bersandar di dinding, memejamkan mata sesaat. Satu bulan lalu dia perempuan waras. Sekarang? Dia memenuhi perintah bos di tengah malam dengan sisa alkohol di darahnya. “Keren,” gumamnya lirih sambil terkekeh sendiri. “Hidup aku keren banget.” Pintu lift terbuka. Kantor lantai atas sunyi. Terlalu sunyi sampai langkah sepatunya sendiri terdengar memalukan. Shanum membuka pintu ruang kerja Michael dengan kartu akses, lalu menutupnya pelan—seolah ruangan itu bisa marah kalau dibanting. “Oke. Fokus. Flashdisk hitam. Laci meja.” Dia mendekat, membuka laci satu per satu. Isinya rapi. Terlalu rapi untuk pria yang, entah kenapa, selalu membuatnya gugup bahkan sebelum ia mabuk. “Flashdisk … flashdisk …,” gumamnya, matanya menyipit, kepalanya miring sedikit. Dan di laci terakhir, “Aha … ketemu! Ini yang kucari!” Shanum menarik flashdisk hitam itu, lalu menghela napas kecil. Selesai. Harusnya selesai. Namun saat ia berdiri dan berbalik— Langkahnya terhenti. Di belakang kursi kerja Michael, di lantai berlapis karpet gelap itu, ada sesuatu yang … tidak seharusnya ada. Shanum mengerjap. “… hah?” Dia melangkah mendekat, sedikit sempoyongan, lalu menunduk. Celana dalam. Abu-abu. Bahan kelihatan mahal. Dan—Shanum menelan ludah— Besar. Bukan besar biasa di bagian depannya, tapi …. Besar yang bikin kepalanya mendadak kosong. Otaknya haus pelarian, mulai merancang skenario yang tidak masuk akal. Ia menggeleng kecil, mengenyahkan pikiran liarnya terhadap bosnya. Buru-buru, Shanum menarik flashdisk lalu diselipkan ke tas kecilnya. Namun, tangannya berhenti saat melihat kain abu-abu itu masih ada di genggamannya. Wajah Shanum terasa terbakar. Bayangan Michael yang selama ini hanya ia lihat sebagai atasan yang otoriter, kini berubah menjadi sosok predator yang memenuhi fantasinya. Tiga tahun bersama kekasihnya, Shanum bahkan tidak pernah membayangkan hal seekstrim ini. Namun, pengkhianatan Elzio seolah memutus urat malu dan kewarasannya dalam semalam. Shanum bergegas keluar dari ruangan CEO. Efek alkohol yang tadi sempat ia coba tekan, kini justru terasa semakin menguasai sarafnya. Dengan napas yang sedikit memburu, ia berjalan sempoyongan. Sisa-sisa pening di kepalanya membuat jarak yang dekat itu terasa sangat jauh, membuatnya terus menggerutu. Sampai di sana, Shanum melangkah masuk dengan sisa tenaga yang ada. Matanya yang sayu berpendar, mencari meja nomor 3 yang diucapkan bosnya. “Nah, itu dia!” tunjuknya saat menemukan sosok bosnya. Michael sedang meeting dengan kolega saat Shanum mendaratkan tubuhnya di sofa empuk, terlihat cukup kasar. Ia duduk dengan posisi yang agak doyong. Dengan gerakan yang agak ceroboh, Shanum merogoh tasnya, meletakkan flashdisk di atas meja kayu. “Ini flashdisk-nya, Pak!” Michael yang sedang tertawa sambil menikmati minuman dengan koleganya, terhenti sejenak saat melihat kedatangan sang sekretaris yang tampak kurang professional. Aura dominannya sangat kentara. Saat ia mencium bau alkohol dari mulut Shanum, ia menegur lirih, “Kamu— mabuk?” “Dikit, Pak! Hanya 3 gelas whisky!” Shanum mengangguk tipis. Dia mengakui mabuk tiga gelas, tapi dia menunjukkan 5 jari. “Kamu ini! Bisa-bisanya mabuk!” Desisan lirih yang keluar dari bibir bosnya membuat dia grogi. Apalagi, paha mereka kini saling bersentuhan, membuatnya resah, gelisah dan membuatnya sangat tidak nyaman. Setelah meeting selesai, Michael membawa Shanum keluar menuju parkiran. Dia agak kesal lantaran sekretarisnya yang tak pernah mabuk, kini justru menenggak alkohol yang cukup banyak. Rasa penasaran menghantui benak Michael. Apa yang terjadi dengannya? Sampai di parkiran, kondisi Shanum makin teler. Gadis itu menempel pada Michael, membuatnya risih. “Pulang aja sana, kayaknya kamu gak baik-baik aja,” ucap Michael setelah melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Shanum. “Hm.” Shanum mengangguk patuh. Baru juga lima langkah, ia nyaris terjatuh. Michael berdecak pelan, lalu menghampirinya, “Ceroboh!” Takut sekretarisnya melakukan tindakan impulsif, ia bawa Shanum menuju ke mobilnya. Begitu ia meletakkannya, Shanum justru menariknya dan tubuh mereka berbenturan. “Aw! Sakit, Pak!” rintih Shanum sambil memegang dahinya yang baru saja bertubrukan dengan dada bidang sang bos. Di sisi lain, Michael tidak menanggapi rintihan itu. Ia justru tertegun kaku. Saat Shanum kehilangan keseimbangan, isi tote bag miliknya tercecer di karpet mobil. Di antara tumpukan barang yang berhamburan itu, samar-samar Michael melihat pemandangan yang mustahil. Bukannya marah, Michael justru penasaran. Lalu, Michael dekatkan wajahnya ke telinga Shanum yang masih mematung, berbisik dengan suara rendah, menggetarkan jiwa lawan bicaranya. “Kamu—sejak kapan senakal ini?”“Sekarang, aku paham mengapa Allah mempertemukan kita, Shine. Itu karena... kita memang sudah ditakdirkan bersama, bahkan sejak kita belum dilahirkan.”Shanum mendongak, menatap lekat manik mata suaminya yang berkilat di bawah cahaya lampu kristal. “Dan apa kau bersyukur karena itu?” tanyanya dengan senyum tipis yang menggoda.“Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena sekarang kamu resmi menjadi istriku. Kita akan bersama selamanya,” jawab Michael mantap.Seolah tak lagi memedulikan ribuan pasang mata yang memerhatikan mereka, Michael langsung menangkup wajah Shanum dengan kedua tangannya. Di atas lantai dansa yang megah itu, ia mendaratkan ciuman dalam yang penuh perasaan, menyalurkan seluruh emosi yang sempat tertahan sejak pagi tadi.Disaksikan oleh seluruh tamu undangan di tengah dekorasi biru muda yang magis, Michael tak ragu lagi menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan hangat, merayakan kemenangan cinta mereka yang kini telah sah Kilat lampu blitz menyambar bertubi-tubi, men
“Memberi cucu untuk Mama?” Shanum mengulang kalimat itu. Dia lantas tersenyum simpul ke arah Michael yang juga tersenyum malu-malu.Michael maka mendekati mamanya dan membisikkan sesuatu, pelan sekali, “Tentu saja kami akan memberikannya. Bukankah sejak dulu, kami sudah membuatnya? Jadi, potensi Mama memiliki cucu tahun depan akan terlaksana.”Lucy tersenyum bahagia mendengarkan itu. Kini, ia peluk anak dan menantunya itu dengan penuh kasih. “Ya sudah kalau begitu. Berbahagialah kalian berdua.”Usai pelukan itu terlepas, Shanum dan Michael mengambil tempat duduk di samping Damar, ayahnya Shanum.Tak lama berselang, penghulu pun tiba. Setelah mengecek kelengkapan berkas-berkas pernikahan dan memastikan tak ada yang salah, barulah penghulu itu memulai acara dengan cara menjabat tangan Michael dan mengucapkan ikrar ijab kabul.Dan dalam satu tarikan napas, Michael akhirnya mampu melakukannya. Lancar, dan tanpa hambatan. Begitu para saksi berkata ‘Sah’, ia menangis lantaran haru. Usai p
“Mempelai wanita sudah siap, Tuan. Anda harus segera turun.”Suara ketukan di pintu itu memecah keheningan di dalam ruang ganti. Pukul 07.45, Michael sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Ia tampil berbeda dengan setelan baju kurung putih lengkap dengan kopyah berwarna senada. Biasanya, ia lebih akrab dengan potongan jas atau tuksedo yang kaku, namun pagi ini, kesederhanaan pakaian tradisional itu justru membuatnya tampak jauh lebih tenang sekaligus berwibawa.Ia tersenyum tipis pada bayangannya sendiri, sembari sesekali membetulkan posisi kopyah yang sebenarnya sudah pas. Jemarinya sedikit bergetar saat ia mencoba mengatur napas yang mulai pendek. Tidak ada persiapan yang berlebihan, fokusnya hanya satu: kalimat ijab kabul nanti harus tuntas dalam satu tarikan napas.“Saya terima nikahnya Shanum ….”Kalimat itu terus ia tancapkan dalam memori, mengulanginya berulang kali di dalam hati. Ada ketakutan konyol yang membayangi. Jika ia sampai salah berucap ijab kabul sebanyak tiga
“Bajingan kamu, Mike! Mikeeee! Lepaskan aku! Lepaskan!”Di dalam jet pribadi, Felice diikat kencang oleh bawahan Michael. Ia meronta berulang kali meminta dilepaskan. Bahkan saat Michael mendekat, ia meludahi pria itu hingga membuatnya marah.Telapak tangan kanannya kemudian bergerak mencapit dagu wanita itu. “Kamu menyebutku bajingan, tetapi kamu sendiri brengsek, Sialan. Kalau kamu tidak membuatku marah—mengadu dombaku dengan Shanum, mungkin aku tidak akan begini.”Sebelum Felice meludahinya lagi, ia menambahkan, “Sekarang, kamu tahu kemarahanku, ‘kan? Aku bukan pria yang bisa kamu singgung, Felice. Sudahi kegilaanmu itu!”Michael segera mengempaskan wajah Felice. Dengan napas terengah, ia bersiap pergi dari kabin itu. Tapi, langkahnya melambat ketika ia mendengar rintihan wanita itu yang menyayat hati.“Bagaimana aku bisa menyudahi kegilaanku, sementara sejak dulu aku sangat-sangat menginginkanmu,” katanya getir. Felice kembali terisak dan dia berteriak-teriak, “Bahkan, kita sejak
“Apa itu tidak akan mengganggu bayi kita?” tanya Michael dengan nada yang benar-benar khawatir. Ia kemudian menyentuh perut Shanum dengan telapak tangannya, lembut sekali. Takut kalau gerakannya akan membuat bayinya terkejut.“Hah?” Shanum sempat melongo selama beberapa detik, namun sedetik kemudian tawanya pecah. Ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Michael yang tampak sangat polos dan tulus mengkhawatirkan hal itu. Saking gelinya, ia sampai merebahkan diri di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tak lupa, ia juga sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.Michael sama sekali tidak ikut tertawa. Ia justru menegakkan punggungnya dan menatap Shanum dengan serius. “Apanya yang lucu? Bukannya itu larangan dokter, ya? Tidak boleh berhubungan saat kandungan masih muda. Jadi untuk beberapa bulan ke depan, aku akan menyimpan hasratku. Dan kumohon, jangan memancingku, Shine.”Mendengar permintaan serius itu, Shanum perla
“Bagaimana? Sanggup atau tidak? Kalau tidak, silakan keluar dan carilah istri baru.”Michael terpaku, lidahnya mendadak kelu. Ia terjebak dalam keheningan yang menyesakkan.Di dalam benaknya, gejolak batin sedang bertarung hebat. Tentu saja, ia sudah bersumpah dalam hati untuk menjaga Shanum seumur hidupnya. Ia tidak akan lagi membiarkan tangannya bertindak kasar atau hatinya berpaling.Namun, syarat yang diajukan Damar terasa seperti jerat yang mustahil. Bagaimana mungkin ia bisa menjamin Shanum tidak akan pernah menangis? Hidup tidak pernah selembut itu. Tangis bisa terjadi karena rindu, karena duka kehilangan, atau bahkan karena perselisihan kecil yang lumrah dalam sebuah pernikahan.Michael tahu, satu tetes air mata Shanum yang jatuh karena kesalahannya dan sekecil apa pun itu bisa berarti maut jika ia mengiyakan sumpah berdarah sang calon mertua.“Tuan Damar ....” Michael memulai dengan suara serak, mencoba mencar







