author-banner
DV Dandelion
DV Dandelion
Author

Novels by DV Dandelion

Penyamaran Saudara Kembar

Penyamaran Saudara Kembar

Kintan—seorang gadis penderita buta wajah—tidak menyadari jika kekasihnya berkhianat. Ketidakmampuan Kintan mengenali wajah orang lain membuat Devan ragu untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Ditambah lagi, Talita gencar mendekati Devan dan lambat laun memenangkan hatinya. Suatu hari, Kintan berkunjung ke rumah Devan. Gadis itu bertemu dengan Dejan, kembaran Devan, dan mengira itu adalah kekasihnya. Dejan tidak sampai hati mengatakan bahwa Devan sedang pindah tugas ke Sumatra selama satu tahun. Karena itu, dia berpura-pura menjadi Devan tanpa memberitahu kembarannya tersebut. Bagaimana ujian cinta itu dilewati? Kepada siapa Kintan melabuhkan hati?
Read
Chapter: Belahan Jiwa (End)
Sebuah rumah minimalis di pinggiran Singapore sudah menunjukkan geliat aktivitas sejak pagi. Setelah salat Subuh, penghuninya bergegas ke dapur sambil bersenandung riang. Tangannya terampil menyiapkan beberapa bahan serta alat masak. Di Indonesia ataupun negara lain sama saja, masak dan membuat kue adalah kegemarannya.Aroma kombinasi keju, coklat, dan kopi menggelitik indra penciuman hingga membuat sang suami penasaran untuk menghampiri sumbernya. Ia keluar dari kamar setelah selesai mengenakan setelan jas. Di dapur, ada pemandangan yang selalu membuatnya bahagia dan bersyukur setiap hari. Seorang perempuan cantik mengenakan celemek sedang sibuk menata tiramisu dalam piring-piring kecil."Istriku rajin sekali."Merasa disanjung, sang istri tersenyum lebar sambil mengangkat salah satu piring, memamerkan hasil karyanya."Mau ada tamu, Sayang?"Perempuan yang tak lain adalah Kintan itu mengiakan. "Dinda bilang sedang mengidam kue buatanku.""Oh, ya? Dia liburan ke sini?"Kintan mengangg
Last Updated: 2025-01-08
Chapter: Pertemuan Kembali
Di antara lalu lalang penumpang di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Dejan mengunci pandangannya pada seorang gadis yang sedang menggeret sebuah koper besar. Gadis itu tampak kerepotan menjinjing tas yang sepertinya penuh dengan oleh-oleh serta merapikan anak rambut yang menyembul di balik pashmina. Untuk sesaat, Dejan melupakan tujuannya pulang ke Indonesia. Gadis itu, wajah itu, mengingatkannya akan kenangan manis setahun silam.Dejan berjalan mendekat, memastikan bahwa wajah itu bukan sekadar ilusi dan matanya masih berfungsi dengan normal. Semakin jarak mereka terpangkas, Dejan dapat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang."Mau saya bantu?" Akhirnya keluar suara dari bibirnya.Gadis yang mengenakan sweater putih itu menoleh. Dia memeriksa lelaki berjas hitam di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Alisnya berkerut, merasa tidak asing dengan sosok di hadapannya, tetapi tidak ingat siapa pastinya."Mau saya bantu bawakan tasnya sebentar? Sepertinya kamu kerepotan,"
Last Updated: 2025-01-01
Chapter: Roda Berputar
Kintan menikmati akhir pekan dengan berjalan-jalan di Rue de I'Abreuvoir. Jalanan terkenal di kawasan Montmartre, Paris itu tampak menawan dengan pemandangan bunga wisteria yang bermekaran. Matahari musim panas bersinar cerah, membuat rumah warna-warni di sepanjang jalan lebih semarak."Kintan, Carrot, let's take a selfie!" ajak Yujin dengan aksen Korea yang medok.Ajakan itu pun disambut antusias. Carrot, gadis tinggi semampai asal Thailand, buru-buru mengeluarkan ponsel dan mengarahkan kamera depan ke wajah mereka.Berbagai macam gaya seperti peace, manyun, mengedipkan sebelah mata, dan lainnya mulai memenuhi galeri Carrot. Untuk urusan dokumentasi, gadis itu memang paling bisa diandalkan. Tangannya yang panjang membuat jangkauan tampilan foto selfie mereka lebih luas.Mereka berkenalan di hari pertama sekolah memasak dimulai. Sebagai sesama orang Asia di antara murid Eropa dan Amerika, kedekatan mereka terjalin begitu saja lewat obrolan dan makanan. Kepada mereka jugalah Kintan akh
Last Updated: 2024-12-18
Chapter: Hukum Tabur Tuai
Pernikahan Devan dan Talita awalnya terasa begitu indah. Mereka menggelar resepsi mewah dan mampu mengundang penyanyi favorit Talita sebagai bintang tamu. Bulan madunya pun tidak main-main, paket perjalanan ke lima negara Eropa selama 10 hari. Semua tampak baik-baik saja hingga kemudian badai menerpa di usia pernikahan yang masih seumur jagung.Pernikahan yang semula terasa manis dan indah, berubah menjadi hari-hari penuh pertengkaran. Curiga, cemburu, dan miskomunikasi adalah makanan sehari-hari. Rumah yang masih dalam cicilan itu menjadi saksi bisu terbongkarnya kebusukan Talita satu demi satu.Di usia kehamilan Talita yang menginjak 7 bulan, Devan harus menjalani serangkaian proses pemeriksaan di kantor. Divisi keuangan melaporkan adanya tindak penggelapan uang proyek pada audit tahunan. Tersangkanya adalah Talita selama mereka bertugas di Jambi.Perusahaan ditaksir mengalami kerugian hingga 200 juta rupiah. Tim Legal awalnya ingin melaporkan kasus tersebut ke polisi, tetapi Devan
Last Updated: 2024-11-09
Chapter: Awal yang Baru
"Besok aku akan bicara dengan Om dan Tante, Bu. Nggak usah takut, kita nggak salah. Dzolim sekali kalau mereka menuntut warisan sementara Ayah memiliki istri dan anak yang masih hidup!" ucap Kintan tegas.Kintan geram sebab kerabatnya sudah kelewat batas. Warisan yang ditinggalkan Pak Surya memang cukup banyak, meliputi tabungan, rumah, tanah, dan toko kue. Namun, bukan berarti mereka bisa meminta seenaknya. Itu tidak sesuai dengan hukum perdata maupun hukum Islam."Tadi Ibu sudah berusaha menyampaikan pendapat, tapi mereka masih kekeh. Om Yudi merasa berhak mendapatkan bagi hasil toko kue karena dulu ikut menyumbang material. Tante Ira juga merasa berhak dapat warisan tanah karena pembagian dari kakek kamu dulu tidak sama banyak. Ibu sudah capek, Tan.""Mana bisa begitu? Kalau niat awalnya bantu ya bantu. Urusan pembagian warisan dari Kakek juga bukan tanggung jawab kita. Udah, pokoknya Ibu istirahat ya, jangan mikirin hal-hal nggak penting kayak gitu. Sekarang aku yang akan pasang b
Last Updated: 2024-11-01
Chapter: Setelah Ayah Pergi
Dinda menemui Kintan dan Bu Ranti. Dia harus menjelaskan perihal chef kiriman Dejan sebelum mereka salah paham. Lagi pula, tambahan bantuan itu juga sangat berarti di tengah sibuknya persiapan acara doa bersama. "Jadi, maksud kamu, Mas Dejan sengaja mengirim chef pribadi ke sini untuk menyiapkan konsumsi selama tiga hari ke depan?" Kintan mengulang informasi yang didengarnya. Dinda mengangguk mengiakan. "Kintan, Tante, sebelumnya aku minta maaf kalau terkesan lancang. Tolong jangan menolak dan menyalahartikan niat baiknya. Dejan benar-benar tulus ingin membantu." Dinda menunduk dalam. Dia siap dengan segala konsekuensi yang mungkin akan diterima. "Tapi buat apa, Din?" Intonasi Kintan meninggi. "Aku nggak pernah minta! Bayar chef pribadi itu mahal, apalagi sampai tiga hari. Terus aku harus diam menikmati semua bantuannya dan berpikir dia nggak punya niat tersembunyi? Mana bisa begitu!" "Kintan, pelankan suaramu, Nak. Ada banyak kerabat di luar," tegur Bu Ranti. Dia pun sebenarn
Last Updated: 2024-10-20
JERAT CINTA RENTENIR MUDA

JERAT CINTA RENTENIR MUDA

Ayu terpaksa menikahi Bahtiar karena utang orang tuanya sudah jatuh tempo dan rumahnya nyaris disita. Dalam perjalanannya, ternyata Bahtiar meratukan dirinya. Namun, wanita itu dibenci oleh mertua dan adik iparnya. Suatu ketika, Ayu mengetahui rahasia kelam sang papa mertua. Sebuah insiden membuat keluarga mereka berantakan. Harta habis, adik iparnya masuk pusat rehabilitasi, dan Bahtiar difitnah hingga ditangkap polisi. Rumah tangga mereka nyaris kandas, tetapi mereka dapat melalui ujian demi ujian hingga mahligai itu utuh kembali. Karena Ayu, keluarga Bahtiar bertaubat dan memilih berbisnis dengan cara yang halal.
Read
Chapter: Kebahagiaan Sejati
Belum pernah ada pemandangan sefantastis ini sebelumnya di wilayah sekitar gudang logistik. Sejak fajar menyingsing, aspal mulus jalan raya yang menuju kompleks "Pusat Logistik Terpadu – Global Smart Hub" telah dipadati oleh iring-iringan kendaraan kelas atas yang seolah tak ada putusnya.Langit yang biru bersih tanpa gumpalan mendung sedikit pun seolah menjadi latar belakang yang sempurna. Bangunan itu adalah mahakarya industrial, dengan fasad kaca kristal reflektif dan panel baja futuristik yang memantulkan cahaya matahari pagi dengan cara yang begitu megah.​Di sepanjang bahu jalan masuk yang membentang sejauh tiga kilometer, pandangan mata akan dimanjakan oleh lautan karangan bunga ucapan selamat yang berjejer rapat, menciptakan pagar warna-warni yang harum.Nama-nama besar terukir di sana dalam papan bunga yang berderet panjang. Mulai dari gubernur, pimpinan perbankan nasional, pejabat setempat, hingga mitra-mitra bisnis internasional dari Singapura, Dubai, dan Rotterdam yang men
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Akhir yang Bukan Akhir
Bahtiar berdiri di pinggir lahan proyek seluas tiga hektar yang kini telah berubah drastis dari sebulan yang lalu. Jika sebelumnya tempat ini hanyalah hamparan tanah kering dan penuh rumput liar, kini struktur baja raksasa telah berdiri dengan kokohnya, seolah menantang langit.Suara bising dari mesin las memercikkan bunga api kebiruan. Dentuman paku bumi menghantam tanah hingga menimbulkan getaran ringan di bawah kakinya. Teriakan para pekerja yang saling berkoordinasi, menciptakan kerjasama yang memacu adrenalin Bahtiar.Bahtiar menyesuaikan letak helm proyek kuningnya yang terasa sedikit panas. Di tangannya, gulungan cetak biru gudang logistik itu sudah nampak agak kusam karena sering dibuka di tengah debu konstruksi.Ia menatap ke arah loading dock yang dirancang khusus untuk mampu menampung dua puluh truk kontainer sekaligus. Ini bukan sekadar bangunan komersial. Selain untuk perluasan ekspedisi pengiriman, Gunadi akan menyewakan sebagiannya kepada perusahaan yang membutuhkan gud
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Obat Hati
​Ayu duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah gorden yang tersibak sedikit. Sinar matahari yang terik mencoba menyelinap masuk. Namun bagi Ayu, cahaya itu nampak terlalu menyilaukan.Ia masih mengenakan piyama. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya yang dulu selalu berbinar kini nampak layu dengan lingkaran hitam di bawahnya.​Setiap kali ia menutup mata, suara decitan ban SUV putih di atas tanah berbatu itu kembali menggema. Ia bisa merasakan lagi bagaimana tubuhnya terlempar, bau sangit mesin yang terbakar, dan yang paling mengerikan, sensasi dingin jari-jari Aziz di tengkuknya.​"Sudah bangun, Sayang?"​Suara lembut Bahtiar memecah lamunannya. Bahtiar masuk membawa baki berisi sarapan dan segelas susu hangat. Pria itu kini nampak jauh lebih kurus, tapi matanya memancarkan kesabaran yang tak terbatas. Ia meletakkan baki itu di nakas, lalu duduk di samping Ayu, mengelus rambutnya dengan sangat hati-hati.​Ayu hanya mengangguk pelan. "Aku baru saja bangun, Bang. Tapi rasa
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Penangkapan Sora
​Vila di perbatasan Karawang dan Subang itu tampak sunyi meskipun ada orang di dalamnya. Gunadi duduk di balik meja kerjanya yang besar, memutar-mutar sebuah pulpen mahal di jemarinya.Di sofa seberangnya, Bahtiar duduk dengan posisi protektif, merangkul bahu Ayu yang tampak sedikit emosional dibandingkan beberapa jam yang lalu.​"Kamu sudah siap menghadapi ini?" bisik Bahtiar pelan, memastikan istrinya benar-benar stabil.​Ayu mengangguk, sorot matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam dan fokus."Aku harus mendengar langsung dari mulutnya, Bang. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang ketakutan lagi."​Gunadi melirik arlojinya. "Dia akan sampai sebentar lagi. Aku sudah menyuruh supir untuk menjemputnya dengan alasan ada dokumen mendesak yang harus ditandatangani di sini. Kita akan selesaikan semuanya malam ini."​"Mas Gunadi," Bahtiar membuka suara, suaranya berat. "Terima kasih sudah melakukan ini. Aku tahu ini tidak mudah bagi Anda sebagai seorang suami."​Gunadi mendengkus p
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Sekutu
“Apa maksudmu, Bang?”Bahtiar terlonjak. Ia tak menyadari kapan Ayu datang.“Katakan, kenapa kamu menyebut-nyebut nama Mas Gunadi?!” tuntut Ayu seraya berjalan mendekat.“Itu, ehm ….”“Abang melanjutkan kerjasama dengannya? Di saat melarangku melakukan ini itu, Abang justru kembali kembali berkomunikasi dengan suami dari orang yang mencelakaiku?”Tatapan Ayu nyalang. Suaranya bergetar.“Tidak! Bukan begitu, Sayang.” Bahtiar mendudukkan Ayu di kursi rotan. “Dengarkan dulu penjelasan Abang.”Ayu meronta, tapi tenaganya kalah besar. Bahtiar menguncinya di posisi tersebut hingga ia tak bisa beranjak ke mana-manaLelaki itu lantas bercerita secara runut, mulai dari kendala keuangan perusahaan hingga teror dari pesaing bisnis.“Abang bukan bermaksud meremehkan lukamu, Ayu. Tidak sama sekali. Abang bertemu dengannya besok hanya untuk memastikan apakah kerjasama itu masih perlu dilanjutkan. Hanya itu. Bagaimanapun, Abang punya tanggung jawab moral kepada seluruh karyawan.”Ayu menelan ludah.
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Jalur Hukum yang Buntu
Pagi di kediaman Bahtiar biasanya diawali dengan aroma kopi yang kuat, harum roti panggang, dan obrolan ringan tentang apa saja agenda hari itu. Namun, sejak kepulangan Ayu dari rumah sakit, suasana rumah mewah di sudut Karawang itu seolah diselimuti oleh kabut tipis yang dingin dan tak kasat mata.Sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca besar di ruang tengah, meski nampak terang benderang, tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang masih mengendap dengan pekat di setiap sudut ruangan, di balik gorden, dan di dalam relung hati penghuninya.Ayu duduk mematung di tepi tempat tidur yang luas. Matanya yang sayu tertuju pada tas ransel kampusnya yang tergeletak pasrah di pojok kamar. Tas kain berwarna biru dongker itu, yang beberapa minggu lalu ia beli dengan penuh semangat, kini nampak seperti monster kecil yang siap menerkamnya kapan saja.Hanya dengan melihat pin berlogo universitas yang tersemat kecil di sana, dada Ayu mendadak terasa sesak, seolah ada beban berton-ton yang meni
Last Updated: 2026-01-02
DIPANDANG HINA KARENA JANDA

DIPANDANG HINA KARENA JANDA

Ini adalah kisah Sabrina Hasanati, seorang janda muda beranak satu, yang dilamar oleh dua orang pengusaha. Sabrina terombang-ambing di antara tiga pilihan: hidup mewah dengan menjadi istri kedua, menikah dengan perjaka tetapi mendapat stigma buruk dari masyarakat, atau tetap berjuang sekuat tenaga untuk menjadi ibu tunggal meski selalu dibayangi kemiskinan. Ke mana jalan takdir akan menuntunnya?
Read
Chapter: Takdir Kita (TAMAT)
[2 tahun kemudian] "Saya terima nikah dan kawinnya Sabrina Hasanati binti Jaya Sentosa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"Begitu tenang dan lantang Adam mengucap kalimat tersebut dalam satu tarikan napas."Bagaimana para saksi? Sah?""Sah!" Para saksi menjawab serentak.Sabrina dan Adam mengembuskan napas lega. Doa-doa melangit, berbaur dengan tumpahan air mata haru dan suka cita.Kini, Adam dan Sabrina duduk bak raja dan ratu sehari di pelaminan. Mereka senantiasa menebar senyum kepada para tamu undangan yang turut berbahagia.Dahulu, hanya butuh waktu satu minggu bagi Adam untuk jatuh hati kepada Sabrina. Butuh tiga bulan untuk menyatakan niat baik dan berujung mendapat penolakan halus dari janda beranak satu tersebut. Namun, jalan hidup memang tidak dapat ditebak.Sempat hendak menikahi Sofia, takdir ternyata membawa acara akad mereka bubar sebelum mulai. Adam dan Bu Ami sampai harus pindah rumah karena malu dibicarakan tetangga terus-menerus.Namun, siapa sangka, ada hikma
Last Updated: 2024-01-30
Chapter: Ada Pelangi Selepas Hujan
Sabrina menajamkan pendengaran agar segera tahu ketika sewaktu-waktu ada mobil berhenti di depan rumah. Perasaannya senang bercampur harap-harap cemas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sabrina akhirnya akan memiliki sepeda motor lagi. Memang bukan sepeda motor keluaran terbaru. Bukan pula yang harganya puluhan juta. Yang dia beli hanyalah motor bekas seharga 6,5 juta saja. Yang membuatnya istimewa, motor itu dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Bagi Sabrina yang sejak kecil akrab dengan kemiskinan, membeli motor tanpa mencicil adalah sebentuk pencapaian yang patut dirayakan. Adam yang membantunya mendapatkan motor tersebut. Setelah bertemu secara tidak sengaja di acara bazaar, mereka cukup intens berkomunikasi. Kebetulan dealer Adam memang melayani jual beli motor bekas sehingga dia bisa memilihkan yang kondisi mesinnya masih bagus dan harganya terjangkau. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Sebuah mobil bak terbuka merapat di halaman rumah Pak Jaya. Sepeda motor berw
Last Updated: 2024-01-24
Chapter: Terima Kasih, Superman
Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi matahari di langit Tangerang sudah bersinar amat terang. Sabrina mengelap keringat di dahi dengan ujung jilbab. Sesekali, dia melambaikan tangan ke arah Alifa yang berada dalam barisan gerak jalan. Acara jalan sehat itu merupakan kegiatan tahunan yang rutin digelar oleh Pemda setempat untuk memperingati hari jadi kota mereka. Sekolah Alifa tidak ketinggalan untuk berpartisipasi. Namun, karena masih usia TK, orang tua murid diminta turut serta hadir. Selagi menunggu Alifa selesai parade, Sabrina melihat-lihat stand yang berjajar di sepanjang tepi jalan. Ada satu stand yang sudah dia incar semenjak tiba di alun-alun kota tersebut. "Mas, yang ini harganya berapa, ya?" Sabrina menunjuk sebuah motor matic berwarna biru dan putih dengan bodi lebar.Itu adalah satu-satunya stand yang menjual motor second. Dilihat dari kondisi tampilan luar, motor yang dilirik Sabrina sepertinya masih sangat bagus. Sabrina merasa perlu membeli motor untuk ke
Last Updated: 2023-12-13
Chapter: Merdeka dari Utang
Adam turun dari motor dan mengambil bungkusan martabak yang tergantung di cantolan depan. Malam itu, Bu Ami bilang ingin menonton film sambil ngemil.Seporsi martabak manis dengan topping kacang, cokelat, keju, dan wijen itu ditaruh dalam piring buah. Permukaannya masih mengepulkan uap panas. Aromanya yang harum makin menggugah selera."Silakan menikmati martabaknya, Bunda Ratu," seloroh Adam ketika menyajikan makanan itu di meja.Bu Ami yang baru mulai memutar film hanya terkekeh mendengarnya."Kamu nggak ikutan nonton?" tanya Bu Ami begitu melihat Adam berdiri lagi. Bibirnya sedikit cemberut.Tadinya Adam ingin kembali ke kamar untuk mendesain pamflet, tetapi kemudian dia tidak tega membiarkan mamanya menonton sendirian. Karena itu, dia memutuskan untuk bekerja sambil tetap menemani Bu Ami."Saya ambil laptop sebentar ya, Ma."Bu Ami mengangguk senang. Sebenarnya dia merasa kesepian sejak pindah ke rumah baru. Selain lingkungannya lebih sepi, di rumah juga tidak ada pembantu yang bi
Last Updated: 2023-11-12
Chapter: Rezeki Tidak Akan Salah Alamat
Nuansa haru yang sempat tercipta karena Sabrina hendak merantau menjadi TKW mendadak buyar. Sabrina menyusut air mata. Bu Retno sontak berdiri dan menghampiri dua lelaki yang berdiri di ambang pintu. "Pak Muklis?" Sapaannya lebih terdengar seperti pertanyaan. Bu Retno sampai melebarkan mata dan mencondongkan badan saking tidak percaya bahwa sosok yang berdiri di hadapannya adalah Pak Muklis. Ya, dia adalah juragan sembako yang pernah sangat ingin menikahi Sabrina. Sabrina menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ada perasaan takut dan cemas yang diam-diam menelusup di hatinya. Bagaimanapun, urusannya dengan Pak Muklis tidak pernah menyenangkan. "Maaf, Bu, boleh kami masuk?" Kali ini yang bertanya adalah sopir Pak Muklis. "Oh, iya ... bo--boleh. Silakan, Pak." Wanita itu menepi agar tamunya masuk. Sabrina menuntun Alifa, hendak menghindari pertemuan itu dengan alasan ingin menjaga warung. Namun, Pak Muklis menahannya. "Mbak Sabrina boleh di sini sebentar? Saya ada perlu.
Last Updated: 2023-11-09
Chapter: Resmi Mendaftar Jadi TKW
"Izinkan aku merantau ke luar negeri." Sabrina mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca.Di satu sisi, dia tidak tega meninggalkan anak dan orang tuanya di Indonesia. Selain rindu, dia juga pasti akan lebih sering mengkhawatirkan kondisi kesehatan mereka.Namun, utang nyaris seratus juta ke Adam bukanlah perkara sepele. Jika dia hanya mampu mencicil 500 ribu per bulan, dia butuh waktu selama 16 tahun untuk melunasi seluruh utang tersebut.Dalam kurun waktu 16 tahun itu, pasti akan banyak hal yang berubah. Orang tuanya akan makin berumur. Alifa pun harus bersekolah di SD, SMP, hingga SMA yang pastinya butuh biaya lebih besar. Sabrina juga bercita-cita ingin menguliahkan putri semata wayangnya.Lebih dari itu semua, siapa yang menjamin dirinya masih ada umur? Alangkah sedihnya jika membawa utang hingga liang lahat. Maka, merantau menjadi TKW menjadi pilihan yang paling mungkin Sabrina ambil."Kalau kamu pergi, Alifa gimana, Sab?" tanya Bu Retno hati-hati. Dia paham betul kegelisahan anak
Last Updated: 2023-10-29
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status