MasukSuara klik dari kunci pintu itu bergema aneh, seolah memantul puluhan kali di dinding kamar yang sempit.
Bagi Galih, suara itu seperti suara picu senjata yang ditarik.
Ia mundur selangkah lagi, hingga pantatnya menabrak pinggiran meja kerjanya yang keras. Tidak ada lagi jalan lari. Di belakangnya adalah benteng teknologi yang panas; di depannya adalah Riana—wanita yang selama tiga bulan ini hanya berani ia jamah dalam piksel imajinasi, kini berdiri nyata dalam balutan satin merah yang mematikan.
"Mbak... buka kuncinya," suara Galih terdengar parau. Tenggorokannya terasa seperti diisi pasir.
"Kenapa?" Riana memiringkan kepala. Anak rambut yang basah di lehernya menempel sensual. "Takut Tante apa-apain? Tenang aja, Tante nggak gigit kok. Kecuali kalau diminta."
Riana melangkah maju. Satu langkah pelan yang penuh intimidasi.
Ruangan 3x4 meter itu mendadak terasa sesak. Oksigen menipis, digantikan oleh feromon yang pekat. Galih bisa melihat dengan jelas pori-pori kulit wajah Riana yang halus, sapuan bedak tipis yang sudah luntur, dan—sialan—tahi lalat kecil di atas bibirnya yang selalu menjadi fokus fantasi Galih di jam-jam sepi.
Galih mencengkeram pinggiran meja di belakang punggungnya. Buku-buku jarinya memutih. Ia bukan takut pada Riana. Ia takut pada dirinya sendiri.
Kendalinya sedang diuji. Logika binernya—1 atau 0, Ya atau Tidak—sedang mengalami glitch parah. Bagian otak reptilnya berteriak untuk menerkam, untuk merobek satin tipis itu dan membuktikan bahwa teori anatomi yang ia pelajari lebih dari sekadar data. Tapi bagian rasionalnya menahan sekuat tenaga. Jangan rusak hidupmu, Galih. Dia Ibu Kos. Dia terlarang.
Riana melihat ketegangan itu. Dan seperti dugaan, ia salah mengartikannya.
Riana mengira Galih gemetar karena gugup. Karena belum pernah sedekat ini dengan wanita.
"Ya ampun, kamu gemeteran, Ganteng?" Riana terkekeh pelan. Tangannya terulur, menyentuh dada bidang Galih yang telanjang.
Kulit bertemu kulit.
Sengatan listrik statis menjalar dari ujung jari Riana, menembus kulit dada Galih, langsung menghantam pusat sarafnya. Galih tersentak, menahan napas tajam.
Tangan Riana tidak berhenti. Jemarinya yang dingin menelusuri otot dada Galih, merasakan detak jantung pemuda itu yang memukul-mukul tulang rusuk seperti genderang perang.
Dug. Dug. Dug.
"Jantung kamu jujur banget," bisik Riana. Ia mendongak, menatap mata Galih dari balik kacamatanya. "Mulut kamu bisa nyuruh Tante pergi, tapi badan kamu bilang... 'jangan berhenti'."
"Jangan main-main, Mbak," geram Galih. Matanya menggelap. "Mbak nggak tahu apa yang Mbak lakuin."
"Oh, Tante tahu persis," Riana semakin berani. Ia merasakan sensasi kuasa yang memabukkan. Di luar sana, ia adalah janda yang dicampakkan. Di sini, di kamar sempit ini, ia adalah dewi yang dipuja oleh pemuda yang tak berdaya.
Riana melirik ke arah monitor yang gelap di belakang Galih, lalu kembali menatap mata pemuda itu.
"Tadi kamu bilang teorinya sampah, kan? Kamu frustrasi sama videonya?" Riana mendekatkan wajahnya. Hembusan napas hangatnya menerpa dagu Galih. "Kasihan banget sih, anak manis. Cuma bisa nonton orang lain enak-enak, sambil sendirian di kamar dingin ini."
Kata-kata itu tajam, menusuk ego laki-laki Galih tepat di ulu hati.
Rahang Galih mengeras. Urat di lehernya menonjol. Riana sedang bermain api di atas bensin.
"Mbak pikir saya nggak bisa apa-apa?" tantang Galih pelan. Suaranya berubah. Tidak ada lagi nada sopan santun anak kos. Suara itu dalam, bergetar di frekuensi rendah yang membuat perut Riana mulas.
Riana tersenyum meremehkan. "Emang bisa apa? Paling cuma teori doang. Hafal posisi tapi nggak pernah praktek, apa gunanya?"
Tangan Riana turun dari dada, merambat berani menuju perut kotak-kotak Galih yang mengeras. Ia ingin melihat seberapa jauh ia bisa mendorong "kelinci" ini sebelum lari kembali ke lubangnya.
"Mbak..." Galih memperingatkan lagi. Kali ini tangannya bergerak cepat, menangkap pergelangan tangan Riana.
Cengkeraman itu kuat. Sangat kuat.
Riana terkesiap. Itu bukan pegangan orang yang ragu-ragu. Jemari besar Galih mengunci pergelangan tangannya seperti borgol besi. Panas telapak tangan Galih membakar kulitnya.
Untuk sedetik, senyum Riana goyah. Ia melihat sesuatu di balik lensa kacamata itu. Kilatan dominasi yang asing. Galih tidak menunduk. Galih menatapnya lurus, tajam, seolah sedang menganalisis titik lemah mangsanya.
Tapi Riana adalah pemain veteran. Ia tidak boleh kalah gertak. Ia justru mendekatkan tubuhnya, menempelkan dada mereka hingga tidak ada jarak tersisa. Ia bisa merasakan kekerasan otot tubuh Galih, dan... reaksi lain di bawah sana yang tidak bisa disembunyikan oleh celana jins lusuh itu.
"Lepasin, Galih," kata Riana, tapi nadanya tidak menyuruh, melainkan mengundang. "Atau kamu mau buktiin sesuatu?"
Galih menatap bibir Riana. Bibir yang basah, merah, dan penuh ejekan. Otaknya berputar cepat memanggil memori file video #A441: Dominant Female Subverted.
Perlahan, Galih melepaskan cengkeramannya. Tapi ia tidak mundur. Ia justru membiarkan tangannya menggantung di udara, hanya satu senti dari pinggang Riana. Gerakan menahan diri yang menyiksa.
"Saya bukan mainan Mbak Riana," ucap Galih datar. "Kalau Mbak cari hiburan, cari di luar. Banyak om-om kaya yang antri."
Riana tertawa getir. "Mereka cuma mau tubuh Tante, Galih. Mereka nggak lihat Tante."
"Terus Mbak pikir saya lihat Mbak?" potong Galih cepat. "Saya juga cuma laki-laki, Mbak. Di mata saya sekarang, Mbak bukan Ibu Kos. Mbak cuma wanita yang masuk kamar laki-laki jam dua pagi pakai baju tidur tipis."
Kalimat itu brutal. Jujur. Tanpa filter.
Riana terdiam. Senyumnya lenyap. Tapi anehnya, ia tidak tersinggung. Ia justru merasa... dilihat. Diakui sebagai objek hasrat yang nyata, bukan sekadar trofi pajangan.
Keheningan menyelimuti mereka lagi. Tapi kali ini bukan hening yang canggung. Ini hening sebelum badai. Atmosfer di ruangan itu begitu padat hingga rasanya bisa diiris dengan pisau.
Riana menjilat bibir bawahnya yang mendadak kering. Ia sadar ia sudah melangkah terlalu jauh untuk mundur. Ia tidak mau kembali ke kamarnya yang dingin dan sepi. Ia lebih memilih bahaya di kamar ini.
Riana berjinjit sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Galih. Ia menghembuskan napas pelan di sana, membuat bahu tegap Galih tersentak kaget.
"Kalau gitu, berhenti jadi penonton, Galih," bisik Riana, suaranya mengandung racun yang manis.
Tangan Riana bergerak liar, menyusup ke balik rambut belakang Galih, menarik pelan kepala pemuda itu agar menunduk.
"Daripada cuma nonton pixel pecah di layar kamu itu..." Riana memberi jeda, memastikan setiap kata menancap dalam di otak jenius Galih. "...mau lihat yang resolusi 4K? Live action?"
Mata Galih melebar di balik kacamatanya.
Tawaran itu sudah diletakkan di atas meja. Kartu sudah dibuka. Tidak ada lagi jalan kembali ke hubungan sopan santun "Ibu Kos dan Anak Kos".
Riana menunggu jawaban.
Dan jawaban yang ia dapatkan bukan berupa kata-kata.
Melainkan bunyi napas Galih yang tertahan, dan tangan besar pemuda itu yang akhirnya, akhirnya, mendarat di pinggang ramping Riana. Menariknya kasar hingga pinggul mereka bertabrakan.
Cahaya matahari pukul sepuluh pagi menusuk masuk melalui celah tirai kamar Riana, terasa seperti jarum yang membangunkan paksa kesadarannya.Riana mengerjap, matanya terasa berat.Begitu ia bergerak sedikit untuk meregangkan tubuh, sensasi itu langsung menyerang. Rasa nyeri yang tumpul namun nikmat di pangkal paha, pegal di pergelangan tangan bekas kuncian jari yang kuat, dan jejak memar samar di pinggulnya.Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja ditabrak truk. Atau lebih tepatnya, digilas oleh mesin penghancur bernama Galih Prasetyo.Ingatan kejadian di sofa ruang TV semalam membanjiri otaknya.Bukan sekadar seks. Itu adalah pernyataan perang yang dimenangkan telak oleh pihak lawan. Galih tidak membiarkan Riana bergerak satu inci pun tanpa izin. Pemuda itu mendikte napasnya, mengontrol suaranya, dan membawanya ke puncak demi puncak dengan presisi yang kejam, lalu menahannya di sana sampai Riana menangis memohon ampun.Riana meraba sisi tempat tidurnya.Kosong. Dingin.Sprei di sebel
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Suara ribuan titik air yang menghantam atap genteng dan kaca jendela menciptakan white noise yang memekakkan telinga, namun anehnya membuat suasana di dalam Ruang TV "Kos Executive Riana" terasa terisolasi dari dunia luar.Pukul sepuluh malam.Layar televisi 60 inci menyala, menampilkan adegan kejar-kejaran mobil dari film aksi generik di Netflix. Cahaya biru dari layar berkedip-kedip, menerangi wajah dua orang yang duduk di sofa panjang.Riana duduk di ujung kiri. Galih di ujung kanan. Ada jarak kosong satu meter di antara mereka—sebuah jurang pemisah yang terasa dingin.Riana mengetuk-ngetukkan kuku jarinya yang baru dicat ulang ke lengan sofa. Tak. Tak. Tak. Iramanya tidak sabaran.Ia bosan.Bukan bosan karena filmnya. Ia bosan karena situasi ini. Setelah "sesi panas" kemarin malam yang digantung begitu saja, Riana berharap malam ini akan ada aksi lanjutan. Tapi Galih—si Profesor Cinta dadakan itu—malah mengajaknya nonton film action."Anali
Suara kunci berputar di pintu penghubung dapur terdengar sangat pelan. Nyaris tak tertangkap telinga jika bukan karena keheningan total yang menyelimuti rumah induk Riana.Pukul 22.05 WIB.Riana tidak sedang di kamar tidur. Ia duduk di sofa beludru navy di ruang tengah yang remang. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu standing lamp di sudut ruangan, menciptakan lingkaran cahaya kuning hangat yang intim.Ia mendengar langkah kaki mendekat. Langkah yang ringan, hati-hati, namun pasti.Sosok Galih muncul dari balik bayangan lorong dapur.Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas badan dan celana training abu-abu. Rambutnya sedikit basah, tanda ia baru mandi lagi. Di tangan kanannya, ia memegang kunci cadangan yang Riana jatuhkan tadi sore.Galih berjalan mendekat ke meja kopi di depan sofa. Ia meletakkan kunci itu di atas meja kaca.Tring."Kode diterima," kata Galih datar.Riana tersenyum, menyilangkan kakinya. "Pintar. Tante kira kamu nggak peka sama kode.""Saya programmer, Riana. Hid
Riana bangun dengan perasaan seperti pecandu yang sakaw.Tubuhnya pegal, bukan karena olahraga, tapi karena ketegangan otot yang tidak tuntas semalam. Bayangan bibir Galih dan cara pemuda itu meninggalkannya begitu saja di puncak gairah terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Sialan. Awas kamu, Kelinci.Sore itu, Riana memutuskan untuk melancarkan serangan balasan. Jika Galih ingin bermain "tarik ulur", Riana akan bermain "pamer".Ia berdandan maksimal. Bukan dengan lingerie tentu saja—itu terlalu murahan untuk sore hari—tapi dengan sundress floral selutut dengan potongan leher halter neck yang mengekspos bahu mulusnya. Rambutnya digerai badai. Parfum Chanel No. 5 disemprotkan di titik-titik nadi strategis: leher, pergelangan tangan, dan belakang lutut.Ia baru saja hendak melangkah ke teras untuk "inspeksi sore" rutinnya, ketika suara knalpot motor racing memekakkan telinga memecah ketenangan komplek.Brum! Brum! Bleyer!Riana meringis. Ia kenal suara motor norak itu.Sebuah
Jarak wajah mereka kurang dari sepuluh sentimeter.Riana bisa melihat pantulan dirinya sendiri di lensa kacamata Galih. Ia melihat wanita yang bibirnya sedikit terbuka, menanti, dengan napas yang tertahan di tenggorokan."Oke, Profesor," ulang Riana, mencoba mencairkan ketegangan yang mencekik lehernya. Tangannya bergerak naik, melingkar di leher Galih, menarik pemuda itu mendekat. "Ajarin Tante. Jangan cuma ngomong soal sudut dan—"Riana memajukan wajahnya, berniat menempelkan bibirnya ke bibir Galih dengan gaya agresif yang biasa ia lakukan. Ia ingin mendominasi ciuman pertama ini. Ia ingin membuat Galih kewalahan.Namun, sebelum bibir mereka bersentuhan, tangan besar Galih menangkup rahang Riana.Gerakannya bukan menahan, tapi mengoreksi.Ibu jari Galih menekan lembut dagu Riana, memutar wajah wanita itu sedikit ke kiri."Jangan buru-buru," bisik Galih. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seintim ini. "Posisi kepala Mbak terlalu frontal. Hidung kita akan bertabrakan. Itu
Pukul 21.00 WIB. Satu jam menuju tenggat waktu.Kamar 101 hening, tapi aktivitas di dalamnya berjalan secepat putaran prosesor overclocked.Galih duduk tegak di depan meja kerjanya. Kacamatanya memantulkan cahaya biru dari tiga tab browser yang terbuka berdampingan. Tidak ada video tidak senonoh malam ini. Yang ada adalah diagram anatomi, artikel psikologi perilaku, dan forum diskusi tertutup tentang kinbaku (seni tali-temali Jepang) yang ia baca hanya untuk referensi estetika.Di atas meja, buku catatan kulit hitamnya terbuka. Galih menulis poin-poin penting dengan pena tinta gel 0.3mm. Tulisannya kecil, tajam, dan terstruktur.Misi: Sesi 1 - Eksplorasi & Kalibrasi.Objektif: Memetakan zona erogen subjek (Riana).Metode: Sentuhan bertahap (Gradual touch). Mulai dari non-seksual ke seksual.Variabel Risiko: Kecanggunggan awal, hipersensitivitas subjek, ejakulasi dini (Probabilitas: 40% - Mitigasi: Latihan pernapasan 4-7-8).Galih berhenti menulis. Ia menatap poin terakhir dengan kenin







