Mag-log inBab 34 Bersamamu"Menyerah saja Yuan atau hukumanmu akan lebih berat. Membantu bisnis Papamu sama halnya melancarkan penyelundupan barang har4m itu.""Omong kosong! Aku ingin lihat seberapa kamu sayang dengan dua wanita ini. Sekarang pilihlah yang mana wanita yang mau kamu selamatkan!""Yuan. Kamu?!" tunjuk Agha pada lelaki berprofesi dokter itu. Yuan terbahak melihat Agha yang merasa dilema.Tampak Agha sedang menimang baik buruk keputusannya. Ia menatap bergantian antara Sasti dan Almira.Kilasan masa lalu berkelebatan di benaknya. Saat ia sekolah menengah, Bude Sastro, ibu Almira ikut andil membantu keluarga Agha. Sebab, Pak Projo--Papa Agha bertugas di pelosok Kalimantan."Maafkan saya, Sasti! Pertalian darah lebih penting saat ini," ucap Agha dengan wajah sendu. Entah harus bahagia atau justru penuh kekawatiran, Almira memandang Sasti yang meembuang muka."Sudah kuduga. Perasaanmu pada Sasti tidak tulus Kapten. Pantas saja kamu merelakannya untuk saudaramu. Lihatlah Sasti! Lelaki
Bab 33 Bingung "Mau menggigit tanganku lagi?" Sasti tersentak, ternyata lelaki berprofesi dokter itu bisa membaca pikirannya. "Yuan...., ternyata kamu lelaki asing yang ada di ruang Lab kampus saat terjadi ledakan?" Sasti berusaha melepas tangan yang menahannya. Namun, tenaga Yuan lebih kuat. Apalagi ada pengawalnya yang berdiri di belakang. "Hmm." "Kenapa kamu celakai Pak Rizky. Beliau kolega sendiri, Yuan?!" teriak Sasti. "Kamu kan tahu aku menyukaimu sejak dulu Sasti. Kaptenmu sudah aku singkirkan. Kenapa malah sepupunya gantian deketin kamu. Kalau aku nggak bisa dapatin kamu, maka orang lain pun juga sama. Nggak ada yang boleh deketin kamu, Sasti." "Kamu sudah gila Yuan. Kamu bukan suka padaku, tapi hanya terobsesi. Menghalalkan segala cara demi egomu saja." "Ya, aku memang egois. Aku selalu terbiasa mendapatkan hal yang kuinginkan termasuk mendapatkanmu Sasti. Aku nggak mau nyakitin kamu. Maka dari itu, menurutlah. Atau lelaki bersaudara itu akan celaka," terang Yuan
Bab 32 Kabur "Ka...kalian berdua ternyata bersekongkol menghancurkan keluargaku, hah?" Tunjuk Almira bergantian pada Yuan dan Sasti. "YA. Memang kenapa?! Keluarga kalian duluan lah yang salah. Ada seseorang menghilangkan nyawa orang tuaku. Lantas kalau dibalas, salahnya dimana?" ucap Sasti dengan semangat berapi-api. Hingga membuat Almira menunjuk lagi muka Sasti. "Kamu..." Hampir saja kedua tangan Almira menarik jilbab Sasti. Namun, Yuan segera menahannya supaya tidak terjadi adu fisik. "Lepasin Yuan! Aku mau beri dia pelajaran." Almira berusaha memberontak. Namun dengan sigap dua pengawal Yuan memeganginya. "Ikat saja dia biar diam!" titah Yuan pada pengawalnya. Dengan sigap pengawal itu mengeluarkan tali lalu mendudukkan Almira pada salah satu kursi dan mengikatnya. "Apa?! Yuan...kamu!" seru Almira sambil menatap tajam ke arah Yuan. Karena masih teriak-teriak, mulut wanita itu pun diplester. Tak ayal Almira meronta-tonta dengan wajah merah padam. Kedua mata melotot tajam ke
Bab 31 Jangan Sentuh "Sudah terpasang.""Pastikan sudah diaktifkan."Iya sudah.""Segeralah keluar dari situ."Gegas Sasti hendak keluar kamar Yuan. Ponsel ia masukkan ke saku belum sempat dimatikan. Baru saja sampai ambang pintu. Sepasang tangan dingin menyentuh bahunya. Mengagetkan hingga membuat Sasti terlonjak. Yuan dengan sigap membalik tubuh Sasti hingga mereka berdua berhadapan. Yuan menapakkan kakinya maju sedikit demi sedikit memaksa Sasti mundur hingga membentur pintu."Yu...Yuan.""Apa yang kamu lakukan di kamarku Sasti?"DEG."Hmm, itu Yuan. Ma...maaf. Aku..." Sasti memberanikan diri menahan dada Yuan yang hanya memakai kaos singlet. Rambutnya masih basah membuat otaknya sempat beku.'Astaghfirullah. Kenapa momennya harus begini. Gimana caranya lepas darinya saat ini.'"Aaargh. Yuan!" Tanpa aba-aba Yuan menarik dan menjatuhkan Sasti ke ranj4ng kingsize di kamarnya."Yuan...""Kamu sudah menggodaku Sasti. Apa boleh buat. Aku akan..."Di tempat lain, Adam ngomong sendiri se
Bab 30 ApartemenDi bangsal, Sasti masih sabar menanti Nina yang tak kunjung bangun. Setiap bangun dia merasa kesakitan, dan akan menerima suntikan obat pereda nyeri kata perawat. Lalu tertidur kembali.Sudah 24 jam Sasti menunggu untuk mendapatkan informasi dari Nina tapi nihil. Hanya genggaman tangan yang erat seolah minta tolong padanya saja yang ia rasakan. Wajah ketakutan juga masih tersirat di raut muka Nina. Terlihat keningnya yang sering berkerut."Tunggulah Nina, aku pasti akan mencari kebenarannya." Sasti mematri janji dalam hatinya."Sasti." Sebuah sapaan dari Dokter Yuan mengagetkan Sasti pagi ini."Ya, Dok." Sasti berdiri membenahi pakaiannya juga jilbabnya yang berantakan. Ia sempat terlelap tadi karena rasa kantuk semalam tidak bisa tidur saat menjaga Nina."Sepertinya kamu harus ikut aku hari ini. Gimana?""Tapi saya masih nunggu Nina membaik.""Jangan kawatir. Nina sudah semakin bagus kondisinya. Nanti ada perawat yang menjaga. Aku juga akan mengkontak Dokter Arini bu
Bab 29 Pesanmu"Lepaskan Dia, brengs*k!" Agha menoleh ke arah sumber suara. Melihat sosok yang mengatainya, juga menyentak tangannya dari memegang bahu Sasti, seperti ada bara api menyesakkan dadanya, reflek Agha menarik kerah orang itu."Kamu yang brengs*k, Yuan! Kamu sudah mencuci otak, Sasti?! Kamu....""Sudah, sudah! Berhenti! Kalian kenapa sih? Seperti anak kecil!" teriak Sasti. Ia berusaha melerai dua lelaki di depannya yang hampir baku hantam. Aura permusuhan di wajah keduanya masih menggebu. Tiba-tiba terdengar suara rintihan dari dalam ruangan. Gegas Sasti meninggalkan dua orang yang masih berdiri mematung itu."Nina! Nina sadar! Bangun, Nina!""Sakit. Sakit," rintih Nina. Sasti merasa trenyuh mendengarnya. Tubuhnya terasa ikut merasakan ngilu. Melihat luka bakar yang ada di tubuh Nina, Sasti tak kuasa menahan tangis. Memang luka Nina lebih sedikit dibanding Rizky. Tetapi luka yang sedikit itupun terasa menyakitkan."Nina, bagian mana yang sakit?" Sasti kebingungan menenenang







