Short
Mereka Berikan Kamarku ke Putri Pilihan Mereka

Mereka Berikan Kamarku ke Putri Pilihan Mereka

By:  HeliotropeCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari kita pindah ke rumah baru dan saudari angkatku ambil kamarku, aku putuskan untuk pergi. Pagi itu, Ibu kirimkan denah rumah ke grup chat keluarga kita. Ada tiga kamar tidur. Satu untuk Ibu dan Ayah. Satu untuk kakakku. Dan kamar terbesar yang paling terang oleh sinar matahari diberi label “Kamar Sophie”. Namaku bahkan nggak tercantum di denah itu. Sepuluh tahun lalu, ayah Sophie Cahyadi tenggelam ketika berusaha selamatkan kakakku. Sejak saat itu, keluargaku anggap aku wajib selalu berkorban untuk Sophie. Ketika aku tanya di mana aku harus tidur, Ibu bahkan nggak perlu berpikir lama. “Sebentar lagi kamu akan pergi untuk lanjutkan sekolah. Nggak ada gunanya kasih kamu kamar sendiri.” Lalu dia kembali ke Sophie dan bantu dia pilih tirai berwarna merah muda. Kakakku angkat masuk perabotan baru untuk kamarnya. Pacarku yang sudah tiga tahun bersamaku sibuk merakit rak buku untuk Sophie. Aku duduk di atas salah satu kardus pindahan dan akhirnya ngerti. Mereka bukan lupakan aku. Mereka memang sudah putuskan kalau Sophie lebih pantas dapatkan kamarku, keluargaku, bahkan pria yang seharusnya cinta dengan aku. Karena mereka sudah putuskan kalau nggak ada lagi tempat untuk aku di dalam keluarga ini, aku putuskan untuk kasih apa yang mereka mau. Aku buka kontrak penelitian rahasia di HP-ku dan tanda tangani itu. Sepuluh tahun. Tanpa kunjungan pulang. Sepuluh hari lagi, aku akan hilang dari kehidupan mereka untuk selamanya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah tekan tombol terima, aku usap air mata yang menggenang di sudut mataku. Jauh di dalam hati, sebagian kecil dari diriku masih berharap ada orang yang sadar dengan itu.

Aku ingin Ibu tanya kenapa aku terus lihatin HP. Aku ingin Ryan Wijaya alihkan pandangannya dari tirai kamar Sophie Cahyadi untuk sejenak saja, cukup lama untuk sadar kalau ada sesuatu yang nggak beres. Lebih dari segalanya, aku ingin Ethan Suhartono keluar dari kamar Sophie dan tanya kenapa wajahku terlihat seperti orang yang sebentar lagi mau nangis. Namun, nggak ada seorang pun yang lakukan itu.

Ethan keluar dari kamar Sophie dengan keringat yang berkilauan di dahinya. Aku perhatikan dia selama beberapa detik sebelum akhirnya panggil namanya, “Ethan, kamu sudah kerja seharian. Ayo, duduk sebentar dan istirahat dulu.”

Aku benci karena nada suaraku terdengar begitu penuh harap.

Dia seka mulutnya dengan punggung tangan, tetapi matanya sudah lebih dulu beralih ke arah pintu kamar Sophie.

“Sebentar lagi. Batang tirainya miring, nanti dia pasti terganggu kalau aku biarkan seperti itu.”

Dia letakkan botol minumnya, lalu jalan lewati aku tanpa sekali pun menatapku. Aku tetap duduk di atas kardus, dengarkan dia saat dia minta Sophie mundur sedikit sementara dirinya betulkan batang tirai itu.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun aku, Nora Wijaya cinta ke Ethan, tetapi Ethan nggak pernah sekalipun kasih perhatian sebesar itu ke sesuatu yang jadi milikku.

Pada hari aku pindah ke asrama kampus, aku bawa lima kardus berat dan dapat kamar di lantai enam sebuah gedung yang nggak ada lift-nya. Ethan sudah janji akan bantu aku. Satu jam sebelum aku datang, dia kirim pesan kalau ada sesuatu yang mendesak dan dia nggak bisa datang.

Aku seorang diri angkut semua kardus itu ke lantai enam. Malamnya, aku buka halaman Instagram Sophie. Dia unggah foto-foto mereka waktu pergi ke sebuah taman hiburan. Di setiap foto, Ethan berdiri di sampingnya. Ketika Ethan telepon beberapa jam kemudian, aku masih bilang nggak masalah.

Selama tiga tahun, aku selalu bilang nggak masalah.

Sebelum aku sempat berhenti ingat semuanya, Ibu julurkan kepala dari dapur.

“Nora, apa kamu mau duduk di situ seharian? Sana bantu Sophie pasang seprai baru di tempat tidurnya. Seprai barunya ada di sebelah pintu kamarnya.”

Aku noleh ke arah lorong. Barang-barang milikku ditumpuk begitu saja di dekat sudut, ada di dalam beberapa kardus yang sudah penyok dan kusam. Nggak ada seorang pun yang bawa itu. Nggak ada seorang pun yang tanya di mana seharusnya barang-barang itu diletakkan.

“Bu,” tanyaku. “Barang-barangku harus ditaruh di mana?”

Ibu ikuti arah pandanganku, lalu tunjuk sebuah pintu sempit di samping area cuci baju.

“Bereskan gudang itu, untuk sementara kamu tidur di sana.”

Sesaat, aku kira aku salah dengar.

“Gudang?”

“Ini cuma sementara.” Nada suaranya berubah tajam ketika lihat ekspresiku. “Kamu pernah tidur di sana sebelumnya. Nggak usah bersikap seolah-olah kita suruh kamu tidur di luar.”

Aku memang pernah tidur di sana. Itu terjadi ketika Sophie pertama kali tinggal bersama kita.

Saat itu Ryan masih kecil ketika dia terpeleset dari tepi sungai. Ayah Sophie, Daniel Cahyadi, langsung terjun ke air untuk selamatkan dia. Ryan selamat, tetapi Daniel terseret arus dan nggak pernah kembali.

Ibu adalah orang yang minta Daniel datang ke taman hari itu, dan sejak saat itu, dia terus merasa bersalah. Ketika Sophie masuk ke rumah kita, wajahnya pucat, dia begitu pendiam, dan pakai gaun yang kebesaran di tubuhnya. Ibu peluk dia sepanjang sore.

“Mulai sekarang, ini rumahmu,” janjinya di sela-sela air mata. “Nggak akan ada seorang pun yang akan buat kamu merasa nggak diinginkan.”

Kemudian, Ibu noleh ke aku.

“Sophie baru saja kehilangan ayahnya. Kasih kamarmu ke dia selama beberapa hari.”

Saat itu aku baru berusia tiga belas tahun. Beberapa hari itu berubah jadi satu tahun penuh. Setiap kali aku tanya kapan aku boleh kembali ke kamarku, Ibu menatapku seolah-olah aku baru saja sakiti seorang anak yang sedang berduka.

Pada akhirnya, aku berhenti tanya. Dan sekarang, sepuluh tahun kemudian, mereka lakukan hal itu lagi.

Ibu bahkan sudah putuskan kalau sebuah gudang cukup baik untuk aku, karena apa pun yang lebih layak akan dianggap sia-sia untuk seseorang yang memang mereka harapkan akan segera pergi.

Aku ambil bantal dan selimut lipatku.

Saat lewati kamar Sophie, aku lihat Ethan berdiri di atas kursi sementara Sophie pegangi batang tirai agar tetap stabil. Ryan berdiri di samping mereka sambil tertawa ketika Sophie sibuk pilih di antara dua warna merah muda.

Mereka bertiga terlihat seperti sebuah keluarga yang sedang menata kamar untuk orang yang begitu mereka cintai. Nggak ada seorang pun yang sadar dengan keberadaanku saat aku jalan menuju sebuah gudang dengan bawa perlengkapan tidur di kedua tanganku.

Ruangan itu bahkan nggak sampai empat meter persegi. Tempatnya sesak dengan ember pel, berbagai perlengkapan kebersihan, serta barang-barang rumah tangga yang sudah rusak, nggak ada jendela.

Sebuah bola lampu menggantung dari langit-langit, berdengung pelan di atas kepalaku. Ibu muncul di belakangku sambil bawa sebuah matras yoga lama.

“Pakai ini dulu untuk alas tidur.”

Aku menatap benda itu.

“Ada kasur lipat?”

“Kita sudah habiskan banyak uang untuk kepindahan ini, Nora.”

Dari kamar Sophie terdengar suara Ryan tanya apa dia ingin lampu-lampu kecil berbentuk peri dipasang di atas tempat tidurnya.

Ibu juga dengar itu. Namun, ekspresinya sama sekali nggak berubah. Dia serahkan matras itu ke aku, lalu pergi.

Sepuluh hari, aku ingatkan diriku sendiri. Aku hanya perlu bertahan sepuluh hari lagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status