登入Bab 06
"Ah... Tuan... jangan..."
Desahan samar itu lolos begitu saja dari bibir Maya saat telapak tangan Julian yang lebar dan panas menyusup tajam, menyentuh kenyalan halus di dadanya.
Kain piyama sutra tipis itu seolah menguap tak berguna di antara jemari kekar Julian. Sensasi panas dari kulit pria itu membakar permukaan tubuh Maya, merambat cepat turun ke perut hingga memicu denyut aneh di lipatan pahanya.
Tubuh Maya melengkung pasrah. Sebagai wanita yang pernah terluka oleh masa lalu, ia berpikir tubuhnya sudah mati rasa terhadap sentuhan pria. Namun, cara Julian memegangnya—begitu dominan, intim, dan tanpa ampun—menghancurkan seluruh tembok pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun.
Jemari Julian memilin piyama sutra krem di pinggang Maya, memajukan pinggulnya hingga ketegangan keras di bawah sana menekan makin pekat di selangkangan Maya.
Napas pria itu memburu kasar di ceruk leher Maya, mengirimkan gelombang sengatan panas yang membuat kedua telapak tangan Maya refleks mencengkeram erat bahu kekar Julian yang bertelanjang.
Setiap inci saraf Maya sudah bersiap untuk kehancuran yang tak terelakkan. Ia memejamkan mata erat-erat, menanti saat di mana Julian akan merobek pakaian tipisnya dan mengambil apa yang memang sudah ia bayar mahal.
Namun... pergerakan itu mendadak terhenti.
Keheningan pekat seketika menguasai kamar raksasa itu. Usapan panas di dadanya tertahan kaku. Julian tidak bergerak.
Pria itu menempelkan dahi kekarnya di celah leher Maya, mendengus kasar dengan napas yang terengah-engah hebat. Seluruh otot di punggung dan bahunya menegang begitu keras, seolah pria itu sedang bertarung sengit melawan iblis di dalam kepalanya sendiri.
Maya perlahan membuka matanya yang berat dan berkaca-kaca. "T-Tuan...?"
Julian menarik napas panjang dan dalam melalui hidung, menghirup aroma tubuh Maya yang bercampur dengan wangi sabun basah. Perlahan, sangat perlahan, telapak tangan Julian yang tadinya bertengger di atas dada Maya bergerak turun, kembali merayap pelan ke pinggangnya—kali ini tanpa remasan yang menuntut.
Pria itu menengadahkan kepala. Iris mata gelapnya yang semula dipenuhi kilat lapar yang liar dan berbahaya kini perlahan-lahan meredup, menyisakan sisa-sisa kelelahan pekat dan rasionalitas yang dipaksa kembali.
"Belum waktunya," bisik Julian. Suaranya mengendap sangat rendah, serak, dan bergetar di dasar tenggorokan.
Maya terpaku, menatap wajah Julian dari jarak hanya beberapa sentimeter. "Apa...?"
Ibu jari Julian bergerak mengusap bibir bawah Maya yang agak bengkak dan gemetar. "Aku bisa mengambilmu malam ini juga kalau mau, Maya. Tapi aku tidak ingin kamu melayaniku dengan ketakutan seperti ini. Aku ingin kamu nyaman dulu di sisiku."
Dada Maya berdesir hebat. Kata-kata itu menghantam benaknya dengan dampak yang jauh lebih dahsyat daripada sentuhan fisik Julian tadi. Di balik sosok predator dingin yang ditakuti seluruh kota, pria ini memiliki standar dan kelembutan aneh yang tidak terduga.
Julian menghembuskan napas berat, menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang, lalu menarik tubuh Maya yang masih lemas untuk bergeser duduk bersamanya di atas kasur king-size yang empuk. Pria itu menyelonjorkan kakinya yang panjang, lalu melirik Maya yang masih terengah-engah menata detak jantungnya.
"Sekarang..." suara Julian melunak, kehilangan sedikit dari nada dominannya, "...apa kamu bisa memelukku dan bersenandung untukku?"
Maya menelan ludah, menatap Julian yang tampak kembali menyipitkan mata—pertanda desing sakit kepala kronisnya mulai berbisik lagi saat cengkeraman gairahnya mengendur. Maya mengangguk pelan. Tidak ada alasan untuk menolak permintaan yang begitu sederhana namun teramat rapuh itu.
"Bisa, Tuan..." bisik Maya halus.
Maya mendekatkan tubuhnya. Ia melingkarkan kedua lengan halus namun lenturnya di sekitar dada bidang Julian yang bertelanjang, membiarkan kehangatan tubuh mereka menyatu. Namun, saat Maya hendak menyesuaikan posisi duduknya agar nyaman, lututnya tersandung di atas lipatan selimut tebal.
Maya kehilangan keseimbangan.
"Ah—!"
Tubuh Maya tergelincir ke depan. Secara tak sengaja, gerakan mendadak itu membuat seluruh wajah dan hidung tajam Julian terperosok lurus, terbenam tepat di antara celah gumpalan buah dadanya yang terbalut piyama tipis.
Dunia seolah berhenti berputar seketika.
Napas hangat Julian yang tertahan menyambar langsung kulit area dada Maya yang terbuka. Kehangatan yang membakar itu menyengat pusat saraf Maya, membuat dadanya naik turun dengan sangat cepat.
Julian tidak langsung menjauh. Kontak mendadak dengan kelembutan yang menyerap aroma tubuh Maya membuat pria itu membeku. Napas Julian yang semula mulai teratur mendadak berubah berat dan patah-patah kembali. Di dalam celah piyama tipis itu, hidung Julian menyesap wangi kulit Maya yang begitu memabukkan, sementara bibirnya secara tidak sengaja menggesek permukaan halus di sana.
Merasakan sentuhan basah dan napas memburu pria itu persis di dadanya, jemari Maya secara refleks menyusup dan meremas erat rambut hitam Julian yang tebal.
"Tuan... ah..."
Julian tersenyum miring saat tatapan matanya menangkap kepasrahan yang mendalam di balik bening iris mata Maya.Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun, tangannya terulur ke samping, menekan tombol kendali di panel pintu. Kaca pembatas tebal berwarna gelap meluncur turun perlahan.Suara deru mesin di luar mendadak meredup, menyisakan ruang sempit yang makin menyergap dan mengisolasi kabin belakang dari area pengemudi di depan.Kini, tidak ada lagi dunia luar. Hanya ada dirinya dan Maya di dalam ruang sempit yang dipenuhi aroma parfum maskulinnya yang berat.Begitu pembatas itu terkunci rapat, Julian meraih kembali tengkuk Maya.Jemari kekarnya menyusup di antara helaian rambut hitam wanita itu, menekan
Sedari tadi Maya hanya menatap kosong ke luar jendela mobil yang membelah keheningan malam. Gaun hitam yang membalut tubuhnya terasa berat, seberat beban hampa yang kini mengimpit dadanya. Pemakaman Johan sudah selesai beberapa jam lalu, tetapi rasa kehilangan itu masih membekukan seluruh isi kepalanya.Di sampingnya, Julian duduk tegak. Tatapan pria itu tidak pernah benar-benar lepas dari sosok Maya."Kamu memikirkan kakakmu itu?" tanya Julian seraya merengkuh tubuh Maya, menariknya mendekat ke dalam pelukan hangatnya. "Kamu mau aku melakukan sesuatu untuknya?"Maya menggeleng pelan di dada Julian. Suaranya seolah tertahan di tenggorokan."Kenapa hubungan kalian tampak tidak baik?" tanya Julian lagi. Suaranya terdengar lembut dan perhatian, tetapi jemari kekarnya mengus
"Ayah...!"Jeritan Maya pecah di tengah lorong yang mendadak terasa mencekam. Tanpa berpikir panjang, ia menerobos masuk ke dalam ruang ICU, menepis setiap ketakutan dan batas steril yang biasanya dijaga ketat.Di dalam ruangan, tim medis bergerak kacau. Dokter spesialis menekan dada Johan berulang kali dengan metode resusitasi jantung paru (CPR), sementara perawat lain sibuk menyiapkan alat pacu jantung (defibrillator) dan mengganti kantong darah yang terus mengalir cepat melintasi selang penafasan."Siapkan 200 Joule! Bebaskan saluran napasnya!" perintah dokter dengan nada mendesak.Maya berdiri mematung di sudut ruangan. Dunianya seakan berputar hebat. Mata sembabnya menatap tubuh Johan yang melompat kecil setiap kali sengatan listrik menghantam dadanya. Pria paruh baya yang selama bertahun-tahun menjadi alasan Maya untuk bertahan hidup itu kini tampak begitu rapuh, terkulai di atas bangsal dengan selang-selang yang tak lagi sanggup menopang napasnya."Garis lurus, Dok. Tidak ada r
"Berapa harga yang harus saya bayar agar kamu berhenti merendahkan calon istriku?"Suara berat dan berwibawa itu mengalun rendah, namun sanggup membekukan seluruh udara di lorong ICU.Miranda langsung tersentak kaget. Bahunya menegak kaku saat berbalik dan mendapati sosok Julian Vane melangkah mendekat dari balik bayang-bayang koridor. Aura dominan dan mematikan yang menguar dari pria itu begitu pekat hingga membuat napas Miranda tertahan di tenggorokan. Ini bukan sekadar pria kaya biasa yang ia pernah lihat di TV atau media cetak dan online lainnya, sosok di hadapannya adalah Julian Vane—nama yang kekuasaan dan pengaruh bisnisnya ditakuti serta disegani oleh seluruh kalangan kota ini.Punggung Miranda menempel di dinding dingin. Naluri pertahanan dirinya berteriak panik, membuat lidahnya mendadak kelu.Julian berhenti tepat di samping Maya. Pria itu tidak menampilkan ekspresi murka hanya kharisma yang tidak bisa ditolak, apalagi menggunakan nada nada arogan untuk menindas. Raut waj
"Kak… apa Kakak benar-benar membenciku?"Pertanyaan lirih Maya mengudara di antara keheningan lorong rumah sakit yang dingin. Langkah Miranda yang tadinya hendak menembus pintu kaca ruang perawatan mendadak membeku.Bahu Miranda menegang. Miranda menunduk cukup lama, membiarkan jemarinya meremas tali tas di bahunya sebelum akhirnya perlahan berbalik. Ketika matanya kembali menatap Maya, tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak. Yang tersisa hanyalah binar tatapan yang sarat akan luka lama yang begitu dalam.Miranda memaksa bibirnya mengukir senyum tipis—sebuah senyuman pahit yang justru terasa lebih menyakitkan daripada tamparan."Aku tidak membencimu, Maya," ucap Miranda dengan suara serak yang bergetar. "Tapi melihat mukamu... membuat lukaku terus menganga."Jawaban itu menghantam dada Maya lebih keras dari benda keras apapun. Orang yang dia anggap sebagai keluarga, tak pernah menganggapnya ada.Rasanya begitu sesak hingga membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Kebenaran pahit y
Keesokan harinya, saat membuka mata, Maya mendapati tempat di sisinya sudah kosong.Matanya menatap sprei yang sedikit kusut di sampingnya, mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Rasa panas di kulitnya seolah masih berjejak. Namun, tidak ada rasa penyesalan. Maya tahu persis apa yang ia lakukan. Setidaknya, penyerahan dirinya semalam memberikan jaminan agar Julian tidak lagi melepaskannya begitu saja.Sudah ada wanita lain seperti Clara dan ancaman-ancaman lain yang mengejar posisi di sisi Julian. Jika memang tubuh dan pengabdiannya yang diharapkan Julian, Maya akan memberikannya. Ini bukan tindakan bodoh karena rasa cinta yang buta, melainkan sebuah strategi bertahan hidup di dunia pria berkuasa itu.Gorden tinggi di kamar penthouse itu sedikit tersingkap. Maya turun dari tempat tidur, mengikis jarak menuju jendela dan menyibak tirai sepenuhnya. Hamparan kota dari lantai tertinggi gedung ini menyambutnya—dingin, megah, dan sepi. Seolah tidak ada satu pun yang benar-benar dimilik







