بيت / Romansa / Jagad dan Selaras / Bab 7: Penjara Kaca dan Melodi yang Terputus

مشاركة

Bab 7: Penjara Kaca dan Melodi yang Terputus

مؤلف: Sfrauf
last update آخر تحديث: 2026-01-09 05:22:12

Senin pagi di SMA Cakrawala biasanya dimulai dengan hiruk-pikuk yang seragam: deru motor di parkiran, suara penggaris yang dipukulkan ke meja oleh guru piket, dan obrolan tentang tugas yang belum selesai. Namun bagi Jihan Selaras, Senin kali ini terasa sangat berat di bagian pundaknya. Di dalam tasnya, tersimpan sebuah trofi kristal berbentuk kunci G yang terbungkus kain beludru hitam. Trofi itu dingin, sebanding dengan firasat buruk yang merayapi hatinya sejak ia menginjakkan kaki di gerbang sekolah.

Jihan melangkah menyusuri koridor dengan kepala tegak. Ia sudah membayangkan wajah kesal Jagad saat melihat trofi ini. Ia sudah menyiapkan kalimat ejekan paling pedas untuk menagih janji perbaikan atap ruang musik. Ia ingin melihat sorot mata sombong itu berubah menjadi pengakuan—meski hanya sedikit—bahwa Jihan telah berhasil melampaui tantangannya.

"Pagi, Jihan! Wah, juara satu ya? Keren banget!" sapa beberapa siswa saat ia melewati mading. Jihan hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan. Matanya terus menyapu kerumunan siswa laki-laki di depan kantin, tempat Jagad biasanya berdiri dengan ban lengan OSIS-nya, tampak berwibawa sekaligus menyebalkan saat menegur siswa yang bajunya keluar.

Nihil. Jagad tidak ada di sana.

Jihan mempercepat langkahnya menuju kelas XII-IPA 1. Ia berdiri di ambang pintu, berpura-pura sedang mencari seseorang. Matanya tertuju pada bangku paling belakang, dekat jendela. Bangku itu kosong. Hanya ada meja kayu yang bersih tanpa coretan, tanpa buku catatan, dan tanpa sosok jangkung yang biasanya duduk bersandar sambil memutar-mutar pulpen dengan bosan.

"Nyari siapa, Han? Nyari si Bos?" suara berat Galang memecah lamunannya. Galang baru saja masuk kelas dengan menenteng dua botol minuman isotonik, wajahnya tampak kusam, seperti orang yang kurang tidur.

Jihan tersentak, lalu mencoba bersikap acuh tak acuh. "Nggak. Gue cuma mau nanya soal rapat koordinasi ekskul. Mana Jagad? Tumben belum kelihatan."

Galang tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke mejanya, melempar botol minumnya, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat melelahkan. "Jagad nggak masuk. Izinnya sih sakit, tapi gue tahu bukan itu masalahnya."

Jihan mengerutkan kening. Perasaan tidak enak yang ia rasakan sejak kemarin malam di aula kompetisi semakin menguat. "Sakit apa? Kemarin dia masih bisa nekat ke aula, kan?"

Galang menatap Jihan dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan peringatan. "Ada harga yang harus dibayar buat setiap 'kenekatan' Jagad, Han. Dan kali ini, harganya mungkin lebih mahal dari yang lo duga."

Sementara itu, di sisi lain sekolah, di kantin yang mulai ramai, Manda sedang duduk termenung di depan baksonya yang mulai dingin. Ia baru saja selesai dari ruang guru untuk menyerahkan berkas administrasi, namun apa yang ia dengar di sana membuatnya kehilangan selera makan.

"Nda, kenapa? Kok baksonya dicuekin?" tanya Bagas, salah satu anggota tim basket yang juga teman sekelas Manda.

"Gas, lo tahu berita soal Jagad?" Manda balik bertanya, suaranya pelan.

Bagas menghela napas, duduk di samping Manda. "Anak-anak basket tadi pagi udah heboh. Katanya Jagad mau ditarik dari tim. Terus ada rumor kalau dia mau pindah sekolah asrama di luar kota. Gila, kan? Kapten kita, Ketua OSIS kita, tiba-tiba mau 'dihilangin' gitu aja."

Manda membelalak. "Pindah? Tapi kenapa?"

"Gue dapet bocoran dari Galang," Bagas merendahkan suaranya. "Bokapnya marah besar soal kejadian kemarin. Jagad ketahuan bohong soal simulasi ujian. Kayaknya Jagad bener-bener kena sanksi keras di rumahnya."

Manda langsung meraih ponselnya. Tangannya sedikit gemetar saat mengetik pesan di grup W******p mereka yang hanya berisi dirinya dan Jihan: “Han, lo di mana? Kabar buruk. Jagad mau dipindahin ke asrama. Ini serius. Lo harus cari dia sebelum semuanya telat!”

Di ruang OSIS yang sunyi, Jihan membaca pesan dari Manda dengan jantung yang berdegup kencang. Ia duduk di kursi yang biasanya diduduki Jagad, kursi yang terasa terlalu besar untuknya. Di atas meja, ia melihat sebuah planner (buku agenda) milik Jagad yang tertinggal.

Jihan membukanya dengan ragu. Pada halaman hari Minggu kemarin, ia melihat tulisan tangan Jagad yang rapi: “Jihan’s Competition. 10.00 AM. Aula Kota.” Namun, tulisan itu telah dicoret berkali-kali dengan tinta merah yang sangat tajam, seolah-olah penanya ditekan dengan penuh amarah. Di bawah coretan itu, ada tulisan lain dengan gaya yang lebih kaku: “SIMULASI HUKUM - WAJIB. JANGAN MENGECEWAKAN.”

Jihan meremas pinggiran buku itu. Ia teringat luka memar kecil di sudut bibir Jagad kemarin. Ia teringat senyum tipis Jagad di barisan belakang penonton. Cowok itu tidak hanya datang; dia bertaruh melawan badai demi menyaksikan Jihan memainkan piano.

"Kenapa lo sebodoh ini, Gad?" bisik Jihan, matanya mulai memanas. "Kenapa lo milih liat gue menang kalau lo sendiri harus kalah kayak gini?"

Tiba-tiba pintu ruang OSIS terbuka keras. Galang masuk dengan wajah yang lebih tegang dari sebelumnya. Ia mengunci pintu dari dalam, membuat Jihan tersentak berdiri.

"Han, gue dapet kabar dari asisten rumah tangga di rumah Jagad. Dia dulu sering bantuin nyokap Jagad, jadi dia pro ke Jagad," Galang bicara dengan napas memburu. "Jagad dikurung di kamarnya. Ponselnya disita. Paspornya udah disiapin. Bokapnya beneran mau ngirim dia ke asrama militer-akademik di luar kota minggu depan. Dia mau 'ngebersihin' distraksi di hidup Jagad."

"Distraksi?" Jihan bertanya lirih.

"Distraksi itu lo, Han. Musik itu distraksi. Basket itu distraksi. Bagi Pak Rayyan, Jagad itu cuma mesin masa depan," Galang memukul meja. "Gue mau ke sana, tapi penjaga rumahnya udah dapet instruksi buat nggak ngebiarin anggota OSIS atau temen basket masuk."

Jihan mengambil trofi kristalnya dari dalam tas. Cahaya matahari dari jendela ruang OSIS memantul di permukaan kristal itu, menciptakan pelangi kecil di dinding.

"Bawa gue ke sana, Lang," ucap Jihan mantap.

"Gila lo? Penjaganya bakal nendang lo keluar."

"Nggak kalau gue bawa ini," Jihan mengangkat trofi itu. "Gue bakal bilang gue perwakilan sekolah. Gue perlu tanda tangan Ketua OSIS buat penyerahan piala ini ke yayasan sore ini. Ini urusan formal, mereka nggak bisa nolak urusan sekolah yang menyangkut nama baik yayasan."

Galang menatap Jihan, menimbang keberanian di mata gadis itu. "Lo tahu apa yang lo hadapin, kan? Bokapnya Jagad itu... dia bukan tipe orang yang bisa diajak debat manis."

"Gue udah biasa debat sama Ketua OSIS yang paling menyebalkan se-Jakarta. Gue rasa gue bisa handle ayahnya," Jihan mencoba bercanda, meski tangannya dingin.

Perjalanan menuju perumahan elit di Jakarta Selatan itu terasa sangat panjang. Galang memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah kemacetan kota yang seolah menghalangi jalan mereka. Saat sampai di depan gerbang megah rumah keluarga Rayyan, Jihan turun dengan lutut yang sedikit lemas.

Rumah itu lebih mirip penjara kaca daripada tempat tinggal. Tinggi, angkuh, dan dikelilingi pagar besi yang ujungnya tajam. Galang menunggu di seberang jalan, sesuai rencana.

"Selamat siang, Pak," Jihan menyapa penjaga di pos depan. "Saya Jihan Selaras, sekretaris sementara untuk urusan prestasi sekolah. Saya diperintahkan oleh Pak Darwin untuk mendapatkan tanda tangan Ketua OSIS, Jagad Rayyan, di dokumen serah terima piala ini. Trofi ini harus dibawa ke yayasan pukul empat sore untuk verifikasi anggaran tahun depan."

Jihan menunjukkan trofi kristalnya dengan percaya diri. Penjaga itu tampak bingung, namun piala yang berkilau dan seragam sekolah Jihan yang rapi memberinya otoritas instan. Setelah melakukan panggilan telepon internal, gerbang besi itu terbuka dengan suara berdenging yang berat.

Jihan melangkah masuk. Halaman rumah itu sangat luas, ditumbuhi rumput yang dipangkas sangat presisi, namun entah kenapa terasa mati. Tidak ada suara burung, tidak ada mainan yang tergeletak, hanya ada keheningan yang menyesakkan.

Di ruang tamu yang luasnya hampir sama dengan lobi sekolah, Jihan disambut oleh seorang pria paruh baya dengan setelan jas lengkap. Wajahnya adalah versi lebih tua dari Jagad—tegas, tajam, namun tanpa sedikit pun binar kemanusiaan di matanya. Itulah Pak Rayyan.

"Kamu dari sekolah?" suara Pak Rayyan berat dan penuh tekanan.

"Benar, Om. Saya Jihan Selaras. Saya butuh tanda tangan Jagad untuk keperluan yayasan," Jihan berdiri tegak, meski ia merasa seperti sedang berdiri di depan gunung es yang siap runtuh menimpanya.

Pak Rayyan menatap piala di tangan Jihan. "Trofi piano? Jadi kamu gadis yang membuat putra saya mengabaikan simulasinya demi sebuah pertunjukan?"

"Ini bukan sekadar pertunjukan, Om. Ini adalah bukti bahwa Jagad berhasil memimpin sekolah ini mencapai prestasinya. Dan Jagad berjanji untuk mengurus administrasinya hari ini," Jihan tidak mundur. Ia menggunakan logika yang ia pelajari dari Jagad sendiri.

Pak Rayyan terdiam sebentar, lalu memberikan isyarat kepada pelayan. "Bawa dia ke atas. Lima menit. Dan pastikan dia tidak membawa apa pun keluar selain dokumen yang dia maksud."

Jihan menaiki tangga dengan perasaan campur aduk. Di lantai dua, ia diantar menuju sebuah pintu kayu ek yang tebal. Pelayan membuka kunci dari luar—sebuah kenyataan pahit bahwa Jagad benar-benar dikurung.

Saat pintu terbuka, Jihan melihat kamar yang luas namun terasa hampa. Jagad sedang duduk di bangku meja belajarnya, menatap kosong ke arah jendela yang terhalang jeruji artistik. Ia tidak menoleh, mengira itu pelayan yang membawakan makanan yang tidak akan ia sentuh.

"Gue bilang gue nggak laper," ucap Jagad serak.

"Ketua OSIS kok cengeng, nggak mau makan cuma gara-gara dikurung?"

Jagad tersentak hebat. Ia memutar kursinya dan matanya membelalak melihat Jihan berdiri di sana, memegang piala kristal. Jagad berdiri dengan kaku, penampilannya berantakan. Kemejanya kusut, rambutnya tidak tertata, dan lebam di bibirnya terlihat lebih gelap.

"Jihan? Kok... gimana bisa?"

Jihan segera mendekat, meletakkan pialanya di meja. "Gue pake trik lo. Sedikit bohong, sedikit gertakan soal yayasan. Tapi yang ini beneran, Gad," Jihan menyentuh piala itu. "Gue menang. Lo menang taruhannya."

Jagad menatap piala itu, lalu menatap Jihan. Ada sorot luka yang mendalam di matanya. "Lo nekat banget ke sini, Han. Bokap gue bisa aja hancurin beasiswa lo kalau dia tahu lo yang bikin gue kabur kemarin."

"Biarin aja. Gue nggak peduli," Jihan meraih tangan Jagad. Tangan cowok itu dingin, gemetar. "Gue denger lo mau dipindahin? Kenapa lo nggak lawan, Gad? Mana Jagad yang selalu punya jawaban buat semuanya?"

Jagad tertawa pahit, tawa yang menusuk hati Jihan. "Gimana cara lawan orang yang megang kendali atas setiap helai napas lo, Han? Dia yang bayarin sekolah gue, dia yang nentuin gue makan apa, bahkan dia yang mutusin gue boleh berteman sama siapa. Gue cuma produk gagal yang lagi direparasi."

Jihan memegang kedua bahu Jagad, memaksanya untuk menatap matanya. "Lo bukan produk gagal! Lo itu Jagad Rayyan. Lo Ketua OSIS paling menyebalkan yang pernah gue kenal. Lo yang bilang ke gue kalau musik itu soal resonansi, kan? Kalau lo nyerah sekarang, resonansi lo bakal mati selamanya."

"Han..."

"Lo denger gue," Jihan berbisik, suaranya bergetar namun kuat. "Gue nggak bakal biarin lo pergi tanpa perlawanan. Galang, Manda, anak-anak basket, anak-anak musik... kita semua butuh lo. Gue butuh lo di mading itu, biar gue punya alasan buat tetep jadi yang terbaik demi ngalahin lo."

Jagad terpaku. Di tengah kesunyian kamar yang dingin itu, ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan dari seseorang yang melihatnya bukan sebagai "investasi", melainkan sebagai manusia yang berharga.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. "Waktu habis," suara pelayan dari luar.

Jihan menatap Jagad untuk terakhir kalinya sebelum keluar. Ia mengambil sebuah pulpen dari meja Jagad, meraih tangan Jagad, dan menuliskan sesuatu di telapak tangan cowok itu.

“0,2.”

"Ingat angka ini, Gad," bisik Jihan. "Cuma selisih kecil. Dan kita bakal bikin selisih itu jadi nol. Jangan nyerah."

Di luar rumah, Galang langsung menghampiri Jihan yang keluar dengan wajah memerah menahan tangis.

"Gimana? Dia oke?" tanya Galang cemas.

Jihan naik ke atas motor, memakai helmnya dengan sentakan. "Dia nggak oke, Lang. Tapi dia masih ada di sana. Sekarang, kita harus lakuin rencana selanjutnya."

"Rencana apa?"

Jihan menatap rumah megah itu melalui kaca spion. "Kita harus bikin yayasan tahu apa yang sebenernya terjadi sama Ketua OSIS mereka. Kita harus bikin panggung yang nggak bisa diabaikan sama Pak Rayyan. Kalau dia suka citra dan prestasi, kita bakal kasih dia prestasi yang bakal bikin dia nggak punya pilihan selain nahan Jagad di sini."

Galang tersenyum lebar, mulai mengerti arah pembicaraan Jihan. "Lo mau bikin konser amal plus turnamen basket dalam satu waktu?"

"Persis. Dan kita butuh Jagad sebagai penggeraknya. Secara rahasia," jawab Jihan tegas.

Sore itu, di balik jendela kamarnya yang berjeruji, Jagad mengepalkan tangannya. Ia melihat tulisan "0,2" di telapak tangannya. Perlahan, api yang sempat padam di matanya mulai menyala kembali. Ia berjalan menuju mejanya, membuka laptop yang untungnya belum sempat disita, dan mulai mengetikkan barisan kode proposal yang tidak akan pernah disetujui ayahnya, namun akan menyelamatkan jiwanya.

Deskripsi Bab 7:

Ketidakhadiran Jagad menciptakan lubang besar di SMA Cakrawala, memicu Jihan untuk melakukan aksi penyusupan nekat ke kediaman keluarga Rayyan yang dingin. Di dalam "penjara kaca" itu, Jihan bukan hanya menyerahkan trofi kemenangan, tapi juga mengembalikan harapan Jagad yang hampir pupus, menyulut api perlawanan yang akan menjadi awal dari pemberontakan terbesar mereka terhadap sistem dan ekspektasi.

Bab 7 telah selesai dengan kedalaman emosi dan detail yang panjang!

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Jagad dan Selaras   Bab 14: Sang Mentor dan Garis yang Tak Boleh Dilewati

    Ruang rapat utama SMA Cakrawala pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Padahal, ruangan itu adalah yang paling megah di sekolah, dengan meja kayu jati panjang yang permukaannya mengilat seperti cermin. Tapi bagi Jihan, oksigen di sana seolah tersedot habis oleh kehadiran satu orang yang duduk di ujung meja.Namanya Ibu Martha. Dia adalah ibu Clarissa, sekaligus kritikus musik klasik yang reputasinya bisa bikin seorang pianis profesional mendadak lupa nada sebelum naik panggung. Wanita itu duduk tegak, mengenakan blazer hitam tanpa cela, dengan kacamata bingkai tipis yang bertengger di hidungnya yang mancung. Di sampingnya, Clarissa duduk dengan senyum tipis yang tampak sangat... tenang."Jadi," Ibu Martha memecah keheningan, suaranya dingin dan jernih. "Ini yang kalian sebut sebagai 'inovasi'?"Ia meletakkan draf aransemen buatan Jihan ke atas meja dengan bunyi plak yang bikin Jihan berjengit."Benar, Bu," Jagad menjawab. Suaranya terdengar stabil, meskipun Jihan bisa melihat rah

  • Jagad dan Selaras   Bab 13: Perpustakaan, Hujan, dan Rahasia yang Luruh

    Malam itu, perpustakaan kota terasa seperti sebuah dunia yang berbeda. Di luar, Jakarta sedang tidak bersahabat; suara klakson yang bersahutan di tengah kemacetan tertutup oleh deru hujan yang mulai menghantam kaca jendela besar di lantai dua. Di dalam, hanya ada suara dengung pelan dari pendingin ruangan dan gesekan kertas yang sesekali memecah keheningan.Jihan Selaras masih berkutat dengan soal termodinamika di depannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi keningnya yang berkerut. Di hadapannya, Jagad Rayyan duduk dengan posisi yang jauh lebih santai—satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya memainkan pulpen dengan lincah."Tanda minusnya, Han. Lo ketinggalan satu baris," ucap Jagad pelan. Suaranya yang rendah terdengar sangat jelas di telinga Jihan karena suasana yang sepi.Jihan mendesah frustrasi. Ia mengucek matanya sejenak sebelum menatap kembali coretannya. "Di mana sih? Perasaan udah gue masukin semua."Jagad sedik

  • Jagad dan Selaras   Bab 12: Kertas Ujian dan Bisikan di Koridor

    Pagi itu, udara di lorong kelas dua belas terasa lebih berat dari biasanya. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kopi instan dari botol-botol minuman yang dibawa siswa. Bagi sebagian orang, ujian Fisika susulan hari ini hanyalah formalitas untuk memperbaiki nilai rapor yang hancur. Tapi bagi Jihan Selaras, ini adalah laga penentuan.Jihan duduk sendirian di bangku taman yang letaknya persis di depan laboratorium. Jemarinya sibuk membolak-balik halaman buku catatan yang penuh dengan coretan rumus termodinamika. Di kepalanya, angka-angka itu menari-nari, tapi entah kenapa, sesekali bayangan wajah Jagad saat di panggung kemarin ikut menyelinap."Formula efisiensi itu nggak bakal masuk ke otak kalau lo bacanya sambil nahan napas gitu, Han."Jihan nggak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja datang. Suara berat yang sedikit serak itu sudah terlalu sering mampir di pendengarannya akhir-akhir ini. Jagad Rayyan berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di tiang lampu

  • Jagad dan Selaras   Bab 11: Resonansi yang Berubah

    Senin pagi di SMA Cakrawala tidak pernah terasa sama lagi bagi Jagad dan Jihan. Jika biasanya koridor sekolah hanya dipenuhi oleh aroma pembersih lantai dan obrolan malas tentang tugas matematika, hari ini atmosfernya terasa bergetar. Sejak kaki Jihan menginjak gerbang, ia bisa merasakan pasang mata yang mengikutinya. Bukan lagi tatapan remeh pada "si peringkat dua yang ambisius", melainkan tatapan kekaguman yang bercampur dengan rasa penasaran yang haus akan gosip.Di mading utama, tempat yang biasanya menjadi medan perang bagi Jagad dan Jihan, kini tertempel sebuah poster besar hasil cetakan panitia yayasan. Foto Jagad yang sedang melakukan dunk dan Jihan yang menekan tuts piano dengan ekspresi intens menjadi latar belakang pengumuman ucapan terima kasih atas kesuksesan Founders Day."Han, liat deh. Kita beneran jadi ikon sekolah," Manda menyenggol bahu Jihan sambil terkekeh. Manda tampak lebih bersemangat pagi ini, rambutnya dikuncir kuda tinggi dan ia membawa kotak biola dengan ba

  • Jagad dan Selaras   Bab 10: Gema di Ruang Kosong

    Sore itu, langit Jakarta seakan ikut menahan napas. Warna jingga yang biasanya hangat kini tampak seperti kobaran api yang memudar di ufuk barat. Jagad berdiri di depan pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Perasaan yang membuncah di sekolah tadi—kemenangan, adrenalin, dan sorak-sorai—kini menguap, digantikan oleh kecemasan yang dingin dan tajam.Di sampingnya, Jihan tetap berdiri. Gadis itu menolak untuk pulang duluan setelah Galang mengantar mereka ke depan kompleks. Jihan masih mengenakan jaket denimnya yang sedikit berdebu, tangannya menggenggam tali tas pianonya dengan kuat."Lo yakin mau ikut masuk?" Jagad menoleh, menatap Jihan dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bokap gue bukan tipe orang yang bakal menyapa tamu dengan ramah setelah dipermalukan di depan umum."Jihan menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma aspal basah di sekitarnya. "Gue yang narik lo ke panggung itu, Gad. Gue nggak bakal biarin lo ngadepin 'hukuman' sendirian. Anggap aja ini bagian dari tanggu

  • Jagad dan Selaras   Bab 9: Pelarian Besar dan Gemuruh di Balik Tirai

    Sabtu pagi, pukul 05.30 WIB. Langit Jakarta masih berwarna kelabu keunguan, menyisakan hawa dingin yang lembap pasca hujan rintik semalam. Di sebuah gang sempit tepat di belakang tembok tinggi kediaman keluarga Rayyan, Galang sedang berjongkok sambil sesekali melirik jam tangan digitalnya yang berkedip. Napasnya terlihat menguap tipis di udara dingin. Di sampingnya, Bagas dan dua orang anggota tim basket lainnya, Rio dan Danu, sedang menutupi sebuah tangga lipat aluminium dengan beberapa karung goni bekas agar terlihat seperti tumpukan sampah taman."Lo yakin ini bakal berhasil, Lang?" bisik Bagas, suaranya sedikit gemetar karena adrenalin. "Kalau kita ketahuan, bukan cuma Jagad yang pindah sekolah. Kita semua bisa kena skorsing permanen karena ngerusak properti orang.""Diem, Gas. Fokus ke sinyal," jawab Galang tegas, meski ia sendiri merasakan jantungnya berdegup sekeras drum perkusi. "Jagad bakal kasih sinyal lewat lampu senter kecil dari jendela kamarnya tepat jam enam. Begitu lam

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status