แชร์

Bab 43

ผู้เขียน: Syaard86
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-11 13:53:32

Pagi itu, Akira membuka kedua matanya dengan kepala yang terasa lebih ringan dari biasanya. Bukan karena semua masalahnya lenyap tapi malah sebaliknya, untuk pertama kalinya ia berhenti berlari dari kenyataan yang selama ini membuatnya lelah.

Sinar matahari lembut menyelinap lewat jendela kos, menari-nari di lantai, hangat dan jujur tanpa basa-basi. Akira duduk di tepi ranjang, peluk lututnya erat sambil mengingat percakapan semalam yang terus terngiang di kepala.

“Aku memilihmu.”

Kalimat itu berulang-ulang jelas, tapi kali ini ia tak lagi ingin menguliti atau mencari celah keraguan. Ada kelegaan aneh yang merayap masuk.

Ia menoleh ke meja, mengambil ponsel yang bergetar di sana. Satu pesan belum dibuka.

Naya: "Kita di bawah kos."

"Jangan pura-pura tidur."

"Ini darurat… tapi versi kita."

Akira tersenyum tipis, lalu melangkah keluar.

Di halaman kos, Naya dan Lintang berdiri dengan dua gelas kopi take away di tangan. Tatapan mereka serius, tapi ada harapan di sana.

“Kita butu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 44

    Hari kepulangan Azka dari rumah sakit datang bersama langit cerah yang terasa terlalu bersahabat untuk hari yang penuh kegelisahan. Akira berdiri membeku di depan pagar besi hitam rumah Arka, matanya terpaku seolah menatap soal ujian esai paling rumit dalam hidupnya. Tangannya menggenggam tali tas dengan sangat kuat sampai jemarinya memutih. “Tarik napas,” bisiknya pelan, dada naik turun berusaha menenangkan diri. “Ini cuma… rumah dosen.” Tapi di dalam hatinya, seribu tanya berputar, dosen yang anaknya memanggilnya Mama, orang tua yang menentang, dan kisah hidup yang jungkir balik. Pintu terbuka perlahan. Arka muncul dengan kemeja santai dan senyum yang, untuk pertama kalinya, tak lagi terasa mengintimidasi. “Masuk,” suaranya singkat, namun hangat menusuk ke relung hati. Akira mengangguk tergesa, hampir menabrak kusen pintu saking gugupnya. Di ruang tamu, Azka duduk bersandar di sofa, memeluk bantal besar di pangkuannya. Wajahnya cerah meskipun mata masih menunjukkan b

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 43

    Pagi itu, Akira membuka kedua matanya dengan kepala yang terasa lebih ringan dari biasanya. Bukan karena semua masalahnya lenyap tapi malah sebaliknya, untuk pertama kalinya ia berhenti berlari dari kenyataan yang selama ini membuatnya lelah. Sinar matahari lembut menyelinap lewat jendela kos, menari-nari di lantai, hangat dan jujur tanpa basa-basi. Akira duduk di tepi ranjang, peluk lututnya erat sambil mengingat percakapan semalam yang terus terngiang di kepala. “Aku memilihmu.” Kalimat itu berulang-ulang jelas, tapi kali ini ia tak lagi ingin menguliti atau mencari celah keraguan. Ada kelegaan aneh yang merayap masuk. Ia menoleh ke meja, mengambil ponsel yang bergetar di sana. Satu pesan belum dibuka. Naya: "Kita di bawah kos." "Jangan pura-pura tidur." "Ini darurat… tapi versi kita." Akira tersenyum tipis, lalu melangkah keluar. Di halaman kos, Naya dan Lintang berdiri dengan dua gelas kopi take away di tangan. Tatapan mereka serius, tapi ada harapan di sana. “Kita butu

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 42

    Hujan rintik mulai turun sejak sore, tapi tak ada suara gemuruh yang mengiringinya. Tetes-tetes kecil itu jatuh pelan, seperti keraguan yang perlahan menumpuk di dada Arka. Ia berdiri terpaku di depan jendela ruang rawat Azka, matanya menelusuri lampu-lampu kota yang buram tersapu air. Azka sudah tertidur sejak sejam lalu, napasnya teratur, wajahnya terlihat tenang. Tapi justru kedamaian itu yang membuat dada Arka sesak, mengaduk gelisah yang sulit dijinakkan. Ia tahu, waktu untuk menunggu sudah hampir habis. Arka mengambil ponselnya lagi. Pesan terakhir dari Akira masih terpampang di layar, belum terhapus, belum dijawab. “Kalau Bapak sudah punya jawabannya, kita bisa bicara.” Napasnya memburu, jari-jarinya ragu sebelum akhirnya mengetik pesan. Arka: "Aku sudah punya jawabannya. "Boleh aku menemui kamu malam ini?" Ia menatap layar yang tak kunjung berbalas. Satu menit... Dua menit... Lima menit berlalu tanpa kabar. Hampa menggelayut di ruang sunyi itu, bersandin

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 41

    Pagi menyelinap masuk tanpa menghangatkan ruang kecil itu. Akira berdiri terpaku di depan cermin kosnya, menatap bayangan yang tampak sama, tapi membawa getar asing di dalamnya. Lingkar mata yang mulai gelap dan wajahnya yang pucat membuat senyum yang dulu mudah muncul kini tersimpan rapi, enggan keluar. Rambutnya diikat dengan rapi, hampir terlalu rapi untuk menggambarkan kekacauan yang bergejolak di hatinya. Ia menghela napas dalam-dalam, suara napasnya bergaung di ruangan kecil itu. “Jaga jarak,” gumamnya lirih pada bayangan dirinya. Bukan karena ingin pergi, tapi karena takut berharap sendirian. *** Di rumah sakit, Azka membuka mata perlahan. Senyap, sunyi dari langkah-langkah kecil perawat yang biasa datang lebih dulu pagi-pagi. Tak ada suara riang yang menyebut namanya dengan nada hangat seperti biasanya. Ia memalingkan kepala, menatap pintu seolah mencari sosok yang hilang. “Papa…” suaranya kecil, penuh keraguan. Arka yang tengah menyelidiki berkas di mejanya men

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 40

    Malam merayap pelan, menyisakan cahaya redup yang terperangkap di lorong sepi rumah sakit. Akira duduk membisu di bangku panjang dekat jendela, pandangannya kosong menatap lampu kota yang berkelap-kelip samar di kejauhan. Hening menyelimuti, seolah menelan semua sisa tenaga setelah hari yang melelahkan. Di kepalanya, bayangan keputusan Dewan Etik terus berputar; kata-kata “sanksi”, “cuti”, tatapan sinis orang-orang yang sulit dilupakan. Dan Arka yang berdiri tegak di sampingnya, tanpa keraguan sedikit pun. Arka yang biasa dingin kini begitu dekat, tapi justru itu membuat dada Akira seperti tertimpa beban berat. Langkah kaki mendekat pelan. Akira enggan menoleh, tapi tahu siapa yang datang. “Kamu belum pulang?” suara Arka keluar pelan, hampir berbisik, seolah takut mengusik kesunyiannya. Akira menggeleng pelan. “Azka baru tidur.” Arka berdiri di sampingnya, tidak duduk, juga tak menyentuh, menjaga jarak dengan sikap yang rapi atau mungkin terlalu hati-hati. “Kamu capek,”

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 39

    Pagi merayap dengan hawa dingin yang menyusup lebih dalam dari biasanya. Akira berdiri terpaku di depan cermin kamar kosnya, matanya menatap pantulan tubuh yang terlihat lebih kurus, sedikit tenggelam dalam tulang-tulangnya yang makin menonjol dibanding minggu lalu. Matanya tetap memancarkan ketegaran, tapi ada beban berat yang bersarang, rapi tapi tak terucap, membuatnya sulit bernafas lega. Ponselnya bergetar lembut, layar menyala dengan nama Naya. “Udah bangun? Hari ini berat. Tapi kita jalanin bareng.” Napas terdengar serak saat Akira menariknya dalam-dalam sebelum membalas pesan itu, “Iya. Makasih.” Ia menutup ponsel, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, hari ini bukan sembarang hari. *** Di koridor lantai atas rumah sakit, Arka berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap keluar jendela. Langit kelabu di luar tampak suram, membayang layaknya isi pikirannya sendiri yang kacau dan tak menentu. Sebuah suara lirih memecah kesunyian, membuat bahunya otomatis menegang. I

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status