Maya memutar tubuhnya perlahan, membelakangi cermin dan menyandarkan pinggulnya pada wastafel. Ia menunduk, tak berani menatap iris mata Julian yang menggelap pekat."Maafkan saya... saya tidak bermaksud mengganggu tidur Anda, Tuan," bisik Maya parau, mencoba mengalihkan situasi. "Saya... saya hanya butuh air dingin untuk menyegarkan diri."Julian tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, pria itu melangkah mengikis sisa jarak, mengunci pinggul Maya dengan kedua pahanya. Tangannya terangkat, menyapu setetes keringat dingin di leher Maya dengan ibu jarinya."Air dingin tidak akan bisa memadamkan gairahmu, Maya," ucapan Julian mengalun rendah tanpa dosa, namun matanya menatap bibir Maya yang merekah basah. "Kembali ke ranjang. Jika mimpimu belum selesai, biarkan aku menyelesaikannya secara nyata.""Tu-tuan...Anda salah paham...bukan begitu" ucap Maya gugup.Julian menatapnya datar lewat pantulan cermin. "Kalau begitu, apakah bisa kita tidur lagi? Aku ingin mendapatkan tidur lebih lama, kar
Last Updated : 2026-08-07 Read more