Masuk"Melangkah satu senti saja lagi dari ambang pintu itu, Maya... dan aku pastikan kamu tidak akan bisa berjalan selama seminggu."Suara Julian mengalun rendah dari arah sofa kulit di sudut kamar utama penthouse. Tidak ada nada membentak, tidak ada bentakan kasar. Akan tetapi dari nada dingin suaranya sanggup membekukan telapak kaki Maya yang baru saja hendak menginjak lantai koridor luar.Maya membeku di ambang pintu yang sedikit terbuka.Jemarinya yang memegang gagang pintu gemetar hebat. Ia perlahan berbalik, menatap Julian yang sedang melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja marmer dengan gerakan yang sangat santai—terlalu santai untuk seseorang yang baru saja melontarkan ancaman berbahaya."Aku hanya... mau mengambil udara segar, Julian
"Buka matamu, Maya. Tatap pria yang baru saja membuatmu bergetar seperti ini."Suara berat Julian berbisik tepat di depan bibir Maya yang bengkak dan basah. Napas Julian masih berhembus hangat, memburu pelan di atas permukaan kulit Maya yang memerah.Maya mencengkeram kemeja Julian dengan sisa tenaganya, dadanya naik turun drastis usai gelombang puncak kenikmatan baru saja menghantam seluruh saraf tubuhnya. Matanya terpejam rapat, menyembunyikan rasa malu dan kehampaan yang langsung menyergap begitu pusaran gairah itu mereda.Namun, Julian tidak membiarkannya bersembunyi.Ibu jari Julian yang masih basah terulur, mengusap sudut bibir Maya yang agak gemetar, lalu berpindah menekan dagu Maya dengan cukup kuat—memaksa kepala Maya terangkat.
Julian tersenyum miring saat tatapan matanya menangkap kepasrahan yang mendalam di balik bening iris mata Maya.Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun, tangannya terulur ke samping, menekan tombol kendali di panel pintu. Kaca pembatas tebal berwarna gelap meluncur turun perlahan.Suara deru mesin di luar mendadak meredup, menyisakan ruang sempit yang makin menyergap dan mengisolasi kabin belakang dari area pengemudi di depan.Kini, tidak ada lagi dunia luar. Hanya ada dirinya dan Maya di dalam ruang sempit yang dipenuhi aroma parfum maskulinnya yang berat.Begitu pembatas itu terkunci rapat, Julian meraih kembali tengkuk Maya.Jemari kekarnya menyusup di antara helaian rambut hitam wanita itu, menekan
Sedari tadi Maya hanya menatap kosong ke luar jendela mobil yang membelah keheningan malam. Gaun hitam yang membalut tubuhnya terasa berat, seberat beban hampa yang kini mengimpit dadanya. Pemakaman Johan sudah selesai beberapa jam lalu, tetapi rasa kehilangan itu masih membekukan seluruh isi kepalanya.Di sampingnya, Julian duduk tegak. Tatapan pria itu tidak pernah benar-benar lepas dari sosok Maya."Kamu memikirkan kakakmu itu?" tanya Julian seraya merengkuh tubuh Maya, menariknya mendekat ke dalam pelukan hangatnya. "Kamu mau aku melakukan sesuatu untuknya?"Maya menggeleng pelan di dada Julian. Suaranya seolah tertahan di tenggorokan."Kenapa hubungan kalian tampak tidak baik?" tanya Julian lagi. Suaranya terdengar lembut dan perhatian, tetapi jemari kekarnya mengus
"Ayah...!"Jeritan Maya pecah di tengah lorong yang mendadak terasa mencekam. Tanpa berpikir panjang, ia menerobos masuk ke dalam ruang ICU, menepis setiap ketakutan dan batas steril yang biasanya dijaga ketat.Di dalam ruangan, tim medis bergerak kacau. Dokter spesialis menekan dada Johan berulang kali dengan metode resusitasi jantung paru (CPR), sementara perawat lain sibuk menyiapkan alat pacu jantung (defibrillator) dan mengganti kantong darah yang terus mengalir cepat melintasi selang penafasan."Siapkan 200 Joule! Bebaskan saluran napasnya!" perintah dokter dengan nada mendesak.Maya berdiri mematung di sudut ruangan. Dunianya seakan berputar hebat. Mata sembabnya menatap tubuh Johan yang melompat kecil setiap kali sengatan listrik menghantam dadanya. Pria paruh baya yang selama bertahun-tahun menjadi alasan Maya untuk bertahan hidup itu kini tampak begitu rapuh, terkulai di atas bangsal dengan selang-selang yang tak lagi sanggup menopang napasnya."Garis lurus, Dok. Tidak ada r
"Berapa harga yang harus saya bayar agar kamu berhenti merendahkan calon istriku?"Suara berat dan berwibawa itu mengalun rendah, namun sanggup membekukan seluruh udara di lorong ICU.Miranda langsung tersentak kaget. Bahunya menegak kaku saat berbalik dan mendapati sosok Julian Vane melangkah mendekat dari balik bayang-bayang koridor. Aura dominan dan mematikan yang menguar dari pria itu begitu pekat hingga membuat napas Miranda tertahan di tenggorokan. Ini bukan sekadar pria kaya biasa yang ia pernah lihat di TV atau media cetak dan online lainnya, sosok di hadapannya adalah Julian Vane—nama yang kekuasaan dan pengaruh bisnisnya ditakuti serta disegani oleh seluruh kalangan kota ini.Punggung Miranda menempel di dinding dingin. Naluri pertahanan dirinya berteriak panik, membuat lidahnya mendadak kelu.Julian berhenti tepat di samping Maya. Pria itu tidak menampilkan ekspresi murka hanya kharisma yang tidak bisa ditolak, apalagi menggunakan nada nada arogan untuk menindas. Raut waj







