LOGIN**
Tiba-tiba saja..,
“Apakah sang semut sudah menemukan sesuatu di ujung lorong itu?” Tanya Miss Widya dari jok belakang.
Gending pun tersentak. Ia melirik putri Wibisono itu lewat kaca spion tengah. Sekilas mereka berpandangan melalui bidang kaca spion yang kecil dan tipis.
Miss Widya kemudian bangkit dari kursi tengah, membungkuk, lalu bergerak maju melalui sela sempit di antara dua jok depan.
Ia berpindah tempat duduk, sekarang di samping Gend
**Si Guile itu menembak..,Doorr..!Seketika saja, Venus yang tengah mengejar Kelvin pun jatuh tersungkur. Sebuah peluru telah menembus badannya.Ia menggonggong satu kali, mengerang menahan sakit, lalu berusaha bangkit kembali.Dan ya, ia berdiri lagi.Spiritnya sebagai makhluk setia nan pengabdi tak luntur meskipun tubuhnya sendiri telah tertembus peluru, dan darahnya bertetesan dengan begitu derasnya, membasahi lantai gudang titik demi titik seiring langkahnya yang terseok dan pincang.Brug..! Venus jatuh kembali.Kali ini ia sudah tidak mampu bangkit. Tubuhnya tergolek, dengan kepala yang terkulai di lantai.Lidahnya terjulur, nafasnya tersengal-sengal dan ekornya masih terangkat setengah dan bergerak-gerak lemah, pertanda semangat juangnya belum patah.Namun, pandangan mata Venus itu menyiratkan kesakitan yang teramat dahsyat. Lewat tatapannya itu pula, seakan-akan ia ingin memberi tahuku, bahwa ia memohon m
**Aku menunjuk Kelvin yang tampak begitu menjijikkan itu.“Venus! Habisi dia!”Tanpa diperintah dua kali Venus segera berlari menuju ruang penyekapan itu. Ia menyalak penuh amarah.“Guk.! Gukk..!”Tapi sayang, Venus tertahan oleh pintu ruangan yang tertutup. Ia lantas berlari mondar-mandir di sepanjang sisi dinding yang terbuat dari kaca, mencari celah. “Guk..! Gukk..!”Venus menabrak pintu, brak! Tak berhasil.Ia menabrak dinding, brak! Juga tak berhasil.Di dalam situ, Kelvin sempat tersenyum mencibir ke arahku dan juga Venus. Rautnya mengejek. Ia yakin bahwa Venus tidak akan bisa memasuki ruangan.Venus pasti tidak akan bisa membuka pintu, begitu pikir Kelvin. Dan, di situlah Kelvin salah menilai. Venus telah begitu cerdas dengan pelatihan yang selama ini aku beri.Setelah gagal menerobos pintu dan juga dinding kaca, ia kemudian menggigit handel pintu dan menar
**Aku memanggil bantuan dengan cara..,“Suiiitt..!” Aku bersuit dengan sangat keras.Segera setelahnya aku berjumpalitan ke belakang, menghindari sabetan golok dari seorang lawan.Satu bandit di belakangku langsung bersiap dengan balok kayu, berancang-ancang mau memukul.Tapi dia terkecoh, karena tepat satu langkah kemudian aku membungkuk sambil melesatkan satu tendangan ke samping.Bug..!“Aaakh..!” Seorang lawan dengan pisau belati pun langsung terjengkang.Aku langsung berkelebat untuk menghindari serangan yang lainnya. Sejurus dua jurus berikutnya aku masuk dalam mode bertahan yang intens.Menghadapi keroyokan para penjahat bersenjata ini aku berusaha untuk tetap mendekati salah satu lawan, supaya aku bisa menjangkaunya, supaya dia kehilangan jarak efektif dengan senjatanya.Sekaligus menimbulkan kerancuan bagi lawan lain yang mau menyasar aku, sebab dia pasti khawatir serangannya akan
**Hingga beberapa detik kemudian, semua orang yang ada di gudang kosong ini terdiam. Seakan mematung pada ruang waktu yang membeku, menatap aku dengan keheranan yang tiada habisnya.Segenting dan setegang apa pun suasananya, namun rasa penasaran kadangkala bisa menunda semua rencana. Itu pula yang terjadi pada mereka semua.“Bagaimana kamu bisa selamat?” Tanya Charles, mengalihkan perhatiannya dari Bang Jambrong dan Doni, kini kepadaku.Niko pun sampai memperhatikan aku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Barok, ia tercekat menelan ludah, dan teramat gugup hingga tak mampu berkata-kata.Pada momen ini aku mempunyai waktu lagi untuk melakukan screening ulang, menakar kekuatan lawan, dan membuat proyeksi yang baru.Aku lantas merespon pertanyaan Charles itu dengan memberi jawaban hiperbolik yang meninggikan status diriku sendiri, untuk menjatuhkan mental mereka tentu saja.“Aku ini titisan macan. Kamu t
**Aku semakin tegang saja ketika, eeee.. sialan! Umpatku dalam hati.Pengawal Mr Robert, seorang bule juga, dengan potongan mirip tokoh Guile itu rupanya mendekati tubuhku.Mungkin ia tadi sempat melihat aku, dan mungkin ia menyadari ada satu gerakan kecil dari diriku ini. Ketika aku menarik nafas, mungkin. Atau ketika aku melirik-lirikkan mata.Si Guile kemudian berjongkok di samping tubuhku. Ia menempelkan satu jarinya pada satu titik nadi yang ada di leherku. Tentu saja, ia merasakan denyutan.Oh, aku langsung keringat dingin!Tidak berhenti di situ, si Guile pun melanjutkan dengan menempelkan telapak tangannya di dada kiriku. Ya, tentu saja ia merasakan detak jantungku.“He is still alive—dia masih hidup!” Kata si Guile, memberi tahu orang-orang tentang keadaanku.Mr Robert dan Dirga Dwipa pun terkejut.“What?” Serentak mereka menoleh.“He is still alive.”
**Sambil menunjuk Bang Jambrong, Mr Robert turunkan perintah pada Charles.“Habisi dia!”“Oke.” Sahut si tampang Mongolia itu dingin.Ia mencabut pistol miliknya sendiri dari balik pinggang, lalu berjalan mendekati Bang Jambrong yang seketika tegang.Aku, yang masih berpura-pura mati di lantai pun ikut tegang. Dengan posisiku yang tergolek ini aku tidak bisa melihat langsung bagaimana Charles mendekati Bang Jambrong.Aku hanya bisa melihatnya melalui pantulan sebuah kaca nako yang tersandar di satu pojok gudang ini.Apakah sudah saatnya aku bertindak..??Bangkit dari kepura-puraanku..??Menyerang para bajingan di sini.??Baiklah, aku pun bersiap-siap. Dengan mempertimbangkan segala resikonya sejak tadi aku memang telah membuat proyeksi;Siapa yang aku serang terlebih dulu, siapa yang aku serang berikutnya, benda-benda apa saja yang bisa aku manfaatkan, senjata siapa yang akan aku re
**Fiiuhh..! Aku menarik nafas lagi.Selanjutnya, bagaimana ini?Supaya kelihatan cool dan tidak gugup, aku berjalan mondar-mandir saja dulu.Ya, aku pun berjalan lima langkah ke arah kanan, lalu berbalik lagi ke arah kiri. Begitu terus berkali-kali.Sembari ber
**Cincin tunangan dari Kelvin di jari manis Miss Widya tidak ada!Apakah aku salah lihat??Kedua mataku terus melirik-lirik dengan sudut yang semakin tajam, mengikuti gerakan tangan Miss Widya di seputar wajahku.“Benar!” Batinku.Cincin tunangan da
**Lalu dengan semua kecurigaan yang tanpa bukti itu, bagaimana caranya ia membuat Miss Widya ini percaya?“Miss..,” Ujar Gending kali ini lembut.“Sudah berapa lama saya mendampingi dan mengawal Miss?”Miss Widya hanya menunduk. Tangan ka
**“Apakah Gending sudah tahu perihal perjodohan itu??” Batin Miss Widya cemas.Sungguh, di satu sudut dalam hatinya ia berharap Gending memang telah mengetahui, supaya ia tidak perlu lagi membongkar rahasia di balik surat itu.Akan tetapi, rupanya Gending b







