Se connecter**
Keesokan harinya, di Cibinong.
Di teras depan rumah Paman Iroh ini, Gending duduk dengan gelisah. Ia menunggu kedatangan Paman Gimun, Irul dan Galih.
Seharusnya, mereka bertiga sudah tiba sejak setengah jam yang lalu, sesuai janji Paman Gimun di telepon semalam.
Gending lalu bangkit berdiri, menggulung lengan kemeja putih yang ia kenakan, lalu berjalan mondar-mandir.
Sementara di dalam rumah, keluarga Iroh sudah duduk menunggu. Bapak Penghul
**“Hello, Sir? Excuse me..,” sapanya pada sang pengemudi.Ternyata, dia adalah seorang lelaki dengan penampilan yang terbilang cukup tua, mungkin berusia enam puluhan. Rambutnya putih berpadu dengan kuning pirang.Ya, dia lelaki kulit putih dengan perawakan gemuk. Ia memakai baju yang modelnya seperti terusan, dengan semacam sabuk yang melingkar ke atas melewati pundaknya. Ia juga memakai topi bisbol.“What’s up, buddy—ada apa kawan?” Bertanya lelaki bule itu dengan mata menelisik Adi.“Emm, begini Pak,” Adi menjawab menggunakan bahasa Inggris.“Saya khawatir saya telah tersesat. Saya mau pergi ke Mayfield. Pada persimpangan di depan situ saya harus mengambil rute yang mana ya?”“Mayfield?”“Yes.”Lelaki itu mengarahkan Adi untuk mengambil rute yang ke kanan. Lurus juga bisa, tetapi akan lebih jauh lagi.“Where
**Selama beberapa menit Adi terus terpaku, menatap keindahan yang begitu sulit untuk ia lukiskan.Apa yang tampak di depannya sekarang ini seakan-akan perwujudan dari dongeng rekaannya dulu. Pohon pinus dan cemara tumbuh seakan berlomba mencapai kaki langit.Di ujung sana, barusan tadi Adi melihat ada seekor tupai yang berlari sembari menggendong biji pinus, terus ke bawah padang rumput hingga selanjutnya berhenti di tepi sungai kecil berair jernih bagaikan kaca.Lalu seorang putri yang menunggang kuda dalam dongengnya, pada kenyataanya sekarang hanyalah seekor sapi perah dengan warna bulu yang hitam putih.Sorot matahari rupanya telah bersekongkol dengan mata dan imajinasinya, sehingga sapi perah itu terlihat menipu dari kejauhan. Corak belang putihnya memang unik.Adi kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata, ia baru sadar bahwa di padang rumput itu banyak sekali terdapat sapi-sapi ternak yang sedang merumpu
**Keesokan harinya..,Usai bersarapan di hotel Oasis, Adi segera pergi dengan membawa ranselnya menuju ke sebuah tempat penyewaan mobil.Sama dengan di Indonesia, Selandia Baru mengadopsi sistem RHD—Right Hand Drive, yaitu sistem setir kanan, di mana pengemudi berada di sisi kanan kendaraan, dan kendaraannya sendiri melaju di jalur kiri.Adi belum melakukan check out dari hotel. Hal itu sengaja ia lakukan supaya tidak mendapatkan kesulitan di dalam proses penyewaan mobil nantinya.Artinya, ada semacam bukti pendukung sebagai garansi bagi pemilik mobil tersebut. Begitu kira-kira.Benar saja. Pemilik rental mobil menanyakan semua hal yang dirasa perlu dan mencocokkannya dengan dokumen pribadi milik Adi.Paspor, visa, kartu identitas, SIM, kartu kredit dan lain sebagainya. Mr Wilson, sang pemilik mobil bahkan sampai menghubungi pihak imigrasi untuk mengcrosschek data perjalanan Adi. Tak ketinggalan pula,
**Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Selandia Baru ini, entah mengapa Adi merasa sedang diawasi oleh seseorang, atau sesuatu.“Oke,” batinnya.Mungkin perasaan itu ditimbulkan oleh banyaknya kamera pengawa si seantero bandara Christchurch ini.Tapi tidak.Entah bagaimana nalurinya bisa merasakan suatu energi tak kasat mata yang membuatnya merasa diiringi oleh sesuatu. Adi menarik nafas, terus melangkah di selasar bandara.Ia mencoba memahami bahwa apa yang ia rasakan adalah gejala yang wajar dari seseorang yang pertama kali mengunjungi wilayah yang asing.Adi berjalan mengikuti alur yang telah ditentukan, dan berhenti untuk melewati pemeriksaan imigrasi. Sewaktu dokumennya diperiksa, ia melirik kanan-kiri, khususnya ke arah kamera-kamera pengawas. Rupanya, mungkin, gerak-geriknya ini sempat menimbulkan kecurigaan pada seorang petugas imigrasi.“Are you okay, Sir?” Tanya
**Aku pun membuka peta di ponselku. Aku baru sadar, ternyata.., oh, aku menggerak-gerakkan jariku di layar ponsel, men-zoom in peta untuk melihat tampilan daerah yang kutuju nanti.Lebih detil, semakin detil.“Waduh..,” desisku pelan.“Ternyata, ini adalah wilayah pelosok.”“Cukup terpencil.”“Sangat jauh dari kota terdekat.”“Autumn tinggal bersama keluarga Pak Hastono di sini.”“Hei, Autumn, kamu kerja apa sih di situ?”Keesokan harinya, aku keluar dari hotel dan pergi menuju bandara internasional I Gusti Ngurah Rai.Pesawat yang kutumpangi sudah menunggu. Ratusan penumpang mengantre.Di sini aku membutuhkan waktu yang lumayan lama di bagian imigrasi. Karena ternyata ada salah satu penumpang yang mengalami sedikit kendala terkait administrasi keberangkatannya.Nah, nama kota tujuanku, yang tempo hari mau disebutk
**TIGA HARI KEMUDIAN..,Siapa sebenarnya orang yang bernama Pak Daeng itu? Sumpah mati aku penasaran.Kata Pak Bisma, dia bekerja di kantor imigrasi. Tapi kata Paman Gimun, dia bekerja di kedutaan. Imigrasi yang mana? Kedutaan yang mana?Rekan seangkatan Paman Gimun itu benar-benar bisa mengurus visa-ku dalam waktu dua hari saja. Apakah ia menggunakan jalur diplomatik khusus dalam kapasitasnya sebagai agen intelejen?Dua hari! Dari normalnya dua bulan, itu pun paling cepat.Bukan sihir bukan sulap. Aku sampai membelalakkan mataku ketika membuka sebuah email yang tiba-tiba masuk ke ponselku, berisi visa elektronik yang dikeluarkan langsung oleh otoritas New Zealand.Aku langsung menelepon Paman Gimun, menanyakan sosok Pak Daeng, dan bagaimana hubungannya dengan Pak Bisma.“Pak Daeng itu rekan seangkatan saya,” jawab Paman Gimun di telepon.“Iya, Paman sudah bilang soal itu,&r
**Sang anak menjawab dengan nada bangga.“Ayah saya.., superhero.”Jawaban yang terdengar begitu polos itu membuat Widya terhenyak.Superhero.., untuk sekilas ia teringat pada momen yang amat menegangkan dalam hidupnya, ketika ia ditodong oleh seorang prem
**“Mas Mojoo..!”Mulanya, aku tidak mendengar, karena indera pendengaranku terdistorsi oleh suara musik gamelan dan hirup pikuk para penonton di sekeliling kami.“Maaass..!”“Mas Mojoooo..!”Ketika suara panggilan itu sampai
**Jadi, yang disebut dengan tidur siaga itu adalah seperti ini. Pertama-tama, Gending mengambil posisi duduk yang nyaman di sofa ruang serbaguna.Kedua, ia menarik nafas yang dalam, menahannya di dada, lalu melepaskannya pelan-pelan.Ketiga.., oh, jangan lupa, pakai kacamata
**Dari pihak ibu, Iroh memang masih memiliki paman dan bibi. Tetapi keluarganya itu sudah terpisah-pisah, merantau jauh entah ke mana, sejak Iroh masih kecil lagi, hingga sekarang mereka semua sudah lost contact sama sekali.Lalu dari pihak ayah, Iroh masih mempunyai saudara, dua o







