Masuk**
“Hei ajudan! Ini perintah!”
Merasa tak enak hati akhirnya Gending mengangkat kakinya ke atas kursi. Kedua tangan Miss Widya segera menyambut.
Ia mengoleskan obat salep di sekujur kaki Gending, lalu menggosok-gosok dan memberi pijatan lembut.
“Ini salep bukan sembarang salep, Gending.” Kata Miss Widya menerangkan.
Gending hanya meringis-ringis, menahan rasa sakit sekaligus nyaman pada kaki yang dipijit.
Sesekali rambut
**April terkejut waktu menyadari kedatangan laki-laki itu. Ternyata dia adalah.., Gending!Sang ajudan itu berjalan dengan tenang memasuki kafe. Ia melintasi meja yang ditempati Widya dan April dengan sikap cuek bebek, seakan-akan ia tidak mengenal keduanya sama sekali.April sampai menahan nafas. Deg-degan. Matanya melirik tajam ke kanan, mengikuti sosok Gending yang terus berjalan melintasi meja-meja hidang.Sampai di satu pojok Gending kemudian mengambil duduk pada sebuah meja yang letaknya persis di sudut.Jarak antara dirinya dengan Widya dan April sekitar sepuluh meter. Tidak jauh, namun juga tidak terlalu dekat.Sikap sang ajudan itu benar-benar mengesankan bahwa dirinya adalah orang asing. Karena memang demikianlah ia sedang menjalankan perannya sekarang, menjaga Widya tanpa mengganggu privasi sang juragan.Gending kini mengenakan setelan kasual. Berupa kemeja berwarna biru tua lengan panjang digulung sebatas siku.
**“Kamu jatuh cinta sama dia? Oh, My Gosh!” Sambut April cepat.“Tapi..,”“Tunggu, tunggu!” April menatap Widya, terperangah, seakan tidak percaya dengan kejujuran yang baru saja diungkap oleh sahabatnya ini.“Are you serious..??” Tanya April sembari mencondongkan badannya ke depan.Widya mengangguk pelan.“Are you sure..??” April mendekatkan pula wajahnya ke arah Widya.Putri Wibisono ini mengangguk lagi, dan paras wajahnya kian memerah. Ia pun menunduk karena tak tahan dengan tatapan April yang tajam menyelidik.“You are not kidding me, right? Kamu tidak bercanda kan??”“Tidak, aku tidak bercanda.”April menarik badannya lagi ke belakang, kembali bersandar di kursi sambil menarik satu nafas yang dalam.“A., a.., apa itu salah?” Tanya Widya gugup.“No! Tidak, tidak salah.”&ldquo
**Sore yang sejuk di seantero kota Jakarta. Langit sedang berselimut dengan mendung tipis. Tidak ada hujan atau gerimis. Hanya angin yang bertiup semilir dari arah timur menuju ke barat.“Aku baru ngeh lho. Kamu sekarang jarang keluar malam ya? Hang out, gitu. Dugem-dugeman, gitu.”Widya yang mendengar komentar April sahabatnya itu sontak memanyunkan bibir. Kedua bahunya sedikit naik“Auk! Aku juga tidak tahu, entah kenapa sekarang aku tidak doyan yang begitu-begituan.”“Kamu masih suka minum alkohol?” Tanya April lagi.Widya menggeleng cepat.“Seingatku, terakhir kali aku minum alkohol..,” Mata Widya melirik tajam ke satu sudut, seiring dengaan pikirannya yang menjangkau ingatan.“Nah, itu, waktu di pesta ulang tahunku.”“Jadi sejak itu kamu tidak pernah minum lagi?”“Tidak.”“Bagus lah.”“Kita mes
**“Tolong, buat aku tertidur. Kamu dongengkan aku, seperti waktu itu..,”“Cerita apa yang Miss mau?” Tanya Gending sembari menahan rasa dongkol di dalam hatinya.Ada-ada saja sikap Miss Kunti ini, batinnya menggerutu.Akan tetapi, tidak adil juga rasanya jika ia menolak permintaan anak semata wayang Wibisono ini. Alasannya karena ia telah memberi Gending pinjaman mobil.“Terserah kamu.” Jawab Miss Widya dengan suara yang lemah. Ia memang tampak sudah mulai mengantuk.“Cerita kancil dan buaya?” Gending beri penawaran.“Jangan, jangan kancil dan buaya.” Tolak Miss Widya.“Kancil dan harimau?”“Jangan itu, yang lain.”“Kancil dan anak petani?”“Jangan, jangan itu, yang lain.”Gending menatap Miss Widya yang tubuhnya teronggok lemah di sampingnya, dengan posisi kepala berada dekat dengan kak
**Paman Gimun menanyakan sesuatu yang topiknya berbelok jauh.“Oh ya, minggu depan kamu jadi kawin kan?”Gending tersentak. Tiba-tiba ia teringat pada Iroh dan Mikhail. Aduh, beberapa hari ini ia luput memberi perhatian yang semestinya lebih banyak kepada Iroh dan putranya itu. Hanya sekadar pesan chat dan beberapa telepon singkat.Permasalahan yang datang silih berganti beberapa hari belakangan ini telah menyita sebagian besar perhatiannya dari sang kekasih.“Iya, Paman. Tentu saja, jadi.”“Kamu sudah siap?” Tanya Paman Gimun lagi.“Insya Allah saya sudah siap, Paman.”“Lahir batin?”“Iya, Paman. Lahir dan batin.”“Yakin?”“Yakin, Paman.”Paman Gimun menyulut sebatang rokok lagi. Ini adalah batang rokok yang ke lima belas, jika Gending tidak salah hitung.Setelah mengisap rokoknya satu kali, Paman
**Hati Gending mendadak terenyuh, diiris-iris oleh romansa masa lalu, silih berganti dengan ribuan momen yang membuatnya sedih dan juga marah.“Apa yang Paman tahu tentang saya ketika akan diasuh Abah Anom dulu?” Gending balas bertanya pula.Pamang Gimun mengangkat bahunya, lantas menggeleng pelan.“Tidak banyak. Lagi pula, sudah banyak yang lupa.”“Mungkin Paman sudah mengetahui sendiri dari Abah Anom. Waktu itu, saya dan ibu saya masih tinggal di Karang Kencana, bersama Dirga Dwipa ayah tiri keparat itu.”“Usia saya baru empat atau lima tahun. Saya dan Ibu sering mendapat perlakuan kasar dari Dirga Dwipa.”“Suatu ketika Abah Anom bersama Mak Nini mengunjungi saya dan Ibu di Karang Kencana.”Mak Nini yang dimaksud Gending di sini adalah istri dari Abah Anom. Paman Gimun biasa memanggilnya dengan sebutan Teh Nini.“Rupanya pada saat yang sama, saya dan Ib







