LOGINNathan adalah kepala Departemen Bedah Jantung termuda di Kota Pelabuhan. Semua orang bilang, tangannya paling mantap, dan hatinya juga paling dingin. Namun aku tahu, bukan berarti dia tidak pernah luluh hati. Hanya saja, kelembutannya tak pernah diberikan untukku. Sehari setelah pertunangan kami, ayahku mendadak terkena stroke dan dilarikan ke ruang gawat darurat. Perawat memintaku mencari keluarga pasien karena persetujuan tindakan harus ditandatangani. Orang pertama yang kuhubungi adalah Nathan. Telepon berdering lama sekali sebelum akhirnya diangkat. Dari seberang terdengar tangis lirih seorang wanita. Itu mantan kekasihnya, Widya. Nathan merendahkan suaranya. "Dya sedang mengalami serangan panik. Aku sedang menemaninya. Suruh rumah sakit memakai jalur prioritas dulu." Aku menggenggam pena hingga buku-buku jariku memutih. "Dokter bilang harus keluarga inti yang menandatangani. Ibuku sudah meninggal. Aku hanya punya kamu." Dia terdiam dua detik, nadanya tetap tenang. "Jangan membesar-besarkan keadaan. Rumah sakit punya prosedur, mereka nggak mungkin benar-benar membiarkan pasien tanpa ditolong." Widya tersedu di seberang sana. "Nathan, jangan sampai urusan Kak Melani tertunda gara-gara aku. Sebaiknya kamu pergi saja. Aku sendiri juga nggak apa-apa." Nathan segera berkata, "Jangan memaksakan diri. Aku nggak akan pergi." Saat telepon terputus, perawat kembali mendesakku. Aku menunduk menatap cincin pertunangan di jari manisku. Cincin itu dipilih sendiri oleh Nathan. Dia bilang, kabut di pelabuhan sering tebal. Kalau cincinnya lebih berkilau, dia bisa menemukanku dengan sekali pandang. Namun hari itu, lampu putih di luar ruang gawat darurat begitu menyilaukan. Aku berdiri di tengah kabut, tetapi dia tak kunjung tiba. Setelah itu ayahku akhirnya lolos dari masa kritis, sementara aku duduk semalaman di depan kamar rawat. Saat fajar menyingsing, Nathan akhirnya mengirim pesan. [Dya sudah tertidur. Bagaimana keadaan ayahmu?] Aku memandang feri yang berlabuh di luar jendela. Kabut telah sirna. Sudah saatnya aku pergi.
View More"Setiap malam aku selalu teringat saat di luar ruang gawat darurat. Kamu duduk di sana sendirian, meneleponku, sementara aku malah menyuruhmu jangan membesar-besarkan keadaan."Dia terdiam sejenak."Lani, aku datang bukan untuk memohon agar kita rujuk."Akhirnya aku menatapnya.Matanya memerah, tetapi dia tetap berusaha terlihat tenang."Aku datang untuk meminta maaf.""Maafkan aku."Ucapan itu sudah lama sekali kutunggu.Hingga akhirnya, saat kata-kata itu datang, semuanya sudah tidak berarti lagi.Aku berkata,"Aku sudah menerimanya."Nathan tampak seperti tertusuk oleh kalimat itu.Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya lalu meletakkannya di tepi pagar."Cincinnya sudah kuubah. Tulisan yang terukir di bagian dalamnya juga sudah dihapus. Kalau kamu nggak menginginkannya, buang saja."Aku tidak mengambilnya."Nathan, jangan memberiku apa pun lagi."Jari-jarinya menegang.Aku berkata pelan,"Semua yang kamu lakukan sekarang hanyalah menambal celah dari masa lalu. Tapi aku suda
"Biarkan saja dia.""Kamu terlalu tenang.""Lalu aku harus bagaimana?"Aku menutup kotak obat."Yang dia inginkan bukan tanggapanku, melainkan Nathan yang menghiburnya."Sharon mencibir."Kalau begitu dia mungkin akan kecewa. Kudengar tadi malam Nathan dilaporkan dalam rapat rumah sakit."Tanganku berhenti sejenak."Pengaduan apa?""Seseorang melaporkan secara anonim bahwa selama ini dia menyalahgunakan ruang rawat pribadi dan sumber daya dokter spesialis untuk Widya, bahkan melampirkan catatan sebagai bukti. Sekarang pihak rumah sakit sedang menyelidikinya."Aku tidak berkata apa pun.Catatan itu memang kususun sebelum meninggalkan Kota Pelabuhan.Bukan untuk membalas dendam.Aku hanya tiba-tiba tidak ingin lagi membantu mereka mempertahankan kepura-puraan itu.Tak lama kemudian, Nathan menelepon.Nomor baru ini belum kublokir.Begitu tersambung, kalimat pertamanya adalah,"Kamukah yang melaporkannya?""Ya."Napasnya terdengar berat."Apa kamu tahu ini akan memengaruhi evaluasi jabata
"Undangannya dipilih oleh Bibi dan Widya. Biar saja Widya yang menjelaskannya ...."Bu Teresa terdiam sesaat."Jangan menyindir terus. Demi kamu, beberapa hari ini Nathan sampai mengubah jadwal operasinya. Dia juga kelihatan sangat lelah. Sudahlah, cepat kembali."Suaraku tetap tenang."Kalau dia lelah, suruh saja Widya yang menghiburnya.""Melani!"Bu Teresa menahan amarahnya."Dengan kondisi ayahmu sekarang, ke depannya masih banyak pengeluaran yang menunggu. Kalau kamu benar-benar putus dengan Nathan, siapa yang akan menanggungmu?"Tanganku berhenti.Jadi di matanya, aku menikahi Nathan hanya agar ada yang menanggung biaya pengobatan ayah."Nggak perlu Bibi mengkhawatirkannya.""Jangan sok kuat. Nanti kalau kamu sudah nggak sanggup, pada akhirnya kamu juga akan kembali memohon kepada kami."Aku menutup telepon.Tak lama kemudian, pengacara membalas pesanku."Nona Melani, tak ada hambatan hukum untuk membatalkan pertunangan. Biaya acara pertunangan dapat diselesaikan sesuai pembagian
"Selain orang yang datang menjenguk pasien, yang lain nggak diperbolehkan masuk ke sini."Seolah tidak mendengar perkataanku, tatapannya tetap tertuju pada wajahku."Kamu jadi lebih kurus."Dulu, mendengar kalimat itu mungkin membuat hatiku luluh.Sekarang, aku hanya merasa itu tidak perlu."Ada keperluan apa Dokter Nathan datang kemari?"Sapaan itu membuat alisnya sedikit menegang."Jangan memanggilku seperti itu.""Lalu harus kupanggil apa? Mantan tunangan?"Jakunnya bergerak pelan."Aku sudah meminta pernikahannya ditunda, bukan dibatalkan. Tenangkan dirimu beberapa hari, nanti kita bicarakan lagi."Aku melewatinya dan berjalan menuju kamar rawat.Dia mengulurkan tangan untuk menghalangiku. Gerakannya sangat terkendali, hanya sedikit menghalangi jalanku."Melani, aku mengakui hari itu aku memang nggak menanganinya dengan baik. Tapi kamu nggak bisa menjatuhkan hukuman mati kepadaku hanya dengan satu kalimat."Aku mengangkat kepala dan menatapnya."Saat aku menunggumu di luar ruang ga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.