"Saya terima," cicit Maya, suaranya bergetar namun tegas. "Tolong selamatkan ayah saya... saya akan ikuti aturan Anda."Ucap Maya, ia menelan ludah, mengeratkan jas hitam di pangkuannya untuk menutupi dadanya yang masih berdebar hebat. Matanya menatap tepat ke arah Julian yang kini memiringkan kepalanya, menunggu kelanjutan kalimatnya.Julian berbalik sepenuhnya. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat terpatri di sudut bibirnya—bukan senyum ramah, melainkan kepuasan seorang pemenang yang baru saja mengunci mangsanya.Julian melangkah perlahan menuju meja kecil di sudut kamar VIP. Dengan gerakan tenang dan teratur, jemari panjangnya mengambil gelas kaca, menuang sedikit whisky, lalu menyesapnya perlahan. Matanya yang tajam tetap terkunci pada Maya, menilai setiap jengkal respons dari wanita muda di depannya itu.Maya masih duduk kaku di sofa. Jas hitam tebal milik Julian yang mendekap tubuhnya memberikan sedikit rasa hangat, meski dadanya masih bergemuruh hebat. Ia menunggu denga
Last Updated : 2026-07-25 Read more