แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Minnie
Saat kembali, seluruh aula sudah berubah menjadi kacau balau. Semua orang berteriak sambil berusaha menyelamatkan diri.

Kelopak mata Cherish berkedut. Dia berjalan melawan arus kerumunan dan kembali ke ruang pameran.

Di sana, dia melihat Aldrich sedang menghajar seorang pria seperti orang yang kehilangan akal sehat.

Wajah pria itu sudah lebam dan penuh luka, tetapi dia masih terus berteriak membela diri.

"Perempuan yang tadi telepon kamu itu? Dua tahun lalu aku sudah beberapa kali tidur sama dia di Erupa! Dia sangat liar. Dia juga punya banyak hubungan dengan para mahasiswa asing! Hari ini sekalipun kamu mukul aku sampai mati, itu tetap fakta! Aku masih punya foto dan videonya di ponselku!"

Melihat ponsel yang disodorkan pria itu dengan tangan gemetar, wajah Aldrich memerah karena amarah. Urat-urat di dahinya menonjol. Tangannya bergetar saat hendak merebut ponsel itu.

Pada saat itulah Garcia berlari masuk dan memanggil namanya, "Kak Aldrich!"

Aldrich berbalik menatapnya. Berbagai emosi rumit muncul di matanya. Keterkejutan yang sulit disembunyikan, keraguan antara percaya dan tidak, serta rasa bimbang dan rasa pilu.

Pria yang tergeletak di lantai langsung menjadi sangat bersemangat saat melihat Garcia. "Ya, memang dia! Buka album foto atas nama Garcia itu! Masukkan tanggal lahirnya dan kamu akan tahu kalau aku mengatakan yang sebenarnya! Di atas ranjang dia liar sekali. Dia sama sekali bukan gadis polos seperti yang kalian kira!"

Begitu melihat pria itu, wajah Garcia langsung memucat. Dia segera meraih tangan Aldrich dan menjelaskan dengan panik, "Bukan begitu, Kak! Foto-foto itu diambil waktu aku dipaksa! Waktu itu dia mengejarku lama sekali. Aku cuma bilang ingin coba pacaran dulu, tapi dia malah mencampurkan obat ke minumanku ...."

"Omong kosong! Bukannya kamu sendiri yang naik ke ranjangku? Lihat saja videonya! Lihat gimana kamu menikmatinya! Masih berani bilang aku memaksamu?"

Aldrich sudah tidak mampu menahan amarahnya lagi. Dia mengangkat kursi dan botol minuman, lalu menghantamkannya ke tubuh pria itu.

Pecahan kaca menusuk mata pria itu. Darah langsung mengucur. Pria itu memegangi kepalanya sambil menjerit kesakitan.

Reaksi pertama Aldrich adalah memeluk Garcia dan menutupi kedua matanya. "Nggak apa-apa, Garcia. Aku akan bereskan semuanya. Jangan takut. Aku nggak akan biarkan hal-hal kotor seperti ini tersebar."

Setelah itu, Aldrich mengambil ponsel itu dan menghancurkannya di tempat. Kemudian, dia menyiramnya dengan alkohol dan menyalakan api.

Nyala api makin membesar. Seluruh media penyimpanan di dalam ponsel itu pun hangus terbakar.

Cherish berdiri tidak jauh dari sana. Dalam diam, dia melihat Aldrich menghibur Garcia dengan suara yang begitu lembut.

"Garcia, jangan takut. Aku akan masukkan pemerkosa itu ke penjara. Anggap saja semuanya sebagai mimpi buruk. Mulai sekarang, aku nggak akan pernah membiarkan sampah seperti itu ganggu kamu lagi."

Garcia memeluknya erat-erat sambil menangis tersedu-sedu. "Kak, semua yang kamu katakan itu tulus? Kamu benar-benar nggak jijik padaku?"

Aldrich mengusap air matanya dengan lembut. Rasa pilu dan kasih sayang di matanya hampir meluap.

"Tentu saja. Di mataku, kamu akan selalu menjadi gadis yang baik dan suci." Setelah mengatakan itu, dia langsung menggendong Garcia dan meninggalkan tempat yang kacau itu.

Cherish tersenyum. Kemudian, dia kembali ke kursinya dan mengambil tasnya.

Beberapa pelayan yang bersembunyi di sudut ruangan segera menghampirinya. "Bu, perhiasan yang dibelikan Pak Aldrich untuk Anda masih belum dibawa!"

Cherish menoleh. Baru saja dia hendak mengatakan bahwa dia tidak menginginkannya lagi, pria yang terkapar dalam genangan darah itu tiba-tiba berdiri. Dia meraih sebotol sampanye dan melemparkannya ke arah Cherish.

Nada suaranya dipenuhi amarah dan kebencian. "Sialan! Demi seorang jalang, dia mau menghancurkan hidupku! Kalau begitu, aku juga akan menghancurkan wanitanya!"

Brak! Botol itu menghantam bagian belakang kepala Cherish dengan keras. Darah langsung mengalir ke luar, mengikuti tulang punggungnya, hingga menodai gaun putihnya.

Tubuh Cherish ambruk ke lantai. Kesadarannya mulai kabur. Di dalam kepalanya seolah ada aliran listrik yang terus berdesing. Tatapannya yang makin kehilangan fokus menatap kosong ke depan. Jeritan orang-orang terus menggema di telinganya.

"Tolong! Ada yang mau bunuh orang!"

"Pak Aldrich! Pacar Anda terluka!"

Di tengah kekacauan dan suara yang campur aduk itu, Aldrich justru menghilang bersama Garcia di tengah kerumunan. Dari awal sampai akhir, pria itu bahkan tidak pernah menoleh satu kali pun.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 22

    Saat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 21

    Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 20

    Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 19

    Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 18

    Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 17

    Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status