Share

Bab 8

Author: Minnie
Lima hari terakhir Cherish di Kota Utara dihabiskan di rumah sakit. Selama itu, Aldrich tidak mengirimkan satu pesan pun kepadanya.

Baru pada hari dia keluar dari rumah sakit, entah dari mana Aldrich tahu dia dirawat, pria itu pun buru-buru datang menemuinya.

Melihat perban yang melilit kepalanya, wajah Aldrich langsung dipenuhi rasa bersalah dan kekhawatiran.

Dia segera menjelaskan, "Kak, waktu itu aku buru-buru pergi, jadi nggak tahu kamu dirawat di rumah sakit. Gimana kamu bisa terluka?"

Cherish tidak ingin menjelaskan terlalu banyak. Dia hanya menjawab singkat, "Ada orang yang mau balas dendam dan mukul aku dengan botol minuman."

Aldrich tertegun. Amarah langsung menyala di matanya. "Siapa yang berani menyentuhmu? Akan kubunuh dia!"

Cherish menunduk. Baru saja dia hendak menceritakan apa yang terjadi setelah Aldrich pergi hari itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Garcia masuk. "Kak Cherish, aku dengar kamu sakit lagi. Apa sudah baikan?"

Melihatnya, Cherish menelan kembali kata-kata yang belum sempat diucapkannya. "Nggak apa-apa. Cuma luka ringan. Sebentar lagi juga keluar dari rumah sakit."

Setelah beberapa kalimat basa-basi, kebetulan seorang perawat datang mengingatkan sesuatu. Aldrich pun pergi terlebih dahulu untuk mengurus administrasi keluar rumah sakit.

Setelah dia pergi, Cherish melihat Garcia menyingkirkan senyum di wajahnya dan menatapnya dengan dingin.

"Sekarang Kak Aldrich sudah nggak ada di sini, jadi jangan pakai trik pura-pura menyedihkan lagi. Aku datang hari ini cuma mau kasih tahu kamu satu hal. Kak Aldrich sudah menyukaiku selama bertahun-tahun, bahkan sejak SMA. Kamu nggak akan bisa menang dariku, jadi berhenti bermimpi."

Melihat topeng kepura-puraannya akhirnya terlepas dan wajah aslinya muncul, hati Cherish justru terasa lebih ringan. Dengan suara tenang, dia berkata, "Aku sudah tahu semua itu. Aku juga nggak pernah berniat bersaing denganmu."

"Nggak berniat? Kalau begitu, kenapa kamu masih bertahan? Jangan bilang kamu benar-benar mengira Kak Aldrich bisa jatuh cinta sama kamu? Aku sudah sering lihat cewek matre sepertimu yang mengandalkan wajah menggoda untuk naik ke ranjang pria! Dia sudah bosan setengah mati sama kamu!"

Mendengar kata-kata yang begitu kejam itu, Cherish tak kuasa menahan kerutan di keningnya. Dia balik bertanya, "Kalau begitu, gimana dengan perempuan sepertimu yang hidup bebas di Erupa, lalu pulang ke sini dan pura-pura jadi gadis polos?"

Begitu mendengar hal itu disebut, ekspresi Garcia langsung berubah. "Apa urusannya sama kamu?"

"Jadi itu memang benar?"

Garcia akhirnya tidak mampu menahan emosinya lagi. Dia mengangkat tangan dan menampar Cherish.

"Memangnya kenapa kalau benar? Aku sudah bilang itu bukan urusanmu! Perempuan tua sepertimu lebih baik cepat cari pria baik-baik untuk nikah. Jangan sampai sudah menopause dan nggak bisa punya anak, kamu menghabiskan sisa hidupmu sendirian!"

Rasa panas yang menyengat langsung menjalar di pipi Cherish. Dia menarik napas pelan. Dia menyentuh pipinya yang mulai bengkak, lalu menggerakkan jari-jarinya.

Detik berikutnya ... plak! Dia mengembalikan tamparan itu dengan seluruh tenaganya.

Garcia tidak sanggup menerima penghinaan seperti itu. Dia baru saja hendak menerjang untuk menjambak rambut Cherish, tetapi pintu yang tertutup rapat tiba-tiba terbuka.

Begitu melihat Aldrich masuk, Garcia langsung memaksa keluar beberapa tetes air mata dan menghambur ke dalam pelukannya.

"Kak! Setelah kamu pergi, Kak Cherish bilang kalian pacaran. Aku nggak percaya dan cuma ingin mastiin ke kamu. Tapi setelah dengar itu, dia langsung marah dan nampar aku!"

Melihat bekas tamparan yang jelas di wajah Garcia, darah Aldrich langsung mendidih. Dia melindungi Garcia dalam pelukan, lalu menatap Cherish dengan wajah muram.

Nada suaranya penuh amarah. "Cherish, bisa kamu berhenti bikin masalah?"

Selama lima tahun bersama, ini adalah pertama kalinya Cherish melihat Aldrich marah kepadanya. Alasannya pun karena Garcia.

Mungkin karena dia sudah terlalu sering melihat Aldrich mengorbankan segalanya demi Garcia, kini dia tidak lagi merasa kecewa, tidak lagi merasa sakit, tidak lagi merasa marah.

Dengan suara yang dingin tanpa emosi sedikit pun, Cherish menjawab, "Aku memang nampar dia. Tapi dia juga nampar aku. Jadi kami impas. Kenapa kamu nggak tanya dulu apa yang sebenarnya terjadi?"

Barulah Aldrich melihat pipi Cherish yang memerah. Dia pun mulai menyadari ada yang tidak beres.

Saat dia hendak bertanya apa yang sebenarnya terjadi, Garcia yang berada dalam pelukannya tiba-tiba pingsan.

Aldrich langsung panik. Tanpa berpikir panjang, dia menggendong Garcia dan berlari menuju ruang pemeriksaan.

Sebelum pergi, dia hanya meninggalkan satu kalimat. "Kamu pulang dulu. Nanti setelah aku kembali, kita bicara lagi."

"Nggak akan ada nanti lagi." Melihat punggungnya yang menjauh, Cherish tersenyum kecil. Kemudian, dia kembali ke apartemen dan menyerahkan kunci kepada agen properti.

"Tolong kemas semua barang yang tersisa di dalam rumah dan kirim ke Vila Rich Mount nomor 4015. Biaya kirim ditanggung penerima."

Melihat banyaknya koper yang dibawa Cherish, agen itu tampak terkejut. "Kamu mau meninggalkan Kota Utara? Nggak kembali lagi?"

"Ya. Aku nggak akan kembali lagi."

Di kota ini, sudah tidak ada lagi sesuatu yang layak dirindukannya. Cherish menoleh untuk terakhir kalinya, lalu berbalik, turun, menghentikan sebuah taksi, dan menuju bandara.

Sebelum pesawat lepas landas, pramugari sudah mulai mengingatkan seluruh penumpang untuk mematikan ponsel.

Cherish membuka kontak Aldrich, lalu mengirimkan satu pesan terakhir.

[ Aldrich, sebenarnya hari itu di kelab aku mendengar semua yang kalian bicarakan. Karena ada cinta, maka ada benci. Tapi sekarang sepertinya aku nggak terlalu membencimu lagi. Mungkin karena aku juga sudah nggak cinta kamu lagi. ]

[ Keuntungan berpacaran dengan wanita yang lebih tua adalah saat mencintai, dia bisa sepenuh hati, saat melepaskan, dia juga bisa benar-benar melepaskan. Semoga kamu mendapatkan orang yang kamu cintai. Kita putus. ]

Setelah itu, dia memblokir semua kontak Aldrich. Saat ponselnya dimatikan, pesawat perlahan lepas landas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 22

    Saat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 21

    Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 20

    Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 19

    Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 18

    Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 17

    Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status