LOGIN**
Tiba-tiba saja..,
“Apakah sang semut sudah menemukan sesuatu di ujung lorong itu?” Tanya Miss Widya dari jok belakang.
Gending pun tersentak. Ia melirik putri Wibisono itu lewat kaca spion tengah. Sekilas mereka berpandangan melalui bidang kaca spion yang kecil dan tipis.
Miss Widya kemudian bangkit dari kursi tengah, membungkuk, lalu bergerak maju melalui sela sempit di antara dua jok depan.
Ia berpindah tempat duduk, sekarang di samping Gend
** TIGA TAHUN KEMUDIAN..,Matahari sore yang lelah seakan tertarik ke arah barat sana, hingga ujudnya yang memerah tampak bergelantungan di pucuk-pucuk pohon kelapa di sepanjang sisi timur pulau Bali ini.Sementara di depan kami sana, gulungan ombak pantai Sanur seakan bertasbih dengan burung-burung camar yang beterbangan di cakrawala.Dalam iringan desau angin yang berlabuh setelah melintasi samudera raya. Alam mayapada sedang cantik-cantiknya.Laut yang membiru tersiram sorot matahari sore yang kemerahan, lalu bertemu di ujung pandang sana dengan pulau Nusa Penida yang sangat elok.Semuanya sedang bersepuh dengan cahaya emas, hingga membuat semua pasang mata terpukau dan hati dibuai takjub seakan sedang berada di alam lain.“Paman.,” kataku pelan, dan suaraku cuk
** Akhirnya, aku pun bergabung dengan tim intelejen negara yang dipimpin oleh Paman Gimun. Tanpa surat perjanjian, tanpa akta yang bertanda tangan, aku telah sah menjadi tenaga ahli rekrutan Paman Guruku itu.Sebelum kami semua pergi dari kawasan pekuburan liar ini, aku melakukan seremoni perpisahan kecil-kecilan dengan anjing-anjing liar.Aku berjongkok, lalu memberi usapan dan elusan pada masing-masing mereka, sembari berkata-kata, meninggalkan pesan-pesan yang walaupun itu tidak dimengerti secara bahasa tapi bisa dipahami secara makna.“Bruno, kamu yang alfa sekarang, jaga kawan-kawan semua ya..”“Snow, ah, bulu kamu yang putih ini, dari dulu tetap kucel saja. Kamu bantu Bruno.”“Polki, kamu harus..,”Tiba-tiba Irul nyeletuk.“Kamu hafal semua n
**Aku terhenyak mendengar kata-kata Paman Gimun itu.“Tapi, saya masih punya urusan yang lain dengan kamu.”Rasa lega yang tadi sempat aku nikmati kini mulai goyah, seiring dengan Paman Gimun dan juga Irul yang melangkah pelan-pelan semakin mendekati aku.“Urusan apa itu, Paman?” Tanyaku.“Saya meminta balas budi dari kamu.” Kata Paman Gimun.“Balas budi?”“Iya.”“Balas budi apa itu, Paman?” Tanyaku lagi sembari menyipitkan mata.Paman Gimun tak langsung menjawab. Ia rupanya merasa tidak nyaman dengan keberadaan anjing-anjing liar yang duduk melingkar di sekitarku.Walaupun mereka hanya duduk diam dan anteng, tapi mata mereka semuanya tertuju kepada Paman Gimun dan Irul. Seakan waspada dan selalu memperhatikan gerak-gerik kedua agen intelejen itu sekecil apa pun.Lidah-lidah mereka yang basah selalu terjulur, sebagai mekanisme biologis
** “Gukk.! Gukk..!”“Gerrrgggh..!”Mojo sebagai sosok alfa dari anjing-anjing liar ini tak ubahnya bagai seorang raja dalam kawalan dan perlindungan para prajuritnya.Irul terkejut setengah mati melihat kehadiran anjing-anjing liar tersebut. Ia undur langkah beberapa tindak ke belakang.Paman Gimun pun tercekat. Sungguh mereka berdua tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Sulit diterima logika mereka sebagai agen intelejen. Semua anjing liar itu jinak dan patuh kepada Mojo!“Gukk.! Gukk..!”“Gerrrgggh..!”Anjing-anjing itu menyalak dan menggeram-geram, tebarkan ancaman lewat tatapan mereka yang tajam, juga taring-taring yang mereka yang terhunus.Satu hal yang masih menahan kebuasan mereka semua adalah tangan Mojo yang terangkat ke atas seperti bendera, atau serupa isyarat, terkait kapan per
** Mata Irul melotot garang..,Mata Mojo tetap saja kosong..,Wusshh.., angin malam berembus lagi. Menjatuhkan beberapa daun beringin yang kering dan menebarkan aroma kamboja dari pekuburan liar di sekitar mereka.Bruno, Snow, Polki dan anjing-anjing liar lainnya hanya mengintip-intip dari balik kegelapan rumah kosong.Mereka tidak bergerak karena memang tidak menyadari ancaman maut dari todongan pistol Irul pada Mojo sang tuan alfa mereka.Maka, yang berikut ini adalah momen yang paling mendebarkan. Karena aroma kematian sudah tercium dari atas langit.Irul menarik pelatuk di badan pistol dengan ibu jarinya.Mojo tetap diam, dan tenang.Irul menempatkan jari telunjuknya di trigger pistol.Mojo tetap saja memandang kosong. Tidak berkedip sama sekali.
**Atas persetujuan Mang Demang sebenarnya Irul sudah merencanakan sesuatu. Tapi yang tidak ia sadari adalah, Mojo juga sudah merencanakan sesuatu!“Oh ya Paman, saya hampir lupa. Ada dua momen lagi yang luput saya sampaikan. Paman pasti sudah mengetahuinya. Saya hanya ingin mengingatkan kembali sebagai pertimbangan untuk Paman.”“Kejadian di Ancol, dan kejadian di PIK. Khususnya di PIK ketika Dirga juga terlibat dalam upaya makar jahat terhadap saya.”“Saya dikeroyok, dianiaya, dan dihabisi dengan cara dibuang ke kanal lalu ditembaki. Tidakkah Paman bisa melihat itu sebagai bahan pertimbangan yang memaafkan saya?” “Kembali ke topik Cilegon. Saya, dengan Bang Jambrong sahabat saya., hanya berdua, sementara mereka ada belasan dan semuanya bersenjata..,”“Sudah, sudah!” Potong Paman Gimun mulai tak sabar.“Nyatanya kamu sudah menghabisi Dirga dan itu adalah satu fa
**“Kenapa kamu tidak mau berpamitan dengan Ibu Suri?”“Entahlah, Iroh.., aku merasa tidak tega saja.”“Aku tidak sanggup melihat matanya, melihat wajahnya, melihat sosoknya di kursi roda, lalu bilang pamit mau pergi.., rasanya, Iroh, seperti mau
**Tuuutt..!Tiga kali,Hingga berkali-kali Widya menelepon Gending, namun panggilannya tetap tidak diangkat oleh sang ajudan itu.Widya menarik nafas yang dalam, lalu menunduk. Rasa bersalah di dalam dirinya semakin merajalela, membuat dirinya tidak nyaman dan mendada
**Mendengar Miss Widya memutuskan hubungannya dengan Kelvin entah mengapa aku merasa begitu senang.Ini pasti naluriah, dikarenakan pengetahuanku tentang karakter Kelvin yang sebenarnya kasar dan rasis.Kadang-kadang, aku masih saja sakit hati jika mengingat kata-kata Kelvin
**Cincin tunangan dari Kelvin di jari manis Miss Widya tidak ada!Apakah aku salah lihat??Kedua mataku terus melirik-lirik dengan sudut yang semakin tajam, mengikuti gerakan tangan Miss Widya di seputar wajahku.“Benar!” Batinku.Cincin tunangan da







