Inicio / Romansa / Janda Kembang Menggoda Perjaka / BAB 2: Si Pendiam di Kamar 101

Compartir

BAB 2: Si Pendiam di Kamar 101

Autor: Lara Luka
last update Última actualización: 2026-02-05 12:03:18

Udara di dalam Kamar 101 selalu diatur tepat pada suhu 20 derajat Celcius. Dingin, kering, dan steril. Berbanding terbalik dengan kekacauan panas yang sedang terjadi di dua layar monitor LED 27 inci di atas meja kerja Galih.

Di monitor kiri, barisan kode Python berwarna hijau dan oranye mengalir turun seperti air terjun digital. Galih sedang menjalankan script otomatisasi untuk pekerjaan sampingannya—mengamankan firewall sebuah perusahaan fintech.

Di monitor kanan, dua tubuh manusia sedang bergumul tanpa sehelai benang pun dalam resolusi 4K.

Galih tidak sedang bermasturbasi. Tangannya yang besar dan berurat menonjol itu tidak menyentuh selangkangannya sendiri. Tangan kirinya memegang pena stylus, sementara tangan kanannya sibuk mengetuk-ngetuk tombol spasi pada keyboard mekanikalnya.

Pause.

Gambar di layar berhenti tepat saat sang aktor pria mencengkeram pinggang pasangannya. Galih menyipitkan mata di balik kacamata minus tiganya. Ia mendekatkan wajah ke layar, meneliti piksel demi piksel.

"Salah," desisnya pelan.

Ia mengambil buku catatan kecil bersampul kulit hitam yang tergeletak di samping gelas kopi. Di sana, tertulis judul tulisan tangan yang rapi: Log Variabel Stimulasi.

Galih menulis dengan cepat:

Video ID: #X992. Menit 12:04. Posisi pinggul terlalu tinggi 15 derajat. Friksi tidak maksimal. Ekspresi wanita: Palsu (kategori C - Overacting). Kesimpulan: Tidak efisien.

Bagi Galih Prasetyo, dunia ini adalah kumpulan data. Segala sesuatu memiliki pola, struktur, dan algoritma. Termasuk seks.

Selama enam tahun terakhir, sejak ia sadar bahwa kemampuan sosialnya di bawah rata-rata dan lidahnya selalu kelu di depan wanita, Galih memutuskan untuk belajar dengan satu-satunya cara yang ia mengerti: Riset. Ia tidak menonton film dewasa untuk kepuasan instan. Ia mempelajarinya seperti mahasiswa kedokteran membedah mayat. Ia menghafal anatomi, durasi, titik saraf, dan respons suara.

Namun, malam ini risetnya terganggu.

Bayangan Riana sore tadi terus menginvasi kepalanya. Daster merah marun. Aroma musk yang tertinggal di udara saat Galih melewatinya. Cara wanita itu memanggilnya "Anak Ganteng" dengan nada yang setengah mengejek, setengah menggoda.

Galih membenci sebutan itu. Ia bukan anak kecil. Umurnya dua puluh empat, dan di dunia cyber security, ia adalah predator yang ditakuti. Tapi di hadapan Riana, ia hanyalah kelinci percobaan yang lucu.

“Ahhh... yes... deeper...”

Suara desahan dari speaker monitor memecah konsentrasinya. Galih menatap layar lagi. Aktor pria di video itu memiliki tubuh kekar dan wajah tampan, tapi tekniknya kasar dan egois. Hanya memompa tanpa irama.

"Amatir," gerutu Galih.

Darahnya mendesir panas. Bukan karena video itu, tapi karena frustrasi.

Galih mendorong kursi kerjanya ke belakang. Ia berdiri, melepas kacamata, dan mengusap wajahnya kasar. Tubuhnya yang tersembunyi di balik kaos oblong kedodoran itu menegang. Otot-otot bahu dan lengannya mengeras. Ada energi berlebih yang menumpuk di dadanya, sebuah agresi maskulin yang tidak punya tempat penyaluran.

Ia berjalan menuju kasur single di sudut kamar. Ia menjatuhkan tubuhnya, lalu melakukan push-up. Satu. Sepuluh. Dua puluh. Lima puluh.

Gerakannya cepat dan eksplosif. Keringat mulai menetes dari dagunya, membasahi lantai keramik. Napasnya memburu. Ia membayangkan dirinya berada di posisi aktor tadi. Bukan dengan aktris plastik di layar, tapi dengan Riana.

Imajinasi itu liar dan tidak sopan.

Di kepalanya, ia tidak menjadi anak manis yang menunduk malu. Di kepalanya, ia mencengkeram pergelangan tangan Riana, menahan wanita itu di dinding koridor, dan membungkam bibir merah yang suka mengejek itu sampai Riana tidak bisa lagi memanggilnya "anak kecil".

"Teorinya sampah," umpatnya pada diri sendiri, teringat jurnal psikologi wanita yang baru saja ia baca. "Praktiknya harus lebih kasar."

Galih memukul kasurnya dengan kepalan tangan kanan. Gedebuk.

Pukulan itu melampiaskan sedikit kekesalannya. Ia duduk di tepi kasur, napasnya masih memburu. Ia menoleh ke arah meja kerja. Layar monitor yang masih menyala menampilkan adegan yang kini terlihat konyol baginya.

Ia muak.

Galih bangkit, menyambar mouse, dan menutup aplikasi pemutar video itu. Close.

Layar kanan menjadi gelap seketika.

Hening kembali menyelimuti kamar. Hanya suara dengungan CPU komputer yang terdengar.

Namun, di tengah keheningan itu, insting Galih menajam. Telinganya menangkap sesuatu yang ganjil.

Ada suara napas lain.

Sangat pelan. Nyaris tak terdengar. Tapi bagi seseorang yang terbiasa hidup dalam kesunyian total, suara gesekan kain halus di balik pintu kamarnya terdengar sejelas sirine ambulan.

Galih membeku. Matanya menatap daun pintu kayu bercat cokelat tua itu.

Ia ingat betul kebiasaannya. Masuk kamar. Kunci pintu. Pasang headphone.

Tapi sore tadi... sore tadi ia buru-buru masuk karena tidak kuat menahan detak jantungnya saat melihat belahan dada Riana.

Apakah ia sudah memutar kunci slotnya?

Galih menahan napas. Ia melangkah tanpa suara, mendekati pintu. Kakinya yang telanjang mendarat ringan di lantai, tak menimbulkan bunyi sedikitpun.

Ia melihat gagang pintu itu.

Gagang besi berbentuk bulat itu bergerak. Sangat pelan. Berputar ke bawah.

Seseorang ada di luar. Dan pintu itu tidak terkunci.

Adrenalin Galih melonjak. Apakah itu maling?

Dengan refleks yang terlatih, tangan kanan Galih menyambar gagang pintu dari dalam. Alih-alih menahannya agar tidak terbuka, Galih justru melakukan hal sebaliknya. Ia ingin tahu siapa yang berani mengusik teritorialnya jam dua pagi.

Ia memutar kunci slot dengan cepat—klik—lalu menyentak pintu itu terbuka lebar dalam satu gerakan cepat.

Cahaya lampu koridor yang remang-remang menyerbu masuk.

Dan di sanalah dia berdiri.

Bukan maling bertopeng. Bukan hantu.

Riana.

Wanita itu berdiri mematung. Tubuhnya condong ke depan, posisi orang yang tadinya sedang menempelkan telinga ke pintu dan kehilangan keseimbangan saat tumpuannya hilang.

Mata Riana membelalak lebar, menatap lurus ke dada bidang Galih yang basah oleh keringat dan naik-turun memburu.

Jarak wajah mereka hanya satu jengkal.

Wangi vanilla dan musk tubuh Riana langsung menghantam indra penciuman Galih, melumpuhkan logika binernya dalam sekejap.

Untuk pertama kalinya malam ini, Galih tidak punya teori.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 11: Shock Therapy

    Cahaya matahari pukul sepuluh pagi menusuk masuk melalui celah tirai kamar Riana, terasa seperti jarum yang membangunkan paksa kesadarannya.Riana mengerjap, matanya terasa berat.Begitu ia bergerak sedikit untuk meregangkan tubuh, sensasi itu langsung menyerang. Rasa nyeri yang tumpul namun nikmat di pangkal paha, pegal di pergelangan tangan bekas kuncian jari yang kuat, dan jejak memar samar di pinggulnya.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja ditabrak truk. Atau lebih tepatnya, digilas oleh mesin penghancur bernama Galih Prasetyo.Ingatan kejadian di sofa ruang TV semalam membanjiri otaknya.Bukan sekadar seks. Itu adalah pernyataan perang yang dimenangkan telak oleh pihak lawan. Galih tidak membiarkan Riana bergerak satu inci pun tanpa izin. Pemuda itu mendikte napasnya, mengontrol suaranya, dan membawanya ke puncak demi puncak dengan presisi yang kejam, lalu menahannya di sana sampai Riana menangis memohon ampun.Riana meraba sisi tempat tidurnya.Kosong. Dingin.Sprei di sebel

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 10: Runtuhnya Dominasi Awal

    Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Suara ribuan titik air yang menghantam atap genteng dan kaca jendela menciptakan white noise yang memekakkan telinga, namun anehnya membuat suasana di dalam Ruang TV "Kos Executive Riana" terasa terisolasi dari dunia luar.Pukul sepuluh malam.Layar televisi 60 inci menyala, menampilkan adegan kejar-kejaran mobil dari film aksi generik di Netflix. Cahaya biru dari layar berkedip-kedip, menerangi wajah dua orang yang duduk di sofa panjang.Riana duduk di ujung kiri. Galih di ujung kanan. Ada jarak kosong satu meter di antara mereka—sebuah jurang pemisah yang terasa dingin.Riana mengetuk-ngetukkan kuku jarinya yang baru dicat ulang ke lengan sofa. Tak. Tak. Tak. Iramanya tidak sabaran.Ia bosan.Bukan bosan karena filmnya. Ia bosan karena situasi ini. Setelah "sesi panas" kemarin malam yang digantung begitu saja, Riana berharap malam ini akan ada aksi lanjutan. Tapi Galih—si Profesor Cinta dadakan itu—malah mengajaknya nonton film action."Anali

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 9: Anatomi Rasa

    Suara kunci berputar di pintu penghubung dapur terdengar sangat pelan. Nyaris tak tertangkap telinga jika bukan karena keheningan total yang menyelimuti rumah induk Riana.Pukul 22.05 WIB.Riana tidak sedang di kamar tidur. Ia duduk di sofa beludru navy di ruang tengah yang remang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu standing lamp di sudut ruangan, menciptakan lingkaran cahaya kuning hangat yang intim.Ia mendengar langkah kaki mendekat. Langkah yang ringan, hati-hati, namun pasti.Sosok Galih muncul dari balik bayangan lorong dapur.Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas badan dan celana training abu-abu. Rambutnya sedikit basah, tanda ia baru mandi lagi. Di tangan kanannya, ia memegang kunci cadangan yang Riana jatuhkan tadi sore.Galih berjalan mendekat ke meja kopi di depan sofa. Ia meletakkan kunci itu di atas meja kaca.Tring."Kode diterima," kata Galih datar.Riana tersenyum, menyilangkan kakinya. "Pintar. Tante kira kamu nggak peka sama kode.""Saya programmer, Riana. Hid

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 8: Gangguan Eksternal

    Riana bangun dengan perasaan seperti pecandu yang sakaw.Tubuhnya pegal, bukan karena olahraga, tapi karena ketegangan otot yang tidak tuntas semalam. Bayangan bibir Galih dan cara pemuda itu meninggalkannya begitu saja di puncak gairah terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sialan. Awas kamu, Kelinci.Sore itu, Riana memutuskan untuk melancarkan serangan balasan. Jika Galih ingin bermain "tarik ulur", Riana akan bermain "pamer".Ia berdandan maksimal. Bukan dengan lingerie tentu saja—itu terlalu murahan untuk sore hari—tapi dengan sundress floral selutut dengan potongan leher halter neck yang mengekspos bahu mulusnya. Rambutnya digerai badai. Parfum Chanel No. 5 disemprotkan di titik-titik nadi strategis: leher, pergelangan tangan, dan belakang lutut.Ia baru saja hendak melangkah ke teras untuk "inspeksi sore" rutinnya, ketika suara knalpot motor racing memekakkan telinga memecah ketenangan komplek.Brum! Brum! Bleyer!Riana meringis. Ia kenal suara motor norak itu.Sebuah

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 7: Ciuman Teoretis

    Jarak wajah mereka kurang dari sepuluh sentimeter.Riana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di lensa kacamata Galih. Ia melihat wanita yang bibirnya sedikit terbuka, menanti, dengan napas yang tertahan di tenggorokan."Oke, Profesor," ulang Riana, mencoba mencairkan ketegangan yang mencekik lehernya. Tangannya bergerak naik, melingkar di leher Galih, menarik pemuda itu mendekat. "Ajarin Tante. Jangan cuma ngomong soal sudut dan—"Riana memajukan wajahnya, berniat menempelkan bibirnya ke bibir Galih dengan gaya agresif yang biasa ia lakukan. Ia ingin mendominasi ciuman pertama ini. Ia ingin membuat Galih kewalahan.Namun, sebelum bibir mereka bersentuhan, tangan besar Galih menangkup rahang Riana.Gerakannya bukan menahan, tapi mengoreksi.Ibu jari Galih menekan lembut dagu Riana, memutar wajah wanita itu sedikit ke kiri."Jangan buru-buru," bisik Galih. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seintim ini. "Posisi kepala Mbak terlalu frontal. Hidung kita akan bertabrakan. Itu

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 6: Persiapan Sang Murid

    Pukul 21.00 WIB. Satu jam menuju tenggat waktu.Kamar 101 hening, tapi aktivitas di dalamnya berjalan secepat putaran prosesor overclocked.Galih duduk tegak di depan meja kerjanya. Kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tiga tab browser yang terbuka berdampingan. Tidak ada video tidak senonoh malam ini. Yang ada adalah diagram anatomi, artikel psikologi perilaku, dan forum diskusi tertutup tentang kinbaku (seni tali-temali Jepang) yang ia baca hanya untuk referensi estetika.Di atas meja, buku catatan kulit hitamnya terbuka. Galih menulis poin-poin penting dengan pena tinta gel 0.3mm. Tulisannya kecil, tajam, dan terstruktur.Misi: Sesi 1 - Eksplorasi & Kalibrasi.Objektif: Memetakan zona erogen subjek (Riana).Metode: Sentuhan bertahap (Gradual touch). Mulai dari non-seksual ke seksual.Variabel Risiko: Kecanggunggan awal, hipersensitivitas subjek, ejakulasi dini (Probabilitas: 40% - Mitigasi: Latihan pernapasan 4-7-8).Galih berhenti menulis. Ia menatap poin terakhir dengan kenin

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status