Masuk**
“Kalian bertiga, bekerja untuk siapa?”
Pak Charles tersenyum sebentar. Senyum yang begitu kentara untuk menyembunyikan kegugupannya.
Ujarnya kemudian, “Bagaimana kalau pertanyaan itu nanti saja saya jawabnya.”
“Saya mau jawaban sekarang. Kalian bekerja untuk siapa?” Ulang Gending bertanya, dengan nada yang dalam tapi mengancam.
“Begini, Gending..,” Belum selesai Pak Charles berbicara langsung dipotong oleh G
**Selama beberapa waktu kemudian, Widya terus menunggu kedatangan Gending di vila Cipanas itu.Ia tidak berani keluar atau pulang ke Jakarta, alih-alih kembali bekerja memimpin Arung Bahari Corp.Atas amanat dari Ibu Suri dan beberapa komisaris lainnya, pucuk pimpinan perusahaan itu kini diambil oleh Pak Syailendra.Ternyata, dampak psikologis yang Widya alami dari kejadian di Cilegon itu benar-benar hebat. Ia mendapatkan trauma yang sangat mendalam.Widya tidak bisa lagi mempercayai orang lain, khususnya laki-laki. Sekarang ini, satu-satunya lelaki yang bisa ia percayai di kolong langit ini hanyalah Gending seorang.Fredy dan Ruslan yang kini bertugas penuh menjaga dan mengajudani dirinya pun tidak ia percaya. Termasuk juga Pak Murad, sopir pribadi yang sudah bertahun-tahun ia kenal.Widya tidak mau bepergian dengan laki-laki siapa pun orangnya. Itu sebabnya, sepanjang hari sepanjang waktu ia hanya berdiam diri di vila C
**Kekhawatiran itu mencuat di dalam hati Ibu Suri mengingat Widya yang tampaknya sangat terpukul dengan kepergian Gending. Sementara di lain sisi efek traumatik dari kejadian di Cilegon saja belum hilang.Pada titik ini Gending tidak mengetahui bahwa dia dijodohkan dengan Widya. Nah, tentu saja isi hati Gending patut dipertanyakan.Satu hal yang pasti, jika Gending menyukai Widya tentu dia tidak akan pergi. Dia pasti akan tetap tinggal di sini untuk menemani Widya. Begitulah semua pemikiran Ibu Suri. “Kamu sudah menceritakan perihal surat itu ke Gending?” Tanya Ibu Suri kemudian.“Belum, Ma.”“Kenapa tidak kamu sampaikan ke dia?”Widya menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan dari sang ibu menyusul pula. “Kamu tidak berani? Atau menjaga gengsi?”“Atau.., kamu tidak menyukai dia?”Bagi Widya pertanyaan ibunya ini terasa menjurus, dan karena mim
**“Aku minta maaf karena selama ini telah membohongi Mama..,” kata Widya lirih, diringi dengan air mata yang pelan-pelan kembali mengalir.“Mungkin, apa yang aku alami ini adalah karma karena telah berbohong ke Mama.”Ibu Suri mengelus-elus kepala Widya, merapikan rambutnya dengan cara menyibak-nyibak menggunakan jari.“Apa ini tentang Gending?” tanyanya kemudian.Widya menganggukkan kepalanya di atas pangkuan ibunda. Ia terisak-isak pelan, dan air matanya kembali jatuh membasahi kain rok yang dipakai ibunya itu.Ibu Suri menoleh ke kanan kiri sebentar. Pandangannya terhenti pada sebuah sofa, tempat Gending tidur ketika menemani Widya. “Sebelum kamu menceritakan semuanya, ada satu hal lebih dulu yang ingin Mama tahu. Wiwid, kenapa Gending pergi?”“Mama dengar dari Fredy dan Pak Murad, Gending resign. Apa betul begitu?”Perla
**Ibu Suri terus didera rasa ingin tahu yang semakin membesar. Informasi yang ia dapat dari Ceu Lena membuat ia sangat terkejut, ketika ia menemukan kesamaan nama pada dua orang yang berbeda.Pertama, Gending Atma Jaya yang menurut keterangan Ceu Lena dalam suratnya telah diutus almarhum Abah Anom ke Jakarta sejak empat tahun yang lalu. Nama panggilannya adalah Mojo.Kedua, Gending Atma Jaya yang selama ini tinggal di rumah Acropolisnya, dan bekerja sebagai ajudan putrinya Widya.“Apakah Mojo yang dimaksud Ceu Lena adalah Gending itu sendiri?”“Gending yang selama ini tinggal di rumahku?”“Yang selama ini menjaga putriku?”“Yang telah menyelamatkan putriku dari aksi penculikan Mr Robert?”Kendati pun kebenaran fakta itu sudah terkuak setengahnya, akan tetapi Ibu Suri masih butuh penegasan.Artinya, masih ada lima puluh persen kemungkinan bahwa Gending dan Mojo utusan
**“Barusan tadi, aku bermimpi..,”“Mimpi apa, Mas?”Sebenarnya Gending mengalami mimpi yang mengerikan. Di mana itu adalah refleksi dari kejadian ketika ia menghabisi belasan orang di Cilegon.Akan tetapi, di momen ini ia sengaja berbohong supaya Iroh tidak terus larut di dalam kesedihannya. Ia ingin membangkitkan optimisme pada diri sang istri.“Mimpi yang indah,” kata Gending sembari menyandarkan kepalanya ke sofa dan menengadah ke atas. Menatap langit-langit dengan sayu, lalu matanya kembali terpejam.“Mimpi apa itu? “Dengan mata yang tetap terpejam Gending pun menjawab.“Rumah kebun.., di pedesaan yang tenang.., di sana, di Riau sana, di tanah warisan ibuku.”“Kita menjalani hidup yang slow living.., aman, damai, tenteram.”“Aku menanam melon, memelihara ternak, memelihara ikan di kolam..,”Suara Gending kini terdengar
**Ini semua tentang dirinya yang ternyata positif mengidap virus HIV. Ini semua tentang Mikhail yang ternyata.., juga terserang virus yang sama!Tanpa Iroh sadari, virus itu ia tularkan kepada Mikhail melalui air susunya, melalui darahnya, dan bahkan sejak dari dalam kandungan.Iroh yang ketika itu belum mengetahui dirinya yang terjangkit virus tersebut merasa bahwa semuanya baik-baik saja.Memang demikianlah HIV, menyerang sistem pertahanan tubuh manusia melalui masa inkubasi yang panjang.Ketika Iroh merasa curiga dengan kondisi fisiknya sendiri yang terus menurun, mudah lelah, mudah sakit, dan sebagainya, ketika itulah virus telah benar-benar merusak sistem kekebalan manusia dan menjadi penyakit AIDS.Rentang waktunya berjalan seiring dengan usia Mikhail yang kini hampir menginjak sembilan tahun. Sekarang ini, tidur di dalam pelukan Gending sang suami tidak membuat Iroh benar-benar terlelap.Rasa berdosanya akibat pe
**“Hei, bibir kamu kenapa?” Tanya Mbak Vera pada Gending yang baru saja muncul.Ajudan Miss Widya itu tampak lelah. Bajunya sedikit basah karena keringat. Kulit wajahnya pun tampak kemerah-merahan.“Tidak apa-apa, Mbak.” Sahut Gending.Mbak Ver
**“Cukup, Mojo..!”“Sudah, Mojo! Sudah, hentikan!”Cepat saja aku menoleh ke asal suara. Di situ, sekitar dua belas meter jaraknya, ada sebuah mobil sedan yang pintunya baru saja terbuka.Juga baru saja, si pengemudi keluar dan turun dari mobil
**“Kalau kamu tidak ingin Widya Wibisono bos kamu itu celaka, turuti kata-kataku!”Aku terkejut setengah mati. Aku mau menoleh ke belakang, tapi tidak bisa karena sudah terlanjur ditodong oleh sebuah senjata yang menempel di pinggangku.“Sepertinya, ini pis
**Setelah itu, aku akan bersalto untuk melompati tubuhnya, dengan tujuan menghindari arah tembakan pistol andai dia melakukannya dari posisi terjatuh tadi.Ketepatan, itu kuncinya, dan aku harap masih memilikinya.Beberapa detik aku menunggu reaksi lanjutan, ternyata tidak a






