เข้าสู่ระบบWaktu seakan membeku selama tiga detik yang menyiksa.
Riana, yang nyaris terjungkal karena pintu yang tiba-tiba terbuka, kini berdiri mematung. Jantungnya yang tadi berdebar karena sensasi menguping, kini seakan melompat ke tenggorokan.
Bukan karena takut ketahuan. Tapi karena pemandangan di depannya.
Galih Prasetyo tanpa kacamata adalah spesies yang sama sekali berbeda.
Tanpa bingkai tebal yang biasa menyembunyikan separuh wajahnya, mata Galih ternyata tajam, dengan sorot yang dalam dan—Riana menelan ludah—sedikit liar. Ada kewaspadaan predator di sana, bukan ketakutan mangsa.
Dan tubuhnya.
Ya Tuhan.
Riana terbiasa melihat Galih tenggelam dalam kemeja flanel kebesaran yang membuatnya terlihat seperti gantungan baju berjalan. Tapi sekarang, di bawah cahaya lampu koridor yang temaram, Galih bertelanjang dada.
Tubuhnya tidak besar seperti binaragawan yang berlebihan, tapi padat. Lean. Setiap otot di perut dan lengannya tercetak jelas, dilapisi keringat yang membuatnya berkilau seperti patung perunggu yang baru dipoles. Urat-urat halus menonjol di bisep dan punggung tangannya yang sedang mencengkeram gagang pintu dengan erat.
Aroma maskulin yang kuat—campuran keringat segar, testosteron, dan sedikit aroma sabun batang yang murah—menguar dari tubuh pemuda itu, menerpa wajah Riana, menenggelamkan aroma parfum mahalnya sendiri.
Napas Galih masih sedikit memburu sisa olahraga. Dada bidang itu naik turun dengan ritme yang hipnotis.
Riana sadar mulutnya sedikit terbuka. Ia buru-buru mengatupkannya. Sadar, Ri. Jangan ngiler di depan anak kos sendiri. Jatuh harga pasaran.
"Mbak Riana?" Suara Galih terdengar. Tanpa kacamata, dia tampak menyipitkan mata, mencoba memfokuskan pandangan. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya, mungkin karena terkejut atau... hal lain. "Ngapain di situ?"
Pertanyaan itu menarik Riana kembali ke realitas. Oh ya, dia baru saja tertangkap basah menguping.
Sebagai wanita dewasa yang berpengalaman menghadapi berbagai jenis pria, Riana tahu satu aturan emas: Saat terpojok, jangan pernah mundur. Serang balik.
Riana menegakkan tubuhnya, menarik kembali topeng "Ibu Kos Genit" yang menjadi andalannya. Ia melengkungkan senyum miring, matanya dengan sengaja ia gulirkan dari wajah Galih, turun ke dada, perut, lalu kembali ke mata pemuda itu dengan lambat.
"Tante cuma mastiin kamu nggak kenapa-napa, Ganteng," kata Riana, suaranya kembali manja dan serak. Ia mengangkat satu alis. "Soalnya dari luar kedengeran ribut banget. Kayak ada yang lagi... gulat."
Ia melihat jakun Galih bergerak naik turun. Kena kau.
Galih tidak menjawab. Tangannya yang satu lagi bergerak gelisah ke wajahnya, mencari kacamata yang tidak ada di sana. Gerakan kecil yang menunjukkan ketidakamanan. Bagus, pikir Riana. Si kelinci masih ada di dalam sana.
"Minggir dong. Tante mau masuk. Gerah nih di luar," kata Riana, tanpa menunggu izin.
Ia melangkah maju.
Galih tersentak. Secara refleks, tubuhnya mundur selangkah untuk menghindari kontak fisik dengan Riana yang merangsek masuk. Celah itu cukup. Riana menyelinap melewati tubuh berkeringat itu dan berhasil menyeberangi ambang pintu Kamar 101.
Riana masuk ke dalam sarang sang perjaka.
Kesan pertama: Dingin. AC-nya diatur di suhu terendah.
Kesan kedua: Rapi yang nyaris obsesif.
Tidak ada bungkus mi instan, tidak ada pakaian kotor yang berserakan. Kamar itu berbau antiseptik dan sedikit bau logam elektronik yang panas. Di meja kerja yang besar, dua monitor besar menyala, tapi layarnya gelap gulita. Hanya ada satu lampu kecil di CPU yang berkedip-kedip biru, seperti mata robot yang mengawasi.
Riana berbalik, menghadap Galih yang masih berdiri di dekat pintu, tampak bingung harus bersikap bagaimana. Pemuda itu akhirnya menemukan kacamatanya di atas meja nakas dan buru-buru memakainya.
Begitu bingkai itu kembali ke wajahnya, bahu Galih sedikit rileks. Perisainya sudah kembali.
"Mbak, ini sudah jam dua pagi," kata Galih, suaranya kembali kaku dan formal. Ia berdiri di sana, setengah telanjang, mencoba bersikap sopan pada wanita yang baru saja menerobos privasinya. Kontras yang menggelikan. "Ada perlu apa sebenarnya? Kalau soal iuran, saya sudah transfer."
Riana tertawa kecil. Tawa yang renyah, yang ia tahu bisa membuat pria merasa bodoh.
Ia berjalan perlahan mengelilingi kamar yang sempit itu. Jemarinya yang lentik, dengan kuku bercat merah darah, menyentuh pinggiran meja kerja Galih. Ia merasakan ketegangan Galih meningkat setiap kali ia menyentuh barang-barang pribadinya.
"Bukan soal iuran, Sayang," kata Riana. Ia berhenti tepat di depan kursi kerja Galih. Kursi itu masih hangat. Ia melirik ke arah monitor yang gelap. "Tante cuma penasaran sama hobi malam kamu."
Galih diam. Rahangnya mengeras.
"Tadi itu suaranya... intens banget," lanjut Riana, memelankan suaranya menjadi bisikan konspiratif. Ia menatap Galih dari balik bahunya. "Filmnya seru ya? Aktornya semangat banget kayaknya."
Wajah Galih, yang biasanya pucat di bawah lampu neon, kini merona merah padam. Bukan merah karena malu ala anak SMP, tapi merah karena marah yang tertahan.
"Mbak Riana, tolong keluar." Galih menunjuk pintu. Nadanya tegas, tapi ada getaran halus di sana.
Riana mengabaikan perintah itu. Ia justru merasa menang. Ia suka melihat Galih yang tenang ini terusik.
"Kenapa sih? Malu sama Tante?" Riana melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Ruangan itu terlalu kecil untuk dua orang dengan ketegangan setinggi ini. "Wajar kok laki-laki seumur kamu punya... kebutuhan."
Mata Riana kembali jatuh ke tubuh Galih yang berkeringat. Jarak mereka kini hanya setengah meter. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari kulit pemuda itu.
Sesuatu yang aneh terjadi pada Riana. Niat awalnya hanya ingin menggoda dan membuat Galih malu, tapi sekarang, melihat dada bidang yang naik turun di depannya, merasakan atmosfer kamar yang sarat dengan sisa-sisa gairah... Riana merasakan perut bagian bawahnya sendiri berkedut.
Ia kesepian. Ia haus sentuhan. Dan di depannya ada seorang pria muda yang jelas-jelas juga sedang 'ingin'.
Ide gila itu muncul begitu saja di kepalanya. Liar, impulsif, dan sangat berbahaya.
Galih masih menunjuk pintu, meski tangannya mulai goyah. "Keluar, Mbak. Sekarang."
Riana tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, tidak ada ejekan di sana. Hanya ada tantangan murni.
Alih-alih berjalan keluar, Riana mundur selangkah, meraih gagang pintu di belakang punggung Galih.
Dan menutupnya dari dalam.
Klik.
Suara kunci slot yang diputar terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu.
Mata Galih membelalak di balik kacamatanya. Napasnya tertahan.
"Tontonan kamu berat juga ya ternyata," bisik Riana, suaranya serak dan rendah, menatap lurus ke mata Galih. "Tapi kamu tahu nggak, Galih? Nonton doang nggak akan bikin kamu pinter."
Ada jenis keheningan yang menenangkan, seperti suasana pagi di pegunungan. Lalu ada jenis keheningan yang menyiksa, seperti saat ini.Dua hari.Sudah empat puluh delapan jam sejak insiden di parkiran Pasar Modern. Sejak saat itu, Galih Prasetyo berubah menjadi hantu.Dia ada di kos. Riana tahu itu. Ia melihat lampu kamar 101 menyala di malam hari. Ia mendengar suara air keran kamar mandi dinyalakan di pagi buta. Ia bahkan mencium aroma sabun sea salt yang tertinggal samar di koridor.Tapi Galih tidak terlihat.Dia berangkat kuliah atau kerja sangat pagi, sebelum Riana bangun. Dia pulang sangat larut, saat Riana sudah menyerah menunggu di sofa ruang tamu. Pesan WhatsApp Riana? Hanya centang dua biru. Dibaca, tapi tidak dibalas. Telepon? Rejected.Riana merasa seperti orang gila.Ia duduk di meja makan rumah induknya yang megah, menatap piring di depannya.Di atas piring porselen itu tergeletak Wagyu Steak A
Pasar Modern di kawasan elit itu ramai oleh hiruk-pikuk akhir pekan. Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan dinginnya udara AC sentral.Riana mendorong troli belanja yang sudah separuh penuh, sementara Galih berjalan di sampingnya.Pemandangan ini menipu.Bagi orang asing yang melihat sekilas, mereka tampak seperti pasangan muda yang serasi. Riana mengenakan jumpsuit denim kasual yang memeluk tubuh, rambutnya diikat cepol asal-asalan namun stylish. Galih mengenakan kaos polo hitam yang pas badan dan celana chino, memperlihatkan lengan berototnya yang terbentuk sempurna.Tidak ada kacamata tebal hari ini. Galih memakai lensa kontak—atas paksaan Riana sebelum berangkat tadi."Ambilin beras yang 10 kilo dong, Ganteng," Riana menunjuk rak bagian bawah.Galih tidak membantah. Dengan satu tangan, ia mengangkat karung beras itu seolah seringan bantal, lalu meletakkannya ke dalam troli dengan bunyi buk yang m
Koridor menuju Kamar 101 terasa lebih panjang dari biasanya.Setiap langkah yang Riana ambil di atas lantai marmer dingin mengirimkan sensasi aneh yang menjalar naik ke perutnya. Ia mengenakan slip dress satin hitam selutut, dibalut kimono luar yang senada. Dari luar, ia terlihat elegan dan tertutup.Namun, Riana tahu apa yang—atau lebih tepatnya, apa yang tidak—ada di balik kain satin itu.Angin malam yang berhembus dari ventilasi lorong menyapu pahanya, mengingatkan Riana bahwa ia sedang menuruti perintah gila Galih: Jangan pakai celana dalam.Rasanya memalukan, tapi juga memabukkan. Ia merasa telanjang meski berpakaian lengkap. Ia merasa menjadi milik seseorang.Riana berhenti di depan pintu 101. Ia mengangkat tangan untuk mengetuk.Pintu terbuka sebelum tinjunya menyentuh kayu.Galih berdiri di sana.Ia mengenakan kemeja hitam yang sama dengan tadi sore, tapi kali ini kancing
Siang itu matahari Jakarta sedang terik-teriknya, seolah ingin melelehkan aspal jalanan. Namun, panasnya cuaca tidak menyurutkan semangat Bu Darmi untuk melakukan patroli rutinnya.Bu Darmi berdiri di depan pagar kos Riana, berpura-pura sedang memilih sayuran di gerobak Mang Ujang, tukang sayur keliling yang mangkal. Matanya yang tajam seperti radar menyapu halaman kos."Mbak Yuni!" panggil Bu Darmi nyaring saat melihat asisten rumah tangga Riana sedang menyapu halaman. "Itu si Ibu Kos tumben nggak kelihatan? Biasanya jam segini udah mejeng nyiram kembang."Mbak Yuni menyeka keringat di dahinya. "Ibu lagi istirahat di dalem, Bu. Pusing katanya.""Pusing atau 'pusing'?" Bu Darmi terkekeh penuh arti, menyenggol lengan ibu-ibu lain yang belanja. "Denger-denger kemarin malem ada suara ribut-ribut di gudang. Jangan-jangan ada tikus... berkaki dua."Mbak Yuni cemberut, tidak suka majikannya digunjingkan. "Tikus beneran kok, Bu. Kemarin Pak Galih bantu ng
Jam digital di sudut layar monitor menunjukkan pukul 01.30 dini hari.Kamar 101 kembali dingin dan sunyi. Kontras sekali dengan gudang pengap dan panas tempat Galih dan Riana bergumul dua jam yang lalu.Galih sudah mandi, rambutnya masih lembab, tubuhnya segar. Namun, matanya tidak mengantuk sama sekali. Adrenalin pasca-seks masih memompa di pembuluh darahnya, membuatnya terjaga dengan kewaspadaan tinggi.Ia duduk di kursi kerjanya yang ergonomis, menatap kursor yang berkedip di layar hitam terminal Linux-nya.Biasanya, setelah sesi fisik yang intens, laki-laki akan tidur mendengkur. Tapi Galih bukan laki-laki biasa. Otaknya bekerja dengan pola yang berbeda. Keintiman di gudang tadi membuka satu folder pertanyaan baru di kepalanya.Riana tadi sempat berteriak saat mereka bertengkar: "Laki-laki buaya!" dan "Mantan suami Tante emang brengsek, tapi Tante belajar banyak..."Kata "Mantan Suami" itu mengganggu G
Langit Jakarta sudah gelap sempurna. Pukul delapan malam.Riana tidak kembali ke kamarnya. Ia mondar-mandir di area belakang rumah induk, tepat di lorong sempit yang menghubungkan dapur kotor dengan gudang penyimpanan logistik kos.Ia sedang marah. Marah pada Vina si mahasiswa kencur, marah pada Galih yang membelanya, dan paling parah, marah pada dirinya sendiri yang merasa tersaingi.Riana menendang sebuah kardus kosong bekas mi instan yang tergeletak di lantai. Bug."Masa depan," cibir Riana, menirukan kata-kata Galih tadi sore dengan nada mengejek. "Emang masa depan bisa bikin kamu khatam urusan ranjang? Dasar bocah sok idealis."Riana berniat melakukan inspeksi stok sabun—alasan yang ia cari-cari untuk melampiaskan kekesalannya pada Mbak Yuni nanti. Ia berjalan menuju pintu gudang yang sedikit terbuka. Lampu di dalam gudang mati, hanya diterangi bias cahaya dari lampu taman di luar jendela ventilasi.Ia baru saja hendak







