Home / Romansa / Janda Kembang Menggoda Perjaka / BAB 7: Ciuman Teoretis

Share

BAB 7: Ciuman Teoretis

Author: Lara Luka
last update publish date: 2026-02-05 12:06:33

Jarak wajah mereka kurang dari sepuluh sentimeter.

Riana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di lensa kacamata Galih. Ia melihat wanita yang bibirnya sedikit terbuka, menanti, dengan napas yang tertahan di tenggorokan.

"Oke, Profesor," ulang Riana, mencoba mencairkan ketegangan yang mencekik lehernya. Tangannya bergerak naik, melingkar di leher Galih, menarik pemuda itu mendekat. "Ajarin Tante. Jangan cuma ngomong soal sudut dan—"

Riana memajukan wajahnya, berniat menempelkan bibirnya ke bibir Galih dengan gaya agresif yang biasa ia lakukan. Ia ingin mendominasi ciuman pertama ini. Ia ingin membuat Galih kewalahan.

Namun, sebelum bibir mereka bersentuhan, tangan besar Galih menangkup rahang Riana.

Gerakannya bukan menahan, tapi mengoreksi.

Ibu jari Galih menekan lembut dagu Riana, memutar wajah wanita itu sedikit ke kiri.

"Jangan buru-buru," bisik Galih. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seintim ini. "Posisi kepala Mbak terlalu frontal. Hidung kita akan bertabrakan. Itu mengganggu aliran oksigen dan merusak ritme."

Riana mengerjap. "Hah? Kamu lagi ceramah soal hidung?"

"Miringkan 15 derajat ke kiri. Saya ke kanan. Ini menciptakan locking mechanism yang ergonomis," lanjut Galih datar.

Riana ingin tertawa. Demi Tuhan, anak ini sedang membahas ergonomi ciuman seperti sedang merakit kursi kantor. "Galih, ini bukan roket sains, ini cuma—"

Kata-kata Riana terpotong.

Galih menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir Riana.

Tidak ada benturan gigi. Tidak ada hidung yang saling tindih. Posisi mereka terkunci sempurna seperti kepingan puzzle.

Bibir Galih terasa hangat, kering, dan... diam.

Dia tidak langsung melumat. Dia hanya menempel, memberikan tekanan ringan yang konstan. Riana bingung. Ini ciuman macam apa? Di film-film romantis atau pengalaman masa lalunya, ciuman itu dinamis, basah, dan bergerak.

Tapi diamnya Galih justru mengirimkan sinyal aneh ke otak Riana. Ia bisa merasakan tekstur bibir Galih dengan sangat detail. Ia bisa merasakan napas hangat yang teratur menerpa pipinya.

"Tekanan level satu," gumam Galih di sela bibir mereka yang masih menempel.

Lalu, ia mulai bergerak.

Bukan gerakan liar. Galih menyesap bibir bawah Riana dengan gerakan lambat dan berirama. Sruput. Lepas. Tekan. Sruput.

Konsistensinya menakutkan.

Riana yang awalnya ingin memimpin, mendadak kehilangan orientasi. Ritme Galih begitu hipnotis. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Setiap sapuan lidah Galih yang keluar sekilas untuk membasahi bibir Riana terasa diperhitungkan untuk memberikan sensasi maksimal pada saraf yang paling sensitif.

Riana tanpa sadar mendesah pelan. "Mmmhh..."

Ia mencoba membalas, membuka mulutnya lebih lebar untuk mengundang lidah Galih masuk. Riana ingin lebih. Ia ingin kekacauan.

Tapi Galih menarik diri. Mundur dua sentimeter.

Riana membuka mata, protes. Napasnya mulai memburu. "Kenapa berhenti?"

"Kalibrasi respons," jawab Galih singkat. Matanya di balik kacamata terlihat gelap, pupilnya melebar. "Respons suara terdeteksi. Berarti stimulasinya efektif. Kita naikkan ke level dua."

"Persetan sama level!" Riana menarik tengkuk Galih kasar, menabrakkan bibir mereka kembali.

Kali ini, Galih tidak menolak. Ia meladeni agresi Riana.

Dan di sinilah Riana menyadari sesuatu yang mengerikan: Galih punya stamina paru-paru perenang profesional.

Saat Riana mulai kehabisan napas dan butuh jeda untuk menghirup udara, Galih masih terus menciumnya dengan intensitas yang sama. Pemuda itu mengatur napas lewat hidung dengan teknik 4-7-8 yang sudah ia latih, membuatnya bisa berciuman tanpa putus selama menit-menit yang terasa abadi.

Lidah Galih akhirnya masuk.

Bukan sodokan kasar, tapi sapuan yang mengeksplorasi langit-langit mulut Riana, membelit lidah Riana dengan gerakan dominan yang memaksanya pasrah. Tangan Galih yang tadi di rahang kini turun ke tengkuk Riana, memijat titik saraf di sana yang membuat Riana merinding sampai ke jari kaki.

Dunia Riana berputar.

Kamar tidurnya yang mewah, lilin aroma terapi, suara musik jazz... semuanya lenyap. Yang ada hanya rasa bibir Galih, aroma sea salt, dan sensasi basah yang memabukkan.

Riana merasa lututnya lemas. Jika ia tidak sedang duduk di kasur, ia pasti sudah merosot ke lantai. Tangannya mencengkeram kaos biru Galih, meremas kain itu kuat-kuat seolah itu satu-satunya pegangan hidup.

Tubuh Riana melengkung mendekat, dadanya menekan dada bidang Galih. Ia bisa merasakan detak jantung Galih yang kini menggila—mengkhianati ketenangannya yang palsu.

Dia menginginkanku, batin Riana penuh kemenangan di tengah kabut gairah. Si Kulkas ini terbakar.

Riana mengerang saat Galih menghisap bibir bawahnya dengan sedikit gigitan kecil yang menyengat nikmat.

"Galih... please..." bisik Riana di sela ciuman. Ia tidak tahu apa yang ia mohon, ia hanya butuh lebih. Tangannya merambat turun ke dada Galih, berniat menyusup ke balik kaos itu.

Cengkeraman tangan Galih di tengkuk Riana mengerat sesaat. Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut, seolah menyedot jiwa Riana keluar. Riana memejamkan mata erat, kepalanya mendongak pasrah, siap untuk menyerahkan segalanya malam ini.

Tiba-tiba...

Angin dingin menerpa bibir Riana yang basah dan bengkak.

Galih melepaskan diri. Mundur mundur selangkah besar dengan gerakan efisien.

Riana membuka mata, linglung. Bibirnya merah merekah, napasnya tersengal-sengal seperti habis lari maraton. Dadanya naik turun drastis di balik lingerie hitamnya.

Galih berdiri tegak di depannya. Ia membetulkan letak kacamatanya yang sedikit miring. Napasnya juga berat, tapi ia terlihat jauh lebih terkontrol daripada Riana yang berantakan.

Galih melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya.

"Denyut nadi Mbak di atas 120 bpm. Saturasi oksigen menurun. Pupil dilatasi maksimal," lapor Galih dengan suara yang sedikit parau namun tetap analitis.

Ia mengambil buku catatan hitamnya dari nakas, lalu memasukkan pena ke saku celana.

"Apa... apa maksud kamu?" Riana terbata-bata, tangannya masih terulur kaku di udara, berusaha meraih Galih kembali. Tubuhnya berteriak frustrasi karena dihentikan tepat di puncak gairah.

Galih menatap Riana datar.

"Bab 1: Oral Introduction, selesai. Target tercapai," kata Galih. Ia berbalik badan, berjalan menuju pintu kamar.

Riana ternganga. "Kamu... kamu mau ke mana?!"

Galih berhenti di ambang pintu, tangannya memegang gagang pintu. Ia menoleh sedikit ke belakang. Cahaya dari koridor membingkai tubuhnya.

"Pulang ke kamar saya. Tidur. Besok saya kerja pagi," jawab Galih santai.

"Galih! Kamu nggak bisa ninggalin aku kayak gini!" Riana setengah berteriak, frustrasi bercampur gengsi. "Kita belum selesai! Kamu bilang 'jangan berhenti di tengah jalan'!"

Galih menyeringai tipis. Sangat tipis.

"Itu preview, Riana. Kalau kamu mau full version..." Galih menurunkan pandangannya ke arah selangkangannya sendiri yang terlihat jelas menonjol di balik celana training, lalu kembali menatap mata Riana. "...Tunggu jadwal besok. Saya butuh kamu penasaran supaya sesi berikutnya lebih intens."

Klik.

Pintu tertutup.

Riana ditinggal sendirian di kamar mewahnya yang temaram. Bibirnya masih terasa panas, tubuhnya bergetar menahan gairah yang tidak tuntas.

Ia mengambil bantal sutra mahalnya dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah pintu yang tertutup.

"BRENGSEK!" teriak Riana.

Tapi di balik kemarahannya, Riana menyadari satu hal yang menakutkan: Galih benar. Rasa penasaran dan frustrasi ini justru membuat Riana semakin menginginkannya.

Malam ini, Sang Murid baru saja mengajarkan Sang Guru tentang arti kata Cliffhanger.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 20: Silent Treatment

    Ada jenis keheningan yang menenangkan, seperti suasana pagi di pegunungan. Lalu ada jenis keheningan yang menyiksa, seperti saat ini.Dua hari.Sudah empat puluh delapan jam sejak insiden di parkiran Pasar Modern. Sejak saat itu, Galih Prasetyo berubah menjadi hantu.Dia ada di kos. Riana tahu itu. Ia melihat lampu kamar 101 menyala di malam hari. Ia mendengar suara air keran kamar mandi dinyalakan di pagi buta. Ia bahkan mencium aroma sabun sea salt yang tertinggal samar di koridor.Tapi Galih tidak terlihat.Dia berangkat kuliah atau kerja sangat pagi, sebelum Riana bangun. Dia pulang sangat larut, saat Riana sudah menyerah menunggu di sofa ruang tamu. Pesan WhatsApp Riana? Hanya centang dua biru. Dibaca, tapi tidak dibalas. Telepon? Rejected.Riana merasa seperti orang gila.Ia duduk di meja makan rumah induknya yang megah, menatap piring di depannya.Di atas piring porselen itu tergeletak Wagyu Steak A

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 19: Sinyal Bahaya

    Pasar Modern di kawasan elit itu ramai oleh hiruk-pikuk akhir pekan. Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan dinginnya udara AC sentral.Riana mendorong troli belanja yang sudah separuh penuh, sementara Galih berjalan di sampingnya.Pemandangan ini menipu.Bagi orang asing yang melihat sekilas, mereka tampak seperti pasangan muda yang serasi. Riana mengenakan jumpsuit denim kasual yang memeluk tubuh, rambutnya diikat cepol asal-asalan namun stylish. Galih mengenakan kaos polo hitam yang pas badan dan celana chino, memperlihatkan lengan berototnya yang terbentuk sempurna.Tidak ada kacamata tebal hari ini. Galih memakai lensa kontak—atas paksaan Riana sebelum berangkat tadi."Ambilin beras yang 10 kilo dong, Ganteng," Riana menunjuk rak bagian bawah.Galih tidak membantah. Dengan satu tangan, ia mengangkat karung beras itu seolah seringan bantal, lalu meletakkannya ke dalam troli dengan bunyi buk yang m

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 18: Malam Pembuktian

    Koridor menuju Kamar 101 terasa lebih panjang dari biasanya.Setiap langkah yang Riana ambil di atas lantai marmer dingin mengirimkan sensasi aneh yang menjalar naik ke perutnya. Ia mengenakan slip dress satin hitam selutut, dibalut kimono luar yang senada. Dari luar, ia terlihat elegan dan tertutup.Namun, Riana tahu apa yang—atau lebih tepatnya, apa yang tidak—ada di balik kain satin itu.Angin malam yang berhembus dari ventilasi lorong menyapu pahanya, mengingatkan Riana bahwa ia sedang menuruti perintah gila Galih: Jangan pakai celana dalam.Rasanya memalukan, tapi juga memabukkan. Ia merasa telanjang meski berpakaian lengkap. Ia merasa menjadi milik seseorang.Riana berhenti di depan pintu 101. Ia mengangkat tangan untuk mengetuk.Pintu terbuka sebelum tinjunya menyentuh kayu.Galih berdiri di sana.Ia mengenakan kemeja hitam yang sama dengan tadi sore, tapi kali ini kancing

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 17: Paket Misterius

    Siang itu matahari Jakarta sedang terik-teriknya, seolah ingin melelehkan aspal jalanan. Namun, panasnya cuaca tidak menyurutkan semangat Bu Darmi untuk melakukan patroli rutinnya.Bu Darmi berdiri di depan pagar kos Riana, berpura-pura sedang memilih sayuran di gerobak Mang Ujang, tukang sayur keliling yang mangkal. Matanya yang tajam seperti radar menyapu halaman kos."Mbak Yuni!" panggil Bu Darmi nyaring saat melihat asisten rumah tangga Riana sedang menyapu halaman. "Itu si Ibu Kos tumben nggak kelihatan? Biasanya jam segini udah mejeng nyiram kembang."Mbak Yuni menyeka keringat di dahinya. "Ibu lagi istirahat di dalem, Bu. Pusing katanya.""Pusing atau 'pusing'?" Bu Darmi terkekeh penuh arti, menyenggol lengan ibu-ibu lain yang belanja. "Denger-denger kemarin malem ada suara ribut-ribut di gudang. Jangan-jangan ada tikus... berkaki dua."Mbak Yuni cemberut, tidak suka majikannya digunjingkan. "Tikus beneran kok, Bu. Kemarin Pak Galih bantu ng

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 16: Jejak Digital

    Jam digital di sudut layar monitor menunjukkan pukul 01.30 dini hari.Kamar 101 kembali dingin dan sunyi. Kontras sekali dengan gudang pengap dan panas tempat Galih dan Riana bergumul dua jam yang lalu.Galih sudah mandi, rambutnya masih lembab, tubuhnya segar. Namun, matanya tidak mengantuk sama sekali. Adrenalin pasca-seks masih memompa di pembuluh darahnya, membuatnya terjaga dengan kewaspadaan tinggi.Ia duduk di kursi kerjanya yang ergonomis, menatap kursor yang berkedip di layar hitam terminal Linux-nya.Biasanya, setelah sesi fisik yang intens, laki-laki akan tidur mendengkur. Tapi Galih bukan laki-laki biasa. Otaknya bekerja dengan pola yang berbeda. Keintiman di gudang tadi membuka satu folder pertanyaan baru di kepalanya.Riana tadi sempat berteriak saat mereka bertengkar: "Laki-laki buaya!" dan "Mantan suami Tante emang brengsek, tapi Tante belajar banyak..."Kata "Mantan Suami" itu mengganggu G

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 15: Hukuman atau Hadiah?

    Langit Jakarta sudah gelap sempurna. Pukul delapan malam.Riana tidak kembali ke kamarnya. Ia mondar-mandir di area belakang rumah induk, tepat di lorong sempit yang menghubungkan dapur kotor dengan gudang penyimpanan logistik kos.Ia sedang marah. Marah pada Vina si mahasiswa kencur, marah pada Galih yang membelanya, dan paling parah, marah pada dirinya sendiri yang merasa tersaingi.Riana menendang sebuah kardus kosong bekas mi instan yang tergeletak di lantai. Bug."Masa depan," cibir Riana, menirukan kata-kata Galih tadi sore dengan nada mengejek. "Emang masa depan bisa bikin kamu khatam urusan ranjang? Dasar bocah sok idealis."Riana berniat melakukan inspeksi stok sabun—alasan yang ia cari-cari untuk melampiaskan kekesalannya pada Mbak Yuni nanti. Ia berjalan menuju pintu gudang yang sedikit terbuka. Lampu di dalam gudang mati, hanya diterangi bias cahaya dari lampu taman di luar jendela ventilasi.Ia baru saja hendak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status