INICIAR SESIÓNMatahari pagi menembus jendela dapur "Kos Executive Riana", jatuh tepat di atas meja marmer hitam, menyoroti partikel debu yang menari-nari di udara.
Pukul tujuh pagi.
Riana duduk di kursi bar yang tinggi, memutar-mutar gagang cangkir kopinya yang masih mengepul. Ia mengenakan robe tidur sutra berwarna champagne yang menutupi tubuhnya dengan sopan—jauh lebih sopan daripada daster merah marun semalam. Wajahnya sudah dipulas makeup tipis natural, cukup untuk menutupi lingkaran hitam di bawah mata akibat kurang tidur.
Di seberang meja dapur, Galih berdiri membelakangi Riana.
Anak itu sedang menyeduh kopi.
Bukan kopi sachet murahan. Galih menggunakan alat V60 manual brew miliknya sendiri. Gerakannya metodis dan presisi seperti robot. Tangan kanannya menuangkan air panas dari teko leher angsa dengan gerakan memutar yang stabil, sementara tangan kirinya memegang timer.
Sialan, batin Riana. Kenapa cara dia nuang air aja kelihatan seksi?
Ingatan kejadian lima jam yang lalu kembali menyengat Riana.
Saat tangan Galih menarik pinggangnya kasar. Saat tubuh mereka bertabrakan. Saat Riana sudah memejamkan mata, siap menerima ciuman liar yang akan menghapus kewarasannya...
Galih berhenti.
Pemuda itu tidak menciumnya. Ia hanya menahan Riana dalam pelukannya selama sepuluh detik yang menyiksa, membiarkan Riana merasakan kekerasan ereksinya yang menekan perut Riana, lalu... melepaskannya.
"Tidurlah, Mbak. Mbak sedang mabuk kesepian. Saya nggak mau memanfaatkan situasi," bisik Galih saat itu, lalu membuka pintu kamar dan menyuruh Riana keluar dengan sopan namun tegas.
Penolakan halus itu lebih menyakitkan daripada tamparan. Riana merasa ditelanjangi, lalu diselimuti kembali karena dianggap "belum siap". Harga dirinya sebagai wanita penggoda tercabik-cabik.
"Kopi."
Suara bariton Galih memecah lamunan Riana.
Sebuah server kaca berisi kopi hitam pekat diletakkan di depan Riana. Galih duduk di kursi seberang, kembali mengenakan "seragam" hariannya: kaos oblong longgar dan kacamata tebal. Mode Introvert sudah aktif kembali.
Riana menatap kopi itu, lalu menatap Galih. "Saya nggak pesen kopi."
"Itu Arabica Gayo. Acidity-nya rendah. Bagus buat orang yang begadang dan emosinya nggak stabil," jawab Galih datar, tanpa menatap mata Riana. Ia sibuk mengoles selai kacang ke roti tawarnya dengan presisi milimeter yang menjengkelkan.
Riana mendengus. "Kamu lagi nyindir Tante soal semalam?"
Tangan Galih berhenti bergerak sejenak. "Saya nggak nyindir. Saya cuma observasi fakta."
"Observasi," ulang Riana dengan nada mencemooh. Ia menyesap kopi itu. Enak. Sialan, enak banget. "Kamu dan istilah-istilah kaku kamu itu. Kamu pikir semalam itu apa? Eksperimen laboratorium?"
Galih akhirnya mengangkat wajah. Di balik lensa kacamatanya, matanya terlihat lelah namun tenang. "Semalam itu hampir kesalahan, Mbak. Kita berdua sama-sama... overheated. Kalau dilanjutin tanpa terms and conditions yang jelas, nanti jadi rumit. Mbak itu Ibu Kos, saya penyewa. Ada hierarki yang dilanggar."
Riana meletakkan cangkirnya dengan bunyi tak yang keras.
"Kamu sok tua banget sih, Bocah," Riana memajukan tubuhnya. "Kamu nahan diri bukan karena hierarki. Kamu nahan diri karena kamu takut, kan? Kamu takut nggak bisa muasin Tante karena referensi kamu cuma dari layar laptop."
Tembakan tepat sasaran.
Rahang Galih mengeras. Roti tawar di tangannya sedikit penyok karena cengkeraman jarinya.
Riana tersenyum miring. Ia tahu ia menang ronde ini. Ia mengambil selembar tisu makan dari kotak di meja, lalu merogoh tas tangannya untuk mengambil pulpen mahal yang selalu ia bawa.
"Gini aja," kata Riana, suaranya berubah menjadi nada bisnis yang biasa ia gunakan saat tawar-menawar harga tanah. "Kita buat kesepakatan. Win-win solution."
Riana mulai menulis di atas tisu yang lembut itu. Tintanya sedikit merembes.
"Kamu butuh praktik nyata buat skripsi 'biologi' kamu itu. Dan Tante..." Riana menjeda sebentar, matanya berkilat nakal, "...Tante butuh hiburan yang berkualitas. Tante butuh laki-laki yang penurut, bersih, dan aman. Kamu memenuhi kriteria itu."
Riana menyodorkan tisu itu ke hadapan Galih.
Di sana tertulis dengan tulisan sambung yang elegan:
SURAT PERJANJIAN KERJASAMA
Pihak 1 (Mentor): Riana Wijaya
Pihak 2 (Murid): Galih Prasetyo
Objek Kerjasama: Pelatihan Praktik & Rekreasi Dewasa.
Syarat:
Rahasia (Area Kos Only).
Pihak 2 wajib menuruti instruksi Pihak 1.
Tidak boleh baper (Bawa Perasaan).
Galih membaca tulisan itu. Alisnya berkerut dalam. Ia terlihat seperti sedang membaca bug report yang fatal dalam kodingannya.
"Ini konyol," komentar Galih.
"Takut?" tantang Riana. "Katanya mau belajar? Tante ahli lho. Mantan suami Tante emang brengsek, tapi Tante belajar banyak soal apa yang wanita mau dari kegagalan dia. Tante bisa ajarin kamu jadi... Master."
Kata Master itu menggantung di udara.
Galih menatap Riana lama. Otaknya berhitung. Logikanya berteriak BAHAYA. Tapi insting purbanya—insting yang semalam bangkit dan meraung minta diberi makan—berteriak AMBIL.
Ini adalah kesempatan emas. Akses langsung ke objek fantasinya, dengan dalih "belajar". Galih tahu ia tidak berpengalaman, tapi ia pembelajar yang cepat. Jika Riana ingin bermain guru-guruan, Galih akan menjadi murid terbaik yang pernah wanita itu miliki. Sampai sang murid melampaui gurunya.
Galih mengambil pulpen dari tangan Riana. Jari mereka bersentuhan lagi. Kali ini, Galih tidak menarik tangannya.
"Ada satu syarat tambahan," kata Galih. Suaranya rendah.
"Apa?" Riana mengangkat dagu.
Galih menuliskan poin nomor 4 di bawah tulisan Riana. Tulisan Galih kecil-kecil, tegak, dan kaku.
Jangan berhenti di tengah jalan. (No quitting until finish).
Galih memutar tisu itu kembali ke arah Riana.
"Kalau saya mulai, saya harus selesaikan, Mbak. Saya perfeksionis. Jadi kalau Mbak di tengah jalan nyerah atau nggak kuat... itu bukan opsi," kata Galih datar. Ada peringatan tersembunyi di matanya yang membuat perut Riana berdesir ngeri sekaligus nikmat.
Riana menatap poin nomor 4 itu. Ia tertawa kecil, meremehkan. "Nyerah? Sama kamu? Dream on, Baby."
Riana mengulurkan tangan kanannya. "Sepakat?"
Galih menatap tangan halus itu sejenak. Ia meletakkan rotinya, membersihkan remah di tangannya, lalu menyambut jabat tangan Riana.
Genggaman tangan Galih besar, hangat, dan kasar. Ia tidak mengguncangnya, hanya menahannya.
"Sepakat," jawab Galih.
Saat itu juga, Riana merasa ia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis yang menyamar jadi malaikat pendiam. Tapi ia tidak peduli. Adrenalinnya sudah terpacu.
"Mulai kapan kelasnya?" tanya Galih, melepaskan tangan Riana dan kembali menyesap kopinya dengan santai, seolah transaksi barusan hanyalah soal jual beli kerupuk.
Riana tersenyum, menggigit bibir bawahnya pelan.
"Nanti malam. Jam 10. Di kamar Tante," bisik Riana. Ia turun dari kursi bar, melangkah mendekati Galih, dan membisikkan kalimat penutup tepat di samping telinga pemuda itu. "Jangan lupa bawa 'teori' kamu. Kita lihat, seberapa pintarnya kamu."
Riana melenggang pergi meninggalkan dapur, pinggulnya bergoyang seirama dengan langkah kakinya yang ringan.
Galih tetap duduk diam. Ia menunggu sampai suara langkah Riana menghilang di tangga.
Setelah hening, Galih perlahan melepaskan kacamata dari wajahnya. Ia meletakkannya di atas meja, di samping tisu kontrak itu.
Ia menghela napas panjang, lalu memijat pangkal hidungnya. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena lonjakan gairah yang ia tahan mati-matian sejak tadi.
Galih mengambil tisu itu, melipatnya rapi menjadi persegi kecil, dan memasukkannya ke saku celana.
"Mentor," gumam Galih pada cangkir kopinya yang hitam pekat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang jarang terlihat. Senyum predator yang baru saja mendapat izin berburu. "Kita lihat siapa yang bakal diajarin siapa, Riana."
Cahaya matahari pukul sepuluh pagi menusuk masuk melalui celah tirai kamar Riana, terasa seperti jarum yang membangunkan paksa kesadarannya.Riana mengerjap, matanya terasa berat.Begitu ia bergerak sedikit untuk meregangkan tubuh, sensasi itu langsung menyerang. Rasa nyeri yang tumpul namun nikmat di pangkal paha, pegal di pergelangan tangan bekas kuncian jari yang kuat, dan jejak memar samar di pinggulnya.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja ditabrak truk. Atau lebih tepatnya, digilas oleh mesin penghancur bernama Galih Prasetyo.Ingatan kejadian di sofa ruang TV semalam membanjiri otaknya.Bukan sekadar seks. Itu adalah pernyataan perang yang dimenangkan telak oleh pihak lawan. Galih tidak membiarkan Riana bergerak satu inci pun tanpa izin. Pemuda itu mendikte napasnya, mengontrol suaranya, dan membawanya ke puncak demi puncak dengan presisi yang kejam, lalu menahannya di sana sampai Riana menangis memohon ampun.Riana meraba sisi tempat tidurnya.Kosong. Dingin.Sprei di sebel
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Suara ribuan titik air yang menghantam atap genteng dan kaca jendela menciptakan white noise yang memekakkan telinga, namun anehnya membuat suasana di dalam Ruang TV "Kos Executive Riana" terasa terisolasi dari dunia luar.Pukul sepuluh malam.Layar televisi 60 inci menyala, menampilkan adegan kejar-kejaran mobil dari film aksi generik di Netflix. Cahaya biru dari layar berkedip-kedip, menerangi wajah dua orang yang duduk di sofa panjang.Riana duduk di ujung kiri. Galih di ujung kanan. Ada jarak kosong satu meter di antara mereka—sebuah jurang pemisah yang terasa dingin.Riana mengetuk-ngetukkan kuku jarinya yang baru dicat ulang ke lengan sofa. Tak. Tak. Tak. Iramanya tidak sabaran.Ia bosan.Bukan bosan karena filmnya. Ia bosan karena situasi ini. Setelah "sesi panas" kemarin malam yang digantung begitu saja, Riana berharap malam ini akan ada aksi lanjutan. Tapi Galih—si Profesor Cinta dadakan itu—malah mengajaknya nonton film action."Anali
Suara kunci berputar di pintu penghubung dapur terdengar sangat pelan. Nyaris tak tertangkap telinga jika bukan karena keheningan total yang menyelimuti rumah induk Riana.Pukul 22.05 WIB.Riana tidak sedang di kamar tidur. Ia duduk di sofa beludru navy di ruang tengah yang remang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu standing lamp di sudut ruangan, menciptakan lingkaran cahaya kuning hangat yang intim.Ia mendengar langkah kaki mendekat. Langkah yang ringan, hati-hati, namun pasti.Sosok Galih muncul dari balik bayangan lorong dapur.Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas badan dan celana training abu-abu. Rambutnya sedikit basah, tanda ia baru mandi lagi. Di tangan kanannya, ia memegang kunci cadangan yang Riana jatuhkan tadi sore.Galih berjalan mendekat ke meja kopi di depan sofa. Ia meletakkan kunci itu di atas meja kaca.Tring."Kode diterima," kata Galih datar.Riana tersenyum, menyilangkan kakinya. "Pintar. Tante kira kamu nggak peka sama kode.""Saya programmer, Riana. Hid
Riana bangun dengan perasaan seperti pecandu yang sakaw.Tubuhnya pegal, bukan karena olahraga, tapi karena ketegangan otot yang tidak tuntas semalam. Bayangan bibir Galih dan cara pemuda itu meninggalkannya begitu saja di puncak gairah terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sialan. Awas kamu, Kelinci.Sore itu, Riana memutuskan untuk melancarkan serangan balasan. Jika Galih ingin bermain "tarik ulur", Riana akan bermain "pamer".Ia berdandan maksimal. Bukan dengan lingerie tentu saja—itu terlalu murahan untuk sore hari—tapi dengan sundress floral selutut dengan potongan leher halter neck yang mengekspos bahu mulusnya. Rambutnya digerai badai. Parfum Chanel No. 5 disemprotkan di titik-titik nadi strategis: leher, pergelangan tangan, dan belakang lutut.Ia baru saja hendak melangkah ke teras untuk "inspeksi sore" rutinnya, ketika suara knalpot motor racing memekakkan telinga memecah ketenangan komplek.Brum! Brum! Bleyer!Riana meringis. Ia kenal suara motor norak itu.Sebuah
Jarak wajah mereka kurang dari sepuluh sentimeter.Riana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di lensa kacamata Galih. Ia melihat wanita yang bibirnya sedikit terbuka, menanti, dengan napas yang tertahan di tenggorokan."Oke, Profesor," ulang Riana, mencoba mencairkan ketegangan yang mencekik lehernya. Tangannya bergerak naik, melingkar di leher Galih, menarik pemuda itu mendekat. "Ajarin Tante. Jangan cuma ngomong soal sudut dan—"Riana memajukan wajahnya, berniat menempelkan bibirnya ke bibir Galih dengan gaya agresif yang biasa ia lakukan. Ia ingin mendominasi ciuman pertama ini. Ia ingin membuat Galih kewalahan.Namun, sebelum bibir mereka bersentuhan, tangan besar Galih menangkup rahang Riana.Gerakannya bukan menahan, tapi mengoreksi.Ibu jari Galih menekan lembut dagu Riana, memutar wajah wanita itu sedikit ke kiri."Jangan buru-buru," bisik Galih. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seintim ini. "Posisi kepala Mbak terlalu frontal. Hidung kita akan bertabrakan. Itu
Pukul 21.00 WIB. Satu jam menuju tenggat waktu.Kamar 101 hening, tapi aktivitas di dalamnya berjalan secepat putaran prosesor overclocked.Galih duduk tegak di depan meja kerjanya. Kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tiga tab browser yang terbuka berdampingan. Tidak ada video tidak senonoh malam ini. Yang ada adalah diagram anatomi, artikel psikologi perilaku, dan forum diskusi tertutup tentang kinbaku (seni tali-temali Jepang) yang ia baca hanya untuk referensi estetika.Di atas meja, buku catatan kulit hitamnya terbuka. Galih menulis poin-poin penting dengan pena tinta gel 0.3mm. Tulisannya kecil, tajam, dan terstruktur.Misi: Sesi 1 - Eksplorasi & Kalibrasi.Objektif: Memetakan zona erogen subjek (Riana).Metode: Sentuhan bertahap (Gradual touch). Mulai dari non-seksual ke seksual.Variabel Risiko: Kecanggunggan awal, hipersensitivitas subjek, ejakulasi dini (Probabilitas: 40% - Mitigasi: Latihan pernapasan 4-7-8).Galih berhenti menulis. Ia menatap poin terakhir dengan kenin







