FAZER LOGINSavian baru saja menandatangani setumpuk dokumen ketika sekretarisnya mengetuk pintu ruang kerja. Wanita itu masuk dengan sebuah amplop berwarna gading yang tampak lebih mewah dibandingkan surat-surat bisnis yang biasa memenuhi mejanya.“Ini baru saja diantar ke kantor, Pak.”Savian mengangguk tanpa banyak perhatian. Namun begitu matanya menangkap nama pengirim yang tertera di sudut amplop, rahangnya langsung mengeras.Anindita Mandala Hutama.Perlahan ia menyandarkan tubuh ke kursi. Sejenak hanya ada keheningan di ruangan luas itu. Jemarinya bergerak membuka amplop tersebut, mengeluarkan kartu undangan dengan desain elegan dan tulisan emas yang mencolok.Undangan pernikahan.Savian membaca setiap kata tanpa melewatkan satu pun detail. Nama keponakannya tercetak besar di bagian tengah kartu, lengkap dengan lokasi acara, susunan rangkaian pesta, hingga daftar tamu kehormatan yang akan hadir.Sudut bibirnya tertarik tipis. Cepat sekali.Beberapa hari lalu ketika wanita itu menyambangi m
Langkah Karina terhenti sejenak ketika pintu lift terbuka di lantai utama kantor Naviro. Satu tangannya membawa tas tangan kecil, sementara tangan lainnya mengelus lembut perutnya yang mulai membulat kecil. Kehamilannya masih belum terlalu terlihat bagi orang lain. Namun bagi Karina, perubahan itu terasa jelas. Ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam dirinya, pewaris yang kelak akan memperkuat posisinya di keluarga besar Hutama.Setidaknya, itulah yang selalu ia yakini.Senyum tipis menghiasi wajahnya saat berjalan melewati koridor perusahaan. Beberapa karyawan menyapanya dengan hormat. Karina membalas seperlunya sebelum melanjutkan langkah menuju ruang kerja suaminya. Hari ini ia datang tanpa memberi tahu Naviro lebih dulu. Ia hanya ingin memberikan kejutan kecil. Berencana mengajak suaminya itu makan siang bersama di restoran yang dulu mereka sukai.Namun langkahnya melambat ketika hampir sampai di depan ruangan.Pintu ruangan itu terbuka. Menampakkan dua perempuan muda keluar dar
Malam telah larut ketika Savian dan Mayra akhirnya kembali ke kamar mereka tanpa dibarengi perbincangan apapun.Hari itu tiba-tiba terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena aktivitas yang melelahkan. Melainkan karena kehadiran mendadak Anindita di penghujung hari yang harusnya nyaris sempurna itu.Kakak perempuan Savian selalu memiliki kemampuan aneh untuk mengubah suasana menjadi tegang hanya dengan beberapa kalimat. Bahkan setelah perbincangan malam berakhir dan kakak-kakaknya sudah pergi dari rumah itu, sisa-sisa ketidaknyamanan masih terasa menggantung di udara.Mayra tidak tahu pukul berapa ketika matanya perlahan terbuka. Kamar masih gelap. Hanya cahaya remang dari luar jendela yang masuk menembus tirai.Awalnya dia mengira dirinya terbangun tanpa alasan. Namun beberapa detik kemudian dia menyadari sesuatu. Tubuh di sampingnya bergerak.Savian.Pria itu kembali membalikkan badan untuk entah ke berapa kalinya malam itu. Lalu diam. Beberapa men
Anindita masih ingat hari ketika adiknya lahir.Usianya lima belas tahun saat itu—cukup untuk memahami banyak hal, tetapi jelas belum cukup dewasa untuk mengerti bagaimana cara mencintai seseorang yang tiba-tiba hadir dan mengubah pusat perhatian sebuah keluarga.Sejak kecil, Anindita dibesarkan dalam aturan keluarga Mandala yang keras. Tidak ada ruang untuk merengek. Tidak ada hadiah cuma-cuma. Prestasi dibayar dengan pujian, kegagalan dibalas dengan tuntutan untuk menjadi lebih baik. Dia ditempa jadi pribadi yang serbabisa dan seolah tak boleh punya cela apapun.Dia tumbuh menjadi 'anak sempurna'.Nilai terbaik, perilaku terbaik, putri kebanggaan keluarga Mandala. Putri dengan manner baik dan keanggunan yang menggambarkan putri sulung dari keluarga terhormat yang amat diseganiMaka ketika adik-adiknya lahir, Anindita menganggap mereka tidak lebih dari tanggung jawab tambahan yang merepotkan.Alvara, tumbuh jadi gadis humoris yang tak sepenuhnya serius sepertinya namun cukup penurut.
Ruang keluarga yang harusnya terasa hangat, mendadak berubah seperti ruang tunggu sebelum sidang dimulai.Mayra duduk tegak di ujung sofa, kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Di sebelahnya Savian bersandar santai, tetapi hanya dari luar. Rahangnya mengeras tipis, tatapannya datar ke arah tamu yang baru datang seolah tidak berniat membuka percakapan lebih dulu.Di sofa seberang, Anindita duduk dengan kaki menyilang. Mantel panjangnya bahkan belum sempat dilepas sempurna, tanda bahwa ia memang datang terburu-buru begitu tiba. Sikapnya rapi, elegan, dan terlalu tenang untuk seseorang yang baru menempuh perjalanan jauh.Mayra diam-diam memperhatikannya. Wanita ini pernah ditemuinya di toko perhiasan beberapa waktu lalu. Yang saat itu berbicara dengannya dengan ramah, mengomentari koleksi mahal, dan sempat membuat Mayra berpikir bahwa dia adalah perempuan berkelas yang menyenangkan.Dan sekarang… wanita itu duduk di hadapannya sebagai kakak Savian alias kakak iparnya juga.Sulit dipercay
Makan malam itu berjalan jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya, atau setidaknya Mayra berusaha membuatnya terlihat begitu.Meja makan sudah tertata. Ada sup hangat, tumisan sayur, dan lauk yang tadi dia masak dengan cukup serius sejak sore. Bukan menu mewah, tapi cukup untuk memberi kesan bahwa dia benar-benar berusaha.Savian duduk di seberangnya dengan ekspresi yang terlalu santai untuk ukuran seseorang yang beberapa waktu lalu sengaja menggoda istrinya sampai Mayra jadi salah tingkah setengah mati.Mayra menunduk, pura-pura fokus mengambil nasi. Dia sulit mengangkat kepala sebab Savian benar-benar hanya duduk lurus memandangnya dengan tatapan panas dari kursinya itu. “Kalau kamu terus melihatku begitu, aku jadi berpikir bahwa masakanku gagal,” cicit Mayra kecil. Tak berani mengangkat kepala. Masakannya pun seolah jadi tak terasa di lidahnya akibat terlalu gugup.Jujur saja, Mayra bukan tipe yang mudah gugup kok sebenarnya. Tapi entah kenapa, beberapa kali Savian be
Mayra perlahan terbangun dan menemukan dirinya masih terbungkus dalam selimut. Ada nafas hangat yang secara teratur menerpa lehernya dari belakang. Ada juga lengan kokoh yang tengah melingkari tubuhnya dengan sangat posesif. Tubuh yang kokoh itu menempel di punggungnya. Seolah berbagi kehangatan sa
"Aku di bawah."Hanya sebuah pesan singkat namun Mayra dan Selina langsung bertukar tatap misterius. Mayra mulai merapikan barang bawaannya, bersiap berkemas. Selina yang juga sedang membereskan dokumen turut mendecak dramatis.“Dasar suami posesif.”Mayra memutar mata malas sambil memasukkan table
Dua wanita yang sudah menuntaskan aktivitas belanja mereka itu lantas berhenti di sebuah working space premium di pusat kota. Tempat itu dipenuhi aroma kopi, suara ketikan laptop, serta obrolan pelan para pekerja muda yang sibuk dengan proyek masing-masing. Dinding kacanya memperlihatkan langit sor
"May i?"Darah Mayra berdesir hebat kala mendengar suara baritone itu mengucap kalimat singkat bernada ambigu. Tatapan Savian cukup untuk membuat dirinya jadi merinding seluruh tubuh. Savian malam ini terlihat cukup berbeda daripada yang biasanya dia tahu.Namun Mayra, juga seperti tak sepenuhnya p







