LOGIN**
Tiba-tiba saja..,
“Apakah sang semut sudah menemukan sesuatu di ujung lorong itu?” Tanya Miss Widya dari jok belakang.
Gending pun tersentak. Ia melirik putri Wibisono itu lewat kaca spion tengah. Sekilas mereka berpandangan melalui bidang kaca spion yang kecil dan tipis.
Miss Widya kemudian bangkit dari kursi tengah, membungkuk, lalu bergerak maju melalui sela sempit di antara dua jok depan.
Ia berpindah tempat duduk, sekarang di samping Gend
**Aku memanggil bantuan dengan cara..,“Suiiitt..!” Aku bersuit dengan sangat keras.Segera setelahnya aku berjumpalitan ke belakang, menghindari sabetan golok dari seorang lawan.Satu bandit di belakangku langsung bersiap dengan balok kayu, berancang-ancang mau memukul.Tapi dia terkecoh, karena tepat satu langkah kemudian aku membungkuk sambil melesatkan satu tendangan ke samping.Bug..!“Aaakh..!” Seorang lawan dengan pisau belati pun langsung terjengkang.Aku langsung berkelebat untuk menghindari serangan yang lainnya. Sejurus dua jurus berikutnya aku masuk dalam mode bertahan yang intens.Menghadapi keroyokan para penjahat bersenjata ini aku berusaha untuk tetap mendekati salah satu lawan, supaya aku bisa menjangkaunya, supaya dia kehilangan jarak efektif dengan senjatanya.Sekaligus menimbulkan kerancuan bagi lawan lain yang mau menyasar aku, sebab dia pasti khawatir serangannya akan
**Hingga beberapa detik kemudian, semua orang yang ada di gudang kosong ini terdiam. Seakan mematung pada ruang waktu yang membeku, menatap aku dengan keheranan yang tiada habisnya.Segenting dan setegang apa pun suasananya, namun rasa penasaran kadangkala bisa menunda semua rencana. Itu pula yang terjadi pada mereka semua.“Bagaimana kamu bisa selamat?” Tanya Charles, mengalihkan perhatiannya dari Bang Jambrong dan Doni, kini kepadaku.Niko pun sampai memperhatikan aku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Barok, ia tercekat menelan ludah, dan teramat gugup hingga tak mampu berkata-kata.Pada momen ini aku mempunyai waktu lagi untuk melakukan screening ulang, menakar kekuatan lawan, dan membuat proyeksi yang baru.Aku lantas merespon pertanyaan Charles itu dengan memberi jawaban hiperbolik yang meninggikan status diriku sendiri, untuk menjatuhkan mental mereka tentu saja.“Aku ini titisan macan. Kamu t
**Aku semakin tegang saja ketika, eeee.. sialan! Umpatku dalam hati.Pengawal Mr Robert, seorang bule juga, dengan potongan mirip tokoh Guile itu rupanya mendekati tubuhku.Mungkin ia tadi sempat melihat aku, dan mungkin ia menyadari ada satu gerakan kecil dari diriku ini. Ketika aku menarik nafas, mungkin. Atau ketika aku melirik-lirikkan mata.Si Guile kemudian berjongkok di samping tubuhku. Ia menempelkan satu jarinya pada satu titik nadi yang ada di leherku. Tentu saja, ia merasakan denyutan.Oh, aku langsung keringat dingin!Tidak berhenti di situ, si Guile pun melanjutkan dengan menempelkan telapak tangannya di dada kiriku. Ya, tentu saja ia merasakan detak jantungku.“He is still alive—dia masih hidup!” Kata si Guile, memberi tahu orang-orang tentang keadaanku.Mr Robert dan Dirga Dwipa pun terkejut.“What?” Serentak mereka menoleh.“He is still alive.”
**Sambil menunjuk Bang Jambrong, Mr Robert turunkan perintah pada Charles.“Habisi dia!”“Oke.” Sahut si tampang Mongolia itu dingin.Ia mencabut pistol miliknya sendiri dari balik pinggang, lalu berjalan mendekati Bang Jambrong yang seketika tegang.Aku, yang masih berpura-pura mati di lantai pun ikut tegang. Dengan posisiku yang tergolek ini aku tidak bisa melihat langsung bagaimana Charles mendekati Bang Jambrong.Aku hanya bisa melihatnya melalui pantulan sebuah kaca nako yang tersandar di satu pojok gudang ini.Apakah sudah saatnya aku bertindak..??Bangkit dari kepura-puraanku..??Menyerang para bajingan di sini.??Baiklah, aku pun bersiap-siap. Dengan mempertimbangkan segala resikonya sejak tadi aku memang telah membuat proyeksi;Siapa yang aku serang terlebih dulu, siapa yang aku serang berikutnya, benda-benda apa saja yang bisa aku manfaatkan, senjata siapa yang akan aku re
**Bang Jambrong menunjuk, “Tuuuu..,” katanya.Segera saja semua mata tertuju pada sosok Doni, anggota rekrutan baru yang rambutnya dicat pirang itu.Memang luar biasa permainan Gending. Detik ini Charles dan semuanya pun kehilangan fokus lagi, yaitu mereka lalai untuk menanyakan bagaimana hubungan kedua badut—Bang Jambrong dan badut Gending yang masih tergeletak di lantai itu.Tentu saja, Doni yang menerima todongan mata para rekan dan bosnya langsung tercekat.Sungguh ia bingung setengah mati, entah bagaiman Bang Jambrong yang sejatinya adalah paman dan guru silatnya bisa berada di sini. Bahkan tadi, waktu Barok mencopot kepala kostumnya, jantung Doni nyaris saja ikut copot.“Kamu yang memberi tahu dia?” Tanya Charles menginterogasi Doni.“Tidak,” Doni menggeleng.“Yang benar??”“Iya, su
**Badut Hello kitty yang baru datang itu terus menyanyi, dengan nada yang amburadul, dengan tangan yang melambai-lambai.“Happy birthday Barok..!”“Panjang umur Barok..!”Semua orang melongo. Widya yang tadi menangis sontak berhenti. Ia menatap bergantian pada jasad Gending di lantai dan badut Hello kitty yang baru datang itu.“Siapa pula badut Hello kitty yang baru tiba ini..??” Pikir semua orang.Ternyata, kedatangan badut yang kedua ini membuat fokus para penjahat di sini terpecah. Mereka tidak sadar bahwa psikologis mereka telah dipermainkan.Dipermainkan oleh siapa?Oleh.., itu, sosok badut yang tengah terbujur di lantai bak mayat alias Gending itu!“Niko! Kenzo..!” Pekik Charles marah.“Tahan si badut itu!” Perintahnya pada mereka berdua. Sekejap kemudian Charles beralih pada Barok. “Baroook..!” Pek
**"Miss..,” kata Gending dengan lembut.“Ayo kita pulang, Miss. Hari sudah semakin sore.”Miss Widya tidak menyahut. Ia masih mendekam di dalam pelukan sang ajudan. Benar-benar merasakan kedamaian dan pengayoman dari pelukan satu tangannya yang kukuh.
**“Maaf, ada keperluan apa Miss mau ke pemakaman itu?”Miss Widya tidak segera menjawab. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Gending yang tengah asyik mengemudi. Sampai sang ajudan ini merasa sedikit grogi.“Menurut kamu?” Tanya dia pula, kian mendekatkan
**Sore yang sejuk di seantero kota Jakarta. Langit sedang berselimut dengan mendung tipis. Tidak ada hujan atau gerimis. Hanya angin yang bertiup semilir dari arah timur menuju ke barat.“Aku baru ngeh lho. Kamu sekarang jarang keluar malam ya? Hang out, gitu. Dugem-dugeman,
**“Tapi dengan satu syarat.”“Syarat apa itu?”“Kalau nanti Miss sudah tertidur di samping saya, emm..,” Gending sesaat ragu meneruskan kalimatnya.“Kenapa?”“Miss jangan kentut ya.”“Apaa







