Home / Romansa / JIKA CINTA INI SALAH / Bab 3. Tamu yang mengejutkan.

Share

Bab 3. Tamu yang mengejutkan.

Author: HaniHadi_LTF
last update Huling Na-update: 2024-05-25 20:09:53

“Dari mana kamu, Galuh? Kenapa wajahmu habis di make up?”

Terlihat Galuh berusaha menutupi mukanya. Namun Gayatri masih berusaha melihat dengan menarik tangan Galuh dan memegang dagunya. “Ini apa, Galuh? Apa yang telah kamu lakukan di luar sana?”

“Dibilangi bukan apa-apa juga,” kata Galuh dengan melototkan matanya.

"Kalau orangtua ngomong itu yang sopan jawabnya. Kamu ghak tau betapa khawatirnya kami dengan mencarimu kemana-mana tadi," sahut Prayogi yang juga merasa curiga dengan kelakuan anaknya.

“Apa yang kau lakukan dengan anak berandal itu?”

“Maksud Bunda apa?” tanya Galuh yang sudah nglonyor ke kamarnya tanpa memperdulikan ayahnya yang baru datang setelah berminggu-minggu tak pulang. Dia bahkan memandang  Prayogi dengan tatapan yang menghujat.

Gayatri yang sudah panas hatinya dengan kelakuan suaminya, membuat makin panas dengan yang dilakukan putrinya.

“Bukankah kamu keluar sama Raksa, anak band itu?"

Galuh terdiam sejenak. Dari duluh bundanya mengatakan tidak suka dia dekat dengan Raksa yang dinilai agak nyleneh dengan telinganya yang ditindik. Namun Galuh teramat mencintai pemuda itu.

“Yang jelas aku ghak berbuat yang ghak bener sama Raksa, Bund,” kata Galuh dengan meletakkan barang-barangnya. “Kalau Bunda ghak percaya, terserah Bunda. Aku ngantuk, mau tidur,” katanya dengan membaringkan tubuhnya.

“Kalau mau tidur, sholat duluh, Galuh.”

“Habis ini, Bund. Bunda tinggalin Galuh sendiri.”

“Kamu kenapa tidak menyapa ayahmu?” tanya Gayatri setelah hampir meninggalkan ruangan putrinya.

Galuh hanya melengos dengan menampakkan wajah tidak sukanya. Dia menganggap ayahnyalah yang menyebabkan dia harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhannya yang beberapa minggu terakhir ini menjadi makin terjepit dengan uang saku yang makin minim dia terima.

Gayatri, bagaimanapun masalah yang kini sedang dia hadapi dengan suaminya, dia ingin anak-anaknya tidak mengetahuinya dan tetap menghormati Prayogi sebagai ayahnya yang selalu mereka sayangi selama ini, terlebih Galuh yang lebih dekat dengan ayahnya.

Galing sudah terlihat tidur dengan menggelar kasurnya di ruang keluarga. Kamar mereka memang cuma dua sehinggah Galing kamarnya ya, di ruang keluarga itu. Mulai dengan kasurnya, buku pelajaran, sampai almari pakaiannya yang di dekat televisi.

Gayatri yang juga sudah mengantuk, masuk kamar. Prayogi yang dari tadi di depan televisi, mengikuti Gayatri yang masuk dengan perasaan canggung. Dari tadi tatapan Gayatri tak pernah baik kepadanya. Sakit hatinya bertumpuk dengan menyaksikan ulah putrinya yang baru pulang dengan keadaan yang membuatnya berfikir, ada apa dengan Galuh?

Seperti biasa, Gayatri selalu mematikan lampu kamarnya jika tidur, katanya itu tuntunan dari Rosulullah. Namun cahaya remang masih menyinari kamar mereka dari lampu ruang keluarga. Prayogi merebahkan punggungnya bersisian dengan Gayatri di kasur yang telah lama menjadi saksi bisu kebersamaan mereka sejak mereka bisa membeli rumah ini sepuluh tahun yang lalu, saat Galuh berusia 4 tahun dan belum berani tidur sendiri. Saat itu ada keluarga yang dalam kesulitan menjual rumahnya dengan harga murah, kebetulan rizki keluarga mereka lancar. Saat libur, Prayogi selalu dapat carteran. Tak seperti akhir-akhir ini. Tabungan yang ada memang belum cukup hinggah mereka meminjam dari kakaknya Prayogi dan alhamdulillah juga tak lama sudah lunas.

“Kamu sudah tidur?” tanya Prayogi ke Gayatri yang memunggunginya.

Sepi, tak ada jawaban, apalagi kehangatan seperti yang duluh dia rasakan. Jangankan memunggunginya seperti sekarang. Dengan rambut masih basah, Gayatri akan terus  menatapnya, dan memamerkan senyumnya yang menggoda, dan Prayogi akan menyambutnya dengan ciuman sampai menuntaskan hasrat mereka kembali.

Ah, ternyata semua itu hanya kenangan sekarang, keluh Prayogi. Dipandanginya lekad Gayatri dengan lekuk tubuhnya dari samping yang makin menggoda.  Ciuman pun didaratkan ke leher Gayatri dengan mengambil bantal guling yang sepertinya sengaja di taruh Gayatri di tengah.

Gayatri menggeliakkan tubuhnya. Bagaimanapun juga dia teramat merindukan belai kasih dari suaminya itu setelah sekian lama tak merasakannya. Keinginan untuk menyambut kehangatan yang diberikan Prayogi yang selalu bisa membuatnya merasakan kepuasan setiap bersamanya, membuat dia menikmati setiap sentuhan suaminya itu. Hinggah sebuah kesadaran kemudian muncul. Bayang-bayang seorang wanita tengah bersama menikmati surga dunia bersama suaminya tiba-tiba hadir di pikirannya. Dengan segera Gayatri menutup kembali tubuhnya yang tanpa busana dengan selimut yang tadi dipakainya. Lalu menjauh ke tepi ranjang. Prayogi yang sudah kelimpungan  merutuk. Dia telah berminggu menahan diri. Tanpa berfikir lagi dia menarik paksa Gayatri dan menuntaskan hasratnya.

Gayatri yang tak lagi merasakan apapun selain kesakitan, mengalirkan airmatanya. Prayogi yang merasa bersalah melihat Gayatri menangis, memeluknya erat, walau berkali kali Gayatri mengibaskan tangannya dan mendorong tubuhnya. Namun tenaganya yang kalah kuat, membuatnya hanya menangis.

“Maaf aku telah menyakitimu.”

Malam-malam Gayatri yang kesulitan tidur, mengguyur tubuhnya dengan mandi air hangat. Dia kemudian  bersujud dengan mengadukan nasibnya ke Tuhannya. Rasa lelah yang sangat membuatnya hinggah tertidur di lantai di kamarnya, di atas sajadahnya.

 Prayogi yang terbangun saat azhan subuh dan mendapati Gayatri tak lagi di pelukannya, segera bangun. Namun saat dia turun dari ranjang, telah mendapati Gayatri tertidur di lantai. Wajahnya yang lelah membuat Prayogi merasa bersalah kembali atas apa yang telah diperbuatnya. Diangkatnya Gayatri untuk ditidurkan di peraduan, lalu diciumnya keningnya sebelum dia beranjak ke kamar mandi dan membangunkan kedua anaknya.

“Bund, bangun.  Sepertinya Bunda belum sholat subuh,” kata Prayogi setelah menyelesaikan salam, dengan mencium kembali pipi wanita di depan hidungnya yang tengah tidur miring di depannya.

Di luar kesadarannya, tangan yang biasanya lembut itu kini mengibaskan wajahnya dengan keras.  Rasa pengar menghantam hidung Prayogi. Bahkan dalam tidur pun, Gayatri begitu membencinya, bathinnya ngilu.

Gayatri terbangun hampir kehilangan waktu subuhnya. Syukurlah dia hanya perlu membuat ikan. Dan yang ada cuma telor yang tentunya hanya bisa dibuat untuk telur dadar.

Dilihatnya uang yang sengaja diletakkan Prayogi di meja riasnya. Berkali-kali Gayatri ragu untuk mengambil uang itu. Namun jika tidak diambil, bagaimana dia akan melewati toko Bu Ratih saat dia ke Bu Ratna nanti? Dalam jengkel dia kemudian mengambil uang merah lima lembar untuk melunasi hutangnya. Selebihnya dia diamkan saja, tanpa mengurusnya seperti biasanya.

“Ini untuk sehari-hari, yang ini untuk sekolah anak-anak, yang ini untuk tabungan kita.” Begitu yang sering Prayogi dengar jika dia memberi uang dan Gayatri selalu mengucap terimakasih dan memilah-milah uangnya untuk ditempatkan di keperluan rumah mereka.

 Prayogi kini memperhatikan uang yang tadi malam ditaruhnya, memandangnya dengan tatapan penuh luka. Luka yang telah dibuatnya sendiri.

Baru saja Gayatri bermaksud mengeluarkan sepedanya, seorang wanita dengan penampilan sexi berdiri di depannya. Tubuhnya yang ideal dengan dada menantang. Dia memakai celana jeans ketat dengan kaos yang pres body. Rambutnya yang disemir kekuningan tergerai indah sepunggung. 

“Aku mencari mas Prayogi, tolong panggilkan.”

“Kamu siapa?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • JIKA CINTA INI SALAH   Bab. 166. Merias mantan suami.

    "Melamar siapa?" Galing yang masih mengucek matanya bertanya.Prayogi dan Galuh tertawa."Sana, cuci muka sana duluh, biar sadar. Ini sudah Subuh, kita sholat bareng," ucap Galuh dengan melihat adiknya yang masih mengantuk."Nanti sore Ayah jemput kalian. Kita melamar Tante Neysa.""Alhamdulillah!" ucap Galing dengan penuh gembira.Kegembiraan itu pun terpancar di wajah mereka saat mereka menyampaikan hal itu ke Gayatri dan Rendra."Alhamdulillah!" ucap Rendra dan Gayatri juga bersamaan.Setelah melihat handphone-nya yang dipegang Galing sesuai dengan serlok yang yang dikirim Neysa. Prayogi dan anaknya pun sampai di rumah gedung itu."Anak kami hanya tiga. dan Neysa adalah yang pertama. Bagaimana kami tak mengadakan pesta mewah di gedung jika ini adalah pernikahan yang pertama di keluarga kami?" ucap Nindi, ibunya Neysa."Tapi lihatlah saya, Bu. Saya sudah berusia 37 tahun dan beranak dua yang sudah remaja begini. Apa pantas saya duduk di pelamianan megah?""Sekarang ghak zaman orang

  • JIKA CINTA INI SALAH   Bab 165. Jadi ghak ya?

    Dengan tatap mata yang menyelidik kemudian Galuh melihat ke arah kancing baju yang dikancing secara tidak benar itu. Mungkin karena tergesa hinggah yang seharusnya di atas malah di bawanya., Galuh kemudian berpindah menatap ayahnya yang kini tengah di sampingnya."Ayah, jelaskan apa yang telah Ayah lakukan dengan wanita yang nyata-nyata bukan istri Ayah?" tanya Galuh dengan mata bulat menahan marah. Di bibir ayahnya masih terlihat ada lipstik yang menempel."Maksud kamu apa, Luh?" tanya Prayogi bingung Dia memang tidak menyadari dengan pertanyaan Galuh. Hanya Neysa yang kemudian melihat apa yang dilihat di bibir Prayogi. Dia sebentar memejamkan matanya merasa dihakimi oleh Galuh, demikian juga dengan Galing yang juga menatapnya dengan tatap penuh selidik. Ternyata punya anak tiri besar, bikin bingung juga, ya, bathin Neysa dengan gelisah melihat dirinya yang begitu disegani di perusahaanya, kini dihakimi oleh dua orang bocah."Apa Ayah melakukan hal yang sama seperti yang pernah Ayah

  • JIKA CINTA INI SALAH   Bab 163. Ada apakah dengan ayahku?

    "Kok sepi ya, Ling? Mana Ayah? Lalu itu mobil siapa?" ucap Galuh begitu melihat rumah ayahnya yang terlibat lenggang. Dia yang datang dengan dibonceng Galing segera turun menapaki pelataran rumah ayahnya yang nampak asri dengan terdengar kicau burung. Prayogi dari duluh memang menyukai burung. Hinggah kini burung peliharaannya tak sekedar di halaman belakang rumahnya seperti duluh, tapi juga di depan rumahnya sudah ada burung yang berkicau, menyambut tamu dengan mengucap, 'Assalamualaikum!"Galing terkekeh " Tuh, Kakak sudah disapa sama saudara Kakak.""Ih, dasar burung kurang ajar, kita aja belum mengucap salam kamu duluan yang mengucap salam. Nyindir ya?" sungutnya."Ih, Kakak, malah bertengkar sama burung. Sudah bagus dia mengucap salam, ghak kasih tai ke muka Kakak.""Kamu juga," dengan sewot Galuh masih menelisik dengan hati-hati. Jangan-jangan ada seorang wanita berada di dalam bersama ayahnya. Sebagai gadis yang sudah dewasa, dia juga mengerti dan takut ada apa-apa ayahnya de

  • JIKA CINTA INI SALAH   Bab 163. Aku pastikan kamu puas terhadapku.

    Kekhawatiran Rendra terbukti. Anaknya itu tidak mau lepas dari Nara. Demikian juga dengan Nara. Hinggah Rendra dan Gayatri harus membohongi mereka."Kapan-kapan kita balik ke sini, Radit. Radit kan tau, Yangkung lagi sakit. Papa harus segera ke sana untuk mengelola perusahaan Yangkung," bujuk Gayatri. "Tapi bener-bener jani lho, BUnd," ucapnya dengan masih terisak."PYa, Bunda janji bakal suruh papamu aak kamu kalau lagi ke sini." Hinggah akhirnya anaknya itu dengan masih menangis mau juga pergi.Kepulangan Gayatri dan Rendra yang taramat ditunggu oleh Hadiwijaya, akhirnya terjadi juga.Syukurlah kamu sudah bisa ke sini, Rend," ucap Hadiwijaya begitu malam-malam mereka datang ke rumahnya."Bagaimana keadaan Papa?" tanya Rendra kemudian. "Berkat kamu nginepi di sini beberapa hari, Papa langsung sembuh. Lihatlah, papa sudah bisa bicara normal. Jalan pun bisa dengan tongkat. Kapan hari malah ghak angung-bangun." ucap Hadiwijaya gembira. Termasuk orang yang kini tengah berdiri di dala

  • JIKA CINTA INI SALAH   Bab 162. Kedekatan Raditya.

    "Ada apa, Yah? Bukannya tadi kita sudah ngobrol di telpon? Dibilangi Galuh baik-baik saja dan menikmati libuaran di sini, kok," ucap Galuh setelah mendengar suara ayahnya mengucap salam dan dia menjawabnya."Iya, ini sebetulnya aku ada perlu sama Bunda. Kapan Bunda mau balik ke Gresik? Ada orang yang mau memakai jasa EO kalian," ucap Prayogi dengan ragu-ragu."Kenapa kok ghak telpon Bunda sendiri, Yah? Biasanya kan Ayah suka ngobrol sama Bunda?""Ghak apa-apa sih. Memangnya kapan kalian pulang?""Lusa kayaknya, Yah.""Baiklah. Nanti kalau kalian sudah tiba di rumah saja, Ayah akan pastikan kapan bisa ketemu dengan teman Ayah.""Baiklah, Yah. Sayang Ayah selalu.""Sayang Kakak juga."Galuh kemudian kembali meneruskan tujuannya, ke Naya."Assalamualaikum, Tante!" Galuh mengetuk pintu. Agak lama, baru pintu dibuka."Mbak Galuh. Ada apa kok malam-malam ke sini? itu adik sudah tidur. Tadi sudah dibujuk sama Mas rendra juga Mbak Gayatri untuk ke rumah saja, tapi masih tidak mau.""Ghak a

  • JIKA CINTA INI SALAH   Bab 161. Tak mau pisah.

    "Bagaimana ini, Mas, anak-anak kita kok ghak mau pisah?" tanya Gayatri bingung dengan keakraban Raditya dan Nara.Gayatri yang mengajak Raditya untuk tidur bersama mereka,masih tidak diperdulikan Raditya. Anak itu masih kerasan di kamar berukuran 5x5m yang merupakan mess pegawai yang tidak pulang."Radit, besok lusa kita sudah harus pulang, Nak," ujar Gayatri memberi pengertian. "sekarang kamu harus terbiasa tidur dengan Bunda dan Papa kembali."" Aku ghak ingin pisah sama, Nala, Bund," kata Raditya sudah berurai air mata." Di sini rumah Nara, Dit. Sedangkan rumah kita di sana. Terlebih sebentar lagi Raditya harus sudah masuk sekolah," bujuk Rendra."Iya, Nara juga sekolah, Radit. Kalian akan bertemu lagi saat liburan tiba," ucap Naya juga.Kedua anak itu masih sesenggukan menangis."Habis ini Papa kan sering bolak balik sini, jadi Papa pasti ajak Raditya juga."" Mas yakin sudah bisa meninggalkan tempat ini?" tanya Gayatri kemudian."Beberapa hari ini sudah aku siapkan semuanya, Say

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status