Share

Bab 17

Penulis: Syaard86
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-16 10:53:23

Azka sudah sembuh.

Tapi entah kenapa, kesembuhan itu datang bersama gelombang energi yang bikin Akira sampai keteteran. Suaranya tiba-tiba naik satu oktaf, bikin telinga hampir panas, dan ide-idenya? Jelas-jelas nggak pantas untuk anak TK.

Pagi itu, baru saja Akira membuka pintu kos, tiba-tiba sesuatu melayang dan menabrak perutnya dengan kencang. “MAAAAMA AKIRAAAA!” suara Azka melonjak nyaring.

Akira hampir terguling ke belakang, tapi buru-buru menahan diri dengan tangannya di kusen pintu.

Di depannya, Azka berdiri sambil tersenyum lebar, pipinya sudah normal, matanya berkilat penuh semangat, dan yang paling mencolok, sepatu superhero yang menempel di kakinya.

“Kamu sembuh?” tanya Akira dengan mulut ternganga. Azka mengangguk cepat, penuh semangat.

“Sembuh! Kata Papa, Azka udah kayak Power Ranger yang bangun tidur, lho!”

Di belakang Azka, Arka berdiri tenang, rapi, ekspresinya datar seperti biasa, seolah-olah kekacauan ini cuma lelucon biasa.

“Pak,” suara Akira menurun jadi l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 35

    Azka duduk di tepi ranjang rumah sakit, kakinya menggantung tanpa menyentuh lantai. Tangannya meremas boneka robot kesayangannya, tapi wajahnya tak menunjukkan sedikit pun ekspresi. Sudah dua hari sejak Azka bertanya tentang Mama Akira, dan dua hari juga Arka berusaha memberikan jawaban yang bisa dimengerti oleh anak seusianya. Tiba-tiba, suara kecil Azka memecah keheningan. “Papa bohong,” ucapnya datar. Arka yang sedang menandatangani berkas medis terhenti seketika, pandangannya beralih ke anak itu. “Papa nggak bohong,” jawabnya tegas, berusaha meyakinkan. Azka menoleh perlahan, matanya menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang aneh untuk seorang anak berusia lima tahun. “Papa bilang Mama Akira sibuk. Tapi Mama Akira biasanya tetap datang, walau sibuk,” katanya dengan suara polos. Kata-kata sederhana itu menusuk dada Arka seperti pisau, membuatnya terdiam sesaat. Ia lalu merendahkan badan, berjongkok di depan Azka, mencoba menatap mata anak itu. “Mama Akira... lagi butu

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 34

    Lima menit terasa seperti lima detik. Akira berdiri di sisi ranjang Azka, matanya terpaku pada wajah kecil itu yang tampak begitu rapuh. Hatinya bergejolak, campuran rindu yang mendalam, ketakutan yang merayap, dan kesadaran pahit bahwa kebersamaan itu kini jadi hak yang ia genggam dengan sangat hati-hati. Tangannya terangkat perlahan, ingin sekali mengusap pipi lembut Azka, tapi tiba-tiba ragu menghentikannya. Ia menunduk, suaranya hampir tenggelam dalam hening. “Cepat sembuh ya, Dek.” Napasnya sesak, bibirnya bergetar saat melanjutkan, “Mama...” namun kata itu tertahan, ia menelan ludah dalam-dalam. “Tante Akira selalu doain kamu.” Langkahnya mundur pelan, ia menghindari tatapan siapa pun dan keluar dari kamar tanpa sekali pun menoleh kembali. Begitu pintu terkunci rapat, tubuhnya langsung lemas, bahu merosot oleh beban yang tak terlihat. Lorong rumah sakit itu menyambutnya dengan bau antiseptik yang menusuk dan suara langkah kaki orang-orang yang seolah tak menghiraukan dun

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 33

    Rumah sakit pagi itu terasa aneh di matanya. Suaranya terlalu hening untuk disebut tenang, tapi langkah-langkah pasien dan suara alat medis di kejauhan tetap membuat suasana tak pernah benar-benar nyaman. Akira menapak dengan pelan keluar dari lift, jemarinya menggenggam plastik berisi bubur hangat dan susu kotak, pesanan khusus Azka. Semalam, Azka cuma mau makan kalau Akira yang menyuapi. “Tarik napas, Kira. Jenguk anak sakit itu hal biasa,” ia gumam pelan, mencoba menenangkan diri. Namun langkahnya langsung membeku saat melihat dua sosok berdiri di depan kamar Azka. Seorang perempuan berpenampilan anggun dengan setelan gelap berdiri tegap, punggungnya lurus dan aura kewibawaannya membuat lorong rumah sakit terasa sesak. Di sampingnya, pria berambut perak dengan mata tajam sibuk membaca sesuatu di ponsel. Oma dan opa Azka. Orang tua Arka. Jantung Akira seperti tercebur ke dasar perut, bukan berdetak biasa, tapi ambruk tak berdaya. "Astaga, kenapa harus sekarang?" T

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 32

    Azka tertidur dengan napas pelan, dada kecilnya naik turun perlahan seperti gelombang tenang di malam sepi. Detak alat medis berdenting monoton, mengisi kesunyian kamar rawat itu tanpa henti. Akira duduk tegak di sisi ranjang, jemarinya menggenggam tangan Azka erat, tak berani lepas walau sesaat, takut bocah itu menghilang dari dunia ini bila ia lengah. Matanya memandang tanpa berkedip, waktu sudah hampir dua jam berlalu. Di sudut lain, Arka berdiri dekat jendela, punggungnya membelakangi Akira. Tatapannya kosong menembus lampu kota yang berpendar samar di kejauhan, rahang mengeras menahan gejolak di dalam dada. Suara sunyi di antara mereka tebal, bukan karena tak ada kata yang ingin diucapkan, melainkan karena kata-kata itu menumpuk terlalu berat untuk dilepaskan. “Aku nggak akan lama,” bisik Akira akhirnya, suaranya hampir ragu. “Aku cuma mau nemenin sampai dia tenang.” Arka diam, sesaat kemudian suaranya terlontar lirih, penuh kepedihan yang tersembunyi. “Kamu selalu bil

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 31

    Akira duduk di bangku belakang kelas, pandangannya kosong menembus papan tulis yang dipenuhi coretan dosen. Suara penjelasan terdengar samar, seperti dengungan yang jauh, tak menyentuh pikirannya. Dadanya terasa sesak, bukan karena alasan yang jelas, melainkan karena hampa yang menggunung sejak pagi. Ponselnya di tas tetap sunyi. Tak ada pesan masuk dari Arka. Tak ada video call mengejut dari Azka. Tak ada stiker lucu atau suara bocah kecil yang biasanya muncul di jam-jam tak terduga. Sunyi itu justru menggaung lebih nyaring daripada riuhnya gosip kampus. “Kira...” suara Lintang bisik dari sisi lain. “Lo kenapa dari tadi bengong?” Naya menyenggol lengannya pelan, tatapan tajam mengamati wajah Akira yang tak seperti biasanya. Akira hanya menggeleng pelan, napasnya berat. “Gue nggak tahu... tapi perasaan ini nggak enak.” Matanya menatap ke depan, namun seperti hilang dalam kosong. Naya memandangnya lama, lirih berkata, “Sejak lo jaga jarak, lo kayak orang kehilangan setengah jiw

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 30

    Azka duduk membisu di sudut sofa, pelukan erat pada robot kesayangannya yang kini terasa hampa di tangannya. Matanya terpaku ke dinding, kosong tak berdaya, seolah dunia di hadapannya telah kehilangan warna dan makna. Sudah tiga hari ia menghindar dari sekolah, tapi yang paling menakutkan, air mata itu tak pernah jatuh. Bukan karena amukan, bukan karena teriakan—hanya sunyi yang menghimpit hatinya. Arka berulang kali mencoba merangkai kata, berjongkok di hadapan anaknya dengan suara yang bergetar antara harap dan kecewa. "Azka, Papa mohon…" ia berkata pelan, menggapai jiwa kecil itu dengan janji es krim, mainan baru, bahkan jalan-jalan ke kebun binatang. Namun, semuanya tenggelam dalam hening. Tatapan Azka menelusuri wajah Arka, penuh tanya tapi tertahan. Setelah lama terdiam, suaranya pelan, penuh ragu, “Apa Papa bohong?” Arka terdiam sesaat, dada sesak seolah diremas tanpa ampun. “Bohong soal apa, Nak?” jawabnya setenang mungkin. Azka menundukkan kepala kecilnya, suaranya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status