LOGIN
Aroma tanah basah menguap ke udara, bercampur dengan wangi musk mahal yang menyengat dari leher jenjang Riana.
Pukul lima sore. Matahari Jakarta sedang merangkak turun dengan malas, menyisakan bias oranye yang memantul di dinding kaca "Kos Executive Riana". Di halaman depan yang luasnya bisa menampung lima mobil, Riana berdiri memegang selang air.
Ia tidak sedang menyiram tanaman. Ia sedang memamerkan diri.
Wanita tiga puluh tahun itu mengenakan dress rumahan berbahan satin merah marun. Tipis. Jatuh di tubuhnya seperti aliran air, mencetak lekuk pinggul dan bukit dadanya setiap kali angin sore berhembus. Rambut hitamnya digelung asal-asalan, menyisakan anak rambut yang menempel di tengkuknya yang berkeringat.
Dua orang bapak-bapak yang sedang lari sore di depan pagar melambatkan langkah. Mata mereka melebar, leher mereka memutar otomatis seperti engsel pintu yang baru diminyaki.
Riana melihat reaksi itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum bahagia, melainkan seringai kepuasan yang kosong.
Lihat semau kalian. Cuma itu yang bisa kalian dapatkan.
Ia memutar kran air, memutus aliran dari selang. Validasi murahan itu sudah cukup untuk hari ini. Setidaknya, tatapan lapar mereka membuktikan satu hal: Riana Wijaya belum "kedaluwarsa". Meskipun surat cerai di laci meja riasnya mengatakan sebaliknya—bahwa ia adalah wanita mandul yang membosankan di ranjang—fakta di lapangan menunjukkan ia masih punya daya tarik.
Ponsel di saku daster bergetar. Riana merogohnya. Layar menyala menampilkan nama "Mas Yudha - Kontraktor".
“Ri, nanti malam dinner yuk? Aku jemput pakai Alphard.”
Jempol Riana melayang di atas layar. Ia mendengus, lalu menekan tombol hapus. Ia tidak butuh pria kaya yang perutnya membuncit dan obrolannya hanya seputar proyek tol atau istri muda. Ia butuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang... murni.
Suara pagar besi digeser memecah lamunannya.
Sesosok laki-laki masuk dengan langkah terseret. Tas ransel hitam yang terlihat berat menggantung di satu bahu, membuat postur tubuhnya sedikit miring. Kemeja flanel kotak-kotak yang warnanya sudah memudar membungkus tubuh kurusnya, dipadu dengan celana jins yang bagian bawahnya terinjak tumit sepatu.
Galih Prasetyo. Penghuni kamar 101.
Riana menegakkan punggung, postur tubuhnya berubah otomatis dari santai menjadi pose.
"Eh, Anak Ganteng baru pulang?" sapa Riana. Suaranya ia buat sedikit serak, satu oktaf lebih rendah dari biasanya.
Langkah Galih terhenti. Cowok itu mendongak, lalu dengan cepat menunduk lagi saat matanya tak sengaja menabrak belahan dada Riana yang terekspos. Tangannya bergerak canggung membetulkan letak kacamata bingkai kotaknya yang melorot karena keringat.
"Iya, Mbak Riana," jawab Galih pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara motor yang lewat. Ia tidak berhenti, terus berjalan menuju koridor lantai satu dengan kepala tertunduk, seolah lantai keramik itu jauh lebih menarik daripada wanita seksi di depannya.
"Bururu-buru banget sih? Nggak mau nemenin Tante ngopi dulu di teras? Ada pisang goreng lho." Riana sengaja menekan kata 'Tante'. Itu adalah lelucon favoritnya; menyebut dirinya tua untuk memancing penyangkalan.
Tapi Galih bukan pria pada umumnya.
"Masih ada kerjaan remote, Mbak. Permisi." Tanpa menoleh lagi, Galih mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju kamarnya di pojok koridor. Pintu kamar 101 terbuka, lalu tertutup dengan bunyi klik yang tegas.
Riana mendengus geli.
"Dasar kelinci," gumamnya pelan, menggelengkan kepala.
Galih adalah antitesis dari semua pria yang Riana kenal. Pendiam, kaku, dan terlihat tidak punya nyali. Di mata Riana, Galih adalah zona aman. Menggoda Galih itu seperti menggelitik anak kucing; tidak ada risiko digigit. Paling-paling cowok itu hanya akan merona merah sampai ke telinga, lalu gagap. Lucu.
Langit berubah gelap sepenuhnya. Riana masuk ke dalam rumah induknya yang mewah namun terasa terlalu besar untuk satu orang. Ia mengunci pintu ganda dari kayu jati itu, lalu menyandarkan punggungnya di sana.
Hening.
Inilah bagian yang paling ia benci. Saat pertunjukan selesai, saat penonton pulang, dan ia kembali menjadi Ratu di istana hantu. Ia berjalan melewati ruang tamu yang dihiasi lukisan abstrak mahal, menuju kamarnya di lantai dua.
Jam dinding berdetak. Tik. Tok. Tik. Tok.
Riana mencoba menyibukkan diri. Ia luluran. Ia menonton dua episode drama Korea. Ia membuka aplikasi belanja online dan membeli tas yang tidak ia butuhkan. Namun, jarum jam seolah mengejeknya, bergerak lambat menuju tengah malam.
Pukul 02.15 dini hari.
Mata Riana masih terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang dilukis motif awan. Insomnia sialan ini lagi. Tubuhnya lelah, tapi otaknya berisik. Rasa sepi itu bukan lagi sebuah emosi, melainkan sensasi fisik—seperti ada lubang menganga di ulu hatinya yang ditiup angin dingin.
Ia butuh air dingin. Kerongkongannya terasa kering kerontang.
Riana turun ke dapur di lantai satu dengan langkah telanjang kaki agar tidak menimbulkan suara. Daster satinnya bergesekan lembut dengan kulit pahanya. Ia mengambil botol air dari kulkas, meneguknya langsung dari botol seperti preman. Air dingin itu membasuh tenggorokannya, tapi tidak memadamkan panas aneh yang menjalar di tubuhnya.
Saat hendak kembali ke tangga, matanya menangkap sesuatu.
Dari ujung koridor yang gelap, ada seberkas cahaya tipis yang lolos dari celah bawah pintu kamar 101.
Kamar Galih.
Anak itu belum tidur? batin Riana. Biasanya anak-anak kos lain sudah bermimpi indah jam segini. Apakah dia sakit? Atau lembur kerjaannya yang aneh itu?
Rasa penasaran menggelitik Riana. Bukan, bukan sekadar penasaran. Ada dorongan iseng yang muncul. Mungkin ia bisa mengetuk pintu, berpura-pura mengecek sesuatu, lalu melihat wajah bantal si perjaka kacamata itu.
Riana melangkah pelan mendekati kamar 101. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, memberikan adrenalin kecil yang menyenangkan di tengah malam yang mati ini.
Tiga langkah lagi dari pintu.
Dua langkah.
Riana mengangkat tangan, bersiap mengetuk. Namun, tangannya berhenti di udara.
Telinganya menangkap suara.
Bukan suara ketikan keyboard. Bukan suara orang mengobrol di telepon.
Itu suara napas. Berat. Teratur. Disusul suara desahan wanita yang tertahan, lirih namun jelas, seolah berasal dari speaker kualitas tinggi yang bass-nya diredam.
“Ahhh... yes... deeper...”
Suara itu datang dari dalam kamar Galih.
Alis Riana terangkat. Oalah, ternyata si Kelinci lagi nonton 'film biologi', pikirnya geli. Ia hampir tertawa. Wajar, pikirnya. Namanya juga laki-laki muda, bujangan, sendirian.
Riana berniat berbalik, membiarkan anak itu dengan privasinya. Namun, suara berikutnya membuat kakinya terpaku di lantai.
Brak.
Suara benda jatuh. Seperti buku tebal atau laptop yang digeser kasar. Lalu terdengar suara Galih. Bukan suara canggung yang biasa ia dengar. Suara ini... berbeda. Rendah. Serak. Menggeram dalam bahasa Inggris yang fasih dan penuh tekanan, seolah ia sedang mendiktekan sesuatu.
"Look at the angle. Thirty degrees. Locking the wrist. Effective control."
Riana menahan napas. Itu bukan suara orang yang sedang menikmati tontonan pasif. Nada bicaranya analitis, dingin, namun diakhiri dengan geraman frustrasi yang membuat bulu kuduk Riana meremang.
“Teorinya sampah. Praktiknya harus lebih kasar.”
Suara Galih terdengar lagi, kali ini dalam bahasa Indonesia, disusul bunyi gedebuk tumpul—seperti tinju yang menghantam bantal atau kasur dengan kekuatan penuh.
Jantung Riana berhenti berdetak sesaat. Imajinasi liarnya bekerja cepat. Apa yang sedang dilakukan anak pendiam itu di dalam sana?
Riana sadar ia harus pergi, tapi tubuhnya mengkhianati logikanya. Ia justru mencondongkan tubuh, menempelkan telinganya ke daun pintu kayu itu, mencoba mendengar lebih jelas.
Tiba-tiba, cahaya lampu di celah bawah pintu mati. Gelap total.
Lalu, gagang pintu di depan wajah Riana bergerak turun perlahan.
Klik.
Pintu itu tidak dikunci. Dan seseorang di dalam sana baru saja memutarnya.
Cahaya matahari pukul sepuluh pagi menusuk masuk melalui celah tirai kamar Riana, terasa seperti jarum yang membangunkan paksa kesadarannya.Riana mengerjap, matanya terasa berat.Begitu ia bergerak sedikit untuk meregangkan tubuh, sensasi itu langsung menyerang. Rasa nyeri yang tumpul namun nikmat di pangkal paha, pegal di pergelangan tangan bekas kuncian jari yang kuat, dan jejak memar samar di pinggulnya.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja ditabrak truk. Atau lebih tepatnya, digilas oleh mesin penghancur bernama Galih Prasetyo.Ingatan kejadian di sofa ruang TV semalam membanjiri otaknya.Bukan sekadar seks. Itu adalah pernyataan perang yang dimenangkan telak oleh pihak lawan. Galih tidak membiarkan Riana bergerak satu inci pun tanpa izin. Pemuda itu mendikte napasnya, mengontrol suaranya, dan membawanya ke puncak demi puncak dengan presisi yang kejam, lalu menahannya di sana sampai Riana menangis memohon ampun.Riana meraba sisi tempat tidurnya.Kosong. Dingin.Sprei di sebel
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Suara ribuan titik air yang menghantam atap genteng dan kaca jendela menciptakan white noise yang memekakkan telinga, namun anehnya membuat suasana di dalam Ruang TV "Kos Executive Riana" terasa terisolasi dari dunia luar.Pukul sepuluh malam.Layar televisi 60 inci menyala, menampilkan adegan kejar-kejaran mobil dari film aksi generik di Netflix. Cahaya biru dari layar berkedip-kedip, menerangi wajah dua orang yang duduk di sofa panjang.Riana duduk di ujung kiri. Galih di ujung kanan. Ada jarak kosong satu meter di antara mereka—sebuah jurang pemisah yang terasa dingin.Riana mengetuk-ngetukkan kuku jarinya yang baru dicat ulang ke lengan sofa. Tak. Tak. Tak. Iramanya tidak sabaran.Ia bosan.Bukan bosan karena filmnya. Ia bosan karena situasi ini. Setelah "sesi panas" kemarin malam yang digantung begitu saja, Riana berharap malam ini akan ada aksi lanjutan. Tapi Galih—si Profesor Cinta dadakan itu—malah mengajaknya nonton film action."Anali
Suara kunci berputar di pintu penghubung dapur terdengar sangat pelan. Nyaris tak tertangkap telinga jika bukan karena keheningan total yang menyelimuti rumah induk Riana.Pukul 22.05 WIB.Riana tidak sedang di kamar tidur. Ia duduk di sofa beludru navy di ruang tengah yang remang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu standing lamp di sudut ruangan, menciptakan lingkaran cahaya kuning hangat yang intim.Ia mendengar langkah kaki mendekat. Langkah yang ringan, hati-hati, namun pasti.Sosok Galih muncul dari balik bayangan lorong dapur.Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas badan dan celana training abu-abu. Rambutnya sedikit basah, tanda ia baru mandi lagi. Di tangan kanannya, ia memegang kunci cadangan yang Riana jatuhkan tadi sore.Galih berjalan mendekat ke meja kopi di depan sofa. Ia meletakkan kunci itu di atas meja kaca.Tring."Kode diterima," kata Galih datar.Riana tersenyum, menyilangkan kakinya. "Pintar. Tante kira kamu nggak peka sama kode.""Saya programmer, Riana. Hid
Riana bangun dengan perasaan seperti pecandu yang sakaw.Tubuhnya pegal, bukan karena olahraga, tapi karena ketegangan otot yang tidak tuntas semalam. Bayangan bibir Galih dan cara pemuda itu meninggalkannya begitu saja di puncak gairah terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sialan. Awas kamu, Kelinci.Sore itu, Riana memutuskan untuk melancarkan serangan balasan. Jika Galih ingin bermain "tarik ulur", Riana akan bermain "pamer".Ia berdandan maksimal. Bukan dengan lingerie tentu saja—itu terlalu murahan untuk sore hari—tapi dengan sundress floral selutut dengan potongan leher halter neck yang mengekspos bahu mulusnya. Rambutnya digerai badai. Parfum Chanel No. 5 disemprotkan di titik-titik nadi strategis: leher, pergelangan tangan, dan belakang lutut.Ia baru saja hendak melangkah ke teras untuk "inspeksi sore" rutinnya, ketika suara knalpot motor racing memekakkan telinga memecah ketenangan komplek.Brum! Brum! Bleyer!Riana meringis. Ia kenal suara motor norak itu.Sebuah
Jarak wajah mereka kurang dari sepuluh sentimeter.Riana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di lensa kacamata Galih. Ia melihat wanita yang bibirnya sedikit terbuka, menanti, dengan napas yang tertahan di tenggorokan."Oke, Profesor," ulang Riana, mencoba mencairkan ketegangan yang mencekik lehernya. Tangannya bergerak naik, melingkar di leher Galih, menarik pemuda itu mendekat. "Ajarin Tante. Jangan cuma ngomong soal sudut dan—"Riana memajukan wajahnya, berniat menempelkan bibirnya ke bibir Galih dengan gaya agresif yang biasa ia lakukan. Ia ingin mendominasi ciuman pertama ini. Ia ingin membuat Galih kewalahan.Namun, sebelum bibir mereka bersentuhan, tangan besar Galih menangkup rahang Riana.Gerakannya bukan menahan, tapi mengoreksi.Ibu jari Galih menekan lembut dagu Riana, memutar wajah wanita itu sedikit ke kiri."Jangan buru-buru," bisik Galih. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seintim ini. "Posisi kepala Mbak terlalu frontal. Hidung kita akan bertabrakan. Itu
Pukul 21.00 WIB. Satu jam menuju tenggat waktu.Kamar 101 hening, tapi aktivitas di dalamnya berjalan secepat putaran prosesor overclocked.Galih duduk tegak di depan meja kerjanya. Kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tiga tab browser yang terbuka berdampingan. Tidak ada video tidak senonoh malam ini. Yang ada adalah diagram anatomi, artikel psikologi perilaku, dan forum diskusi tertutup tentang kinbaku (seni tali-temali Jepang) yang ia baca hanya untuk referensi estetika.Di atas meja, buku catatan kulit hitamnya terbuka. Galih menulis poin-poin penting dengan pena tinta gel 0.3mm. Tulisannya kecil, tajam, dan terstruktur.Misi: Sesi 1 - Eksplorasi & Kalibrasi.Objektif: Memetakan zona erogen subjek (Riana).Metode: Sentuhan bertahap (Gradual touch). Mulai dari non-seksual ke seksual.Variabel Risiko: Kecanggunggan awal, hipersensitivitas subjek, ejakulasi dini (Probabilitas: 40% - Mitigasi: Latihan pernapasan 4-7-8).Galih berhenti menulis. Ia menatap poin terakhir dengan kenin







