MasukPukul 21.00 WIB. Satu jam menuju tenggat waktu.
Kamar 101 hening, tapi aktivitas di dalamnya berjalan secepat putaran prosesor overclocked.
Galih duduk tegak di depan meja kerjanya. Kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tiga tab browser yang terbuka berdampingan. Tidak ada video tidak senonoh malam ini. Yang ada adalah diagram anatomi, artikel psikologi perilaku, dan forum diskusi tertutup tentang kinbaku (seni tali-temali Jepang) yang ia baca hanya untuk referensi estetika.
Di atas meja, buku catatan kulit hitamnya terbuka. Galih menulis poin-poin penting dengan pena tinta gel 0.3mm. Tulisannya kecil, tajam, dan terstruktur.
Misi: Sesi 1 - Eksplorasi & Kalibrasi.
Objektif: Memetakan zona erogen subjek (Riana).
Metode: Sentuhan bertahap (Gradual touch). Mulai dari non-seksual ke seksual.
Variabel Risiko: Kecanggunggan awal, hipersensitivitas subjek, ejakulasi dini (Probabilitas: 40% - Mitigasi: Latihan pernapasan 4-7-8).
Galih berhenti menulis. Ia menatap poin terakhir dengan kening berkerut.
"Sialan," umpatnya pelan.
Ejakulasi dini adalah mimpi buruk bagi setiap pria, apalagi bagi seorang perjaka yang akan menghadapi janda berpengalaman. Riana pasti akan menertawakannya habis-habisan jika ia "meletus" sebelum perang dimulai. Itu tidak boleh terjadi. Kontrak poin nomor 4: Jangan berhenti di tengah jalan.
Galih menutup bukunya. Riset teori selesai. Sekarang persiapan perangkat keras.
Ia bangkit menuju kamar mandi dalam yang sempit. Di depan cermin yang sedikit berjamur di sudutnya, Galih menatap bayangannya. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya nyalang.
Ia mengambil alat cukur. Mencukur habis bayangan kumis tipis dan janggut yang mulai tumbuh. Riana memiliki kulit yang halus; gesekan rambut kasar di wajah Galih bisa merusak mood atau menyebabkan iritasi. Galih tidak ingin meninggalkan jejak merah di kulit putih itu—setidaknya, bukan jejak karena iritasi.
Selanjutnya: Kuku.
Galih mengambil gunting kuku. Dengan presisi seorang ahli bedah, ia memotong kuku-kuku jarinya hingga pendek, lalu mengikir setiap ujungnya hingga tumpul dan halus. Ia meraba ujung kukunya ke telapak tangan sendiri, memastikan tidak ada bagian tajam yang bisa melukai bagian dalam Riana nanti.
Logika Programmer: Jika ingin memasukkan kode ke dalam sistem yang sensitif, pastikan tidak ada bug atau syntax error yang bisa memicu penolakan sistem.
Setelah mandi air dingin (untuk menurunkan suhu tubuh dan meredam gairah yang terlalu dini), Galih berdiri di depan lemari pakaiannya yang menyedihkan. Isinya 90% kaos oblong hitam dan abu-abu.
Ia memilih satu-satunya kaos polos berwarna navy yang pas badan (fit body), bukan yang kedodoran. Ia ingin Riana melihat bentuk tubuhnya, tapi tidak ingin terlihat pamer. Ia memadukannya dengan celana training panjang bahan katun yang bersih. Santai, tapi aksesibel.
Galih menyemprotkan sedikit parfum—bukan parfum mahal, hanya cologne maskulin beraroma sea salt yang ia beli diskonan, tapi wanginya segar dan tidak menyengat.
Ia melirik jam dinding.
21.55 WIB.
Jantungnya mulai berdetak tidak karuan, memukul-mukul rusuknya. Teori di kepalanya mendadak berantakan. Jurnal-jurnal yang ia baca seolah menguap.
"Tenang, Gal," bisiknya pada cermin. Ia menarik napas dalam, menahannya tujuh detik, lalu menghembuskannya delapan detik. Teknik pernapasan anti-panik. "Dia cuma Riana. Dia cuma manusia. Dia cuma... user yang butuh maintenance."
Galih mengambil kacamatanya, memakainya kembali. Ia butuh penglihatannya sempurna malam ini. Ia tidak mau melewatkan satu mikro-ekspresi pun dari wajah Riana.
Sementara itu, di lantai dua.
Kamar Utama Riana temaram. Hanya lampu tidur di nakas dan beberapa lilin aroma terapi wangi lavender yang menyala, menciptakan bayangan-bayangan lembut di dinding. Musik jazz instrumental mengalun pelan dari speaker bluetooth di sudut ruangan.
Setting panggung sudah sempurna.
Riana berdiri di depan cermin besar setinggi tubuh. Ia menjatuhkan robe sutranya ke lantai, membiarkan kain mahal itu menumpuk di kakinya.
Sekarang, ia hanya mengenakan lingerie hitam berbahan lace transparan yang memeluk tubuh sintalnya dengan provokatif. Kontras antara kain hitam dan kulit kuning langsatnya begitu memukau. Potongannya rendah di dada, tinggi di paha.
Riana memutar tubuh, mengecek pantatnya di cermin.
"Masih kenceng kok," gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Ada sedikit stretch mark samar di pinggulnya, sisa dari fluktuasi berat badan masa lalu, tapi Riana menganggapnya sebagai seni.
Ia merasa gugup. Aneh sekali. Ia sudah pernah menikah lima tahun, sudah pernah tidur dengan beberapa pria setelah bercerai, tapi kenapa janji temu dengan anak kos ingusan ini membuatnya merasa seperti gadis perawan yang mau kencan pertama?
Mungkin karena tatapan Galih tadi pagi. Atau cengkeraman tangannya semalam.
Ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap kaku pemuda itu. Sesuatu yang membuat insting Riana waspada sekaligus terangsang.
"Ah, paling nanti dia masuk sini gemeteran, kacamata berembun, terus bingung mau pegang apa," Riana terkekeh, mencoba meremehkan lawannya agar rasa percaya dirinya kembali naik. "Tugas gue cuma bimbing dia. Be gentle, Ri. Don't scare the boy."
Riana memoleskan sedikit lip gloss di bibirnya. Basah dan mengundang.
Ia melirik jam digital di nakas.
21.59 WIB.
"Oke, Kelinci. Tante tunggu."
Riana duduk di tepi ranjang king size-nya, menyilangkan kaki dengan anggun, memamerkan paha mulusnya. Ia mengatur napas, memasang ekspresi Ratu Penguasa yang siap menerima upeti. Ia membayangkan Galih akan mengetuk pintu dengan ragu-ragu, pelan, dan malu-malu.
Detik berganti menit. Angka di jam berubah menjadi 22.00 WIB.
Tepat pada detiknya.
TOK. TOK. TOK.
Tiga ketukan.
Riana tersentak sedikit. Ketukan itu... bukan ketukan ragu-ragu.
Bunyinya tegas. Berirama. Dan memiliki tekanan yang solid. Bukan suara kuku yang menyentuh kayu, tapi buku jari yang mantap. Itu bukan ketukan seseorang yang bertanya "Boleh saya masuk?". Itu ketukan seseorang yang berkata "Saya sudah di sini."
Senyum meremehkan di bibir Riana sedikit memudar.
Ia berdeham, menjernihkan tenggorokan agar suaranya terdengar seksi dan berwibawa.
"Masuk. Nggak dikunci."
Hening sejenak.
Lalu gagang pintu berputar. Pintu terbuka.
Galih berdiri di ambang pintu. Cahaya terang dari koridor di belakangnya membuat tubuhnya terlihat seperti siluet gelap yang besar, memblokir jalan keluar.
Dia mengenakan kaos biru gelap yang mencetak bidang bahunya, dan celana santai. Kacamatanya memantulkan cahaya lilin di dalam kamar. Wajahnya datar. Tidak ada senyum canggung. Tidak ada rona merah malu.
Galih melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dengan gerakan tenang.
Klik. Kunci diputar.
Jantung Riana berdesir. Suara kunci itu terdengar familiar—mengingatkannya pada kejadian di kamar Galih semalam. Tapi kali ini, mereka ada di wilayah Riana. Seharusnya Riana yang memegang kendali.
"Tepat waktu," kata Riana, mencoba terdengar santai, meski jarinya meremas seprai sutra di sampingnya. "Bagus. Disiplin."
Galih tidak menjawab pujian itu. Ia berjalan mendekat. Langkahnya tidak diseret seperti biasa. Langkahnya tegap, efisien. Matanya menyapu ruangan—menganalisis pencahayaan, posisi lilin, suhu ruangan, dan akhirnya, mendarat pada Riana.
Galih berhenti dua langkah di depan Riana yang duduk di ranjang.
Ia menatap Riana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapan itu terasa fisik. Riana merasa seolah Galih sedang melakukan scanning sinar-X ke seluruh tubuhnya.
"Mbak Riana," sapa Galih. Suaranya rendah, membelah musik jazz yang mengalun.
"Panggil Riana aja kalau di dalam sini. Atau... Tante? Kamu suka yang mana?" goda Riana, mencoba mengambil alih flow percakapan.
Galih mengabaikan opsi itu. Ia justru mengeluarkan buku catatan kecil hitamnya dari saku celana, lalu meletakkannya di nakas di samping tempat tidur Riana.
Riana mengerutkan kening. "Apa itu? Kamu mau nyatet kuliah?"
"Log," jawab Galih singkat. Ia menatap mata Riana lurus-lurus. "Sebelum kita mulai praktik, saya perlu kalibrasi."
"Kalibrasi?" Riana tertawa, tawa yang sedikit gugup. "Kamu kira aku mesin?"
Galih mencondongkan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua tangan di lututnya sendiri sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Riana yang sedang duduk. Aroma sea salt segar dari tubuh Galih menerpa Riana, bersih dan menenangkan.
"Semua sistem butuh input yang benar supaya output-nya maksimal, Riana," kata Galih pelan, menyebut nama wanita itu tanpa embel-embel untuk pertama kalinya. Terdengar sangat intim.
"Dan malam ini," lanjut Galih, tangannya terulur perlahan, bukan untuk menyentuh kulit, tapi untuk merapikan anak rambut Riana ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut namun menggetarkan, "saya mau tahu semua tombol rahasia kamu."
Riana terdiam. Lidahnya kelu.
Anak ini... dia benar-benar memperlakukan seks sebagai sains. Dan entah kenapa, keseriusan di mata Galih itu jauh lebih seksi daripada rayuan gombal mana pun yang pernah Riana dengar.
"Oke, Profesor," bisik Riana, suaranya serak. "Tunjukkan teorimu."
Cahaya matahari pukul sepuluh pagi menusuk masuk melalui celah tirai kamar Riana, terasa seperti jarum yang membangunkan paksa kesadarannya.Riana mengerjap, matanya terasa berat.Begitu ia bergerak sedikit untuk meregangkan tubuh, sensasi itu langsung menyerang. Rasa nyeri yang tumpul namun nikmat di pangkal paha, pegal di pergelangan tangan bekas kuncian jari yang kuat, dan jejak memar samar di pinggulnya.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja ditabrak truk. Atau lebih tepatnya, digilas oleh mesin penghancur bernama Galih Prasetyo.Ingatan kejadian di sofa ruang TV semalam membanjiri otaknya.Bukan sekadar seks. Itu adalah pernyataan perang yang dimenangkan telak oleh pihak lawan. Galih tidak membiarkan Riana bergerak satu inci pun tanpa izin. Pemuda itu mendikte napasnya, mengontrol suaranya, dan membawanya ke puncak demi puncak dengan presisi yang kejam, lalu menahannya di sana sampai Riana menangis memohon ampun.Riana meraba sisi tempat tidurnya.Kosong. Dingin.Sprei di sebel
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Suara ribuan titik air yang menghantam atap genteng dan kaca jendela menciptakan white noise yang memekakkan telinga, namun anehnya membuat suasana di dalam Ruang TV "Kos Executive Riana" terasa terisolasi dari dunia luar.Pukul sepuluh malam.Layar televisi 60 inci menyala, menampilkan adegan kejar-kejaran mobil dari film aksi generik di Netflix. Cahaya biru dari layar berkedip-kedip, menerangi wajah dua orang yang duduk di sofa panjang.Riana duduk di ujung kiri. Galih di ujung kanan. Ada jarak kosong satu meter di antara mereka—sebuah jurang pemisah yang terasa dingin.Riana mengetuk-ngetukkan kuku jarinya yang baru dicat ulang ke lengan sofa. Tak. Tak. Tak. Iramanya tidak sabaran.Ia bosan.Bukan bosan karena filmnya. Ia bosan karena situasi ini. Setelah "sesi panas" kemarin malam yang digantung begitu saja, Riana berharap malam ini akan ada aksi lanjutan. Tapi Galih—si Profesor Cinta dadakan itu—malah mengajaknya nonton film action."Anali
Suara kunci berputar di pintu penghubung dapur terdengar sangat pelan. Nyaris tak tertangkap telinga jika bukan karena keheningan total yang menyelimuti rumah induk Riana.Pukul 22.05 WIB.Riana tidak sedang di kamar tidur. Ia duduk di sofa beludru navy di ruang tengah yang remang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu standing lamp di sudut ruangan, menciptakan lingkaran cahaya kuning hangat yang intim.Ia mendengar langkah kaki mendekat. Langkah yang ringan, hati-hati, namun pasti.Sosok Galih muncul dari balik bayangan lorong dapur.Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas badan dan celana training abu-abu. Rambutnya sedikit basah, tanda ia baru mandi lagi. Di tangan kanannya, ia memegang kunci cadangan yang Riana jatuhkan tadi sore.Galih berjalan mendekat ke meja kopi di depan sofa. Ia meletakkan kunci itu di atas meja kaca.Tring."Kode diterima," kata Galih datar.Riana tersenyum, menyilangkan kakinya. "Pintar. Tante kira kamu nggak peka sama kode.""Saya programmer, Riana. Hid
Riana bangun dengan perasaan seperti pecandu yang sakaw.Tubuhnya pegal, bukan karena olahraga, tapi karena ketegangan otot yang tidak tuntas semalam. Bayangan bibir Galih dan cara pemuda itu meninggalkannya begitu saja di puncak gairah terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sialan. Awas kamu, Kelinci.Sore itu, Riana memutuskan untuk melancarkan serangan balasan. Jika Galih ingin bermain "tarik ulur", Riana akan bermain "pamer".Ia berdandan maksimal. Bukan dengan lingerie tentu saja—itu terlalu murahan untuk sore hari—tapi dengan sundress floral selutut dengan potongan leher halter neck yang mengekspos bahu mulusnya. Rambutnya digerai badai. Parfum Chanel No. 5 disemprotkan di titik-titik nadi strategis: leher, pergelangan tangan, dan belakang lutut.Ia baru saja hendak melangkah ke teras untuk "inspeksi sore" rutinnya, ketika suara knalpot motor racing memekakkan telinga memecah ketenangan komplek.Brum! Brum! Bleyer!Riana meringis. Ia kenal suara motor norak itu.Sebuah
Jarak wajah mereka kurang dari sepuluh sentimeter.Riana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di lensa kacamata Galih. Ia melihat wanita yang bibirnya sedikit terbuka, menanti, dengan napas yang tertahan di tenggorokan."Oke, Profesor," ulang Riana, mencoba mencairkan ketegangan yang mencekik lehernya. Tangannya bergerak naik, melingkar di leher Galih, menarik pemuda itu mendekat. "Ajarin Tante. Jangan cuma ngomong soal sudut dan—"Riana memajukan wajahnya, berniat menempelkan bibirnya ke bibir Galih dengan gaya agresif yang biasa ia lakukan. Ia ingin mendominasi ciuman pertama ini. Ia ingin membuat Galih kewalahan.Namun, sebelum bibir mereka bersentuhan, tangan besar Galih menangkup rahang Riana.Gerakannya bukan menahan, tapi mengoreksi.Ibu jari Galih menekan lembut dagu Riana, memutar wajah wanita itu sedikit ke kiri."Jangan buru-buru," bisik Galih. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seintim ini. "Posisi kepala Mbak terlalu frontal. Hidung kita akan bertabrakan. Itu
Pukul 21.00 WIB. Satu jam menuju tenggat waktu.Kamar 101 hening, tapi aktivitas di dalamnya berjalan secepat putaran prosesor overclocked.Galih duduk tegak di depan meja kerjanya. Kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tiga tab browser yang terbuka berdampingan. Tidak ada video tidak senonoh malam ini. Yang ada adalah diagram anatomi, artikel psikologi perilaku, dan forum diskusi tertutup tentang kinbaku (seni tali-temali Jepang) yang ia baca hanya untuk referensi estetika.Di atas meja, buku catatan kulit hitamnya terbuka. Galih menulis poin-poin penting dengan pena tinta gel 0.3mm. Tulisannya kecil, tajam, dan terstruktur.Misi: Sesi 1 - Eksplorasi & Kalibrasi.Objektif: Memetakan zona erogen subjek (Riana).Metode: Sentuhan bertahap (Gradual touch). Mulai dari non-seksual ke seksual.Variabel Risiko: Kecanggunggan awal, hipersensitivitas subjek, ejakulasi dini (Probabilitas: 40% - Mitigasi: Latihan pernapasan 4-7-8).Galih berhenti menulis. Ia menatap poin terakhir dengan kenin







