Chapter: 220| “Kanjeng Putri!”Muniratri yang sudah terlelap kembali membuka mata. Ia bangkit begitu mendengar seruan Ningsih dan bergegas menuju ke pintu masuk sel.“Bagaimana kamu bisa ke sini?” Muniratri meraba-raba tangan Ningsih yang kotor oleh tanah.“Hamba menyusup lewat jalan tikus.” Wanita yang membawa pedang obsidian itu menggaruk rambutnya yang tak gatal.Cengengesan itu hanya sebentar. Begitu sorot mata Ningsih menangkap penampilan majikannya yang lusuh, wanita itu langsung menitikkan air mata.“Kanjeng Putri, maafkan hamba.” Ningsih menyeka pipinya yang basah.“Seandainya hamba ke sini lebih awal, Anda tidak perlu tinggal di tempat terkutuk ini lebih lama.” Ningsih menggenggam erat jeruji besi di hadapannya.“Jangan khawatir. Aku sudah pernah dikurung di penjara bawah tanah bersama mendiang keluargaku. Sel biasa seperti ini ... bukan apa-apanya bagiku.” Muniratri t
Last Updated: 2026-08-15
Chapter: 219|“Ibu Suri!”Endah berlari tergesa-gesa membawa sepucuk surat. Begitu mendesaknya surat yang ia bawa, membuat dayang tersebut bahkan berani membangunkan wanita paling agung di Badra.“Ibu Suri.” Endah menggoyang badan Tarisujana.“Hm ... Ada apa?” Ibu Suri masih memejamkan mata.“Ada surat mendesak dari mata-mata di bawah,” ujar dayang yang sudah senior itu.Ibu Suri Tarisujana membuka lipatan kertas kecil yang diberikan oleh Endah. Ia membaca surat itu dengan teliti. Air mukanya menjadi merah.“Bocah sialan!” Ibu Suri Tarisujana meremas surat dalam genggamannya.“Panggil Raden Apta kemari!” Mata Ibu Suri berair karena panasnya emosi dalam dada.“Tapi ini masih dini hari. Raden Apta mungkin masih tidur,” ujar Endah.“Hmmmmm ...!” Ibu Suri melotot.Sebelum Tarisujana menunjukkan amarahnya, dayang tersebut bangkit. Ia berl
Last Updated: 2026-08-11
Chapter: 218|“AH!”Muniratri dijebloskan ke dalam sel yang dibangun dengan batu bata. Tak ada jendela. Tak ada lampu. Hanya obor di lorong yang menjadi sumber cahaya.“Kanjeng Putri, maafkan kami kasar. Kami hanya mematuhi perintah.” Seorang penjaga mengunci sel.“Kalau kami memperlakukan Anda dengan baik, nantinya malah kami yang bernasib buruk. Mohon Kanjeng Putri tidak menaruh dendam,” ucap penjaga yang lain.Muniratri hanya membalas perkataan mereka hanya dengan memutar bola mata seraya berdecap. Ia kemudian duduk dengan tenang di ujung ruangan.Wanita itu bersandar di dinding sambil menutup mata. Seiring waktu berlalu, ia malah tertidur lelap.“Ck ck ck. Memang pantas disebut perempuan bandit. Bahkan sudah ditempatkan di sel yang busuk pun masih bisa tidur nyenyak,” cibir Endah.Wanita tua itu datang bersama dengan Ibu Suri. Wanita tersebut membawa segentong air dingin di tangannya.&ldqu
Last Updated: 2026-08-09
Chapter: 217|“Aku tidak mau memasuki Ibu Kota sebelum bertemu dengan Yang Mulia Prameswari,” celetuk Muniratri ketika kereta yang dinaikinya sampai di gerbang masuk Ibu Kota.Masyarakat yang berada di sana saling berbisik membicarakan kereta yang dinaiki Muniratri. Pasalnya ia menggunakan kereta mewah bertatahkan emas yang mencuri perhatian semua orang.“Pangeran dari negara mana ya?”“Kalau menurutku bukan Pangeran, tapi Putri. Lihat saja gaya keretanya, banyak ukiran bunga-bunga.”“Tidak penting mau pangeran atau putri. Pertanyaannya kenapa beliau tidak langsung masuk saja?”“Mungkin sedang mengurus dokumen.”“Masa kunjungan negara mengecek dokumennya lama begitu? Bukannya sudah dipersiapkan dengan baik. Lihat saja siapa yang mengawal kereta itu?”“Siapa memangnya?”“Yang pakai emas bentuk Dwara itu ... beliau adalah Wakil Perdana Menteri.”
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: 216|Jantung Kasmirah tak bisa berdegup secara normal ketika berhadapan dengan Pangeran Adipati Agung. Matanya menengadah ke arah lelaki itu tanpa berkedip.“Paduka ingin saya melakukan apa?” Kasmirah menelan ludahnya dengan berat.Di depan wanita itu telah tersedia beberapa lembar kulit lembu tipis berkualitas tinggi. Tinta dan pena juga sudah siap digunakan.Damarteja menunjuk kertas yang terbuat dari kulit. “Tulis surat untuk Yang Mulia Prameswari. Katakan padanya untuk membebaskan Putri Hadiwangsa serta menjaga keselamatannya.”Sang Adipati Agung mencondongkan tubuh ke depan. Ia sedikit menundukkan kepala agar wajahnya dan milik Kasmirah berada pada ketinggian yang sama.“Kalau sampai Putri terluka sedikit saja, akan pastikan kekuasaan Perdana Menteri akan runtuh,” ucapnya dengan suara lebih pelan.Wajah sang Pangeran yang menggelap membuat napas Kasmirah sesak. Padahal dahulu ia berani menghadapi lelaki it
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: 215|“Kanjeng Putri! Tetap di belakang hamba.” Ningsih merentangkan kedua tangan.Jeri-jemari sang Senapati Gupati bergerak pelan, tanpa diketahui orang lain. Dia bersiap meraih belati yang tersembunyi di balik bajunya.Di belakang Ningsih, Muniratri melihat ke arah tembok pertahanan kota. Di sana, para prajurit sudah siap meluncurkan anak panah. Damarteja yang memimpin komando.“Kanjeng Putri! Akhirnya kita bertemu lagi,” seru Raden Apta.Sang Wakil Perdana Menteri Badra maju ke arah Muniratri. Ningsih dan juga prajurit yang berada di atas tembok mengambil posisi siap.Mereka hanya perlu komando sang Pangeran. Sekali perintah itu turun, pintu gerbang Agratampa akan menjadi hujan anak panah.“Ada urusan apa Wakil Perdana Menteri datang ke sini?” tanya Muniratri dingin.Tak ada senyuman di wajah sang Putri Hadiwangsa. Hanya tatapan malas yang dia tunjukkan kepada Raden Apta.“Saya ke sini unt
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: ThankfulTerima kasih aku ucapkan pada:Editorku, Kak Dian dan Kak Lucy. Berkat kalian berdua, ‘Jebakan Cinta sang CEO’ dapat tayang di Goodnovel;Para pembaca. Kalian memotivasiku untuk menyelesaikan cerita. ‘Jebakan Cinta sang CEO’ atau memiliki judul lain ‘Suami Magnetis’ merupakan naskah pertamaku di platform ini. Aku harap kalian menyukainya;Terkhusus untuk Jin, lelaki paling tampan di dunia dan sejagat raya pada abad ini. Oppa, thank you for giving me inspiration in writing this manuscript. If Oppa hadn’t held fan meeting a few months ago as well as became the torch bearer for The Paris 2024 Olympics, ‘Jebakan Cinta sang CEO’ would have had a different storyline.Saat ini aku sedang menulis buku berjudul Jadilah Pedangku, Sayang! Klik profil aku dan baca bukunya ya! Jangan lupa tinggalkan komentar di tiap akhir halaman. Aku tunggu!
Last Updated: 2024-09-28
Chapter: Bab 109 | Suami Magnetis“Sayang, kamu enggak marah sama aku?” tanyaku.Saat ini diriku berada di bawah selimut yang sama dengan Rasenda. Setelah kami berdua melakukan penyatuan, rindu yang mengapur pun melebur. Suasana yang awalnya dingin, kini menjadi cair.Dengan lembut, Rasenda memeluk tubuhku yang masih polos dan apa adanya. “Marah kenapa?”“Karena aku jual Jantung Medusa, hadiah dari Mama,” jawabku dengan suara yang pelan, lalu menyembunyikan wajah di pelukan Rasenda.Pada saat diriku bilang ke Rosiana bahwa aku akan melepas Jantung Medusa, sebenarnya aku takut jika Rasenda membenciku. Meski pada saat itu lelaki ini membiarkan tindakanku, namun tetap saja ada perasaan tak enak.“Asalkan itu membuatmu senang, tidak ada masalah,” jawabnya.“Lagi pula, kamu tidak jual benda itu atas dasar keputusanmu sendiri. Aku masih punya andil di dalamnya. Ingat! Aku yang melepas perhiasan itu ke orang lain karena akulah yang menyimpannya. Jadi, jangan salahkan dirimu, oke,” imbuhnya.Betapa baiknya suamiku. Padahal ka
Last Updated: 2024-09-28
Chapter: Bab 108 | Face Mist Lada HitamEmpat hari kami berada di Korea mulai dari Kamis hingga Minggu. Kalau saja Aulia bukan budak korporasi, mungkin kami akan berada di sana hingga satu minggu ke depan.“Manu, tolong bawa ke dalam dan bagi dengan yang lain,” pintaku pada orang itu, wanita yang disuruh oleh Rasenda untuk mengawasi gerak-gerikku.Dia membawa masuk koper yang kuberikan dan membukanya. Betapa terkejut wanita itu setelah dia melihat isi dalam koper tersebut. Terdapat berbagai produk kecantikan, seperti masker wajah, lipstik dan pelembab. Tak ketinggalan juga teh yuja, ginseng serta berbagai makanan khas Korea.Selama berada di negeri K-pop, Aku dan Aulia memuaskan diri berkeliling ke berbagai tempat. Dari lokasi wisata hingga pusat perbelanjaan, kami kunjungi semua. Tak peduli mau beli atau tidak, yang penting kami bisa cuci mata.“Ya ampun banyak banget, Bu. Apa enggak rugi kena cukai?” respons Manu.Persetan dengan cukai atau apa pun itu, toh yang bayar suamiku. Dia sendiri juga sudah bilang agar aku memuas
Last Updated: 2024-09-28
Chapter: Bab 107 | Wangi Kebahagiaan“Hai sayang! Gimana kabar?” Rosiana mencium pipiku, kiri dan kanan.“Baik Kak. Kakak gimana?” jawabku.Wanita yang kini mengenakan kemeja putih ini menggenggam tanganku. “Luar biasa.”Kami bertemu di kafe yang terletak di daerah Megamendung. Tempat itu memiliki pemandangan indah yang menghadap ke Gunung Salak.Selain memanjakan mata, kafe tersebut juga memanjakan lidah, terutama bagi pengunjung yang mencintai makanan pedas. Mereka menyediakan berbagai menu yang dipadukan dengan sambal bakar seperti ikan gurame, ayam bakar pedas manis, steik bumbu kacang dan masih banyak lagi.“Langsung saja tidak usah basa-basi. Aku dengar kamu punya Jantung Medusa.” Baru saja bertemu, wanita ini sudah bertanya tentang perhiasan.“Dari mana Kakak mendengarnya?” tanyaku.“Dari kenalanku. Dia ingin membelinya,” ujar Rosiana.Memang yang namanya gosip cepat beredar. Mend
Last Updated: 2024-09-27
Chapter: Bab 106 | Buku Harian Rasenda“Sayang kamu pasti bercanda, kan?”Aku menarik jas pria ini dengan tangan yang gemetar. Bagaimana mungkin dia berubah menjadi begitu kejam?Kertas yang dia berikan padaku merupakan surat pengunduran diri yang sudah diatur olehnya. Dia, bahkan tak meminta pendapatku lebih dahulu. Inikah hukuman darinya?“Selama ini aku tak bermaksud untuk menyembunyikan kebenaran ini. Aku hanya belum sempat mengatakannya…, tidak…, aku tak berani mengatakannya karena takut kalau kamu jadi makin sedih,” ucapku.“Saat itu, kamu baru saja kehilangan Mama. Jika aku memberi tahu kalau aku keguguran….”“Tetap saja aku berhak tahu!” bentaknya. “Bagaimanapun juga, dia juga anakku.”Seumur hidup, aku tak pernah melihat Rasenda marah sampai membentakku seperti malam ini. Biasanya, tak peduli seburuk apa suasana hatinya, dia tak akan berbicara dengan nada tinggi padaku.“Apa kar
Last Updated: 2024-09-26
Chapter: Bab 105 | Pembalut Bikin KalutSemenjak Ayu mengunggah video klarifikasi, kepercayaan publik yang sempat hilang pun kembali. Demikian juga dengan kepulangan Rasenda dari Singapura membuat atmosfer Pecitra menjadi lebih baik dari hari ke hari.Lelaki itu berhasil membujuk klien Pecitra yang ingin memutus kerja sama untuk mengurungkan niatnya. Dengan demikian, kerugian yang mengancam perusahaan dapat ditekan.Rasenda berjalan keluar dari ruangannya dan singgah di mejaku. “Sayang, buka akun sekuritas kamu deh,” ucap lelaki itu. Aku pun menurutinya.Betapa terkejut diriku saat melihat ekuitas yang aku miliki saat ini. Besarnya tak tanggung-tanggung hingga mencapai enam bagger. Modal awal yang aku taruh adalah delapan belas miliar enam ratus juta rupiah dan kini nilainya menjadi seratus sebelas miliar enam ratus juta rupiah.“Sayang! Ini beneran uang aku naik lima ratus persen?” tanyaku pada suami untuk memastikan diriku yang masih percaya bahwa ini mimpi.
Last Updated: 2024-09-25