Chapter: ThankfulTerima kasih aku ucapkan pada:Editorku, Kak Dian dan Kak Lucy. Berkat kalian berdua, ‘Jebakan Cinta sang CEO’ dapat tayang di Goodnovel;Para pembaca. Kalian memotivasiku untuk menyelesaikan cerita. ‘Jebakan Cinta sang CEO’ atau memiliki judul lain ‘Suami Magnetis’ merupakan naskah pertamaku di platform ini. Aku harap kalian menyukainya;Terkhusus untuk Jin, lelaki paling tampan di dunia dan sejagat raya pada abad ini. Oppa, thank you for giving me inspiration in writing this manuscript. If Oppa hadn’t held fan meeting a few months ago as well as became the torch bearer for The Paris 2024 Olympics, ‘Jebakan Cinta sang CEO’ would have had a different storyline.Saat ini aku sedang menulis buku berjudul Jadilah Pedangku, Sayang! Klik profil aku dan baca bukunya ya! Jangan lupa tinggalkan komentar di tiap akhir halaman. Aku tunggu!
Last Updated: 2024-09-28
Chapter: Bab 109 | Suami Magnetis“Sayang, kamu enggak marah sama aku?” tanyaku.Saat ini diriku berada di bawah selimut yang sama dengan Rasenda. Setelah kami berdua melakukan penyatuan, rindu yang mengapur pun melebur. Suasana yang awalnya dingin, kini menjadi cair.Dengan lembut, Rasenda memeluk tubuhku yang masih polos dan apa adanya. “Marah kenapa?”“Karena aku jual Jantung Medusa, hadiah dari Mama,” jawabku dengan suara yang pelan, lalu menyembunyikan wajah di pelukan Rasenda.Pada saat diriku bilang ke Rosiana bahwa aku akan melepas Jantung Medusa, sebenarnya aku takut jika Rasenda membenciku. Meski pada saat itu lelaki ini membiarkan tindakanku, namun tetap saja ada perasaan tak enak.“Asalkan itu membuatmu senang, tidak ada masalah,” jawabnya.“Lagi pula, kamu tidak jual benda itu atas dasar keputusanmu sendiri. Aku masih punya andil di dalamnya. Ingat! Aku yang melepas perhiasan itu ke orang lain karena akulah yang menyimpannya. Jadi, jangan salahkan dirimu, oke,” imbuhnya.Betapa baiknya suamiku. Padahal ka
Last Updated: 2024-09-28
Chapter: Bab 108 | Face Mist Lada HitamEmpat hari kami berada di Korea mulai dari Kamis hingga Minggu. Kalau saja Aulia bukan budak korporasi, mungkin kami akan berada di sana hingga satu minggu ke depan.“Manu, tolong bawa ke dalam dan bagi dengan yang lain,” pintaku pada orang itu, wanita yang disuruh oleh Rasenda untuk mengawasi gerak-gerikku.Dia membawa masuk koper yang kuberikan dan membukanya. Betapa terkejut wanita itu setelah dia melihat isi dalam koper tersebut. Terdapat berbagai produk kecantikan, seperti masker wajah, lipstik dan pelembab. Tak ketinggalan juga teh yuja, ginseng serta berbagai makanan khas Korea.Selama berada di negeri K-pop, Aku dan Aulia memuaskan diri berkeliling ke berbagai tempat. Dari lokasi wisata hingga pusat perbelanjaan, kami kunjungi semua. Tak peduli mau beli atau tidak, yang penting kami bisa cuci mata.“Ya ampun banyak banget, Bu. Apa enggak rugi kena cukai?” respons Manu.Persetan dengan cukai atau apa pun itu, toh yang bayar suamiku. Dia sendiri juga sudah bilang agar aku memuas
Last Updated: 2024-09-28
Chapter: Bab 107 | Wangi Kebahagiaan“Hai sayang! Gimana kabar?” Rosiana mencium pipiku, kiri dan kanan.“Baik Kak. Kakak gimana?” jawabku.Wanita yang kini mengenakan kemeja putih ini menggenggam tanganku. “Luar biasa.”Kami bertemu di kafe yang terletak di daerah Megamendung. Tempat itu memiliki pemandangan indah yang menghadap ke Gunung Salak.Selain memanjakan mata, kafe tersebut juga memanjakan lidah, terutama bagi pengunjung yang mencintai makanan pedas. Mereka menyediakan berbagai menu yang dipadukan dengan sambal bakar seperti ikan gurame, ayam bakar pedas manis, steik bumbu kacang dan masih banyak lagi.“Langsung saja tidak usah basa-basi. Aku dengar kamu punya Jantung Medusa.” Baru saja bertemu, wanita ini sudah bertanya tentang perhiasan.“Dari mana Kakak mendengarnya?” tanyaku.“Dari kenalanku. Dia ingin membelinya,” ujar Rosiana.Memang yang namanya gosip cepat beredar. Mend
Last Updated: 2024-09-27
Chapter: Bab 106 | Buku Harian Rasenda“Sayang kamu pasti bercanda, kan?”Aku menarik jas pria ini dengan tangan yang gemetar. Bagaimana mungkin dia berubah menjadi begitu kejam?Kertas yang dia berikan padaku merupakan surat pengunduran diri yang sudah diatur olehnya. Dia, bahkan tak meminta pendapatku lebih dahulu. Inikah hukuman darinya?“Selama ini aku tak bermaksud untuk menyembunyikan kebenaran ini. Aku hanya belum sempat mengatakannya…, tidak…, aku tak berani mengatakannya karena takut kalau kamu jadi makin sedih,” ucapku.“Saat itu, kamu baru saja kehilangan Mama. Jika aku memberi tahu kalau aku keguguran….”“Tetap saja aku berhak tahu!” bentaknya. “Bagaimanapun juga, dia juga anakku.”Seumur hidup, aku tak pernah melihat Rasenda marah sampai membentakku seperti malam ini. Biasanya, tak peduli seburuk apa suasana hatinya, dia tak akan berbicara dengan nada tinggi padaku.“Apa kar
Last Updated: 2024-09-26
Chapter: Bab 105 | Pembalut Bikin KalutSemenjak Ayu mengunggah video klarifikasi, kepercayaan publik yang sempat hilang pun kembali. Demikian juga dengan kepulangan Rasenda dari Singapura membuat atmosfer Pecitra menjadi lebih baik dari hari ke hari.Lelaki itu berhasil membujuk klien Pecitra yang ingin memutus kerja sama untuk mengurungkan niatnya. Dengan demikian, kerugian yang mengancam perusahaan dapat ditekan.Rasenda berjalan keluar dari ruangannya dan singgah di mejaku. “Sayang, buka akun sekuritas kamu deh,” ucap lelaki itu. Aku pun menurutinya.Betapa terkejut diriku saat melihat ekuitas yang aku miliki saat ini. Besarnya tak tanggung-tanggung hingga mencapai enam bagger. Modal awal yang aku taruh adalah delapan belas miliar enam ratus juta rupiah dan kini nilainya menjadi seratus sebelas miliar enam ratus juta rupiah.“Sayang! Ini beneran uang aku naik lima ratus persen?” tanyaku pada suami untuk memastikan diriku yang masih percaya bahwa ini mimpi.
Last Updated: 2024-09-25
Chapter: 130|Puri kembangan adalah taman bunga pribadi milik Widuri. Tempat itu terletak persis di halaman belakang kediaman sang Prameswari. Tak ada yang mengetahui tempat rahasia tersebut, kecuali Widuri dan para dayang kepercayaannya.Apabila ada pihak lain menemukan tempat itu, yang bersangkutan akan dipaksa meminum ‘sumber kehidupan abadi’, racun mematikan yang akan mengirim orang yang meminumnya pindah alam dalam beberapa saat.“Berhenti.” Gendhis mengangkat tangan kanannya.Keempat orang yang membawa tandu Ndari menurunkan sang Putri Mahkota. Alih-alih memberikan bantuan kepada Ndari untuk berdiri, Gendhis malah melayani para pria di sana terlebih dahulu.“Nah, kalian pasti lelah, bukan? Silakan dinikmati.” Dayang itu memberikan minuman merah.Minuman tersebut memiliki wangi yang menggugah selera. Para pria yang memanggul tandu pun menikmatinya tanpa pikir panjang.“Terima kasih. Kalian sudah bekerja
Last Updated: 2026-03-05
Chapter: 129|Berita Kamakarna mengunjungi Muniratri terdengar ke berbagai kompleks keraton, termasuk Kompleks Kusumaswari. Widuri tak habis pikir dengan kelakuan sang anak.Meskipun hanya kalangan tertentu yang mengetahui kelakuan sang Putra Mahkota, sebagai ibunya tentu saja Widuri tak tahan. Darahnya mendidih karena emosi.“Makin hari dia makin berani saja.” Sang Prameswari Badra meremas kertas yang baru saja dibaca.Tak peduli seberapa marahnya Widuri, wanita itu tak akan melampiaskan amarahnya pada sang putra. Ia memerlukan orang lain untuk meredakan hati yang panas.“Panggil Putri Mahkota ke Puri Kembangan!.” Widuri mengibaskan tangan ke arah Gendhis.Biasanya, saat Widuri memberi titah pada Gendhis, dayang itu akan melakukannya tanpa ragu. Namun kali ini, kakinya seolah menancap dengan tanah. Ia tak mau bergerak meski hanya selangkah.“Kenapa diam saja?” sentak Widuri.“Yang Mulia ... apa Anda sudah
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: 128|Dahulu Muniratri pernah menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam kasus ayahnya. Namun saat itu dia lakukan secara diam-diam. Kali ini, ia bisa melakukannya dengan leluasa karena dirinya diperbolehkan memasuki Gedhong Prabayekti secara bebas.Wanita itu boleh membaca buku apa saja. Ia mendapat izin istimewa tersebut atas permohonan Kamakarna pada sang ayahanda.Awalnya, para pejabat menentang permintaan Putra Mahkota. Namun setelah Muniratri mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke Agratampa, para pejabat mengendurkan urat mereka.“Kanjeng Putri, Yang Mulia Putra Mahkota sudah tiba,” bisik Ningsih saat wanita itu memasang cunduk di sanggul Muniratri.Sebagai seseorang yang sedang ditunggu oleh orang mulia, seharusnya Muniratri mempercepat waktu merias diri. Namun wanita itu tetap santai.“Ningsih, bukankah hari ini ... hari yang istimewa?” Muniratri memiringkan kepala sehingga bisa melihat Ningsih yang berada di sampi
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 127|Sebelum menjalankan tugas bersama Putra Mahkota, Muniratri perlu menghadap Prabu Bahuwirya di Pendopo Agung. Di sana, para pejabat berkumpul untuk menghadiri rapat pagi.Para pejabat membahas berbagai permasalahan yang terjadi di Badra. Mulai dari bencana kekeringan, gagal panen, kelaparan, dan juga masalah perbatasan menjadi topik hangat pada hari itu.Awalnya, rapat pagi berjalan lancar, hingga Kamakarna mendeklarasikan bahwa dirinya sanggup mengatasi setiap masalah yang sedang terjadi.“Kekeringan membuat para petani gagal panen sehingga menyebabkan kelaparan di mana-mana. Bagaimana Putra Mahkota mengatasinya? Apa Anda akan mendatangkan hujan dari langit?” cibir Raden Bendara .....Pertanyaan yang keluar dari mulut Pangeran yang lahir dari Selir ... itu mengubah suasana Aula Agung yang tenang menjadi ruangan berdengung. Para pejabat saling berbisik ikut mempertanyakan kesanggupan sang Putra Mahkota.Pangeran .... melirik ke arah Kama
Last Updated: 2026-03-02
Chapter: 126|Damarteja yang baru saja menerima surat dari Warman membulatkan mata. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca, meskipun dirinya sudah mengulang dua kali.“Apa kita kekurangan kunyit?” tanya Damarteja pada ajudannya yang sedang merapikan dokumen.“Tidak, Paduka.” Endra menghentikan aktivitasnya.“Anda mau saya ambilkan sekarang?” tanya ajudan itu.Alih-alih mengangguk maupun menolak, Damarteja malah berdecih. Ia mengangkat satu dokumen yang berat, berniat melemparkan benda tersebut pada ajudannya yang tak peka.“Putri menyuruh Warman membeli kunyit dalam jumlah yang banyak.” Damarteja meletakkan dokumen di tangan, tak jadi melemparnya.“Menurutmu untuk apa dia melakukan itu?” tanya sang Pangeran Adipati.Kunyit memiliki peranan yang penting bagi Masyarakat Badra. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, mereka juga memanfaatkan tanaman ini untuk dijadikan minuman herbal
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: 125|Sebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,” batin Muniratri.Wanita itu melangkah ke dalam Kompleks Keputren. Ingatan masa lalu melambai-lambaikan tangannya. Kenangan-kenangan itu memaksa Muniratri bercengkerama dengan nostalgia yang pernah tercipta.“Kanjeng Putri, kita sudah sampai.” Langkah Narti berhenti di depan halaman Paviliun Kantil.Suara dayang tersebut menyadarkan Muniratri bahwa semua ingatan yang singgah di kepalanya tak akan kembali. Ia tak boleh terlena di sana.Muniratri mengamati bangunan di depan mata dengan saksama. Bangunan itu berada persisi di samping kediaman sang Putra Mahkota. Tempat yang sangat pas digunakan untuk merajut kisah silam, jika Muniratri menginginkanny
Last Updated: 2026-02-28