แชร์

Bab 30

ผู้เขียน: Syaard86
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-29 13:31:17

Azka duduk membisu di sudut sofa, pelukan erat pada robot kesayangannya yang kini terasa hampa di tangannya. Matanya terpaku ke dinding, kosong tak berdaya, seolah dunia di hadapannya telah kehilangan warna dan makna.

Sudah tiga hari ia menghindar dari sekolah, tapi yang paling menakutkan, air mata itu tak pernah jatuh. Bukan karena amukan, bukan karena teriakan—hanya sunyi yang menghimpit hatinya.

Arka berulang kali mencoba merangkai kata, berjongkok di hadapan anaknya dengan suara yang bergetar antara harap dan kecewa.

"Azka, Papa mohon…" ia berkata pelan, menggapai jiwa kecil itu dengan janji es krim, mainan baru, bahkan jalan-jalan ke kebun binatang. Namun, semuanya tenggelam dalam hening.

Tatapan Azka menelusuri wajah Arka, penuh tanya tapi tertahan. Setelah lama terdiam, suaranya pelan, penuh ragu, “Apa Papa bohong?”

Arka terdiam sesaat, dada sesak seolah diremas tanpa ampun.

“Bohong soal apa, Nak?” jawabnya setenang mungkin.

Azka menundukkan kepala kecilnya, suaranya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   bab 37

    Lorong rumah sakit membentang panjang, seolah menantang kesabaran Akira. Langkahnya pelan, kaki terasa berat, seolah lantai putih itu bisa tiba-tiba ambruk di bawahnya. Matanya sembab, kepala berdengung penuh gema ruang Dewan Etik, tatapan tajam para dosen, dan sosok Arka yang berdiri teguh membelanya. Nama Arka tak lagi sekadar label dosen killer di pikirannya. Kini, nama itu mengikat takut, lega, hangat, dan rasa bersalah dalam satu perasaan yang membingungkan. Ia berhenti di depan mesin minuman, bibirnya bergerak pelan seolah membaca, tapi tak satupun kata itu meresap ke dalam pikirannya. “Kamu belum pulang.” Suara itu lembut namun tegas, muncul dari belakang dengan keakraban yang akrab menusuk. Akira menutup mata sesaat, menenangkan nafas, lalu menoleh perlahan. Arka berdiri beberapa langkah di belakangnya, jas sudah dilepas, kemeja putihnya kusut dan wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, sebuah kejujuran yang jarang ia tunjukkan. “Saya... mau lihat Azka sebentar,”

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 36

    Pagi itu, rumah sakit terasa hening sampai sunyi. Azka duduk di ranjang, kedua kaki mungilnya bergoyang pelan tanpa tujuan. Matanya terpaku ke pintu, seakan yakin kalau dengan menatap lama, Papa akan muncul dari balik sana. Sejak semalam, Papa belum juga kembali. Yang datang cuma Oma dan Opa, dengan wajah tegang dan senyum yang tampak dipaksakan. “Kamu harus sarapan, Nak,” suara Oma lembut, sambil mengulurkan sendok berisi bubur. Azka menatap sendok itu, lalu menggeleng pelan. “Azka mau Mama Akira.” Sendok berhenti di udara. Opa menghela napas panjang, suaranya berat dan serak. “Azka, Mama Akira nggak selalu bisa ada. Kamu harus belajar terima kenyataan.” Azka menunduk, kepalanya membulat, tangannya mengepal erat di atas selimut. Dadanya sesak sampai sulit bernapas, tapi ia menguatkan diri dengan kata-kata yang pernah Papa ucapkan. “Papa bilang…” suaranya kecil namun penuh tekad, “perasaan Azka nggak salah.” Oma menatap cucunya dalam-dalam, terdiam. Di mata Azka, bukan

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 35

    Azka duduk di tepi ranjang rumah sakit, kakinya menggantung tanpa menyentuh lantai. Tangannya meremas boneka robot kesayangannya, tapi wajahnya tak menunjukkan sedikit pun ekspresi. Sudah dua hari sejak Azka bertanya tentang Mama Akira, dan dua hari juga Arka berusaha memberikan jawaban yang bisa dimengerti oleh anak seusianya. Tiba-tiba, suara kecil Azka memecah keheningan. “Papa bohong,” ucapnya datar. Arka yang sedang menandatangani berkas medis terhenti seketika, pandangannya beralih ke anak itu. “Papa nggak bohong,” jawabnya tegas, berusaha meyakinkan. Azka menoleh perlahan, matanya menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang aneh untuk seorang anak berusia lima tahun. “Papa bilang Mama Akira sibuk. Tapi Mama Akira biasanya tetap datang, walau sibuk,” katanya dengan suara polos. Kata-kata sederhana itu menusuk dada Arka seperti pisau, membuatnya terdiam sesaat. Ia lalu merendahkan badan, berjongkok di depan Azka, mencoba menatap mata anak itu. “Mama Akira... lagi butu

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 34

    Lima menit terasa seperti lima detik. Akira berdiri di sisi ranjang Azka, matanya terpaku pada wajah kecil itu yang tampak begitu rapuh. Hatinya bergejolak, campuran rindu yang mendalam, ketakutan yang merayap, dan kesadaran pahit bahwa kebersamaan itu kini jadi hak yang ia genggam dengan sangat hati-hati. Tangannya terangkat perlahan, ingin sekali mengusap pipi lembut Azka, tapi tiba-tiba ragu menghentikannya. Ia menunduk, suaranya hampir tenggelam dalam hening. “Cepat sembuh ya, Dek.” Napasnya sesak, bibirnya bergetar saat melanjutkan, “Mama...” namun kata itu tertahan, ia menelan ludah dalam-dalam. “Tante Akira selalu doain kamu.” Langkahnya mundur pelan, ia menghindari tatapan siapa pun dan keluar dari kamar tanpa sekali pun menoleh kembali. Begitu pintu terkunci rapat, tubuhnya langsung lemas, bahu merosot oleh beban yang tak terlihat. Lorong rumah sakit itu menyambutnya dengan bau antiseptik yang menusuk dan suara langkah kaki orang-orang yang seolah tak menghiraukan dun

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 33

    Rumah sakit pagi itu terasa aneh di matanya. Suaranya terlalu hening untuk disebut tenang, tapi langkah-langkah pasien dan suara alat medis di kejauhan tetap membuat suasana tak pernah benar-benar nyaman. Akira menapak dengan pelan keluar dari lift, jemarinya menggenggam plastik berisi bubur hangat dan susu kotak, pesanan khusus Azka. Semalam, Azka cuma mau makan kalau Akira yang menyuapi. “Tarik napas, Kira. Jenguk anak sakit itu hal biasa,” ia gumam pelan, mencoba menenangkan diri. Namun langkahnya langsung membeku saat melihat dua sosok berdiri di depan kamar Azka. Seorang perempuan berpenampilan anggun dengan setelan gelap berdiri tegap, punggungnya lurus dan aura kewibawaannya membuat lorong rumah sakit terasa sesak. Di sampingnya, pria berambut perak dengan mata tajam sibuk membaca sesuatu di ponsel. Oma dan opa Azka. Orang tua Arka. Jantung Akira seperti tercebur ke dasar perut, bukan berdetak biasa, tapi ambruk tak berdaya. "Astaga, kenapa harus sekarang?" T

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 32

    Azka tertidur dengan napas pelan, dada kecilnya naik turun perlahan seperti gelombang tenang di malam sepi. Detak alat medis berdenting monoton, mengisi kesunyian kamar rawat itu tanpa henti. Akira duduk tegak di sisi ranjang, jemarinya menggenggam tangan Azka erat, tak berani lepas walau sesaat, takut bocah itu menghilang dari dunia ini bila ia lengah. Matanya memandang tanpa berkedip, waktu sudah hampir dua jam berlalu. Di sudut lain, Arka berdiri dekat jendela, punggungnya membelakangi Akira. Tatapannya kosong menembus lampu kota yang berpendar samar di kejauhan, rahang mengeras menahan gejolak di dalam dada. Suara sunyi di antara mereka tebal, bukan karena tak ada kata yang ingin diucapkan, melainkan karena kata-kata itu menumpuk terlalu berat untuk dilepaskan. “Aku nggak akan lama,” bisik Akira akhirnya, suaranya hampir ragu. “Aku cuma mau nemenin sampai dia tenang.” Arka diam, sesaat kemudian suaranya terlontar lirih, penuh kepedihan yang tersembunyi. “Kamu selalu bil

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status