로그인Tekad Damarteja menyusul istrinya ke Ibu Kota sudah tak bisa diganggu gugat. Oleh karena itu sehari sebelum keberangkatannya, ia memanggil Raden Birawa ke Puri Kacayagra.
“Paduka, Senapati sudah tiba,” lapor Endra kepada Damarteja di ruang kerja sang Adipati.
Lelaki yang sedang memegang pena mengangguk. Ia meletakkan alat tulis di tangannya. “Persilakan masuk.”
Sang ajudan berdiri tegap dalam posisi siap. Dia balik badan meninggalkan ruangan itu. t
Pangeran Atmajaya datang ke penjara bawah tanah diikuti oleh lima orang petugas. Mereka membawa dokumen dan juga kotak kayu. Jejak mereka meninggalkan abu yang tak biasa.“Kenapa mereka memakai kain untuk menutup hidung?” bisik Ganendra.“Tidak tahu. Kita ikuti saja.” Saka menutup indra penciumannya menggunakan telapak tangan.Ganendra tak mencium bau yang aneh. Namun karena Saka menutup hidung, lelaki itu pun menirukannya. Mencegah sesuatu yang buruk lebih baik daripada membiarkannya terjadi.“Terus kenapa mereka membungkus kotak itu pakai daun pisang yang sudah kering?” Ganendra menggaruk kepalanya pelan.“CK!” Saka menabok lengan Ganendra.“Kamu ini ikut Putra Mahkota kok enggak tambah pintar sih?” Si sipir itu geleng-geleng kepala.“Tebakanku, di dalam kotak itu pasti adalah barang bukti. Mereka membungkusnya dengan daun pisang kering supaya sidik jari petugas tidak
“Ini jatahmu!” Sipir meletakkan bubur dan minuman khas penjara bawah tanah di hadapan Ganendra dengan hati-hati.Ajudan Putra Mahkota tersebut langsung menenggak minuman coklat kehitaman di dalam gelas. Setelah air yang pahit itu tandas, ia segera memakan bubur untuk menetralkan pahit yang tertinggal di lidah.“Eh! Pelan-pelan saja, tidak ada yang ingin berebut denganmu,” Sipir tersebut mengambil sesuatu dari kantong yang tergantung di pinggangnya.“Nih penawarnya.” Ia memberikan sepotong kue wajik kepada Ganendra.Sorot mata Ganendra tertuju pada kue yang terbuat dari ketan dan gula merah itu. Ia melihat ekspresi si sipir sejenak, lalu mengambil wajik di tangannya.“Tenang saja. Tidak ada racunnya,” celetuk si sipir ketika melihat Ganendra ragu untuk memakan wajik pemberiannya.Ganendra tertawa singkat. Ia membagi wajik itu menjadi dua. Satu untuknya, sedangkan yang lain untuk sipir itu.
“Apa hanya ini yang kalian temukan?” Pangeran Atmajaya membentangkan laporan yang diberikan bawahannya.“Benar, Kanjeng Pangeran. Kami sudah mencari ke semua tempat yang berhubungan dengan Senapati Cakrasurya, namun tak menemukan adanya bukti bahwa beliau yang melakukan kebakaran,” terang lelaki itu.Pangeran Atmajaya meremas laporan yang baru saja ia baca. Lelaki itu menyalakan api dan menghanguskannya.“Ingat ini baik-baik!” Sang Pangeran mengacungkan jari telunjuk ke depan muka si bawahan.“Kita belum menemukan petunjuk siapa dalang pembakaran pabrik tekstil keraton. Paham?!” ucap Pangeran Atmajaya dengan suara pelan.Lelaki itu menepuk-nepuk pundak bawahannya tiga kali secara berturut-turut dengan tempo lambat. Ia tak ingin mendengar kata penolakan.“Hamba ... hamba mengerti.” Bahu si ajudan menegang.Pangeran Atmajaya menarik salah satu ujung bibirnya. Ia kemudian
Prameswari Widuri mendengar dengan jelas teriakan dan raungan dari luar ruang interogasi. Suara itu membuatnya ketakutan, namun ia berusaha tetap tenang.“Yang Mulia, apakah kita akan masuk?” tanya Gendhis.Prameswari Widuri memejamkan mata. Ia menghirup napas panjang dan mengembuskannya perlahan agar suasana hatinya tetap stabil.“Tidak usah.” Widuri balik badan.“Serahkan saja itu kepada sipir.” Wanita itu melihat sekilas ke arah makanan yang dibawa oleh dayang.Alih-alih mematuhi perintah sang majikan, Gandhis menahan makanan yang ada ditangannya. Mulutnya ingin berbicara, namun bibirnya terkunci rapat.“Katakan saja!” ucap sang Prameswari.“Yang Mulia, bagaimana dengan ini?” Gendhis mengulurkan tangan.Di dalam genggamannya, terdapat botol kecil terbuat dari kaca. Benda itu berisi ‘Sumber Kehidupan Abadi’.Widuri menarik napas panjang. “Awa
“EHHHMM ... AAKKKKKHHHHHH!!”Suara Raden Cakrasurya mengisi ruang interogasi.“Senapati! Kalau Anda jujur dan mau bekerja sama, Anda tidak perlu menderita seperti ini,” ucap Pangeran Atmajaya yang sedang menikmati pisang putri muling.Raden Cakrasurya yang terikat rantai besi tetap pada pendiriannya. Ia selalu mengatakan tidak tahu tiap kali petugas bertanya. Bahkan jika pertanyaan itu disertai dengan cambukkan.Sikap sang Senapati yang konsisten dari awal hingga akhir membuat Pangeran Atmajaya geram. Ia membuang kulit pisang sembarangan dan mengambil alih penyelidikan.“Sepertinya mereka terlalu lembut pada Anda.” Pangeran Atmajaya merebut cambuk dari tangan petugas.Lelaki itu tersenyum sinis pada Raden Cakrasurya. Di dalam kepala sang Pangeran berputar banyak ide untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan tahanan di depannya.“Jika Senapati ingin aku bersikap lembut juga, Anda menjawab pertan
Prameswari Widuri memejamkan mata untuk beberapa saat. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.“Ayah bilang apa barusan?” sang Prameswari membuka mata. Ia tersenyum getir.“Baginda mengeluarkan surat penangkapan Raden Cakrasurya serta izin untuk menggeledah kediamannya. Di sana ditemukan laporan investigasi bahwa penyebab kebakaran pabrik tekstil adalah Magnesium,” tutur Raden Kamaharja, Perdana Menteri Badra.“Laporan itu sengaja disembunyikan di kediaman Senapati dan tak kunjung memberikannya kepada Baginda. Karena itu beliau murka.” Raden Kamaharja mengurangi volume suaranya.“Baginda kemudian memberi kuasa penuh kepada Pangeran Atmajaya untuk menyelidiki kasus kebakaran pabrik tekstil Putra Mahkota secara menyeluruh.” Sang Perdana Menteri menghela napas dengan berat, kemudian menggigit bibirnya.Bahu Prameswari Widuri merosot begitu saja. Apa yang terjadi pada besannya membuat w
Putra Mahkota Kamakarna duduk bersimpuh di penjara bawah tanah yang gelap. Di hadapannya hanya ada bubur tawar dan segelas air bratawali dingin. Sajian yang tak menggugah selera sama sekali.Baru sehari menginap di penjara, lelaki itu sudah merindukan kediamannya yang nyaman. Matahari bers
“Putra Mahkota adalah cucuku, begitu pun dengan pangeran yang lahir dari selir.” Sorot mata Ibu Suri tertuju pada Widuri.“Menurut Prameswari, kenapa aku harus berpihak pada putramu saja? Bukankah itu tidak adil bagi cucuku yang lain? Mereka juga punya kesempatan untuk menjadi Putra Mahkota, bukan?”
Prameswari Widuri menaiki tandu menuju Kompleks Mandira. Sepanjang perjalanan, ia melakukan japa.“Lindungi putraku, ya Tuhan. Lindungi Putra Mahkota.” Wanita yang sedang melakukan japa memetik biji genitri satu per satu.Emosi yang tidak stabil membuat Widuri tak bisa mengatur kekuatan gerakannya.
Serangan Putri Hadiwangsa terhadap Putri Mahkota Badra di Balai Purwa membuat Muniratri mengarungi dua pulau dalam sekali dayung. Ia berhasil menggoyahkan kekuatan sang Putra Mahkota dan juga meninggalkan keraton.Wanita itu kembali ke kediaman Pangeran Agung Hadiwangsa di Ibu Kota. Di sana, Ayunda







