LOGIN“Kamu—sejak kapan senakal ini?”
Shanum tersentak. Ia menelan ludah sebab kerongkongannya mendadak kering kerontang. “N–nakal gimana, ya, Pak?” Tak menyahut, Michael hanya berdecih. Ia cukup tau. Ia menutup pintu, lalu meminta sopirnya pulang. Ia akan mengantar Shanum sendiri. Setengah jam berlalu, Michael mengendurkan dasinya, melempar ke belakang, dan memperhatikan Shanum yang tidur dengan posisi bibir terbuka. “Sangat tidak estetik!” komentarnya. Mobil melaju kencang, membelah jalanan malam yang masih padat merayap saat waktu menunjuk ke angka 11 malam. Sampai di persimpangan jalan—ke arah rumah Shanum, Michael tersadar akan sesuatu. “Ck! Membawanya pulang akan jadi bencana,” decaknya. Memutar roda kemudi, Michael bawa gadis mabuk itu ke rumahnya. Masuk ke dalam kamar, Michael membaringkan Shanum ke atas ranjang. Bibir wanita itu masih terbuka, membuat gemas, dan helaan napasnya tertahan berkali-kali. Sudah, Shanum siap untuk tidur sampai pagi. Matanya terpejam, seolah sudah terlelap dengan tenang. Michael perlahan merayap mundur, hendak turun dari ranjang, bersiap mandi. Namun .... “Hah?” jerit sang lelaki, kaget saat jemarinya mendadak digenggam oleh Shanum yang tak sadarkan diri. Lanjut dengan wanita itu menariknya kasar hingga tubuh tersungkur dan rebahan di atas ranjang, menindih. “Siapa bilang kamu boleh pergi?” engah Shanum menatap tajam. Matanya merah akibat alkohol, sedikit bengkak juga di bagian bawah. Michael mengembus pelan. Gadis ini sedang mabuk, dan secara tak sadar menggodanya. Tak mau bertindak lebih jauh, dia tepis kedua lengan yang mengalungi lehernya. “Tidurlah … jangan memancingku!” Tapi begitu Michael menarik badan, Shanum menggeleng lemah. Wanita itu menegakkan badan, kedua lengan kembali membelit pinggang Michael. “Temani aku tidur!” Michael terkejut, tidak menyangka sang sekretaris yang sangat perfeksionis itu meracau seperti ini. Ia bernapas lebih cepat dan menatap sama lekat pada wanita yang terlihat seperti sedang ingin menangis di hadapannya. Jika tidak mabuk, mana mungkin Shanum bertindak seperti ini? Pelukan belum terlepas, sang sekretaris justru menangis tersedu. “Setiap malam aku selalu teringat pengkhianatannya. Bisa bayangin gak Pak, pernikahan yang seharusnya dilakukan hari ini, justru kandas karena orang ketiga!” Melihat wanita yang biasanya dingin dan super ketus ini dalam keadaan paling rapuh seperti sekarang, Michael tidak tertawa apalagi mengejek. Hatinya terenyuh. Gadis tegar dan tegas yang dia temui setiap hari, ternyata menyimpan sisi lemah seperti sekarang. Sekarang, Michael tahu alasan mengapa Shanum mabuk. Lalu, ia beri respons singkat. “Kamu pasti tersiksa.” Shanum mengangguk, membiarkan air mata menetes beberapa kali dari pelupuknya. “Dia menghamili sahabatku, … aku hancur. Mereka sudah menikah sekarang, dan menertawakanku. Dunia gak adil!” engahnya tersengal, lalu mulai meraung kencang. Hati Michael tergerak, murni karena kepedulian. Ia menyelipkan jari-jari di antara helai rambut sekretarisnya yang hitam dan tebal. Michael menanggapi singkat, “It’s alright, keluarkan semua bebanmu. Tutuplah matamu dan tidurlah, aku akan menjagamu dari mimpi buruk.” “Janji?” Shanum mendongak, jari kelingking ia letakkan di depan wajah, menuntut kejelasan. Dapat ia lihat senyum tipis Michael—begitu menenangkan dan damai. “Ya. Tidurlah.” Shanum menurut, dia merebahkan badan, tapi lengannya tak terlepas dari pinggang Michael. Sementara Michael menatapnya lamat seraya menggenggam kemudian diam membisu, terengah dalam linang dan tatap sendu. Perlahan, mata Shanum terasa berat, semakin mengantuk. Sepertinya, cara Michael menidurkan Shanum berhasil. Wanita itu sudah menutup mata sekian detik kemudian. Michael mengulas senyum tipis di wajah manakala sang sekretaris terlelap nyaman dalam pelukannya. Jika boleh dikata, sejujurnya ia sangat berdebar tidak karuan saat ini. Saat kaitan Shanum di pinggangnya mulai mengendur, Michael turun dari ranjang, lalu menyelimutinya. Michael menjauhkan raga gagahnya dari sisi Shanum, melangkah tenang, membawa tubuh lelahnya ke bilik kamar mandi untuk membasuh sisa adrenalin malam itu. Usai mandi, dengan uap air yang masih menyelimuti kulitnya, ia kembali menuju ranjang, merebah perlahan di samping wanita yang kini tertidur dengan nyaman, membiarkan keheningan malam menyatukan mereka dalam sisa emosi yang belum tuntas. Michael mematikan lampu nakas, membiarkan cahaya bulan dari balik kaca jendela besar menyinari separuh wajah mereka. **** Shanum jadi orang pertama terbangun pagi ini. Kepala berdenyut, membuatnya berkeringat dan tersadar kalau semalam ia mabuk, pergi ke bar, mengambil flashdisk dan .... “Ya ampun! Kenapa Pak Michael ada di ranjangku? Apa yang dia lakukan semalam padaku?” batinnya bergemuruh cepat, membayangkan skenario terburuk yang terjadi di antara mereka. Secara refleks, Shanum menjauhkan badannya dari Michael yang hanya bertelanjang dada. Mengenakan celana pendek kolor biasa dan ... sesuatu yang menonjol tampak menodai pandangannya pagi ini. “Ah, itu lagi, itu lagi!” Kini, Shanum membuka selimutnya. Utuh—bagaimana mungkin? Ia dan Michael tampak ... tidur bersama malam tadi. Lalu, benarkah tak terjadi apapun? Begitu menggali ingatannya lebih dalam, Shanum menyadari betapa bodohnya ia semalam! “Apa yang kamu lakukan dengannya, Shanum?” rutuknya dalam hati sambil memukuli kepalanya sendiri. Rasa panik menyelimutinya. Shanum segera beranjak dari sana dengan gerakan kasar. Sayangnya, gerakan itu membuat ranjang bergerak, membuat sepasang mata yang tertutup rapat perlahan terbuka, dan sebuah desisan samar terdengar. “Kamu mau ke mana?” Shanum membeku, ia menyadari ini bukan kamarnya. Lantas, ia menoleh ke belakang, menatap sungkan pada bosnya yang memancarkan aura dingin. Tapi, ia mengakui, posisi Michael saat ini sangat ... memikat. Kalimat terbata meluncur dari bibirnya, “I-itu ... itu ... apa yang kita ... lakukan semalam, Pak?” tanya Shanum pada akhirnya, memberanikan diri. “Tidak ada,” seloroh Michael, seolah mengerti apa yang dikhawatirkan sang sekretaris saat ini. Tak percaya dengan ucapan pria itu, Shanum bertanya lagi, “Yakin, Pak?” “Hm.” Saat Michael beranjak dari ranjang, Shanum memberondong pria itu dengan berbagai pertanyaan. Dia panik, sangat panik kau-kalau pria itu … memanfaatkan keadaannya semalam. “Maaf, tapi … kenapa Bapak bawa saya ke sini? Gak mungkin ‘kan kita tidur satu ranjang, tapi gak terjadi apa-apa di antara kita? Bapak gak usah bohong, coba jujur pak. Apa yang terjadi di antara kita. Bapak … udah nyentuh saya, iya, ‘kan? Jawab, Pak! Jangan buat saya panik, Pak! Saya ini masih perawan! Saya … takut ….” Seperti biasa, Michael tak banyak bicara. Pria itu beranjak, mengenakan sandal, dan menyahut tak acuh. “Jangan ngaco!” Shanum teringat ucapan rekannya. Katanya, saat melakukan ‘itu’ pertama kali akan terasa sakit di area intinya hingga sulit bergerak. Tapi, … ia memang tak merasakan apapun sekarang. Masih tak yakin, Shanum bertanya lagi, “Kalau gak melakukannya, kenapa Bapak bawa saya ke sini? Apa alasan Bapak bawa—” “Kalau saya gak bawa kamu ke sini, lalu saya harus bawa kamu ke mana? Saya tinggal kamu di restoran, gitu?”“Hmmmmph.” Shanum terdengar merintih. Kedua tangannya mendekap erat raga gagah Michael yang kini mulai mendobrak pertahanannya, membuatnya blingsatan ke kiri dan ke kanan saat c*mb*an terus-menerus datang tanpa jeda.Meski setengah sadar karena terpengaruh alkohol dan obat per*ngs*ng, tapi Shanum tetap bisa merasakan ‘benda pusaka’ Michael yang hangat mulai menyeruak masuk pelan ke liangnya.Perlahan, pinggul Michael bergerak maju, melesakkan se-inchi demi se-inchi ‘barangnya’ ke dalam tubuh Shanum. “Ssssssh …,” desis Shanum, terasa sakit, namun jelas ia sangat menginginkannya.Tak hanya melenguh, Shanum juga mencakar otot bisep Michael dengan kuat, dan Michael pun tahu Shanum sedang kesakitan karenanya. Dibayangi rasa bersalah, Michael pun bertanya, “Perlu kita hentikan?”Menggeleng lemah, Shanum tersenyum malu-malu, kedua mata terlihat sayu di bawah cahaya temaram yang menyorot tubuh polos keduanya. “No! Teruskan ….”Mendapat persetujuan, Michael tentu saja Michael akan meneruska
“Mungkinkah Mr. Sawyer memberi obat per4ngs4ng ke dalam minumanku? Tapi, itu mustahil. Minuman itu tersegel dan gelasnya pun bersih,” tanya Shanum dalam hati. Kedua matanya menyipit, lalu kecurigaan ia tujukan pada sang bos. Masih tak yakin, Shanum kembali bertanya dalam hati, “Atau justru … Pak Michael-lah yang melakukan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuanku— karena dia telah menyadari aku mengambil cel4na d4l4mnya dan … membawa peng4m4n ke kantor?”Saat beranjak, Shanum sedikit oleng, hendak jatuh ke samping, Michael mendekati menarik lengannya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Michael sambil memegangi lengan kanan Shanum.Shanum bergeming. Telapak tangan halus Michael yang kemudian mengusap lengannya, membuat sesuatu dalam dirinya menekan hebat dan membuatnya cukup gelisah. Ia tertegun susah payah, sebelum menghela napas berat sambil beranjak dari sofa. “Maaf, tapi aku harus pulang, Pak.”Michael menyusul berdiri, masih memegangi lengan Shanum agar gadis ini tidak jatuh. “Y
“Hans Bar?” Michael mengulang kata itu dengan sorot mata heran. Permintaan rekan bisnisnya— tidak wajar.Alis tebal Michael terangkat sebelah, sementara keningnya mengkerut dalam. Ia memutar kepalanya, menatap Shanum dengan intens—seolah tengah menuntut penjelasan lebih logis.“Iya, Pak. Saya tidak tahu kenapa beliau meminta meeting di sana.” Shanum menelan ludah dengan gugup. Dia pun menjelaskan, “Atau ... perlu kita batalkan saja meeting malam ini dan jadwalkan ulang besok pagi kalau Bapak tidak berkenan.”Michael tak ingin melepaskan kesempatan kerjasama ini. Maka dari itu, ia menyetujuinya saja—mengingat kalau Mario Sawyer merupakan pria yang agak ‘rewel’. “Tidak, setujui saja. Jam berapa?” tanya Michael kembali datar, seolah keberatan di wajahnya tadi menguap begitu cepat demi urusan bisnis.“Pukul delapan malam nanti, Pak.”..Pukul tujuh malam, Shanum sudah siap. Ia mengenakan blazer yang dipadukan dengan kemeja rapi dan rok pendek yang jatuh sepuluh sentimeter di atas lutut,
Usai turun dari mobil, Shanum belum juga bisa bernapas lega. Michael berdiri di sampingnya dengan aura otoritas yang begitu pekat. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada satu pun kekacauan yang terjadi di kabin tadi. Saat berjalan bersama, Michael menoleh pada Shanum, bertanya, “Kamu tahu Mr. Cho asli Tiongkok?”Shanum tersentak kecil. Ia pikir, Michael akan diam sepanjang jalan mengingat kejadian memalukan tadi. Namun tidak, pria itu justru menanyainya, mengurai suasana yang agak kaku tadi.Shanum, yang semula fokus pada jalan, kini mendongak demi menatap sang atasan. “Tahu, Pak.” Bahkan tanpa menoleh, Michael melempar instruksi pada Shanum. “Karena kamu bisa berbahasa Mandarin, saya mau kamu jelaskan presentasinya pakai bahasa Mandarin agar dia tidak perlu lagi menunggu penerjemah. Pastikan setiap detail tersampaikan dengan sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan.”Meski agak gugup, namun Shanum tampak mengerti, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Saya me
“H–hukuman? Hukuman apa, Pak?” Shanum menggigit bibir bawahnya, agak sanksi kalau Michael membahas ‘hukuman’ yang disebutkan tadi. Sedangkan Michael tidak menjawabnya. Ia menarik diri, membiarkan pertanyaan sekretarisnya itu menggantung di udara. Setelah duduk, ia kembali membuka laptopnya sambil berujar, “Kembalilah ke ruanganmu.” Shanum pun segera tersadar dari lamunannya. Ia berpikir, setelah melakukan kesalahan fatal tadi pagi, ia akan dihukum berat seperti pemotongan gaji, dipindah tugaskan ke cabang lain yang jauh dari rumahnya, di tempat pelosok, atau lainnya yang menurutnya buruk. Tapi, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi. Jadi, Shanum bisa bernapas lega. Begitu ia merapikan penampilannya, ia segera berpamitan. “Kalau begitu, saya permisi, Pak.” Tidak ada sahutan, dan Shanum makin kesal karena sikap bosnya yang sangat dingin. Begitu ia keluar ruangan bosnya, ia merutuki, “Dasar kanebo kering!” Shanum berjalan cepat menuju ruangannya, mengabaikan seorang wanita cantik
Di ruang meeting, Shanum benar-benar kehilangan fokus meski raga dan suaranya mencoba bertahan di depan jajaran orang-orang penting.Sebagai sekretaris, ia mengemban tanggung jawab untuk mempresentasikan Laporan Evaluasi Produk yang telah ia kerjakan satu minggu belakangan.Suaranya terdengar stabil saat menjelaskan grafik pertumbuhan pengguna, namun ia tak bisa membohongi Michael yang terlalu teliti mengamati ekspresinya.Di mata Michael, jemari Shanum begitu gemetar saat memegang laser pointer di bawah sorot lampu proyektor. Ia mengamati setiap gerak-gerik Shanum dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Melihat sekretarisnya nyaris kehilangan napas karena ketakutan di depannya sudah memberinya kepuasan tersendiri.Dan ketika pandangan mereka bertemu, Shanum sangat gugup. Ia bahkan menghindari tatapan bos-nya yang terkunci padanya. “Dia pasti gak sabar buat pecat aku!” batin Shanum sembari terus memberikan jawaban ketika salah beberapa eksekutif bertanya padanya. Tentu ia tak mau







