Share

72|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2025-12-21 19:00:51

Kamakarna meremas tiang gazebo di yang terletak di Tengah taman sari. Dia berdecih sambil mendongak ke langi biru.

“Kenapa Raden Ayu melakukan ini padaku?” Kamakarna meraih lengan Muniratri.

Ia menatap mantan tunangannya dengan saksama. “Bukankah kita sudah berjanji untuk bersama?”

Meski Kamakarna adalah Putra Mahkota Badra yang wajib dihormati, Muniratri tidak mengacuhkannya untuk sesaat. Dia harus menenangkan Ningsih lebih dahulu, daripada terjad

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   175|

    Prameswari Widuri mendengar dengan jelas teriakan dan raungan dari luar ruang interogasi. Suara itu membuatnya ketakutan, namun ia berusaha tetap tenang.“Yang Mulia, apakah kita akan masuk?” tanya Gendhis.Prameswari Widuri memejamkan mata. Ia menghirup napas panjang dan mengembuskannya perlahan agar suasana hatinya tetap stabil.“Tidak usah.” Widuri balik badan.“Serahkan saja itu kepada sipir.” Wanita itu melihat sekilas ke arah makanan yang dibawa oleh dayang.Alih-alih mematuhi perintah sang majikan, Gandhis menahan makanan yang ada ditangannya. Mulutnya ingin berbicara, namun bibirnya terkunci rapat.“Katakan saja!” ucap sang Prameswari.“Yang Mulia, bagaimana dengan ini?” Gendhis mengulurkan tangan.Di dalam genggamannya, terdapat botol kecil terbuat dari kaca. Benda itu berisi ‘Sumber Kehidupan Abadi’.Widuri menarik napas panjang. “Awa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   174|

    “EHHHMM ... AAKKKKKHHHHHH!!”Suara Raden Cakrasurya mengisi ruang interogasi.“Senapati! Kalau Anda jujur dan mau bekerja sama, Anda tidak perlu menderita seperti ini,” ucap Pangeran Atmajaya yang sedang menikmati pisang putri muling.Raden Cakrasurya yang terikat rantai besi tetap pada pendiriannya. Ia selalu mengatakan tidak tahu tiap kali petugas bertanya. Bahkan jika pertanyaan itu disertai dengan cambukkan.Sikap sang Senapati yang konsisten dari awal hingga akhir membuat Pangeran Atmajaya geram. Ia membuang kulit pisang sembarangan dan mengambil alih penyelidikan.“Sepertinya mereka terlalu lembut pada Anda.” Pangeran Atmajaya merebut cambuk dari tangan petugas.Lelaki itu tersenyum sinis pada Raden Cakrasurya. Di dalam kepala sang Pangeran berputar banyak ide untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan tahanan di depannya.“Jika Senapati ingin aku bersikap lembut juga, Anda menjawab pertan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   173|

    Prameswari Widuri memejamkan mata untuk beberapa saat. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.“Ayah bilang apa barusan?” sang Prameswari membuka mata. Ia tersenyum getir.“Baginda mengeluarkan surat penangkapan Raden Cakrasurya serta izin untuk menggeledah kediamannya. Di sana ditemukan laporan investigasi bahwa penyebab kebakaran pabrik tekstil adalah Magnesium,” tutur Raden Kamaharja, Perdana Menteri Badra.“Laporan itu sengaja disembunyikan di kediaman Senapati dan tak kunjung memberikannya kepada Baginda. Karena itu beliau murka.” Raden Kamaharja mengurangi volume suaranya.“Baginda kemudian memberi kuasa penuh kepada Pangeran Atmajaya untuk menyelidiki kasus kebakaran pabrik tekstil Putra Mahkota secara menyeluruh.” Sang Perdana Menteri menghela napas dengan berat, kemudian menggigit bibirnya.Bahu Prameswari Widuri merosot begitu saja. Apa yang terjadi pada besannya membuat w

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   172|

    “Ayah ... Ibu ...!”Ndari yang berada di dalam penjara bawah tanah bergegas menuju pintu sel. Dia menatap orang tuanya dari balik jeruji besi.“Kenapa kalian ditahan di sini juga?!” Wanita itu menggenggam jeruji besi erat-erat, seolah ingin menghancurkannya.Raden Cakrasurya hanya bisa menghela napas berat, sementara sang istri sibuk memutar matanya. Ia menelisik ke seluruh penjuru ruangan gelap itu.“Kalian harus bersyukur karena ditempatkan di sel yang sama!” ejek Pangeran Atmajaya.Seorang sipir membuka gembok sel yang ditempati oleh Ndari. Ia menjebloskan kedua orang itu dengan kasar.“Ayah ... Ibu ... kalian tidak apa-apa?” tanya Ndari saat kedua orang tuanya jatuh tersungkur di atas jerami kering.Ndari dan Narti bahu-membahu mengangkat sang Senapati dan istrinya. Mereka menepuk-nepuk badan keduanya, membersihkan noda dan debu yang menempel di badan.“Ibunda, apa yang terjadi?” Ndari menggenggam tangan ibunya.Sang Putri Mahkota yang terpuruk itu bergidik ngeri melihat penampilan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   171|

    “Kanjeng Pangeran! Apa yang Anda lakukan?!” teriak Raden Cakrasurya.Amarahnya membara karena saat hendak keluar kediaman, ia dihadang oleh Pangeran Atmajaya.“Apa yang aku lakukan?” Pangeran Atmajaya mendengus.“Tentu saja sedang menegakkan hukum,” sambungnya.Berbekal surat penangkapan yang diberi stempel RATU BADRA, Pangeran Atmajaya membawa lima ratus orang bersamanya. Ia mengepung kediaman sang Senapati sekaligus ayah Putri Mahkota.Sang Senapati mengeluarkan pedangnya. “Jangan keterlaluan! Bagaimanapun juga, aku adalah ayah ....”“Ayah si Putri Mahkota yang sedang dipenjara,” ejek Atmajaya.Perhatian sang Pangeran terfokus pada pedang yang ada di tangan Raden Cakrasurya. Pedang itu, mirip seperti pedang yang digunakan oleh lelaki yang menyerangnya semalam.“Jadi itu kamu, ya?” gumam Pangeran Atmajaya.Lelaki itu membuka kotak yang berisi surat

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   170|

    “Masih sakit?” Damarteja mengoleskan obat ke kulit istrinya.Kondisi Muniratri sudah jauh lebih sejak ia keluar dari keraton. Tubuh yang awalnya penuh memar, kini hanya menyisakan noda ungu yang sudah pudar.“Sedikit ....” Muniratri menyelusup ke ceruk leher sang Pangeran.Damarteja menghela napas berat. “Bukankah sudah kubilang waktu itu supaya kamu jangan ....”Muniratri menutup mulut Damarteja menggunakan jari telunjuknya.“Sudah cukup. Paduka sudah mengatakannya berulang kali sampai saya bosan.” Muniratri memonyongkan bibirnya.Tak bisa.Damarteja tak bisa melihat sang istri mengambek. Terlalu menggemaskan untuknya.“Baiklah ... baiklah ... ini yang terakhir kali.” Lelaki itu memeluk istrinya.Lelaki itu memejamkan mata, membayangkan betapa ironisnya hidup ini.Dahulu, ia sangat membenci Muniratri bahkan memiliki niat untuk menyiksanya setiap hari. Na

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   166|

    Putra Mahkota Kamakarna duduk bersimpuh di penjara bawah tanah yang gelap. Di hadapannya hanya ada bubur tawar dan segelas air bratawali dingin. Sajian yang tak menggugah selera sama sekali.Baru sehari menginap di penjara, lelaki itu sudah merindukan kediamannya yang nyaman. Matahari bers

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   169|

    “Yang Mulia, Anda tidak boleh ke sini!” seru penjaga yang bertugas di depan pintu masuk penjara bawah tanah.“Lancang!” timpal Gendhis.“Sudah tahu kalau beliau adalah Yang Mulia Prameswari, tapi kamu masih berani menghalanginya,” sambung dayang i

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   168|

    “Yang Mulia!”“Yang Mulia!”Gendhis berlari dari pintu masuk kediaman Muniratri. Sikapnya yang tergesa-gesa membuat wanita itu nyaris terjatuh.“Pelan-pelan saja. Kediamanku tidak pindah tempat.” Prameswari Widuri menertawai Gendhis saat la

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   167|

    Muniratri mengunjungi ruang kerja Pangeran Adipati Agung. Di sana, lelaki itu sedang mengadakan pertemuan rahasia dengan para menteri.“Kanjeng Putri, mohon maaf. Anda tidak boleh masuk.” Endra yang berjaga di depan pintu merentangkan tangan.“Kalau begitu, tolong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status