Compartir

59. Reason

Autor: Estaruby
last update Fecha de publicación: 2026-05-31 23:21:51

Anindita masih ingat hari ketika adiknya lahir.

Usianya lima belas tahun saat itu—cukup untuk memahami banyak hal, tetapi jelas belum cukup dewasa untuk mengerti bagaimana cara mencintai seseorang yang tiba-tiba hadir dan mengubah pusat perhatian sebuah keluarga.

Sejak kecil, Anindita dibesarkan dalam aturan keluarga Mandala yang keras. Tidak ada ruang untuk merengek. Tidak ada hadiah cuma-cuma. Prestasi dibayar dengan pujian, kegagalan dibalas dengan tuntutan untuk menjadi lebih baik. Dia dite
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   60. Obat Tidur

    Malam telah larut ketika Savian dan Mayra akhirnya kembali ke kamar mereka tanpa dibarengi perbincangan apapun.Hari itu tiba-tiba terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena aktivitas yang melelahkan. Melainkan karena kehadiran mendadak Anindita di penghujung hari yang harusnya nyaris sempurna itu.Kakak perempuan Savian selalu memiliki kemampuan aneh untuk mengubah suasana menjadi tegang hanya dengan beberapa kalimat. Bahkan setelah perbincangan malam berakhir dan kakak-kakaknya sudah pergi dari rumah itu, sisa-sisa ketidaknyamanan masih terasa menggantung di udara.Mayra tidak tahu pukul berapa ketika matanya perlahan terbuka. Kamar masih gelap. Hanya cahaya remang dari luar jendela yang masuk menembus tirai.Awalnya dia mengira dirinya terbangun tanpa alasan. Namun beberapa detik kemudian dia menyadari sesuatu. Tubuh di sampingnya bergerak.Savian.Pria itu kembali membalikkan badan untuk entah ke berapa kalinya malam itu. Lalu diam. Beberapa men

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   59. Reason

    Anindita masih ingat hari ketika adiknya lahir.Usianya lima belas tahun saat itu—cukup untuk memahami banyak hal, tetapi jelas belum cukup dewasa untuk mengerti bagaimana cara mencintai seseorang yang tiba-tiba hadir dan mengubah pusat perhatian sebuah keluarga.Sejak kecil, Anindita dibesarkan dalam aturan keluarga Mandala yang keras. Tidak ada ruang untuk merengek. Tidak ada hadiah cuma-cuma. Prestasi dibayar dengan pujian, kegagalan dibalas dengan tuntutan untuk menjadi lebih baik. Dia ditempa jadi pribadi yang serbabisa dan seolah tak boleh punya cela apapun.Dia tumbuh menjadi 'anak sempurna'.Nilai terbaik, perilaku terbaik, putri kebanggaan keluarga Mandala. Putri dengan manner baik dan keanggunan yang menggambarkan putri sulung dari keluarga terhormat yang amat diseganiMaka ketika adik-adiknya lahir, Anindita menganggap mereka tidak lebih dari tanggung jawab tambahan yang merepotkan.Alvara, tumbuh jadi gadis humoris yang tak sepenuhnya serius sepertinya namun cukup penurut.

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   58. Undangan Terselubung

    Ruang keluarga yang harusnya terasa hangat, mendadak berubah seperti ruang tunggu sebelum sidang dimulai.Mayra duduk tegak di ujung sofa, kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Di sebelahnya Savian bersandar santai, tetapi hanya dari luar. Rahangnya mengeras tipis, tatapannya datar ke arah tamu yang baru datang seolah tidak berniat membuka percakapan lebih dulu.Di sofa seberang, Anindita duduk dengan kaki menyilang. Mantel panjangnya bahkan belum sempat dilepas sempurna, tanda bahwa ia memang datang terburu-buru begitu tiba. Sikapnya rapi, elegan, dan terlalu tenang untuk seseorang yang baru menempuh perjalanan jauh.Mayra diam-diam memperhatikannya. Wanita ini pernah ditemuinya di toko perhiasan beberapa waktu lalu. Yang saat itu berbicara dengannya dengan ramah, mengomentari koleksi mahal, dan sempat membuat Mayra berpikir bahwa dia adalah perempuan berkelas yang menyenangkan.Dan sekarang… wanita itu duduk di hadapannya sebagai kakak Savian alias kakak iparnya juga.Sulit dipercay

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   57. Tamu Tak Diundang

    Makan malam itu berjalan jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya, atau setidaknya Mayra berusaha membuatnya terlihat begitu.Meja makan sudah tertata. Ada sup hangat, tumisan sayur, dan lauk yang tadi dia masak dengan cukup serius sejak sore. Bukan menu mewah, tapi cukup untuk memberi kesan bahwa dia benar-benar berusaha.Savian duduk di seberangnya dengan ekspresi yang terlalu santai untuk ukuran seseorang yang beberapa waktu lalu sengaja menggoda istrinya sampai Mayra jadi salah tingkah setengah mati.Mayra menunduk, pura-pura fokus mengambil nasi. Dia sulit mengangkat kepala sebab Savian benar-benar hanya duduk lurus memandangnya dengan tatapan panas dari kursinya itu. “Kalau kamu terus melihatku begitu, aku jadi berpikir bahwa masakanku gagal,” cicit Mayra kecil. Tak berani mengangkat kepala. Masakannya pun seolah jadi tak terasa di lidahnya akibat terlalu gugup.Jujur saja, Mayra bukan tipe yang mudah gugup kok sebenarnya. Tapi entah kenapa, beberapa kali Savian be

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   56. Penemuan

    Langit sudah berubah jingga tua ketika mobil hitam milik Savian memasuki halaman rumah. Hari itu terasa sedikit berbeda. Tidak ada tumpukan lembur yang biasanya membuatnya baru pulang saat malam benar-benar larut. Bahkan beberapa staf kantornya sempat saling pandang heran ketika CEO mereka menutup laptop lebih cepat dari biasanya dan berkata singkat bahwa meeting dan pekerjaan sisanya bisa dilanjutkan besok pagi.Savian sendiri tidak banyak menjelaskan. Entah karena mood-nya sedang baik, atau karena ada seseorang di rumah yang tanpa sadar membuatnya ingin cepat pulang.Begitu memasuki rumah, aroma masakan hangat langsung menyambut indra penciumannya. Suara dentingan alat masak terdengar samar dari arah dapur. Jas kerjanya masih melekat rapi ketika langkahnya berhenti di ambang pintu dapur.Di sana, Mayra sedang berdiri di depan kitchen island sambil membantu Bibi Ian menata makanan. Rambutnya diikat sederhana, mengenakan pakaian rumah dengan apron yang tampak sedikit kebesaran. Seseka

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   55. Perubahan Kecil

    "Sesuatu pasti terjadi semalam, kan?"Selina melirik Mayra dengan sebelah alis terangkat dan bibir menyunggingkan senyuman jahil. Dia bersidekap di depan pintu ruangan dan terheran-heran menyaksikan bagaimana Mayra menjadi penuh dengan senyum dan selalu menanggapi tiap masalah dengan positif hari ini. Padahal, biasanya Mayra juga akan banyak menggerutu ketika ada sesuatu yang tak sesuai dengan standarnya. Tapi siang ini, dia mendapati Mayra telah beberapa kali mentolerir beberapa hal kecil yang biasanya tak akan dengan mudah dia lepaskan begitu saja. Ini kali pertama Selina bertamu ke kediaman Mayra dan Savian. Mayra mengundangnya datang untuk mengerjakan persiapan pembukaan kantor baru mereka. Tentu dengan seizin dan bahkan atas usul dari Savian sendiri. Laki-laki itu memintanya untuk bekerja dari rumah, sebisa mungkin agar Mayra jangan sampai terlalu lelah dengan mobilisasi yang terlalu tinggi. Yah, mungkin juga menyadari akibat dari perbuatannya semalam. Mayra nampak agak kesulit

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   17. Belum Sepenuhnya Sembuh

    "Bagaimana? Kamu sudah merasa lebih baik?"Mayra yang tadinya ditemani Samantha, kini mengedarkan arah pandangnya pada Savian yang berjalan mendekatinya dari arah pintu. Sementara Samantha dengan teratur mundur perlahan mendekati Ken di ambang pintu, membiarkan pasutri itu punya waktu bicara berdua

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   14. Fokus

    Sepasang pengantin baru itu nampak serasi nan kompak memasuki gedung tempat perhelatan perusahaan rekanan hari ini dilangsungkan. Savian menggandeng lengan Mayra, keduanya nampak serasi dengan balutan hitam namun glam yang mendominasi tampilan mereka.Begitu dua pasang kaki panjang itu memasuki aca

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   12. Cium Tangan

    Savian pergi mengangkat telepon, meninggalkan Mayra di meja makan dengan wajahnya yang memerah dan memanas bak kepiting rebus. Wanita itu menyentuh pipinya sendiri dengan punggung tangannya, "huh, sejak kapan aku jadi pribadi yang malu-malu begini?" lirihnya pada diri sendiri.Rumah itu terasa maki

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   11. Sambutan Ipar

    Meja makan itu lebih pantas disebut perjamuan kecil daripada sekadar sarapan.Orang mungkin menyebutnya brunch? Waktu sudah melewati pukul sepuluh pagi. Terlambat untuk sarapan biasa, namun juga belum bisa sepenuhnya disebut sebagai makan siang. Di atas meja panjang berlapis marmer itu, hidangan t

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status