Se connecter"Tunggu!"
"Apalagi?" balas Sasti sambil berdecak. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Agha dengan tatapan penuh selidik. Ia memindai Sasti dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Tidak. Anda pasti keliru." "Oh ya sudah, maaf. Silakan, hati-hati di jalan." "Terima kasih." Sasti menghela napas lega. Gegas ia melajukan kembali motornya menuju kampus untuk menemui dosennya. "Ihhh, gimana sih, Mas. Orang kayak gitu dilepasin. Makin banyak yang nggak taat aturan nanti," gerutu Almira seraya menghentakkan kakinya. "Siapa yang nggak taat aturan? Lihat sendiri kamu yang nerobos jalur. Sini biar aku yang bawa mobilnya." Agha menyahut kunci yang disodorkan Almira. Ia lalu berjalan menuju bagian kemudi. "Ishh, awas aja kalau besok pagi ketemu. Bakal aku buat perhitungan. Huhu, mana penyok begini bisa-bisa jatah ke salon berkurang, nih," gumam Almira. Ia hanya bisa membuang napas kasar. "Kenapa sih Mas, malah membela wanita itu. Bukannya membela aku. Udah dijemput juga, eh mobilku yang jadi korban." Agha hanya berdecak, ia mencari jalan alternatif untuk menghindari macet. Sebab ia harus sampai di tempat acara dengan tepat waktu. Sementara itu, Almira dibiarkan mengomel sendiri, terlihat dari bibirnya yang mengerucut sedari tadi. Di tempat lain, Sasti segera memarkirkan motor sahabatnya di tempat biasa. Ia berdiri membenahi pakaiannya, membetulkan jilbab di depan spion kecil. "Sasti, bikin jantungan tahu nggak sih. Kalau mau naik motor kira-kira dong. Aku masih belum nikah, tahu," omel Nina. "Tahu sendiri kan, Nin. Jam berapa sekarang. Pak Rizky bisa marah kalau kita telat. Lagian tadi ada musibah tak terduga juga, kan. Untung masih lima menit sebelum acara mulai." Sasti menarik tangan sahabatnya lalu bergegas menuju ruang dosen. "Iya, tapi jangan diulang lagi lah. Bahaya, taruhannya nyawa. Nggak cuma nyawa kita bisa juga nyawa orang lain. Ingat kata Pak Pol...Pak Polisi tadi." Reflek langkah Sasti berhenti. Telunjuknya mengarah ke bibir supaya Nina tak banyak bicara. "Iya, iya. Kasian motor kamu kalau rusak, aku nggak bisa ganti," canda Sasti. "Nih anak dibilangin apa jawabnya apa. Eh tapi, Pak Polisi tadi ganteng juga ya, Sas. Sayang sekali ceweknya judes gitu. Kelihatan sabar banget sama kelakuan wanita tadi. Coba kalau ceweknya macam kita, bakal jadi couple goal di kampus nih." "Jangan mimpi!" Sontak saja Sasti menjentikkan jarinya ke dahi kanan Nina. "Aduh, sakit Sas." "Ceweknya judes, cowoknya kulkas. Pasangan yang cocok kan? Ngapain ngarep gitu, masih mending Pak Rizky yang senyumnya penuh...." "Oh iya, sampai lupa. Duniamu hanya ada Pak Rizky, Pak Rizky, dan Pak Rizky Mahendra itu ya. Dosen single yang murah senyum. Sekali senyum dah nggak ketulungan manisnya. Bisa bikin diabetes. Kamu kan paling benci sama lelaki yang profesinya polisi ya, Sas. Setrauma itu sih kamu, gimana ceritanya?" Sasti bukannya menjawab justru mempercepat langkahnya supaya cepat sampai ruang dosen. Karena mereka akan bertugas di acara sosialisasi yang diadakan oleh kampus. "Sas, Tunggu! Btw, beneran selama ini kamu naik motor ga bawa SIM?" tanya Nana dengan kening berkerut. Ia berusaha berjalan mengimbangi langkah lebar Sasti. "Kamu percaya? Ya jelas aku punyalah. Cuma aku nggak mau ribet aja kalau berurusan dengan petugas." "Ya ampun, Sas. Jadi kamu berbohong sama Pak Polisi tadi?" "Iya, kenapa? Udah tenang aja." "Tenang gimana? Bohong itu dosa, aku takut kamu atau kita kena batunya. Nanti kalau di jalan ada musibah trus kita ketemu lagi dengan...." "Sttt...Ya Rabb, semoga nggak ketemu lagi orang macam mereka. Amin." "Eits, dimana-mana polisi itu ada Sas." Sasti tidak menggubris ucapan Nina. Gegas ia mengetuk pintu ruang dosennya. "Permisi, Pak." "Masuk, Sas! Kemana aja kalian? Acara hampir dimulai." Rizky Mahendra dosen populer di jurusan Sains salah satu Universitas ternama di kota Yogya. Orangnya ramah, murah senyum. Wajahnya nggak jauh beda dengan Agha. Sama-sama tampan, hanya saja terlihat Rizky lebih muda usianya. "Maaf Pak, kami ada kendala teknis tadi di jalan," jawab Sasti dengan seulas senyum. "Astaga, kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Terlihat raut wajah Rizky penuh khawatir membuat Nina sebisa mungkin menahan tawa. "Segitunya Pak Rizky khawatir sama kamu, Sas," bisik Nina. "Apaan sih?" "Duduk dulu, ini kalian minum. Ceritakan apa yang terjadi!" "Alhamdulillah aman, Pak. Hanya tabrakan kecil kok tadi. Maaf ya Pak, kami jadi telat datang." "Tapi beneran kamu nggak apa-apa, kan? Apa perlu diperiksakan ke klinik?" Lagi Rizky memberi perhatian lebih pada mahasiswi berprestasinya itu. "Ah tidak perlu, Pak. Saya tidak apa-apa. Cuma motor Nina nanti perlu dibawa ke bengkel." "Iya betul, kami baik-baik saja kok, Pak," imbuh Nina. "Syukurlah kalau begitu. Narasumbernya juga barusan ngabarin kalau telat jalannya macet." "Oh iya, Pak." Sasti saling pandang dengan Nina lalu menghela napas lega. "Sorry, saya telat datang, nih." Suara bariton muncul dari arah pintu masuk ruangan. "Nah ini narasumbernya datang, silakan masuk!" "Astaghfirullah, kenapa harus dia narsumnya? Apa nggak ada yang lain?" gerutu Sasti. "Sas, doamu langsung tembus ke langit. Tapi sayang belum terkabul," ucap Nina seraya menggoda Sasti yang sedikit tegang. "Ayo Sasti, kenalkan ini Kapten Agha Rahmawan yang nanti mengisi acara." "Kapten, ini Sasti Ayuandira moderatornya. Dia mapres terpilih tahun ini." 'Kenapa Pak Rizky pakai nyebutin nama lengkapku, bakal berabe nih. Moga aja dia beneran nggak ingat aku.' Gegas Sasti berdiri mengulurkan tangan membalas Agha yang lebih dulu melakukan. "Sasti." Senyum terpaksa terlukis di wajah Sasti mengingat kejadian tak mengenakkan tadi di jalan juga peristiwa di masa lampau lima tahun lalu. "Agha, senang bisa bertemu kembali dengan Mbak SASTI AYUANDIRA." Ucapan Agha berjeda tapi penuh penekanan. Tatapan saling mengunci dan genggaman tangan terasa erat membuat Sasti membelalak. Rasa-rasanya tubuh Sasti seolah dialiri arus tegangan tinggi. Napas berhembus tak beraturan. Ia hanya bisa menelan ludah tidak tahan dengan tatapan maut lawannya. "Eh," Sasti berusaha melepaskan tangannya, tapi genggaman itu urung lepas. Semakin dipaksa untuk melepas, justru semakin kuat respon Agha untuk menggenggam. Seperti hukum aksi-reaksi Newton. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Suasana pun jadi tegang. Dinginnya AC tak juga meredam panasnya suhu tubuh yang naik tiba-tiba. "Kalian berdua sudah saling kenal?" seru Rizky membuyarkan lamunan Agha. Reflek genggaman pun terlepas. Dan Sasti menarik diri mundur beberapa langkah. "Itu Pak Rizky, hmm ..."Bab 43 Extra Part 2"Halo, Mas Agha." Almira akhirnya menelpon Agha."Ada apa, Al? Sasti sudah kamu antar sampai rumah?" tanya Agha."Ckk, nih istrimu lagi ngidam atau apa sih, Mas. Aku disuruh nganter buat mbuntutin kamu. Pokoknya kamu keluar sini. Aku udah gerah mau pulang mandi." Almira sudah mengomel di telpon.Agha pun keluar dari kantornya. Ia memandang keheranan mobil sepupunya terparkir tak jauh dari kantor."Kenapa diantar kesini?""Tuh, tadi di lampu merah lihat Mas Agha naik mobil sama polwan cantik. Dia nggak mau pulang. Maunya ngikutin mobil Mas Agha. Eh tahunya sampai sini malah ketiduran. Tanggung jawab nih, Mas. Aku mau pulang.""Ya sudah. Sana pulang bawa mobilku. Nanti atau besok tak tukar. Biarkan Sasti tidur, kasian kalau dibangunin.""Ckk, hari ini aku dikerjain dua pasangan bener, nih. Nggak Mas Rizky, Mas Agha juga. Hufh."Agha tertawa lebar mendengarnya. Ia bergegas menepuk bahu sepupunya."Sabar, ya. Semoga jodohnya disegerakan."Almira hanya mendecis lalu men
Bab 42 Extra Part 1Satu tahun kemudian..."Ayo buruan sarapannya dipercepat, Sayang. Mas harus mimpin upacara ini," ucap Agha dengan nada halus sambil melihat arloji di tangan kanannya. Sementara sang istri hanya tersenyum sambil menyelesaikan proses mengunyah makanannya dengan santai.Satu bulan sudah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Selesai rangkaian acara pernikahan, mereka sebentar lagi harus kembali ke tempat bertugas yaitu di kampung halaman Sasti. Entah kenapa akhir-akhir ini Sasti manjanya nggak ketulungan. Minta ini itu yang aneh-aneh.Terlihat berbeda sekali dengan watak asli Sasti yang mandiri dan tak pernah manja. Mereka berdua masih tinggal sementara di rumah Pak Projo. Seperti keinginan Bu Santi, Mama Agha. Ia pengin ditemani menantunya sebelum ditinggal bertugas ke kampung halaman. Agha bertugas di kepolisian dan Sasti menjalankan KKN di kampungnya."Sabar, Mas! Aku nggak bisa makan cepat, nih. Nanti kalau mual muntah gimana?""Asam lambung kamu kambuh lagi?
Bab 41 Ending"Maaf, beliau yang akan mengisi acara. Ini spesial karena beliau khusus menangani masalah tema hari ini," ucap polwan itu dengan lembut tapi nadanya tegas.Netra Sasti terbelalak. Gugup langsung menderanya. Ia beberapa kali mengucek mata. Berharap salah melihat bayangan seseorang."Mas Agha?! Ah, mungkin hanya ilusiku saja. Aku terlalu mengharapkan bertemu dia," rutuk Sasti dalam hati. Ia menunduk sedikit lalu menengadah kembali tapi tak sanggup melihat kedatangan narsum. Ia merasa takut hanya bermimpi. Memilih memandang ke arah MC sebentar, ia menunggu kode dari panitia. Sampai tidak ia sadari, narasumber sudah duduk di sampingnya."Apa kabar?" Suara maskulin itu begitu mengganggu konsentrasi Sasti. Mendadak ia gugup setengah mati.'Ya Rabb, kenapa wajah dan suaranya menghantui aku,' batin Sasti masih belum menoleh ke samping kiri."Mbak Sasti Ayuandira, saya sudah siap. Bisa dimulai?"Deg.'Kenapa dia tahu nama lengkapku? Oh, iya tadi kan MC menyebutkan. Tapi kan cuma
Bab 40 SpesialDi luar ruangan, Sasti berdiri bersama Nina di batas antara pengantar dan penumpang. Netranya mengedar kesana kemari mencari keberadaan seseorang. Ia lalu menerima ponsel Nina yang telah terhubung dengan Adam."Halo, Pak Adam. Ini Sasti, Mas Agha bersama Pak Adam?""Maaf Sasti, saya sedang sendiri sekarang. Ada pesan untuknya?""Oh. Bilang aja saya kirim pesan ke nomernya. Terima kasih."Sasti membungkukkan badan sambil memegangi lututnya yang terasa kebas akibat berlarian mengejar waktu. Nyatanya, usahanya untuk bertemu Agha gagal. Sasti masih berusaha menetralkan napasnya yang ngos-ngosan."Gimana, Sas?" tanya Nina trenyuh. Sasti hanya menggelengkan kepala."Terlambat, mereka sudah masuk pesawat, Nin.""Sabar ya, Sas! Tapi kamu sudah pesan ke Pak Adam, kan? Kalau kamu nyari Pak Agha.""Iya. Aku tanya Pak Agha ada nggak tapi Pak Adam lagi sendiri. Trus aku bilang aja udah kirim pesan ke nomer Pak Agha.""Syukurlah. Semoga terbaca dan segera dibalas ya. Setidaknya kita
Bab 39 Pre Ending 1Panas terik tak menyurutkan niat Sasti mengejar Agha ke bandara. Menurut info dari dosennya, pesawat satu jam lagi. Ia kahirnya diantar oleh Nina naik motor. Sebab Rizky ada kelas pada jam itu."Ayo buruan, Nin! Nanti telat." Sasti membonceng Nina. Karena sahabatnya itu tak mengizinkannya mengendarai di depan. Sasti kalau sudah terburu bisa-bisa naik motornya tak beraturan dan membahayakan."Sabar, Sas. Rada macet ini jalannya. Tahu sendiri kan jam makan siang. Lagian siapa suruh nggak peduli sama Kapten. Jelas-jelas pas di mall udah tak kasih kesempatan ngobrol. Raga dimana jiwanya dimana," omel Nina pada Sasti yang hanya bisa memutar bola mata jengah.Sasti ikut kesal pada dirinya sendiri yang tidak acuh saat diajak ngobrol sama Agha."Sasti, Sasti bisa-bisanya hal penting malah ga ngerti sama sekali." Sasti makin gemas seiring motor Nina yang hampir sampai bandara Adisucipto yang ada di Yogya. Namun belum juga masuk area parkiran, Nina menghentikan mendadak moto
Bab 38 Berakhir"Sasti, lusa saya ada tugas. Saya mungkin akan lama..." Agah berucap lirih. Namun, Sasti masih sibuk dengan ponselnya membalas pesan Rizky."Hmm, gimana? Mas Agha tadi bilang apa?" Wajah Sasti melongo karena begitu beralih dari fokus melihat layar HP, tatapan Agha tak berkedip mengarah padanya. Sekelebat rasa bersalah menghantui.'Tadi Mas Agha ngomong apa, sih? Duh, kacau aku malah nggak konsen.'"Sasti, kalau kamu pergi dari Rizky, kembalilah pada saya!"Bersamaan kalimat lirih itu, notif pesan di ponsel Sasti berbunyi."Gimana, Mas?" ulang Sasti sambil fokus membalas pesan dari Rizky.Agha berdecak seraya menghela napas panjang. Ia sedikit tertawa mengejek diri sendiri. Teringat lima tahun lalu, ia di posisi Sasti sekarang. Mengabaikan lawan bicara saat sedang mengutarakan perasaannya."Gimana kalau kamu balikan sama saya aja, Sas! Biarkan Rizky kembali dengan Andini." Kali ini Agha memberi tawaran dengan nada bercanda. Entah karena dia sudah jengah atau sebenarnya







