LOGIN**
Ibu Suri memberi isyarat dengan tangannya, supaya Devi, sang perawat melepaskan pegangan pada kursi roda.
Ibunda Widya ini lalu meneruskan putaran roda pada kursi dengan tangannya sendiri, pelan-pelan dan hati-hati.
Tak lama kemudian ia menghentikan kursi rodanya tepat di bagian tengah halaman belakang. Ia menatap Gending dengan kedua matanya yang seakan tak bermakna apa-apa, bergantian dengan memandangi Venus.
Gending yang kemudian menyadari kehadiran Ibu
**Seandainya waktu bisa dilipat, maka beginilah perjalananku menuju ke Magelang.Whuussss..! Pesawat menderu dan lepas landas dari bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.Satu seperempat jam kemudian ..,Whuusss..! Pesawat pun mendarat di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.Sembari menggendong ransel dan menarik sebuah koper berukuran sedang aku pun melangkah keluar dari bandara, berhenti di lobi kedatangan dan mencari taksi.Taksi yang kutumpangi ini mengantarkan aku pada sebuah loket travel antar kota. Lalu menggunakan mobil travel itu aku pun melanjutkan perjalananku menuju Magelang.Sampai di kota Magelang, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Udara sejuk menyambutku, dalam lambaian angin sejuk nan semilir yang mungkin berasal dari arah gunung Merbabu.Aku meneruskan perjalananku sedikit lagi dengan berjalan kaki, menapaki sebuah jalan kecil hingga beberapa puluh meter kemudian masuk ke sebuah penginapan yang
**“Kok aku balas ‘bersedia’ sih??”Aku merasa kesal pada diri sendiri karena menyatakan kesediaanku menerima penawaran dari Pak Bisma, yang bahkan aku tidak tahu apa jenis pekerjaannya.Berarti, sewaktu membalas pesan Paman Gimun tadi pagi aku masih dalam keadaan setengah sadar. Sempat terpikir olehku membatalkan penawaran ini.“Apa aku telepon Paman Gimun sekarang?”“Lalu bilang padanya bahwa aku tidak bisa dikarenakan suatu hal?”Paman Gimun sekarang sedang bertolak ke Jakarta, dengan penerbangan pertama dari Bali tadi pagi.“Apa dia sudah sampai di Jakarta sana dan sudah mengaktifkan ponselnya?”Aku mengangkat tangan kiri dan melihat arlojiku. Sudah pukul sepuluh, Paman Gimun pasti sudah sampai.Akhirnya aku keluar dari losmen untuk mencari sarapan. Aku tidak ingin memesan makanan online karena aku memang sedang ingin keluar, melihat-liha
**“Bersedia.”Setelah membalas pesan itu aku pun tertidur lagi. Kali ini lebih pulas dari tidurku sebelum diganggu chat Paman Gimun.Sudah lama aku tidak merasakan ini. Tidurku bahkan jauh lebih pulas dari tidurku yang sebelum-sebelumnya.Sedikit ganjil, aku tidak mengalami mimpi buruk lagi!Biasanya aku selalu mengalami mimpi buruk dan itu berasal dari rasa depresiku yang dulu. Penggalan momen, satu atau dua, ketika aku menghabisi orang di Cilegon dulu kerap hadir di dalam mimpi.Apakah ini ada kaitannya dengan balasan chatku ‘bersedia’ tadi? Seperti ada sensasi rasa lega untuk sesuatu yang tak kumengerti. Entahlah.Saking pulasnya, aku baru bangun ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku menggeliat-geliat sebentar di atas kasur, lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi.Aku mencuci muka, menggosok gigi, lalu mandi. Usai membersihkan tubuh aku keluar. Masih memakai handuk aku
**“Bagaimana, apanya Paman?” Tanyaku pula.“Apa kamu bersedia dengan penawaran yang tadi? Pak Bisma?”Aku sontak terdiam. Sementara Paman Gimun dan Irul menunggu dalam keremangan cahaya lampu yang sampai dari kafe terdekat.Kebimbangan segera saja mengisi hatiku. Kebimbangan yang berakar dari rasa jenuh dan bosan dengan pekerjaan semacam ini. Kawal-mengawal, jaga-menjaga, damping-mendamping.Sepertinya aku sudah kehilangan ‘passion’ dengan jenis pekerjaan yang dulu cukup aku nikmati. Dan jika aku tidak salah mengingat, hal ini terjadi sejak aku kehilangan Iroh dan menyelamatkan Widya.Sekarang ini hanya ada satu keinginan pada diriku dan itu berasal dari lubuk hatiku yang terdalam. Terkait kawal-jaga-damping tadi, aku hanya ingin melakukannya kepada pasangan hidupku. “Heh, Adi, kamu bersedia tidak?” Tanya Paman Gimun lagi.Aku menggaruk-garuk kepalaku y
**“Siapa, Paman?”“Namanya Pak Bisma.”“Pak Bisma?” Tanyaku sembari menoleh.“Iya.”“Bagaimana profilnya?”“Eemmh, bagaimana ya, saya juga tidak tahu.”“Lho? Paman tidak kenal dengan dia?”“Tidak. Karena info ini saya dapatkan dari rekan satu leting saya yang sekarang sedang bertugas di kedutaan.”“Apa Irul kenal dengan rekan Paman yang bertugas di kedutaan itu?”“Tidak.”Setelah merenung sebentar, aku bertanya lagi. “Mungkin Paman punya informasi tentang Pak Bisma itu, sedikit saja.”“Kalau menurut rekan saya itu, Pak Bisma ini orangnya sudah cukup tua, mungkin usianya sekitar tujuh puluh tahunan, begitu.”“Dia mantan pengusaha, dan sekarang tinggalnya di Semarang. Cuma itu saja sih yang saya tahu.”Aku
** TIGA TAHUN KEMUDIAN..,Matahari sore yang lelah seakan tertarik ke arah barat sana, hingga ujudnya yang memerah tampak bergelantungan di pucuk-pucuk pohon kelapa di sepanjang sisi timur pulau Bali ini.Sementara di depan kami sana, gulungan ombak pantai Sanur seakan bertasbih dengan burung-burung camar yang beterbangan di cakrawala.Dalam iringan desau angin yang berlabuh setelah melintasi samudera raya. Alam mayapada sedang cantik-cantiknya.Laut yang membiru tersiram sorot matahari sore yang kemerahan, lalu bertemu di ujung pandang sana dengan pulau Nusa Penida yang sangat elok.Semuanya sedang bersepuh dengan cahaya emas, hingga membuat semua pasang mata terpukau dan hati dibuai takjub seakan sedang berada di alam lain.“Paman.,” kataku pelan, dan suaraku cuk
**Tiba-tiba saja..,“Apakah sang semut sudah menemukan sesuatu di ujung lorong itu?” Tanya Miss Widya dari jok belakang.Gending pun tersentak. Ia melirik putri Wibisono itu lewat kaca spion tengah. Sekilas mereka berpandangan melalui bidang kaca spion yang kecil
**Mengawal dan mengajudani Widya Wibisono disebut Paman Gimun dengan project cengeng, di sini Gending sontak tersinggung.Antara dirinya pribadi dan Paman Gimun sebenarnya ia tidak terlalu mempermasalahkan.Akan tetapi, ingat, menjaga Miss Widya adalah tugas dan amanah yang
**“Kamu saya pecat.”Mendengar kata-kata Miss Widya itu Gending terkejut. Ia terhenyak seketika memandangi wajah sang bos di depannya dengan tatapan yang tidak percaya.Sebelah matanya menyipit, kepalanya maju beberapa senti seakan tidak yakin dengan telinganya s
**“Jadi, setelah pergi dari Acropolis, kamu mau ke mana?”“Untuk sementara, mungkin aku mau pergi ke Angke.”“Tempat siapa tuh?”“Tempat tinggal aku yang dulu, bareng teman karibku, sesama badut hello Kitty.”Mbak







