Share

Interogasi Ardan

Author: DV Dandelion
last update Last Updated: 2025-08-09 23:03:07

Deru mesin mobil sedan keluaran 90an terdengar memasuki halaman rumah, berbarengan dengan cahaya lampu yang menerobos sela-sela pagar besi bercat hitam. Catnya berwarna abu-abu kusam dengan sedikit baret di sisi pintu kanan.

Belinda, yang duduk di ruang tamu bersama abang dan kedua orang tua, buru-buru berdiri sambil merapikan kerudung. Senyum di wajahnya merekah seketika. Dia bergegas menghampiri Ardan yang baru turun dari mobil dan langsung mengajaknya masuk rumah.

Pandangan Bahtiar tak lepas dari mobil itu. Alisnya terangkat sedikit.

“Anak seorang Herman Tarigan datang dengan mengendarai mobil tua? Dia sedang berpura-pura miskin atau apa?” gumamnya dalam hati.

Mesin manual, bodi sedikit bergetar saat mesin dimatikan, jauh dari kesan mewah. Herman Tarigan diketahui memiliki usaha ekspedisi pengiriman dan gerai minimarket. Tadinya Bahtiar pikir lelaki itu akan mengendarai–minimal–mobil MPV.

Sosok Ardan Pratama muncul dengan setelan kemeja putih polos yang digulung rapi hingga siku se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT CINTA RENTENIR MUDA   Kebahagiaan Sejati

    Belum pernah ada pemandangan sefantastis ini sebelumnya di wilayah sekitar gudang logistik. Sejak fajar menyingsing, aspal mulus jalan raya yang menuju kompleks "Pusat Logistik Terpadu – Global Smart Hub" telah dipadati oleh iring-iringan kendaraan kelas atas yang seolah tak ada putusnya.Langit yang biru bersih tanpa gumpalan mendung sedikit pun seolah menjadi latar belakang yang sempurna. Bangunan itu adalah mahakarya industrial, dengan fasad kaca kristal reflektif dan panel baja futuristik yang memantulkan cahaya matahari pagi dengan cara yang begitu megah.​Di sepanjang bahu jalan masuk yang membentang sejauh tiga kilometer, pandangan mata akan dimanjakan oleh lautan karangan bunga ucapan selamat yang berjejer rapat, menciptakan pagar warna-warni yang harum.Nama-nama besar terukir di sana dalam papan bunga yang berderet panjang. Mulai dari gubernur, pimpinan perbankan nasional, pejabat setempat, hingga mitra-mitra bisnis internasional dari Singapura, Dubai, dan Rotterdam yang men

  • JERAT CINTA RENTENIR MUDA   Akhir yang Bukan Akhir

    Bahtiar berdiri di pinggir lahan proyek seluas tiga hektar yang kini telah berubah drastis dari sebulan yang lalu. Jika sebelumnya tempat ini hanyalah hamparan tanah kering dan penuh rumput liar, kini struktur baja raksasa telah berdiri dengan kokohnya, seolah menantang langit.Suara bising dari mesin las memercikkan bunga api kebiruan. Dentuman paku bumi menghantam tanah hingga menimbulkan getaran ringan di bawah kakinya. Teriakan para pekerja yang saling berkoordinasi, menciptakan kerjasama yang memacu adrenalin Bahtiar.Bahtiar menyesuaikan letak helm proyek kuningnya yang terasa sedikit panas. Di tangannya, gulungan cetak biru gudang logistik itu sudah nampak agak kusam karena sering dibuka di tengah debu konstruksi.Ia menatap ke arah loading dock yang dirancang khusus untuk mampu menampung dua puluh truk kontainer sekaligus. Ini bukan sekadar bangunan komersial. Selain untuk perluasan ekspedisi pengiriman, Gunadi akan menyewakan sebagiannya kepada perusahaan yang membutuhkan gud

  • JERAT CINTA RENTENIR MUDA   Obat Hati

    ​Ayu duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah gorden yang tersibak sedikit. Sinar matahari yang terik mencoba menyelinap masuk. Namun bagi Ayu, cahaya itu nampak terlalu menyilaukan.Ia masih mengenakan piyama. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya yang dulu selalu berbinar kini nampak layu dengan lingkaran hitam di bawahnya.​Setiap kali ia menutup mata, suara decitan ban SUV putih di atas tanah berbatu itu kembali menggema. Ia bisa merasakan lagi bagaimana tubuhnya terlempar, bau sangit mesin yang terbakar, dan yang paling mengerikan, sensasi dingin jari-jari Aziz di tengkuknya.​"Sudah bangun, Sayang?"​Suara lembut Bahtiar memecah lamunannya. Bahtiar masuk membawa baki berisi sarapan dan segelas susu hangat. Pria itu kini nampak jauh lebih kurus, tapi matanya memancarkan kesabaran yang tak terbatas. Ia meletakkan baki itu di nakas, lalu duduk di samping Ayu, mengelus rambutnya dengan sangat hati-hati.​Ayu hanya mengangguk pelan. "Aku baru saja bangun, Bang. Tapi rasa

  • JERAT CINTA RENTENIR MUDA   Penangkapan Sora

    ​Vila di perbatasan Karawang dan Subang itu tampak sunyi meskipun ada orang di dalamnya. Gunadi duduk di balik meja kerjanya yang besar, memutar-mutar sebuah pulpen mahal di jemarinya.Di sofa seberangnya, Bahtiar duduk dengan posisi protektif, merangkul bahu Ayu yang tampak sedikit emosional dibandingkan beberapa jam yang lalu.​"Kamu sudah siap menghadapi ini?" bisik Bahtiar pelan, memastikan istrinya benar-benar stabil.​Ayu mengangguk, sorot matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam dan fokus."Aku harus mendengar langsung dari mulutnya, Bang. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang ketakutan lagi."​Gunadi melirik arlojinya. "Dia akan sampai sebentar lagi. Aku sudah menyuruh supir untuk menjemputnya dengan alasan ada dokumen mendesak yang harus ditandatangani di sini. Kita akan selesaikan semuanya malam ini."​"Mas Gunadi," Bahtiar membuka suara, suaranya berat. "Terima kasih sudah melakukan ini. Aku tahu ini tidak mudah bagi Anda sebagai seorang suami."​Gunadi mendengkus p

  • JERAT CINTA RENTENIR MUDA   Sekutu

    “Apa maksudmu, Bang?”Bahtiar terlonjak. Ia tak menyadari kapan Ayu datang.“Katakan, kenapa kamu menyebut-nyebut nama Mas Gunadi?!” tuntut Ayu seraya berjalan mendekat.“Itu, ehm ….”“Abang melanjutkan kerjasama dengannya? Di saat melarangku melakukan ini itu, Abang justru kembali kembali berkomunikasi dengan suami dari orang yang mencelakaiku?”Tatapan Ayu nyalang. Suaranya bergetar.“Tidak! Bukan begitu, Sayang.” Bahtiar mendudukkan Ayu di kursi rotan. “Dengarkan dulu penjelasan Abang.”Ayu meronta, tapi tenaganya kalah besar. Bahtiar menguncinya di posisi tersebut hingga ia tak bisa beranjak ke mana-manaLelaki itu lantas bercerita secara runut, mulai dari kendala keuangan perusahaan hingga teror dari pesaing bisnis.“Abang bukan bermaksud meremehkan lukamu, Ayu. Tidak sama sekali. Abang bertemu dengannya besok hanya untuk memastikan apakah kerjasama itu masih perlu dilanjutkan. Hanya itu. Bagaimanapun, Abang punya tanggung jawab moral kepada seluruh karyawan.”Ayu menelan ludah.

  • JERAT CINTA RENTENIR MUDA   Jalur Hukum yang Buntu

    Pagi di kediaman Bahtiar biasanya diawali dengan aroma kopi yang kuat, harum roti panggang, dan obrolan ringan tentang apa saja agenda hari itu. Namun, sejak kepulangan Ayu dari rumah sakit, suasana rumah mewah di sudut Karawang itu seolah diselimuti oleh kabut tipis yang dingin dan tak kasat mata.Sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca besar di ruang tengah, meski nampak terang benderang, tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang masih mengendap dengan pekat di setiap sudut ruangan, di balik gorden, dan di dalam relung hati penghuninya.Ayu duduk mematung di tepi tempat tidur yang luas. Matanya yang sayu tertuju pada tas ransel kampusnya yang tergeletak pasrah di pojok kamar. Tas kain berwarna biru dongker itu, yang beberapa minggu lalu ia beli dengan penuh semangat, kini nampak seperti monster kecil yang siap menerkamnya kapan saja.Hanya dengan melihat pin berlogo universitas yang tersemat kecil di sana, dada Ayu mendadak terasa sesak, seolah ada beban berton-ton yang meni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status