เข้าสู่ระบบSenin pagi di SMA Cakrawala biasanya dimulai dengan hiruk-pikuk yang seragam: deru motor di parkiran, suara penggaris yang dipukulkan ke meja oleh guru piket, dan obrolan tentang tugas yang belum selesai. Namun bagi Jihan Selaras, Senin kali ini terasa sangat berat di bagian pundaknya. Di dalam tasnya, tersimpan sebuah trofi kristal berbentuk kunci G yang terbungkus kain beludru hitam. Trofi itu dingin, sebanding dengan firasat buruk yang merayapi hatinya sejak ia menginjakkan kaki di gerbang sekolah.
Jihan melangkah menyusuri koridor dengan kepala tegak. Ia sudah membayangkan wajah kesal Jagad saat melihat trofi ini. Ia sudah menyiapkan kalimat ejekan paling pedas untuk menagih janji perbaikan atap ruang musik. Ia ingin melihat sorot mata sombong itu berubah menjadi pengakuan—meski hanya sedikit—bahwa Jihan telah berhasil melampaui tantangannya. "Pagi, Jihan! Wah, juara satu ya? Keren banget!" sapa beberapa siswa saat ia melewati mading. Jihan hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan. Matanya terus menyapu kerumunan siswa laki-laki di depan kantin, tempat Jagad biasanya berdiri dengan ban lengan OSIS-nya, tampak berwibawa sekaligus menyebalkan saat menegur siswa yang bajunya keluar. Nihil. Jagad tidak ada di sana. Jihan mempercepat langkahnya menuju kelas XII-IPA 1. Ia berdiri di ambang pintu, berpura-pura sedang mencari seseorang. Matanya tertuju pada bangku paling belakang, dekat jendela. Bangku itu kosong. Hanya ada meja kayu yang bersih tanpa coretan, tanpa buku catatan, dan tanpa sosok jangkung yang biasanya duduk bersandar sambil memutar-mutar pulpen dengan bosan. "Nyari siapa, Han? Nyari si Bos?" suara berat Galang memecah lamunannya. Galang baru saja masuk kelas dengan menenteng dua botol minuman isotonik, wajahnya tampak kusam, seperti orang yang kurang tidur. Jihan tersentak, lalu mencoba bersikap acuh tak acuh. "Nggak. Gue cuma mau nanya soal rapat koordinasi ekskul. Mana Jagad? Tumben belum kelihatan." Galang tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke mejanya, melempar botol minumnya, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat melelahkan. "Jagad nggak masuk. Izinnya sih sakit, tapi gue tahu bukan itu masalahnya." Jihan mengerutkan kening. Perasaan tidak enak yang ia rasakan sejak kemarin malam di aula kompetisi semakin menguat. "Sakit apa? Kemarin dia masih bisa nekat ke aula, kan?" Galang menatap Jihan dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan peringatan. "Ada harga yang harus dibayar buat setiap 'kenekatan' Jagad, Han. Dan kali ini, harganya mungkin lebih mahal dari yang lo duga." Sementara itu, di sisi lain sekolah, di kantin yang mulai ramai, Manda sedang duduk termenung di depan baksonya yang mulai dingin. Ia baru saja selesai dari ruang guru untuk menyerahkan berkas administrasi, namun apa yang ia dengar di sana membuatnya kehilangan selera makan. "Nda, kenapa? Kok baksonya dicuekin?" tanya Bagas, salah satu anggota tim basket yang juga teman sekelas Manda. "Gas, lo tahu berita soal Jagad?" Manda balik bertanya, suaranya pelan. Bagas menghela napas, duduk di samping Manda. "Anak-anak basket tadi pagi udah heboh. Katanya Jagad mau ditarik dari tim. Terus ada rumor kalau dia mau pindah sekolah asrama di luar kota. Gila, kan? Kapten kita, Ketua OSIS kita, tiba-tiba mau 'dihilangin' gitu aja." Manda membelalak. "Pindah? Tapi kenapa?" "Gue dapet bocoran dari Galang," Bagas merendahkan suaranya. "Bokapnya marah besar soal kejadian kemarin. Jagad ketahuan bohong soal simulasi ujian. Kayaknya Jagad bener-bener kena sanksi keras di rumahnya." Manda langsung meraih ponselnya. Tangannya sedikit gemetar saat mengetik pesan di grup W******p mereka yang hanya berisi dirinya dan Jihan: “Han, lo di mana? Kabar buruk. Jagad mau dipindahin ke asrama. Ini serius. Lo harus cari dia sebelum semuanya telat!” Di ruang OSIS yang sunyi, Jihan membaca pesan dari Manda dengan jantung yang berdegup kencang. Ia duduk di kursi yang biasanya diduduki Jagad, kursi yang terasa terlalu besar untuknya. Di atas meja, ia melihat sebuah planner (buku agenda) milik Jagad yang tertinggal. Jihan membukanya dengan ragu. Pada halaman hari Minggu kemarin, ia melihat tulisan tangan Jagad yang rapi: “Jihan’s Competition. 10.00 AM. Aula Kota.” Namun, tulisan itu telah dicoret berkali-kali dengan tinta merah yang sangat tajam, seolah-olah penanya ditekan dengan penuh amarah. Di bawah coretan itu, ada tulisan lain dengan gaya yang lebih kaku: “SIMULASI HUKUM - WAJIB. JANGAN MENGECEWAKAN.” Jihan meremas pinggiran buku itu. Ia teringat luka memar kecil di sudut bibir Jagad kemarin. Ia teringat senyum tipis Jagad di barisan belakang penonton. Cowok itu tidak hanya datang; dia bertaruh melawan badai demi menyaksikan Jihan memainkan piano. "Kenapa lo sebodoh ini, Gad?" bisik Jihan, matanya mulai memanas. "Kenapa lo milih liat gue menang kalau lo sendiri harus kalah kayak gini?" Tiba-tiba pintu ruang OSIS terbuka keras. Galang masuk dengan wajah yang lebih tegang dari sebelumnya. Ia mengunci pintu dari dalam, membuat Jihan tersentak berdiri. "Han, gue dapet kabar dari asisten rumah tangga di rumah Jagad. Dia dulu sering bantuin nyokap Jagad, jadi dia pro ke Jagad," Galang bicara dengan napas memburu. "Jagad dikurung di kamarnya. Ponselnya disita. Paspornya udah disiapin. Bokapnya beneran mau ngirim dia ke asrama militer-akademik di luar kota minggu depan. Dia mau 'ngebersihin' distraksi di hidup Jagad." "Distraksi?" Jihan bertanya lirih. "Distraksi itu lo, Han. Musik itu distraksi. Basket itu distraksi. Bagi Pak Rayyan, Jagad itu cuma mesin masa depan," Galang memukul meja. "Gue mau ke sana, tapi penjaga rumahnya udah dapet instruksi buat nggak ngebiarin anggota OSIS atau temen basket masuk." Jihan mengambil trofi kristalnya dari dalam tas. Cahaya matahari dari jendela ruang OSIS memantul di permukaan kristal itu, menciptakan pelangi kecil di dinding. "Bawa gue ke sana, Lang," ucap Jihan mantap. "Gila lo? Penjaganya bakal nendang lo keluar." "Nggak kalau gue bawa ini," Jihan mengangkat trofi itu. "Gue bakal bilang gue perwakilan sekolah. Gue perlu tanda tangan Ketua OSIS buat penyerahan piala ini ke yayasan sore ini. Ini urusan formal, mereka nggak bisa nolak urusan sekolah yang menyangkut nama baik yayasan." Galang menatap Jihan, menimbang keberanian di mata gadis itu. "Lo tahu apa yang lo hadapin, kan? Bokapnya Jagad itu... dia bukan tipe orang yang bisa diajak debat manis." "Gue udah biasa debat sama Ketua OSIS yang paling menyebalkan se-Jakarta. Gue rasa gue bisa handle ayahnya," Jihan mencoba bercanda, meski tangannya dingin. Perjalanan menuju perumahan elit di Jakarta Selatan itu terasa sangat panjang. Galang memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah kemacetan kota yang seolah menghalangi jalan mereka. Saat sampai di depan gerbang megah rumah keluarga Rayyan, Jihan turun dengan lutut yang sedikit lemas. Rumah itu lebih mirip penjara kaca daripada tempat tinggal. Tinggi, angkuh, dan dikelilingi pagar besi yang ujungnya tajam. Galang menunggu di seberang jalan, sesuai rencana. "Selamat siang, Pak," Jihan menyapa penjaga di pos depan. "Saya Jihan Selaras, sekretaris sementara untuk urusan prestasi sekolah. Saya diperintahkan oleh Pak Darwin untuk mendapatkan tanda tangan Ketua OSIS, Jagad Rayyan, di dokumen serah terima piala ini. Trofi ini harus dibawa ke yayasan pukul empat sore untuk verifikasi anggaran tahun depan." Jihan menunjukkan trofi kristalnya dengan percaya diri. Penjaga itu tampak bingung, namun piala yang berkilau dan seragam sekolah Jihan yang rapi memberinya otoritas instan. Setelah melakukan panggilan telepon internal, gerbang besi itu terbuka dengan suara berdenging yang berat. Jihan melangkah masuk. Halaman rumah itu sangat luas, ditumbuhi rumput yang dipangkas sangat presisi, namun entah kenapa terasa mati. Tidak ada suara burung, tidak ada mainan yang tergeletak, hanya ada keheningan yang menyesakkan. Di ruang tamu yang luasnya hampir sama dengan lobi sekolah, Jihan disambut oleh seorang pria paruh baya dengan setelan jas lengkap. Wajahnya adalah versi lebih tua dari Jagad—tegas, tajam, namun tanpa sedikit pun binar kemanusiaan di matanya. Itulah Pak Rayyan. "Kamu dari sekolah?" suara Pak Rayyan berat dan penuh tekanan. "Benar, Om. Saya Jihan Selaras. Saya butuh tanda tangan Jagad untuk keperluan yayasan," Jihan berdiri tegak, meski ia merasa seperti sedang berdiri di depan gunung es yang siap runtuh menimpanya. Pak Rayyan menatap piala di tangan Jihan. "Trofi piano? Jadi kamu gadis yang membuat putra saya mengabaikan simulasinya demi sebuah pertunjukan?" "Ini bukan sekadar pertunjukan, Om. Ini adalah bukti bahwa Jagad berhasil memimpin sekolah ini mencapai prestasinya. Dan Jagad berjanji untuk mengurus administrasinya hari ini," Jihan tidak mundur. Ia menggunakan logika yang ia pelajari dari Jagad sendiri. Pak Rayyan terdiam sebentar, lalu memberikan isyarat kepada pelayan. "Bawa dia ke atas. Lima menit. Dan pastikan dia tidak membawa apa pun keluar selain dokumen yang dia maksud." Jihan menaiki tangga dengan perasaan campur aduk. Di lantai dua, ia diantar menuju sebuah pintu kayu ek yang tebal. Pelayan membuka kunci dari luar—sebuah kenyataan pahit bahwa Jagad benar-benar dikurung. Saat pintu terbuka, Jihan melihat kamar yang luas namun terasa hampa. Jagad sedang duduk di bangku meja belajarnya, menatap kosong ke arah jendela yang terhalang jeruji artistik. Ia tidak menoleh, mengira itu pelayan yang membawakan makanan yang tidak akan ia sentuh. "Gue bilang gue nggak laper," ucap Jagad serak. "Ketua OSIS kok cengeng, nggak mau makan cuma gara-gara dikurung?" Jagad tersentak hebat. Ia memutar kursinya dan matanya membelalak melihat Jihan berdiri di sana, memegang piala kristal. Jagad berdiri dengan kaku, penampilannya berantakan. Kemejanya kusut, rambutnya tidak tertata, dan lebam di bibirnya terlihat lebih gelap. "Jihan? Kok... gimana bisa?" Jihan segera mendekat, meletakkan pialanya di meja. "Gue pake trik lo. Sedikit bohong, sedikit gertakan soal yayasan. Tapi yang ini beneran, Gad," Jihan menyentuh piala itu. "Gue menang. Lo menang taruhannya." Jagad menatap piala itu, lalu menatap Jihan. Ada sorot luka yang mendalam di matanya. "Lo nekat banget ke sini, Han. Bokap gue bisa aja hancurin beasiswa lo kalau dia tahu lo yang bikin gue kabur kemarin." "Biarin aja. Gue nggak peduli," Jihan meraih tangan Jagad. Tangan cowok itu dingin, gemetar. "Gue denger lo mau dipindahin? Kenapa lo nggak lawan, Gad? Mana Jagad yang selalu punya jawaban buat semuanya?" Jagad tertawa pahit, tawa yang menusuk hati Jihan. "Gimana cara lawan orang yang megang kendali atas setiap helai napas lo, Han? Dia yang bayarin sekolah gue, dia yang nentuin gue makan apa, bahkan dia yang mutusin gue boleh berteman sama siapa. Gue cuma produk gagal yang lagi direparasi." Jihan memegang kedua bahu Jagad, memaksanya untuk menatap matanya. "Lo bukan produk gagal! Lo itu Jagad Rayyan. Lo Ketua OSIS paling menyebalkan yang pernah gue kenal. Lo yang bilang ke gue kalau musik itu soal resonansi, kan? Kalau lo nyerah sekarang, resonansi lo bakal mati selamanya." "Han..." "Lo denger gue," Jihan berbisik, suaranya bergetar namun kuat. "Gue nggak bakal biarin lo pergi tanpa perlawanan. Galang, Manda, anak-anak basket, anak-anak musik... kita semua butuh lo. Gue butuh lo di mading itu, biar gue punya alasan buat tetep jadi yang terbaik demi ngalahin lo." Jagad terpaku. Di tengah kesunyian kamar yang dingin itu, ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan dari seseorang yang melihatnya bukan sebagai "investasi", melainkan sebagai manusia yang berharga. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. "Waktu habis," suara pelayan dari luar. Jihan menatap Jagad untuk terakhir kalinya sebelum keluar. Ia mengambil sebuah pulpen dari meja Jagad, meraih tangan Jagad, dan menuliskan sesuatu di telapak tangan cowok itu. “0,2.” "Ingat angka ini, Gad," bisik Jihan. "Cuma selisih kecil. Dan kita bakal bikin selisih itu jadi nol. Jangan nyerah." Di luar rumah, Galang langsung menghampiri Jihan yang keluar dengan wajah memerah menahan tangis. "Gimana? Dia oke?" tanya Galang cemas. Jihan naik ke atas motor, memakai helmnya dengan sentakan. "Dia nggak oke, Lang. Tapi dia masih ada di sana. Sekarang, kita harus lakuin rencana selanjutnya." "Rencana apa?" Jihan menatap rumah megah itu melalui kaca spion. "Kita harus bikin yayasan tahu apa yang sebenernya terjadi sama Ketua OSIS mereka. Kita harus bikin panggung yang nggak bisa diabaikan sama Pak Rayyan. Kalau dia suka citra dan prestasi, kita bakal kasih dia prestasi yang bakal bikin dia nggak punya pilihan selain nahan Jagad di sini." Galang tersenyum lebar, mulai mengerti arah pembicaraan Jihan. "Lo mau bikin konser amal plus turnamen basket dalam satu waktu?" "Persis. Dan kita butuh Jagad sebagai penggeraknya. Secara rahasia," jawab Jihan tegas. Sore itu, di balik jendela kamarnya yang berjeruji, Jagad mengepalkan tangannya. Ia melihat tulisan "0,2" di telapak tangannya. Perlahan, api yang sempat padam di matanya mulai menyala kembali. Ia berjalan menuju mejanya, membuka laptop yang untungnya belum sempat disita, dan mulai mengetikkan barisan kode proposal yang tidak akan pernah disetujui ayahnya, namun akan menyelamatkan jiwanya. Deskripsi Bab 7: Ketidakhadiran Jagad menciptakan lubang besar di SMA Cakrawala, memicu Jihan untuk melakukan aksi penyusupan nekat ke kediaman keluarga Rayyan yang dingin. Di dalam "penjara kaca" itu, Jihan bukan hanya menyerahkan trofi kemenangan, tapi juga mengembalikan harapan Jagad yang hampir pupus, menyulut api perlawanan yang akan menjadi awal dari pemberontakan terbesar mereka terhadap sistem dan ekspektasi. Bab 7 telah selesai dengan kedalaman emosi dan detail yang panjang!Kapal *The Melodic Wind* meluncur membelah kegelapan ruang angkasa menuju bola raksasa pijar yang menjadi sumber segala kehidupan di Tata Surya. Matahari. Dari kejauhan, ia tampak seperti kelereng emas yang tenang, namun semakin dekat mereka terbang, kenyataan mengerikan mulai terlihat. Permukaan Matahari yang biasanya bergejolak dalam harmoni nuklir kini tampak seperti luka terbuka. Bintik-bintang hitam—virus keheningan Malakor—menyebar seperti kanker di atas fotosfer, menyedot energi panas dan mengubahnya menjadi kekosongan yang dingin.Di dalam kabin, suhu mulai merangkak naik meski sistem pendingin Lyran bekerja maksimal. Udara terasa berat dan berbau seperti logam yang terbakar."Jihan, sistem perisai kita berada di kapasitas 85%," teriak Kael, keringat bercucuran dari balik kacamata datanya. "Begitu kita masuk ke korona, kita nggak bakal punya jalan pulang lewat cara konvensional. Kita bakal bergantung sepenuhnya pada aliran angin surya."Jihan berdi
Dermaga Aethelgard bergetar bukan karena mesin, melainkan karena frekuensi purba yang dilepaskan saat para teknisi Lyran memasangkan "Sayap Suara" pada lambung *The Melodic Wind*. Kapal layar kayu jati yang sebelumnya tampak antik itu kini bertransformasi. Di sisi kanan dan kirinya, terbentang layar transparan yang terbuat dari jalinan foton musik, berpendar dengan warna aurora yang terus berubah mengikuti suasana hati para penumpangnya.Jihan berdiri di ruang kemudi, menatap instrumen baru yang dipasang oleh *The First Harmonizer*. Alih-alih tuas besi, kini ada serangkaian dawai cahaya yang melayang di udara. "Kael, lo yakin kita bisa kendaliin benda ini?" tanya Jihan, suaranya sedikit gemetar saat melihat angka-angka spektrum frekuensi yang melonjak di layar hologram Clarissa.Kael menyeka keringat di dahinya, kacamata datanya memantulkan ribuan baris kode Lyran. "Secara teori, Jihan, kapal ini nggak lagi bergerak lewat ruang, tapi lewat 'Lipatan Nada'. Kita ngga
Pintu palka *The Melodic Wind* terbuka dengan desisan uap aromatik yang berbau seperti campuran kayu cendana dan ozon. Saat kaki Jihan menyentuh lantai dermaga Aethelgard, ia tidak merasakan dinginnya logam, melainkan kehangatan material organik yang terasa hidup di bawah sol sepatunya. Stasiun ini bukan sekadar pangkalan luar angkasa; ini adalah sebuah mahakarya arsitektur akustik yang dibangun dari kristal hidup yang tumbuh mengikuti harmoni bintang raksasa di pusatnya.Di sekeliling mereka, makhluk-makhluk dari berbagai penjuru galaksi berlalu-lalang. Ada yang berbentuk seperti ubur-ubur cahaya yang melayang, ada pula yang menyerupai raksasa batu dengan banyak tangan. Namun, mayoritas penduduk di sini adalah ras *Lyrans*—makhluk tinggi ramping dengan kulit berwarna perak kebiruan dan jari-jari panjang yang berjumlah tujuh di setiap tangan. Mereka tidak berbicara dengan kata-kata; setiap kali mereka membuka mulut, yang terdengar adalah rangkaian nada *pentatonis* yang mer
Kehampaan ruang angkasa ternyata tidak sesunyi yang digambarkan buku-buku pelajaran di SMA Cakrawala. Di atas geladak *The Melodic Wind*, kapal layar dimensi yang kini menjadi rumah baru bagi Tim Resonansi, suara adalah napas. Kapal ini tidak digerakkan oleh pembakaran kimia, melainkan oleh tekanan radiasi suara yang ditangkap oleh layar-layar sutra peraknya. Layar itu berkibar bukan karena angin, tapi karena gelombang frekuensi sisa dari ledakan bintang di kejauhan.Jihan berdiri di haluan, jemarinya meraba ukiran kayu jati kuno yang terasa hangat. Di bawah telapak kakinya, ia bisa merasakan getaran mesin inti kapal—sebuah kotak kayu berisi pasir hitam dari pusat galaksi yang terus bergeser menciptakan nada statis yang menenangkan."Masih belum percaya kita beneran ninggalin Bumi?" suara Jagad memecah lamunan Jihan.Jagad datang sambil memantulkan bola basket kristalnya. Di gravitasi buatan kapal ini, bola itu memantul dengan irama yang sedikit lebih lamb
Permukaan bulan adalah tempat di mana keheningan bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah entitas yang menindas. Di sini, tidak ada molekul udara yang bisa digetarkan untuk menciptakan melodi. Jagad berdiri di ambang pintu palka *Resonance-0*, menatap hamparan abu vulkanik abu-abu dan kawah-kawah yang tampak seperti luka di wajah rembulan. Di kejauhan, Bumi menggantung seperti kelereng biru yang rapuh, satu-satunya sumber warna di tengah monokrom kosmik ini."Ingat, di sini suara tidak merambat lewat udara," suara Kael terdengar di dalam helm taktis mereka melalui sistem *bone conduction* (konduksi tulang). "Kalian tidak akan mendengar drible bola atau dentuman drum dengan telinga. Kalian harus merasakannya lewat getaran di telapak kaki dan tanah bulan yang kalian pijak. Kita akan menggunakan tanah ini sebagai medium transmisi."Jihan melangkah keluar, diikuti oleh instrumen pianonya yang kini melayang menggunakan teknologi antigravitasi. Di belakangnya, Gala
Guyana Prancis menyambut mereka dengan kelembapan hutan tropis yang menyesakkan, sebuah kontras yang tajam dari dinginnya Himalaya yang baru saja mereka tinggalkan. Di tengah rimbunnya hutan Amazon yang tersembunyi dari radar publik, berdiri sebuah fasilitas yang lebih menyerupai katedral futuristik daripada pangkalan antariksa. Inilah proyek "Solitude", pangkalan peluncuran rahasia milik konsorsium Mr. Singh yang telah dikembangkan selama dua dekade menggunakan cetak biru terlarang milik Ardi Selaras.Di tengah hangar raksasa itu, *Resonance-0* berdiri tegak. Pesawat itu tidak berbentuk seperti roket konvensional NASA. Bentuknya lebih menyerupai tetesan air yang memanjang, dengan lambung yang terbuat dari paduan keramik dan kristal kuarsa transparan. Tidak ada tangki bahan bakar hidrogen raksasa; sebagai gantinya, di bawahnya terdapat sebuah ruang resonansi berbentuk bola yang akan mengubah getaran suara menjadi daya dorong kinetik."Ini gila," gumam Bagas sambil







