Aku difitnah berbuat zina dan diusir dari rumahku sendiri! Hanya saja, orang-orang terdekatku semuanya berubah pasca meninggalnya kedua orang tuaku yang masih menjadi misteri. Sebenarnya, apa yang terjadi?
view more"Hei perempuan zina enyah kau dari kampung ini!" pekik seorang warga dari luar rumah.
"Angkat kaki kau dari kampung ini! Kami tidak mau kampung ini terkena bencana gara-gara ada perempuan penzina di kampung ini!" geram warga lain. "Keluar kau perempuan zina! Jangan sampai kami seret dan kami bakar kamu hidup-hidup!" berang warga lain. Aku yang masih berada di dalam kamar yang terletak di lantai dua tak berani beranjak keluar rumah. Kali ini aku benar-benar takut. Melalui daun jendela yang kebetulan sedikit terbuka aku memberanikan diri untuk melihat orang-orang kampung yang telah berkumpul di depan rumah. Mereka meneriaki namaku seraya mencaci-maki yang membuat hati ini tercabik-cabik. Mereka terlihat begitu murka. "Ya, Allah. Apa yang harus hamba lakukan?" ucapku di dalam hati seraya memegang perut yang semakin membesar. Beberapa bulan yang lalu pasca meninggalnya kedua orang tuaku dari kecelakaan mobil. Aku mendapatkan perut ini membengkak. Awalnya aku mengira kalau aku terkena penyakit tumor atau sejenisnya. Ternyata aku salah. Aku mengandung seorang bayi. "Ya,Tuhan. Bagaimana aku bisa hamil? Sedangkan aku tak pernah melakukan hubungan badan sekalipun? Aku belum menikah dan baru saja lulus Aliyah. Aku bersumpah atas nama Tuhan dan Rasulku kalau aku tak pernah berbuat zina!" "Kamu bukan terkena tumor, tetapi kamu tengah mengandung seorang bayi. Dan sekarang usianya sudah menginjak empat bulan," ucap seorang Bidan kala itu. "Hei, perempuan penzina enyah kau dari kampung ini sekarang juga! Kalau kau tidak mau pergi detik ini juga kami akan berbuat anarkis! Kami tak mau desa kami yang melahirkan para Alim Ulama tercoreng gara-gara seorang wanita penzina!" teriak warga kampung lagi. Memang benar apa yang dikatakan mereka. Desa ini memang terkenal dengan orang-orang yang Alim Ulama. Di desa ini ada banyak pesantren yang berdiri. Desa ini dijuluki dengan desa seribu menara karena memiliki begitu banyak masjid. Setiap beberapa puluh meter bisa dipastikan ada masjid yang berdiri. "Hana." Seorang wanita bersuara berat mengetuk pintu kamar. "Hana buka pintunya, Nak," bujuk seorang pria paruh baya seraya mengetuk pintu kamar. Suaranya begitu memelas. Bik Misna dan Pak Yanto, sepasang suami isteri yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di rumah ini, bahkan sebelum aku ada di muka bumi ini mereka sudah bekerja bersama kedua orang tuaku. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamar. Sambil memegangi perut yang semakin membesar aku beranjak mendekati pintu kamar. "Bik, Pak," ucapku kepada dua orang tua yang sudah aku anggap seperti kedua orang tuaku seraya membuka pintu kamar. Wajah mereka terlihat begitu sedih. "Sabar, sabar," bisik Bik Misna seraya memeluk erat tubuhku. Deraian air mata mengalir di pipi wanita berusia 55 tahun itu. "Jadi, Hana harus gimana Bik, Pak?" tanyaku kepada mereka. "Lebih baik kamu meninggalkan kampung ini dari pada kamu diamuk warga kampung," usul Pak Yanto. Pria berusia 57 tahun itu juga ikut menangis. Ia mengelus lembut kepalaku. Dari lantai bawah aku mendengar langkah kaki dengan penuh tergesa-gesa menaiki tangga rumah yang terbuat dari bahan marmer. Sepertinya ada dua orang manusia yang hendak menghampiriku. Hentakan kakinya menggema sampai ke langit-langit rumah yang mewah ini. Suaranya beradu dengan lampu gantung kristal mewah yang bergerak akibat angin yang berhembus dari luaran sana. "Hana!" hardik seorang pria berambut klimis dan berpakaian rapih layaknya seorang eksekutif muda. Pria berusia 35 tahun yang belum menikah ini menghampiriku yang tengah berdiri di depan pintu. Bang Farhan. Dia adalah orang kepercayaan ayah dan ibuku. Dialah orang yang mengatur usaha milik kedua orang tuaku. Kedua orang tuaku memiliki ratusan hektar kebun kelapa sawit dan juga sebuah pabrik kelapa sawit. Bang Farhan adalah Direktur utama di perusahaan keluargaku. "Kamu tidak lihat di bawah sudah banyak warga yang geram sama kamu!" hardiknya lagi dengan penuh emosi. Ia tampak begitu geram denganku. Entah kenapa semenjak kepergian ayah dan ibu ia berubah total. Padahal dulu ia tipikal lelaki penyayang dan lembut tutur katanya. "Lebih baik kamu angkat kaki dari kampung ini, Hana!" ketus Bang Arkan. Bang Arkan adalah anak angkat almarhum ayah dan ibu. Dulu, sebelum aku lahir ayah dan ibuku mengadopsi seorang anak laki-laki dari panti asuhan. Bang Arkanlah orangnya. Ayah dan ibu dulu susah mendapatkan keturunan. Setelah 15 tahun berumah tangga barulah mereka dikaruniai seorang anak. Anak itu adalah aku. Hana binti Abdullah. "Jadi, Hana harus kemana, Bang?" tanyaku kepada dua orang pria yang selama ini sudah aku anggap seperti abang kandungku sendiri. Sejak tadi air mata ini tak habis-habisnya mengalir, tetapi mereka seperti tak merasa iba denganku. Justru mereka terus memaksaku untuk angkat kaki dari rumah ini. "Terserah kamu mau kemana!" ketus Bang Arkan, "itu bukan urusanku!" Sambil menghapus air mata yang sejak tadi berderai aku berkata, "Baiklah, aku akan angkat kaki dari rumah ini! Tetapi.... Aku akan menguak siapa orang yang membuat skenario ini! Dan satu lagi, aku akan mencari siapa dalang atas pembunuhan ayah dan ibuku karena aku yakin ada orang yang sengaja mencelakakan Ayah dan Ibuku! Dan aku yakin bayi yang ada di perut ini juga bagian dari skenario yang tersusun begitu rapih ini!. "Si--silahkan!" tantang Bang Arkan dan Bang Farhan secara bersamaan.Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi aku dan Bang Fadlan. Seminggu setelah keluar dari rumah sakit kami memutuskan untuk melakukan ijab kabul. Kami tak melakukan acara apapun. Hanya ijab kabul saja yang dihadiri beberapa orang penting di kampungku dan juga beberapa para petinggi di perusahaan almarhum ayahku.Acara ijab kabul dilaksanakan di masjid tak jauh dari rumahku. Kini kami tinggal menunggu penghulu dan juga wali hakim datang. Penghulu yang akan menikahkan ku mengatakan kalau acara ijab kabul akan dilaksanakan sekitar pukul sepuluh pagi. Dan sekarang masih pukul delapan.Aku menikah dengan menggunakan wali hakim. Sebab aku tak pernah mengenal saudara-saudara dari pihak ayah maupun ibuku. Semenjak ayahku menginjakan kaki di kampung ini ia tak pernah kembali lagi ke kampung halamannya. Aku bahkan tak tahu di mana kampung halaman ayahku. Begitu juga dengan kampung halaman Ibuku.Walaupun aku aku tak mengadakan pesta pernikahan, tetapi orang-orang di kampungku berbondong
Tiga minggu kemudian...Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Pagi ini aku, Ibu Syarah, Kak Aisyah, dan juga Bang Fadlan akan berangkat ke rumah sakit yang ada di Pekan Baru. Siang ini rencananya aku akan melakukan persalinan. Jantungku berdetak tak karuan. Sebentar lagi aku akan melahirkan seorang bayi. Dan sebentar lagi aku resmi menjadi seorang ibu."Semuanya sudah dibawa?" tanya Bang Fadlan sambil beranjak masuk ke dalam mobil. Bang Fadlan tampak gelisah. Sebab setelah bayi ini lahir ia akan melakukan tes DNA. Kami semua ingin tahu apakah bayi yang aku lahirkan adalah darah daging Bang Fadlan atau bukan. Kalau ternyata bukan aku tak tahu bagaimana mana menemukan ayah dari anakku ini. Karena orang yang tahu dari mana benih ini berasal hanyalah Kak Vina. Kalau pun bayi ini darah daging Bang Fadlan apakah dia mau menikahi aku? Jujur dari dalam lubuk hati yang terdalam aku sangat berharap ia menjadi suami ku. Siapa yang tak mau memiliki suami gagah, tampan, dan soleh, tetapi sayangnya
Tiga bulan kemudian...Tiga bulan telah berlalu. Bayi yang aku kandung sudah memasuki bulan ke-sembilan. Beberapa minggu ke depan aku akan melahirkan seorang bayi. Aku sudah tidak sabar melihat darah dagingku meskipun aku belum tahu siapa ayah dari bayi yang aku kandung ini."Bayi Ibu laki-laki," kata dokter yang memeriksaku beberapa hari yang lalu. Sudah lebih dari tiga kali aku melakukan USG. Dan hasilnya sama."Kira-kira apa nama bayi ini yang cocok, Ma?" tanyaku kepada Ibu Syarah. Wanita paruh baya ini sekarang tinggal bersamaku di rumah peninggalan kedua orang tuaku.Begitu juga dengan Bang Fadlan. Ia juga tinggal di kampung ku, tetapi ia tidak tinggal di rumahku. Ia tinggal di rumah Bang Arkan seorang diri. Semenjak Bang Arkan dipenjara isterinya memutuskan untuk meninggalkan kampung ini. Ia tidak tahan mendengar gunjingan orang-orang kampung. Salah seorang warga sempat melihat kak Anggi di Pekan Baru. Ia melihat Kak Anggi berdiri di depan rumah karoke dengan berpakaian seksi.
Tetapi Polisi-polisi itu tak bisa menyelamatkan Kak Vina. Wanita yang selalu berpakaian seksi itu jatuh ke jurang."Vinaaaaaa!!!!" teriak Ibu Syarah seraya mendekati pagar pembatas. Semua orang ikut berlari mendekati pagar pembatas untuk melihat Kak Vina. "Vinaaaaaa!!" lirihnya. Ia terduduk lemas seraya memegang besi pembatas. Ia menangis sesunggukan meratapi anaknya yang telah jatuh ke jurang yang terjal itu. Hati siapa yang tak hancur melihat anak satu-satunya terjatuh ke jurang.Walaupun anaknya durhaka, tetapi dia tetaplah darah dagingnya. Yang ia kandung sembilan bulan lamanya."Sabar, Ma," Aku mencoba menenangkan Ibu angkatku itu seraya memeluk erat tubuhnya.Pak Kapolda kemudian meraih telfon genggamnya. Segera ia menghubungi tim SAR."Lebih baik kita kembali ke kantor polisi!" ajak Pak Kapolda. Kami pun meninggalkan tempat ini.***Jam menunjukkan pukul 12 malam. Kami tengah menunggu kabar dari tim SAR apakah mereka berhasil menemukan Kak Vina."Selamat malam," seorang pria p
Ketika orang tersebut membuka kaca mata dan jaket hitamnya aku dan Ibu Syarah begitu terperanjat. Ternyata apa yang kami sangka-sangka selama ini benar. Orang tersebut adalah Kak Vina anak Ibu Syarah. Wanita berambut pirang itu mengibas-ngibaskan rambutnya yang tergerai panjang. Ia tak gentar walaupun ada lima orang polisi di hadapannya. Kak Vina kemudian menatap aku dan Ibu Syarah. Ia bertanya-tanya di dalam hati siapa dua wanita bercadar ini."Astaghfirullah, ternyata dugaan kami selama ini benar, ternyata anakku ikut dalam masalah ini," ucap Ibu Syarah sambil terus beristighfar. Tangannya bergetar. Matanya berkaca-kaca."Anda jangan sembarangan menuduh saya! Mana buktinya kalau saya melakukan tindakan kejahatan, ha!" ucap Kak Vina dengan meninggikan suaranya."Sudah, kamu mengaku saja Vina, anakku!" ucap Ibu Syarah. Ia kemudian membuka cadarnya.Kak Vina terlihat shock. Ia tak menyangka ternyata orang yang memakai cadar itu adalah ibunya."Ma--ma," seru Kak Vina dengan suara terbat
"Bagaimana, Pak? Kapan kita bertemu dengan orang tersebut?" tanyaku kepada Pak Kapolda. Aku dan Ibu Syarah sekarang berada di kantor polisi. Tadi pagi sekitar pukul sepuluh kami berangkat dari rumah. Salah seorang warga mengantarkan kami ke kantor polisi."Hari ini kita akan bertemu dengan orang tersebut," jawab pak Kapolda."Kira-kira siapa orang tersebut?" Aku bertanya-tanya di dalam hati."Dimana bertemunya, Pak?" tanyaku lagi."Seperti biasa di tempat-tempat nongkrong, tetapi bukan tempat yang kemarin," jawabnya."Ayo bersiap-siap semuanya kita berangkat sekarang!" seru Pak Kapolda seraya bangkit.Bang Arkan kembali ikut karena dialah orang yang tahu siapa pemilik benih yang tertanam di dalam rahimku ini. Sebelum kami pergi aku menyempatkan diri untuk bertemu dengan Bik Misnah. Aku ingin melihat bagaimana kondisi perempuan yang tak memiliki hati nurani itu."Hai manusia berhati iblis," sapa ku ketika bertemu Bik Misnah yang mendekap di dalam sell. Aku tersenyum sinis kepada wani
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Comments