بيت / Romansa / Jagad dan Selaras / Bab 8: Aliansi di Bawah Radar

مشاركة

Bab 8: Aliansi di Bawah Radar

مؤلف: Sfrauf
last update آخر تحديث: 2026-01-09 05:23:33

Suara deru knalpot motor Galang yang menjauh dari kediaman Rayyan menyisakan keheningan yang ganjil bagi Jihan. Angin sore menusuk pori-pori kulitnya, tapi pikirannya jauh lebih dingin. Di kepalanya, skenario demi skenario tersusun seperti partitur musik yang rumit. Ia tahu, sekadar memberi semangat pada Jagad tidaklah cukup. Ayah Jagad, Pak Rayyan, bukan tipe orang yang akan luluh hanya dengan kata-kata puitis atau tangisan remaja. Pria itu hanya menghargai dua hal: reputasi dan hasil nyata.

"Lo beneran mau ngelakuin ini, Han?" Galang bertanya saat mereka berhenti di sebuah warung kopi kecil yang menjadi basecamp tersembunyi mereka. Galang membuka helmnya, menampakkan wajah yang penuh keraguan. "Ngelawan Pak Rayyan itu sama aja kayak nabrak tembok beton pake sepeda ontel. Lo bakal hancur duluan."

Jihan turun dari motor, merapikan rambutnya yang berantakan karena angin. "Tembok beton itu punya retakan, Lang. Dan retakannya adalah citra publik. Pak Rayyan sangat peduli dengan bagaimana
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Jagad dan Selaras   Bab 14: Sang Mentor dan Garis yang Tak Boleh Dilewati

    Ruang rapat utama SMA Cakrawala pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Padahal, ruangan itu adalah yang paling megah di sekolah, dengan meja kayu jati panjang yang permukaannya mengilat seperti cermin. Tapi bagi Jihan, oksigen di sana seolah tersedot habis oleh kehadiran satu orang yang duduk di ujung meja.Namanya Ibu Martha. Dia adalah ibu Clarissa, sekaligus kritikus musik klasik yang reputasinya bisa bikin seorang pianis profesional mendadak lupa nada sebelum naik panggung. Wanita itu duduk tegak, mengenakan blazer hitam tanpa cela, dengan kacamata bingkai tipis yang bertengger di hidungnya yang mancung. Di sampingnya, Clarissa duduk dengan senyum tipis yang tampak sangat... tenang."Jadi," Ibu Martha memecah keheningan, suaranya dingin dan jernih. "Ini yang kalian sebut sebagai 'inovasi'?"Ia meletakkan draf aransemen buatan Jihan ke atas meja dengan bunyi plak yang bikin Jihan berjengit."Benar, Bu," Jagad menjawab. Suaranya terdengar stabil, meskipun Jihan bisa melihat rah

  • Jagad dan Selaras   Bab 13: Perpustakaan, Hujan, dan Rahasia yang Luruh

    Malam itu, perpustakaan kota terasa seperti sebuah dunia yang berbeda. Di luar, Jakarta sedang tidak bersahabat; suara klakson yang bersahutan di tengah kemacetan tertutup oleh deru hujan yang mulai menghantam kaca jendela besar di lantai dua. Di dalam, hanya ada suara dengung pelan dari pendingin ruangan dan gesekan kertas yang sesekali memecah keheningan.Jihan Selaras masih berkutat dengan soal termodinamika di depannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi keningnya yang berkerut. Di hadapannya, Jagad Rayyan duduk dengan posisi yang jauh lebih santai—satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya memainkan pulpen dengan lincah."Tanda minusnya, Han. Lo ketinggalan satu baris," ucap Jagad pelan. Suaranya yang rendah terdengar sangat jelas di telinga Jihan karena suasana yang sepi.Jihan mendesah frustrasi. Ia mengucek matanya sejenak sebelum menatap kembali coretannya. "Di mana sih? Perasaan udah gue masukin semua."Jagad sedik

  • Jagad dan Selaras   Bab 12: Kertas Ujian dan Bisikan di Koridor

    Pagi itu, udara di lorong kelas dua belas terasa lebih berat dari biasanya. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kopi instan dari botol-botol minuman yang dibawa siswa. Bagi sebagian orang, ujian Fisika susulan hari ini hanyalah formalitas untuk memperbaiki nilai rapor yang hancur. Tapi bagi Jihan Selaras, ini adalah laga penentuan.Jihan duduk sendirian di bangku taman yang letaknya persis di depan laboratorium. Jemarinya sibuk membolak-balik halaman buku catatan yang penuh dengan coretan rumus termodinamika. Di kepalanya, angka-angka itu menari-nari, tapi entah kenapa, sesekali bayangan wajah Jagad saat di panggung kemarin ikut menyelinap."Formula efisiensi itu nggak bakal masuk ke otak kalau lo bacanya sambil nahan napas gitu, Han."Jihan nggak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja datang. Suara berat yang sedikit serak itu sudah terlalu sering mampir di pendengarannya akhir-akhir ini. Jagad Rayyan berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di tiang lampu

  • Jagad dan Selaras   Bab 11: Resonansi yang Berubah

    Senin pagi di SMA Cakrawala tidak pernah terasa sama lagi bagi Jagad dan Jihan. Jika biasanya koridor sekolah hanya dipenuhi oleh aroma pembersih lantai dan obrolan malas tentang tugas matematika, hari ini atmosfernya terasa bergetar. Sejak kaki Jihan menginjak gerbang, ia bisa merasakan pasang mata yang mengikutinya. Bukan lagi tatapan remeh pada "si peringkat dua yang ambisius", melainkan tatapan kekaguman yang bercampur dengan rasa penasaran yang haus akan gosip.Di mading utama, tempat yang biasanya menjadi medan perang bagi Jagad dan Jihan, kini tertempel sebuah poster besar hasil cetakan panitia yayasan. Foto Jagad yang sedang melakukan dunk dan Jihan yang menekan tuts piano dengan ekspresi intens menjadi latar belakang pengumuman ucapan terima kasih atas kesuksesan Founders Day."Han, liat deh. Kita beneran jadi ikon sekolah," Manda menyenggol bahu Jihan sambil terkekeh. Manda tampak lebih bersemangat pagi ini, rambutnya dikuncir kuda tinggi dan ia membawa kotak biola dengan ba

  • Jagad dan Selaras   Bab 10: Gema di Ruang Kosong

    Sore itu, langit Jakarta seakan ikut menahan napas. Warna jingga yang biasanya hangat kini tampak seperti kobaran api yang memudar di ufuk barat. Jagad berdiri di depan pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Perasaan yang membuncah di sekolah tadi—kemenangan, adrenalin, dan sorak-sorai—kini menguap, digantikan oleh kecemasan yang dingin dan tajam.Di sampingnya, Jihan tetap berdiri. Gadis itu menolak untuk pulang duluan setelah Galang mengantar mereka ke depan kompleks. Jihan masih mengenakan jaket denimnya yang sedikit berdebu, tangannya menggenggam tali tas pianonya dengan kuat."Lo yakin mau ikut masuk?" Jagad menoleh, menatap Jihan dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bokap gue bukan tipe orang yang bakal menyapa tamu dengan ramah setelah dipermalukan di depan umum."Jihan menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma aspal basah di sekitarnya. "Gue yang narik lo ke panggung itu, Gad. Gue nggak bakal biarin lo ngadepin 'hukuman' sendirian. Anggap aja ini bagian dari tanggu

  • Jagad dan Selaras   Bab 9: Pelarian Besar dan Gemuruh di Balik Tirai

    Sabtu pagi, pukul 05.30 WIB. Langit Jakarta masih berwarna kelabu keunguan, menyisakan hawa dingin yang lembap pasca hujan rintik semalam. Di sebuah gang sempit tepat di belakang tembok tinggi kediaman keluarga Rayyan, Galang sedang berjongkok sambil sesekali melirik jam tangan digitalnya yang berkedip. Napasnya terlihat menguap tipis di udara dingin. Di sampingnya, Bagas dan dua orang anggota tim basket lainnya, Rio dan Danu, sedang menutupi sebuah tangga lipat aluminium dengan beberapa karung goni bekas agar terlihat seperti tumpukan sampah taman."Lo yakin ini bakal berhasil, Lang?" bisik Bagas, suaranya sedikit gemetar karena adrenalin. "Kalau kita ketahuan, bukan cuma Jagad yang pindah sekolah. Kita semua bisa kena skorsing permanen karena ngerusak properti orang.""Diem, Gas. Fokus ke sinyal," jawab Galang tegas, meski ia sendiri merasakan jantungnya berdegup sekeras drum perkusi. "Jagad bakal kasih sinyal lewat lampu senter kecil dari jendela kamarnya tepat jam enam. Begitu lam

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status