Share

Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik
Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik
Author: D Lista

Bab 1 Bertemu Lagi

Author: D Lista
last update Last Updated: 2025-12-19 18:47:26

Namaku Sasti Ayuandira. Aku pernah ditolak seorang lelaki dengan alasan aku tidak pantas untuknya. Aku masih ABG, tubuhku kurus, muka jelek, kelakuan bar-bar. Mengenaskan sekali nasibku. Setelah lima tahun aku bertemu kembali dengannya. Dia mungkin tak mengenaliku. Yang jelas, aku pantang balikan sama lelaki itu.

Bab 1

Brakk, dentuman keras menggema di sebuah jalan raya. Memaksa pengendara mobil keluar dengan tampang tak bersahabat.

"Hey, punya mata enggak, sih? Lihat tuh motormu menabrak mobilku," teriak wanita cantik berpakaian press body. Terlihat angkuh, ia mengibaskan rambut panjangnya yang tengah digerai.

"Pokoknya kamu harus ganti rugi," teriaknya lagi dengan lantang.

"Tunggu dulu. Mbaknya yang salah kenapa minta ganti rugi. Harusnya saya dong yang minta, nih motor teman saya rusak," ucap wanita yang lebih muda tak mau kalah. Sasti namanya, mahasiswi tahun pertama jurusan sains.

"Enak aja. Kalau nggak mau ganti rugi. Aku bisa jebloskan kalian ke penjara," ancam wanita bernama Almira itu. Ia berucap penuh percaya diri. Sebab penumpang yang ada di dalam mobilnya seorang lelaki tampan anggota kepolisian. Dia baru saja menjemput laki-laki bernama Agha dari bandara.

"Sudah, Sas. Sepertinya dia orang kaya yang punya bekingan kuat," ucap lirih sahabat Sasti.

"Nggak, nggak bisa, Nin. Kita nggak salah. Dia yang mendadak masuk ke jalur lambat. Kita udah bener lah jalannya di sini," terang Sasti.

"Awas kalian berdua kalau bersekongkol nggak mau ganti rugi ya. Aku panggilkan polisi."

Deg

"Gimana, Sasti. Aku nggak mau masuk penjara," rengek Nina. Namun wajah Sasti tampak tenang saja dengan gertakan wanita itu.

"Dia mau kemana, Sas. Kok buka mobilnya?"

Sasti hanya mengedikkan bahu. Netranya mengikuti langkah Almira yang sedang membuka pintu mobil. Terlihat lelaki yang ada di kursi penumpang terlelap dan dibangunkan dengan paksa.

"Mungkin pacarnya polisi, Sas. Gimana nih, mampus kita. Mana nggak ada duit nih kantong. Cuma ada recehan buat makan siang nanti," gerutu Nina setengah gugup.

"Tenang aja, Nin. Kita tunggu apa yang dilakukan wanita itu. Mentang-mentang orang kaya mau nindas kita. Ya nggak maulah. Kita wajib membela diri tahu, nggak?"

"Tapi, Sas. Cowoknya itu....hmm, gimana nih, beneran dia panggil polisi. Itu, Sasti, dilihat seragamnya... Duh, mamak, aku belum nikah. Aku nggak mau dipenjara."

"Diam bisa nggak sih, Nin. Jangan nunjukin wajah ketakutan. Nanti kita malah diinjak-injak."

"Mas, mereka nabrak mobilku sampai penyok gini. Aku mau nuntut ganti rugi. Tapi mereka nggak mau kasih. Laporin aja biar dipenjara, bisa nggak?"

"Apa sih, Al? Baru juga tiba di sini sudah ngajak rib....ut." Agha masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Sontak saja, lelaki berseragam polisi yang ditarik keluar mobil langsung melepas kaca mata hitam yang bertengger di wajahnya. Sasti menelan ludah susah payah. Ingatannya terlempar ke masa lima tahun yang lalu. Lelaki itu telah menorehkan jejak luka yang mendalam.

'Sial banget, kenapa harus ketemu dia di sini, huh," Sasti sedikit memalingkan muka menghindari bersitatap dengan lelaki di depannya.

"Apa yang terjadi?" tanya lelaki itu bersiap menginterogasi.

"Dia yang salah," tunjuk Sasti pada Almira.

"Kalau diajak bicara jangan berpaling. Kamu pasti takut, kan. Dikira aku cuma bohongan mau lapor polisi. Nih, langsung datang orangnya," protes Almira.

Sasti tak gentar segera menatap lawan bicaranya dengan kepala tegak. Sebenarnya dia gugup bukan takut melainkan canggung bertemu lagi dengan masa lalu. Rasanya luka tak berdarah yang belum kering itu kembali terbuka.

"Kamu...." ucapan Agha berjeda, seraya mengamati wajah yang tak asing baginya. Namun, otaknya masih buntu. Siapakah dia, wanita muda yang penuh percaya diri. Berjilbab simple, wajah kuning lansat dan postur tubuh bisa dibilang ideal. Agha sungguh tak bisa mengenali. Hanya sudut hatinya tergelitik kalau ia pernah ketemu wanita yang sikapnya sama dengan ini.

"Mana SIM nya?"

Glek. Sasti tersentak, sedikit lega karena lelaki di depannya tidak mengenalinya.

"Hmm, maaf saya lupa tidak bawa," ungkap Sasti asal.

"Sas, bukannya kamu memang nggak punya SIM? Duh gimana ini, Sas. Celakalah kita sudah jatuh kena tangga lagi," bisik Nina. Reflek Sasti menyikut tangan Nina yang mengusap lengannya.

"Tidak bawa, atau nggak punya? Dasar orang kampung naik motor ugal-ugalan, nggak punya SIM lagi. Udah nabrak gak mau ganti rugi. Bisa dikenai pasal berlapis tuh. Iya kan, Mas?" Agha memberi kode pada Almira untuk tidak menyela hingga membuat wanita itu tersenyum masam sambil menghentakkan kakinya.

"KTP?"

"Maaf lupa juga. Dompet saya ketinggalan di kampus. Tadi kami tergesa mau ambil barang," terang Sasti sambil menatap ke arah lain. Jelas ia tak mau menatap lawan bicaranya lama-lama. Sebab melihat wajah lelaki di depannya membuat rasa kesal bercampur benci lima tahun yang lalu naik sampai ke ubun-ubun.

"Ckkk, lain kali hati-hati naik motornya. Kalau belum punya SIM nggak usah bawa motor. Berbahaya, bukan untuk diri sendiri tapi juga orang lain," nasehat Agha.

Sasti bukannya tidak punya SIM atau KTP. Hanya saja, ia tidak mau Agha mengenalinya. Terlihat Agha tidak kaget saat mereka berhadapan tadi. Sekalian saja ia pura-pura tidak kenal.

"Ya. Makasih," balas Sasti seraya menghela napas lega.

'Untung dia nggak mengenaliku. Hufh, kalau ingat kelakuannya dulu, menyebalkan sekali. Ingin rasanya aku mencakar mukanya. Meski ganteng tapi, ah sudahlah...'

Agha lalu menyilakan Sasti dan temannya pergi.

"Eh kok cuma gitu, Mas. Mobilku?"

Agha menahan tubuh Almira yang hendak mengikuti dua wanita muda itu.

"Sudahlah, Al!"

"Tapi, Mas. Nanti dia ngelunjak. Seenaknya nggak mau ganti rugi."

"Kamu juga salah, kenapa lewat jalur sini," terang Agha membuat Almira makin kesal. Perdebatan kecil keduanya justru disambut Sasti dengan senyuman karena terbebas dari Almira. Tanpa sengaja Sasti saling pandang dengan Agha. Kedua netra merrka saling bersirobak. Ternyata lelaki itu masih mengamatinya sedari tadi. Senyum singkat Sasti justru menstimulus otak Agha untuk merespon cepat.

"Tunggu!" Lelaki berbadan tegap dengan tinggi sekitar 170cm itu melangkah lebar menuju Sasti dan temannya yang sudah bersiap di atas motor. Almira hanya mampu menatap curiga ke arah mereka sambil bersedekap.

"Apalagi?" Sasti mengucap dengan tenang sambil pura-pura membetulkan posisinya yang siap berkendara. Kedua tangannya mere mas stang kemudi untuk mengaburkan kegugupan. Entah kenapa rasa benci justru membuat Sasti gugup. Detak jantung sesaat tidak bisa diajak kompromi. Semakin lama menatap wajah lelaki itu, semakin membuat level kebenciannya memuncak.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

******

Kisah AKP Agha Rahmawan (31)--biasa dipanggil Kapten Agha karena memimpin sebuah misi. Dia bertemu Sasti Ayuandira (21) saat bertugas di pelosok Kalimantan lima tahun lalu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 32 Kabur

    Bab 32 Kabur "Ka...kalian berdua ternyata bersekongkol menghancurkan keluargaku, hah?" Tunjuk Almira bergantian pada Yuan dan Sasti. "YA. Memang kenapa?! Keluarga kalian duluan lah yang salah. Ada seseorang menghilangkan nyawa orang tuaku. Lantas kalau dibalas, salahnya dimana?" ucap Sasti dengan semangat berapi-api. Hingga membuat Almira menunjuk lagi muka Sasti. "Kamu..." Hampir saja kedua tangan Almira menarik jilbab Sasti. Namun, Yuan segera menahannya supaya tidak terjadi adu fisik. "Lepasin Yuan! Aku mau beri dia pelajaran." Almira berusaha memberontak. Namun dengan sigap dua pengawal Yuan memeganginya. "Ikat saja dia biar diam!" titah Yuan pada pengawalnya. Dengan sigap pengawal itu mengeluarkan tali lalu mendudukkan Almira pada salah satu kursi dan mengikatnya. "Apa?! Yuan...kamu!" seru Almira sambil menatap tajam ke arah Yuan. Karena masih teriak-teriak, mulut wanita itu pun diplester. Tak ayal Almira meronta-tonta dengan wajah merah padam. Kedua mata melotot tajam ke

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 31 Jangan Sentuh

    Bab 31 Jangan Sentuh "Sudah terpasang.""Pastikan sudah diaktifkan."Iya sudah.""Segeralah keluar dari situ."Gegas Sasti hendak keluar kamar Yuan. Ponsel ia masukkan ke saku belum sempat dimatikan. Baru saja sampai ambang pintu. Sepasang tangan dingin menyentuh bahunya. Mengagetkan hingga membuat Sasti terlonjak. Yuan dengan sigap membalik tubuh Sasti hingga mereka berdua berhadapan. Yuan menapakkan kakinya maju sedikit demi sedikit memaksa Sasti mundur hingga membentur pintu."Yu...Yuan.""Apa yang kamu lakukan di kamarku Sasti?"DEG."Hmm, itu Yuan. Ma...maaf. Aku..." Sasti memberanikan diri menahan dada Yuan yang hanya memakai kaos singlet. Rambutnya masih basah membuat otaknya sempat beku.'Astaghfirullah. Kenapa momennya harus begini. Gimana caranya lepas darinya saat ini.'"Aaargh. Yuan!" Tanpa aba-aba Yuan menarik dan menjatuhkan Sasti ke ranj4ng kingsize di kamarnya."Yuan...""Kamu sudah menggodaku Sasti. Apa boleh buat. Aku akan..."Di tempat lain, Adam ngomong sendiri se

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 30 Apartemen

    Bab 30 ApartemenDi bangsal, Sasti masih sabar menanti Nina yang tak kunjung bangun. Setiap bangun dia merasa kesakitan, dan akan menerima suntikan obat pereda nyeri kata perawat. Lalu tertidur kembali.Sudah 24 jam Sasti menunggu untuk mendapatkan informasi dari Nina tapi nihil. Hanya genggaman tangan yang erat seolah minta tolong padanya saja yang ia rasakan. Wajah ketakutan juga masih tersirat di raut muka Nina. Terlihat keningnya yang sering berkerut."Tunggulah Nina, aku pasti akan mencari kebenarannya." Sasti mematri janji dalam hatinya."Sasti." Sebuah sapaan dari Dokter Yuan mengagetkan Sasti pagi ini."Ya, Dok." Sasti berdiri membenahi pakaiannya juga jilbabnya yang berantakan. Ia sempat terlelap tadi karena rasa kantuk semalam tidak bisa tidur saat menjaga Nina."Sepertinya kamu harus ikut aku hari ini. Gimana?""Tapi saya masih nunggu Nina membaik.""Jangan kawatir. Nina sudah semakin bagus kondisinya. Nanti ada perawat yang menjaga. Aku juga akan mengkontak Dokter Arini bu

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 29 Pesanmu

    Bab 29 Pesanmu"Lepaskan Dia, brengs*k!" Agha menoleh ke arah sumber suara. Melihat sosok yang mengatainya, juga menyentak tangannya dari memegang bahu Sasti, seperti ada bara api menyesakkan dadanya, reflek Agha menarik kerah orang itu."Kamu yang brengs*k, Yuan! Kamu sudah mencuci otak, Sasti?! Kamu....""Sudah, sudah! Berhenti! Kalian kenapa sih? Seperti anak kecil!" teriak Sasti. Ia berusaha melerai dua lelaki di depannya yang hampir baku hantam. Aura permusuhan di wajah keduanya masih menggebu. Tiba-tiba terdengar suara rintihan dari dalam ruangan. Gegas Sasti meninggalkan dua orang yang masih berdiri mematung itu."Nina! Nina sadar! Bangun, Nina!""Sakit. Sakit," rintih Nina. Sasti merasa trenyuh mendengarnya. Tubuhnya terasa ikut merasakan ngilu. Melihat luka bakar yang ada di tubuh Nina, Sasti tak kuasa menahan tangis. Memang luka Nina lebih sedikit dibanding Rizky. Tetapi luka yang sedikit itupun terasa menyakitkan."Nina, bagian mana yang sakit?" Sasti kebingungan menenenang

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 28 Lepaskan

    Bab 28 Lepaskan "Yakin mau ke rumah sakit sekarang atau aku antar ke kos dulu?" Yuan menawarkan pilihan lain melihat kondisi Sasti yang murung."Ke rumah sakit saja, Yuan.""Baiklah." Kedua tangan Yuan siap memegang setir. Sasti yang menoleh ke samping mengerutkan dahinya. Menatap lekat pergelangan tangan kanan Yuan. Ada terlihat dua tanda merah di sana."Tanganmu masih sakit, Yuan?" tanya Sasti masih fokus melihat ke samping."Oh, ini cuma sedikit nyeri tidak masalah," sahut Yuan lalu melepaskan kemeja yang dilipatnya sesiku hingga menutupi lukanya."Beneran nggak apa-apa?""Aman, Sasti. Dokternya aku atau kamu?" canda Yuan. Sasti pun mulai bisa sedikit tertawa melihat Yuan yang berkelakar.Sepanjang perjalanan, Yuan sesekali mengajak bicara Sasti supaya tidak diam melamun."Jadi bagaimana? Apa perlu bantuan Papa untuk menyelidiki kasus ayah dan ibumu?" tawar Yuan dengan wajah serius. Sasti tampak berpikir, lalu menarik napas panjang."Ya Yuan, aku butuh bantuanmu kali ini. Aku berh

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 27 Percaya

    Bab 27 Percaya"Sasti, saat ini yang jauh darimu belum tentu tak suka padamu. Yang dekat denganmu bisa jadi bahaya mengancammu. Tolong pahami kata-kata saya.""Apaan sih? Kapten Agha yang terhormat, tenang saja, saya segera balik setelah urusan di sini selesai.""Sasti. Aku mencintaimu sejak dulu.""Halo, halo, Mas tadi mau ngomong apa?""Oh tidak, lupakan saja! Jaga diri baik-baik. Segera kembali jika urusan sudah selesai. Rizky kondisinya kurang stabil." Ucapan Agha nadanya lirih membuat irama degup jantung Sasti meningkat.'Pak Rizky, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya,' batin Sasti sambil menghela napas panjang. Ia menyudahi panggilan dengan Agha."Ada apa?""Kondisi Pak Rizky kurang stabil, aku harus segera balik ke rumah sakit, Yuan." Wajah Sasti terlihat tidak tenang. Namun, Yuan berusaha menghiburnya."Ayo ke ruang kerja Papa. Semoga Papa sudah selesai dengan kerjaannya.""Kalau belum selesai jangan diganggu Yuan, aku nggak enak," ujar Sasti."Tidak Sasti, aku sudah janji

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status