Setelah selesai mandi, Rendra langsung keluar. Kembali melihat Mutia yang sudah berganti baju dan celana training miliknya.
Mutia yang melihat Rendra memperhatikannya langsung menyilangkan kembali tangannya di depan dadanya. Rendra hampir tertawa karena melihat penampilan Mutia yang aneh dengan bajunya yang kebesaran dan tanpa bra. Wajah Mutia memerah karena malu, dia langsung membalikan tubuhnya. Rendra tidak berkomentar apa-apa. Dia melangkah mendekati lemarinya dan segera memakai baju tanpa peduli ada Mutia di situ. Setelahnya dia menoleh pada Mutia yang masih menunduk di pinggir ranjang. “Ayo pergi.” Mutia langsung menoleh. "Saya tidak bisa keluar dari kamar sekalipun dengan keadaan begini, Tuan. Orang-orang akan menertawakan saya. Saya malu! Anda tidak bisa melihat bagaimana penampilan saya sekarang?" Rendra berpikir sejenak, lalu kembali menatap Mutia. Melirik dua gumpalan yang masih saja terlihat meskipun Mutia sudah memakai baju miliknya. 'Benar juga.’ Jika dia keluar dalam keadaan seperti itu, itu hanya akan mengundang perhatian kaum pria di luar sana. "Pakai jaket ini." Rendra melempar sebuah jaket pada Mutia. "Kebesaran, Tuan." Protes Mutia setelah mencoba jaket pemberian Rendra. "Kenapa tubuhmu kurus sekali sih? Kamu kurang makan ya?" Mendengar itu, Mutia hanya menunduk saja. "Ah..” Wanita ini benar-benar menyusahkannya. “Baiklah. Aku akan mencarikannya untukmu. Diam di sini dan jangan keluar. Kamu akan mengundang nafsu para pelayan di rumah ini kalau keluar dengan keadaan seperti itu," ucap Rendra. "Anda serius, Tuan?" "Mau bagaimana lagi?” Tidak ada wanita di sini yang bisa dia suruh. Dia juga tidak mungkin menelpon karyawan kantor hanya untuk membelikan bra untuk Mutia kan? Apa kata mereka nanti! Justru akan ada gosip murahan yang menyebar. Kemudian melangkah keluar. Sebelum menutup pintu, Rendra menoleh kembali pada Mutia. "Jangan ke mana-mana dulu. Diam di sini dan tunggu aku." Rendra melangkah keluar. Namun setibanya di depan mobilnya, Rendra menghubungi Ken terlebih dahulu. Terlihat Ken berlari menyambutnya. "Tuan. Anda sudah akan berangkat? Mari.” Ken membukakan pintu mobil. Rendra langsung masuk, disusul Ken. "Antar aku ke toko pakaian wanita." "Anda tidak akan pergi ke kantor?" Ken mengerutkan alisnya. Rendra menggeleng. "Sepertinya hari ini tidak. Aku akan mencari pakaian untuk Mutia dulu. Dia tidak punya ganti satupun. Pakaiannya semalam basah," jawab Rendra. "Sekarang, anda perhatian sekali dengan wanita itu, Tuan. Atau karena semalam.." "Dia memang tidak punya baju! Mataku bisa ternoda terus kalau kubiarkan seperti itu." Ken tertawa mendengar ucapan Rendra. "Tuan. Apa Anda menyukainya?" Rendra menghela nafas dan menoleh "Apa begitu ya? Aku tidak pernah memikirkan wanita sebelum ini." "Tapi dia istri orang, Tuan?" Ken menoleh, mencoba mengingatkan Rendra. "Aku tahu. Tapi dia sudah mengambil semuanya dariku, Ken. Kamu tahu sendiri. Dan semalam... ah... otakku pun telah tercemar karena dia." Ken kembali tertawa. "Kamu jangan menertawakanku terus, Ken! Sebaiknya, kamu cari tahu, siapa suami Mutia. Aku penasaran dengan pria brengsek yang sudah tega memperlakukan Mutia seperti itu." "Sepertinya Anda benar-benar jatuh cinta padanya," ucap Ken. Rendra kembali menoleh, “Tidak tahu jatuh cinta atau tidak. Tapi kamu harus membantuku kali ini, Ken. Kita akan merebutnya dari suami brengseknya itu." "Tuan! Anda serius?" Ken tercengang. "Ya. Aku serius!" "Baiklah. Apa pun itu. Asal Anda bahagia, aku siap membantumu. Kita akan mengambilnya segera." Mereka berdua tertawa seperti gila. Ken kemudian teringat, jika apa yang dialami Rendra saat ini sama persis seperti ayah Rendra dulu. Ayah Rendra bahkan jatuh cinta pada istri orang yang sudah memiliki anak, lalu berhasil menikahinya dan hidup bahagia dengan kelahiran Rendra hingga kematian yang menjemput mereka. Ken menghentikan mobilnya di depan sebuah toko khusus pakaian wanita. Mereka berdua kemudian turun dan melangkah masuk. Seorang wanita muda pelayan toko langsung menyambut ramah mereka. "Tuan! Anda ingin mencari apa? Silakan..!" "Aku ingin membeli pakaian wanita. Baju tidur atau apa saja yang bisa dipakai wanita muda untuk bersantai di rumah. Tolong carikan. Dua lusin.!" ucap Rendra. "Seperti apa contohnya, Tuan?" pelayan wanita itu bertanya lagi. "Apa saja." Pelayan wanita itu agak bingung. "Sudah apa saja. Kalau cocok denganmu, bungkus saja," ucap Ken pada wanita itu. "Ah, baiklah, Tuan." Wanita itu segera pergi untuk memilih baju. "Eh, tunggu dulu!" Rendra kembali memanggil pelayan itu. "Iya, Tuan. Apa ada yang lain lagi?" "Sekalian itu... em... bra dan CD untuk wanita. Jangan lupa," "Ukurannya, Tuan?" Saat ditanya mengenai ukuran, Rendra menyerngitkan keningnya. Akhirnya dia menoleh pada Ken yang malah cekikikan. "Ken, kamu tahu ukurannya berapa?" "Mana kutahu, Tuan. Anda yang sudah melihatnya semalam. Apa Anda tidak sempat mengukurnya?" ledek Ken. "Sialan!" Rendra meninju bahu Ken. "Ckk, ah... berapa ya?" Rendra mencoba mengingat-ingat. "Aku tidak ingat. Sudahlah. Ukur dirimu saja. Sepertinya sama denganmu, hanya dia lebih kecil lagi tubuhnya," ucap Rendra pada pelayan wanita itu. "Aneh sekali Tuan ini. Bukankah ini untuk istri Tuan? Masa iya, Tuan bisa tidak tahu ukuran badan istri sendiri?" Ucap pelayan wanita itu, dengan menahan tawa. "Masalahnya mereka pengantin baru Nona." sahut Ken. "Aku tidak sempat memperhatikannya Bodoh!" Seru Rendra. "Masalahnya, bra itu jika kebesaran atau kekecilan tidak enak dipakainya, Tuan. Kenapa tidak membawa istri Tuan kemari, agar tidak salah ukuran? Atau, anda bisa menelponnya dulu." Pelayan wanita itu menjelaskan. "Dia sedang sakit. Sudahlah, kenapa malah berdebat masalah bra sih? Membingungkan. Ukur saja milikmu. Sudah cepat!" Bentak Rendra. Pelayan itu mengangguk segera. "Baiklah, Tuan. Sebentar. Mau berapa biji?"bertanya kembali. "Yang banyak!”Setelah selesai mandi, Rendra langsung keluar. Kembali melihat Mutia yang sudah berganti baju dan celana training miliknya.Mutia yang melihat Rendra memperhatikannya langsung menyilangkan kembali tangannya di depan dadanya.Rendra hampir tertawa karena melihat penampilan Mutia yang aneh dengan bajunya yang kebesaran dan tanpa bra.Wajah Mutia memerah karena malu, dia langsung membalikan tubuhnya.Rendra tidak berkomentar apa-apa. Dia melangkah mendekati lemarinya dan segera memakai baju tanpa peduli ada Mutia di situ.Setelahnya dia menoleh pada Mutia yang masih menunduk di pinggir ranjang. “Ayo pergi.”Mutia langsung menoleh. "Saya tidak bisa keluar dari kamar sekalipun dengan keadaan begini, Tuan. Orang-orang akan menertawakan saya. Saya malu! Anda tidak bisa melihat bagaimana penampilan saya sekarang?"Rendra berpikir sejenak, lalu kembali menatap Mutia. Melirik dua gumpalan yang masih saja terlihat meskipun Mutia sudah memakai baju miliknya.'Benar juga.’Jika dia keluar dalam ke
Pagi berikutnya.Plak... Plak... Plak....!!!Entah sudah berapa kali pukulan Ken mendarat di tubuh para penjaga."Bodoh! Bodoh! Tidak berguna!" Umpat Ken."Maafkan kami, Tuan." Para penjaga menunduk sembari meremas jari jemari masing-masing.Salah seorang penjaga berkata dengan ragu-ragu, "Kami memang sempat mendengar teriakan Tuan Rendra dan Nona Mutia. Tapi mana mungkin kami berani mendobrak pintu itu. Kami berpikir, mereka sedang…”"Sebenarnya apa yang terjadi? Kami sungguh tidak mengerti." Kata yang lain.Ken hanya menggertakkan giginya dengan geram, kemudian menoleh pada kepala pelayan yang bernama Fic, yang berdiri di belakangnya."Pecat mereka semua Fic, penjaga tidak berguna!""Tapi, Tuan,”Salah satu penjaga berlutut di kaki Ken."Tuan, kami sudah mengabdi lebih dari sepuluh tahun di rumah ini. Adakah kesalahan kami selain kali ini? Tolong beri kami toleransi."Ken tidak menghiraukannya kemudian melangkah masuk. Fic segera menyusulnya dengan tergesa."Tuan, anda tidak boleh b
Rendra melepas jaket kulitnya dan tanpa banyak bicara, menutupi tubuh Mutia dengan jaket itu. Satu lengannya melingkar di punggung wanita itu, lalu mengangkat tubuh Mutia ke pelukannya.Mutia tidak melawan. Rendra membuka pintu mobil dan meletakkannya perlahan di jok penumpang. Setelah memastikan tubuh Mutia bersandar dengan nyaman, Rendra menghidupkan mesin mobil dan melaju.Perjalanan berlangsung dalam diam. Hujan mengetuk atap mobil, tapi di dalam hanya ada keheningan. Sesekali Rendra melirik, dan wajah Mutia semakin pucat. Napasnya tidak teratur.“Mutia?” Rendra menyentuh lengannya.Mutia tidak merespon.“Mutia!” Dia menepuk pipinya pelan.“Ya Tuhan… dia pingsan!”Rendra menekan pedal gas lebih dalam, membelokkan mobilnya menuju rumah. Begitu sampai di halaman rumah, dia langsung meloncat turun dari mobil dan membopong Mutia masuk ke dalam, membawanya ke kamarnya sendiri.Dia meletakkan Mutia di atas tempat tidur.“Apa yang harus aku lakukan?” Rendra kebingungan.Dia hampir mengh
“Ah,.. em… Sayang, aku mencintaimu.” “Aku juga sayang… tolong jangan tinggalkan aku.”Suara desahan dan ucapan cinta dari sepasang kekasih yang sedang bercinta saling bersahutan di dalam sana.Mutia yang baru saja melewati kamar itu menegang dan berdiri di tempat.Suara itu…Sebenarnya dia sudah sering mendengar suara mereka saat bercinta. Tapi biar bagaimanapun juga, pria yang sedang bercinta di dalam kamar itu adalah suaminya sendiri. Tiap kali mendengar suara mereka, dia tetap merasa tidak nyaman.Tadi, saat melihat Rendra terlelap tidur, dia dengan hati-hati keluar. Mutia menguatkan diri untuk pulang ke rumah karena takut suaminya marah kalau dia sampai tidak pulang.Sesampainya dirumah, dia justru mendengar hal yang menyakitkan.Dia memutar tubuhnya dan pergi ke kamarnya sendiri yang ada di dekat dapur. Kamar itu seharusnya milik pembantu. Namun semenjak dia dibawa masuk ke dalam rumah ini, kamar itu menjadi kamarnya. Dion memecat pembantu rumah dan menyuruh Mutia untuk mengga
"Jam berapa ini?" Rendra bertanya pada Ken yang langsung memeriksa ponselnya. “00:15.” Jawab Ken, singkat. "Pergilah beristirahat.” Ken hanya mengangguk, lalu melangkah. Dia sempat menoleh kembali seperti masih ragu untuk meninggalkan Rendra. Dia sebenarnya masih ingin menemani Rendra, mengingat kejadian tadi yang cukup menguras emosi. Dia tahu jika ini adalah pengalaman pertama bos-nya. Tapi ini sudah tengah malam, Mereka juga mungkin butuh istirahat. Ken menutup pintu kamar setelah berada diluar. Setelah hening beberapa detik, Rendra mendekati Mutia yang masih bersandar di tempat tidur. Rendra merapikan tempat tidur itu dengan ala kadarnya saja. Memungut bantal dan guling yang masih berceceran di lantai, kemudian meraih pakaian mereka yang bertaburan. Dia menatap pakaian Mutia yang ada di tangannya. Pakaian itu sudah rusak terkoyak karena ulahnya. Dia kembali merasa bersalah. 'Kenapa aku bisa menjadi seperti binatang?' Dia benar-benar tidak menyangka jika akan m
Rendra turun dari tempat tidur. Nafasnya masih terasa berat. Dia mengambil handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Lalu segera mencari ponselnya untuk menghubungi Ken. Baru saja panggilannya selesai, dia mendengar suara tangisan samar dari ruang tengah. Dia menoleh, kemudian meletakkan ponselnya di meja. Perlahan dia melangkah mendekati Mutia yang duduk lemah di lantai, menyandarkan dirinya pada sofa. Jubah mandi yang dipakai Mutia adalah miliknya. Tersingkap di beberapa bagian menandakan bahwa dia baru saja berusaha menjauh dari kamarnya. Dengan ragu, Rendra duduk di sampingnya. “Maafkan aku,” ucapnya dengan suara berat. Mutia menoleh, matanya basah oleh air mata. “Pergi, Tuan!” “Tolong dengarkan aku dulu,” kata Rendra, berusaha menenangkan. “Kenapa melakukan ini padaku? Kenapa Tuan…?” Suara Mutia bergetar. Dia benar-benar merasa hancur. Tuan yang ia hormati, telah menghancurkan kehormatannya. Rendra menunduk. Dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan. “