Beranda / Romansa / Janda Kembang Menggoda Perjaka / BAB 3: Kunjungan Tak Terduga

Share

BAB 3: Kunjungan Tak Terduga

Penulis: Lara Luka
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-05 12:04:05

Waktu seakan membeku selama tiga detik yang menyiksa.

Riana, yang nyaris terjungkal karena pintu yang tiba-tiba terbuka, kini berdiri mematung. Jantungnya yang tadi berdebar karena sensasi menguping, kini seakan melompat ke tenggorokan.

Bukan karena takut ketahuan. Tapi karena pemandangan di depannya.

Galih Prasetyo tanpa kacamata adalah spesies yang sama sekali berbeda.

Tanpa bingkai tebal yang biasa menyembunyikan separuh wajahnya, mata Galih ternyata tajam, dengan sorot yang dalam dan—Riana menelan ludah—sedikit liar. Ada kewaspadaan predator di sana, bukan ketakutan mangsa.

Dan tubuhnya.

Ya Tuhan.

Riana terbiasa melihat Galih tenggelam dalam kemeja flanel kebesaran yang membuatnya terlihat seperti gantungan baju berjalan. Tapi sekarang, di bawah cahaya lampu koridor yang temaram, Galih bertelanjang dada.

Tubuhnya tidak besar seperti binaragawan yang berlebihan, tapi padat. Lean. Setiap otot di perut dan lengannya tercetak jelas, dilapisi keringat yang membuatnya berkilau seperti patung perunggu yang baru dipoles. Urat-urat halus menonjol di bisep dan punggung tangannya yang sedang mencengkeram gagang pintu dengan erat.

Aroma maskulin yang kuat—campuran keringat segar, testosteron, dan sedikit aroma sabun batang yang murah—menguar dari tubuh pemuda itu, menerpa wajah Riana, menenggelamkan aroma parfum mahalnya sendiri.

Napas Galih masih sedikit memburu sisa olahraga. Dada bidang itu naik turun dengan ritme yang hipnotis.

Riana sadar mulutnya sedikit terbuka. Ia buru-buru mengatupkannya. Sadar, Ri. Jangan ngiler di depan anak kos sendiri. Jatuh harga pasaran.

"Mbak Riana?" Suara Galih terdengar. Tanpa kacamata, dia tampak menyipitkan mata, mencoba memfokuskan pandangan. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya, mungkin karena terkejut atau... hal lain. "Ngapain di situ?"

Pertanyaan itu menarik Riana kembali ke realitas. Oh ya, dia baru saja tertangkap basah menguping.

Sebagai wanita dewasa yang berpengalaman menghadapi berbagai jenis pria, Riana tahu satu aturan emas: Saat terpojok, jangan pernah mundur. Serang balik.

Riana menegakkan tubuhnya, menarik kembali topeng "Ibu Kos Genit" yang menjadi andalannya. Ia melengkungkan senyum miring, matanya dengan sengaja ia gulirkan dari wajah Galih, turun ke dada, perut, lalu kembali ke mata pemuda itu dengan lambat.

"Tante cuma mastiin kamu nggak kenapa-napa, Ganteng," kata Riana, suaranya kembali manja dan serak. Ia mengangkat satu alis. "Soalnya dari luar kedengeran ribut banget. Kayak ada yang lagi... gulat."

Ia melihat jakun Galih bergerak naik turun. Kena kau.

Galih tidak menjawab. Tangannya yang satu lagi bergerak gelisah ke wajahnya, mencari kacamata yang tidak ada di sana. Gerakan kecil yang menunjukkan ketidakamanan. Bagus, pikir Riana. Si kelinci masih ada di dalam sana.

"Minggir dong. Tante mau masuk. Gerah nih di luar," kata Riana, tanpa menunggu izin.

Ia melangkah maju.

Galih tersentak. Secara refleks, tubuhnya mundur selangkah untuk menghindari kontak fisik dengan Riana yang merangsek masuk. Celah itu cukup. Riana menyelinap melewati tubuh berkeringat itu dan berhasil menyeberangi ambang pintu Kamar 101.

Riana masuk ke dalam sarang sang perjaka.

Kesan pertama: Dingin. AC-nya diatur di suhu terendah.

Kesan kedua: Rapi yang nyaris obsesif.

Tidak ada bungkus mi instan, tidak ada pakaian kotor yang berserakan. Kamar itu berbau antiseptik dan sedikit bau logam elektronik yang panas. Di meja kerja yang besar, dua monitor besar menyala, tapi layarnya gelap gulita. Hanya ada satu lampu kecil di CPU yang berkedip-kedip biru, seperti mata robot yang mengawasi.

Riana berbalik, menghadap Galih yang masih berdiri di dekat pintu, tampak bingung harus bersikap bagaimana. Pemuda itu akhirnya menemukan kacamatanya di atas meja nakas dan buru-buru memakainya.

Begitu bingkai itu kembali ke wajahnya, bahu Galih sedikit rileks. Perisainya sudah kembali.

"Mbak, ini sudah jam dua pagi," kata Galih, suaranya kembali kaku dan formal. Ia berdiri di sana, setengah telanjang, mencoba bersikap sopan pada wanita yang baru saja menerobos privasinya. Kontras yang menggelikan. "Ada perlu apa sebenarnya? Kalau soal iuran, saya sudah transfer."

Riana tertawa kecil. Tawa yang renyah, yang ia tahu bisa membuat pria merasa bodoh.

Ia berjalan perlahan mengelilingi kamar yang sempit itu. Jemarinya yang lentik, dengan kuku bercat merah darah, menyentuh pinggiran meja kerja Galih. Ia merasakan ketegangan Galih meningkat setiap kali ia menyentuh barang-barang pribadinya.

"Bukan soal iuran, Sayang," kata Riana. Ia berhenti tepat di depan kursi kerja Galih. Kursi itu masih hangat. Ia melirik ke arah monitor yang gelap. "Tante cuma penasaran sama hobi malam kamu."

Galih diam. Rahangnya mengeras.

"Tadi itu suaranya... intens banget," lanjut Riana, memelankan suaranya menjadi bisikan konspiratif. Ia menatap Galih dari balik bahunya. "Filmnya seru ya? Aktornya semangat banget kayaknya."

Wajah Galih, yang biasanya pucat di bawah lampu neon, kini merona merah padam. Bukan merah karena malu ala anak SMP, tapi merah karena marah yang tertahan.

"Mbak Riana, tolong keluar." Galih menunjuk pintu. Nadanya tegas, tapi ada getaran halus di sana.

Riana mengabaikan perintah itu. Ia justru merasa menang. Ia suka melihat Galih yang tenang ini terusik.

"Kenapa sih? Malu sama Tante?" Riana melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Ruangan itu terlalu kecil untuk dua orang dengan ketegangan setinggi ini. "Wajar kok laki-laki seumur kamu punya... kebutuhan."

Mata Riana kembali jatuh ke tubuh Galih yang berkeringat. Jarak mereka kini hanya setengah meter. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari kulit pemuda itu.

Sesuatu yang aneh terjadi pada Riana. Niat awalnya hanya ingin menggoda dan membuat Galih malu, tapi sekarang, melihat dada bidang yang naik turun di depannya, merasakan atmosfer kamar yang sarat dengan sisa-sisa gairah... Riana merasakan perut bagian bawahnya sendiri berkedut.

Ia kesepian. Ia haus sentuhan. Dan di depannya ada seorang pria muda yang jelas-jelas juga sedang 'ingin'.

Ide gila itu muncul begitu saja di kepalanya. Liar, impulsif, dan sangat berbahaya.

Galih masih menunjuk pintu, meski tangannya mulai goyah. "Keluar, Mbak. Sekarang."

Riana tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, tidak ada ejekan di sana. Hanya ada tantangan murni.

Alih-alih berjalan keluar, Riana mundur selangkah, meraih gagang pintu di belakang punggung Galih.

Dan menutupnya dari dalam.

Klik.

Suara kunci slot yang diputar terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu.

Mata Galih membelalak di balik kacamatanya. Napasnya tertahan.

"Tontonan kamu berat juga ya ternyata," bisik Riana, suaranya serak dan rendah, menatap lurus ke mata Galih. "Tapi kamu tahu nggak, Galih? Nonton doang nggak akan bikin kamu pinter."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 11: Shock Therapy

    Cahaya matahari pukul sepuluh pagi menusuk masuk melalui celah tirai kamar Riana, terasa seperti jarum yang membangunkan paksa kesadarannya.Riana mengerjap, matanya terasa berat.Begitu ia bergerak sedikit untuk meregangkan tubuh, sensasi itu langsung menyerang. Rasa nyeri yang tumpul namun nikmat di pangkal paha, pegal di pergelangan tangan bekas kuncian jari yang kuat, dan jejak memar samar di pinggulnya.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja ditabrak truk. Atau lebih tepatnya, digilas oleh mesin penghancur bernama Galih Prasetyo.Ingatan kejadian di sofa ruang TV semalam membanjiri otaknya.Bukan sekadar seks. Itu adalah pernyataan perang yang dimenangkan telak oleh pihak lawan. Galih tidak membiarkan Riana bergerak satu inci pun tanpa izin. Pemuda itu mendikte napasnya, mengontrol suaranya, dan membawanya ke puncak demi puncak dengan presisi yang kejam, lalu menahannya di sana sampai Riana menangis memohon ampun.Riana meraba sisi tempat tidurnya.Kosong. Dingin.Sprei di sebel

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 10: Runtuhnya Dominasi Awal

    Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Suara ribuan titik air yang menghantam atap genteng dan kaca jendela menciptakan white noise yang memekakkan telinga, namun anehnya membuat suasana di dalam Ruang TV "Kos Executive Riana" terasa terisolasi dari dunia luar.Pukul sepuluh malam.Layar televisi 60 inci menyala, menampilkan adegan kejar-kejaran mobil dari film aksi generik di Netflix. Cahaya biru dari layar berkedip-kedip, menerangi wajah dua orang yang duduk di sofa panjang.Riana duduk di ujung kiri. Galih di ujung kanan. Ada jarak kosong satu meter di antara mereka—sebuah jurang pemisah yang terasa dingin.Riana mengetuk-ngetukkan kuku jarinya yang baru dicat ulang ke lengan sofa. Tak. Tak. Tak. Iramanya tidak sabaran.Ia bosan.Bukan bosan karena filmnya. Ia bosan karena situasi ini. Setelah "sesi panas" kemarin malam yang digantung begitu saja, Riana berharap malam ini akan ada aksi lanjutan. Tapi Galih—si Profesor Cinta dadakan itu—malah mengajaknya nonton film action."Anali

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 9: Anatomi Rasa

    Suara kunci berputar di pintu penghubung dapur terdengar sangat pelan. Nyaris tak tertangkap telinga jika bukan karena keheningan total yang menyelimuti rumah induk Riana.Pukul 22.05 WIB.Riana tidak sedang di kamar tidur. Ia duduk di sofa beludru navy di ruang tengah yang remang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu standing lamp di sudut ruangan, menciptakan lingkaran cahaya kuning hangat yang intim.Ia mendengar langkah kaki mendekat. Langkah yang ringan, hati-hati, namun pasti.Sosok Galih muncul dari balik bayangan lorong dapur.Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas badan dan celana training abu-abu. Rambutnya sedikit basah, tanda ia baru mandi lagi. Di tangan kanannya, ia memegang kunci cadangan yang Riana jatuhkan tadi sore.Galih berjalan mendekat ke meja kopi di depan sofa. Ia meletakkan kunci itu di atas meja kaca.Tring."Kode diterima," kata Galih datar.Riana tersenyum, menyilangkan kakinya. "Pintar. Tante kira kamu nggak peka sama kode.""Saya programmer, Riana. Hid

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 8: Gangguan Eksternal

    Riana bangun dengan perasaan seperti pecandu yang sakaw.Tubuhnya pegal, bukan karena olahraga, tapi karena ketegangan otot yang tidak tuntas semalam. Bayangan bibir Galih dan cara pemuda itu meninggalkannya begitu saja di puncak gairah terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sialan. Awas kamu, Kelinci.Sore itu, Riana memutuskan untuk melancarkan serangan balasan. Jika Galih ingin bermain "tarik ulur", Riana akan bermain "pamer".Ia berdandan maksimal. Bukan dengan lingerie tentu saja—itu terlalu murahan untuk sore hari—tapi dengan sundress floral selutut dengan potongan leher halter neck yang mengekspos bahu mulusnya. Rambutnya digerai badai. Parfum Chanel No. 5 disemprotkan di titik-titik nadi strategis: leher, pergelangan tangan, dan belakang lutut.Ia baru saja hendak melangkah ke teras untuk "inspeksi sore" rutinnya, ketika suara knalpot motor racing memekakkan telinga memecah ketenangan komplek.Brum! Brum! Bleyer!Riana meringis. Ia kenal suara motor norak itu.Sebuah

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 7: Ciuman Teoretis

    Jarak wajah mereka kurang dari sepuluh sentimeter.Riana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di lensa kacamata Galih. Ia melihat wanita yang bibirnya sedikit terbuka, menanti, dengan napas yang tertahan di tenggorokan."Oke, Profesor," ulang Riana, mencoba mencairkan ketegangan yang mencekik lehernya. Tangannya bergerak naik, melingkar di leher Galih, menarik pemuda itu mendekat. "Ajarin Tante. Jangan cuma ngomong soal sudut dan—"Riana memajukan wajahnya, berniat menempelkan bibirnya ke bibir Galih dengan gaya agresif yang biasa ia lakukan. Ia ingin mendominasi ciuman pertama ini. Ia ingin membuat Galih kewalahan.Namun, sebelum bibir mereka bersentuhan, tangan besar Galih menangkup rahang Riana.Gerakannya bukan menahan, tapi mengoreksi.Ibu jari Galih menekan lembut dagu Riana, memutar wajah wanita itu sedikit ke kiri."Jangan buru-buru," bisik Galih. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seintim ini. "Posisi kepala Mbak terlalu frontal. Hidung kita akan bertabrakan. Itu

  • Janda Kembang Menggoda Perjaka    BAB 6: Persiapan Sang Murid

    Pukul 21.00 WIB. Satu jam menuju tenggat waktu.Kamar 101 hening, tapi aktivitas di dalamnya berjalan secepat putaran prosesor overclocked.Galih duduk tegak di depan meja kerjanya. Kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tiga tab browser yang terbuka berdampingan. Tidak ada video tidak senonoh malam ini. Yang ada adalah diagram anatomi, artikel psikologi perilaku, dan forum diskusi tertutup tentang kinbaku (seni tali-temali Jepang) yang ia baca hanya untuk referensi estetika.Di atas meja, buku catatan kulit hitamnya terbuka. Galih menulis poin-poin penting dengan pena tinta gel 0.3mm. Tulisannya kecil, tajam, dan terstruktur.Misi: Sesi 1 - Eksplorasi & Kalibrasi.Objektif: Memetakan zona erogen subjek (Riana).Metode: Sentuhan bertahap (Gradual touch). Mulai dari non-seksual ke seksual.Variabel Risiko: Kecanggunggan awal, hipersensitivitas subjek, ejakulasi dini (Probabilitas: 40% - Mitigasi: Latihan pernapasan 4-7-8).Galih berhenti menulis. Ia menatap poin terakhir dengan kenin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status