Share

27 - Ini Bukan Rumah

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-08-15 08:01:18

"Melangkah satu senti saja lagi dari ambang pintu itu, Maya... dan aku pastikan kamu tidak akan bisa berjalan selama seminggu."

Suara Julian mengalun rendah dari arah sofa kulit di sudut kamar utama penthouse. Tidak ada nada membentak, tidak ada bentakan kasar. Akan tetapi dari nada dingin suaranya sanggup membekukan telapak kaki Maya yang baru saja hendak menginjak lantai koridor luar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   31 - Makin Dalam

    Sensasi panas yang memenuhi kamar masih menyisa saat Julian menarik tubuhnya perlahan. Bukannya memberi celah bagi Maya untuk menghirup udara kebebasan, pria itu justru membalikkan tubuh Maya dengan gerakan yang teratur dan penuh dominasi mutlak.Maya tersentak pelan saat kedua telapak tangannya dipaksa menumpu pada dinginnya sprei sutra. Posisi tengkurap dengan pinggul terangkat tinggi membuat napasnya yang baru saja tertata kembali memburu kencang. Dalam remang kamar yang hanya diterangi lampu sudut, ia bisa merasakan tatapan tajam Julian yang menyapu seluruh lekuk punggung mulusnya dari belakang—sebuah tatapan penuh klaim kepemilikan tanpa sisa."Julian... cukup..." cicit Maya parau, matanya terpejam rapat saat rasa hangat kembali merayap di kulit pahanya. "Aku... aku sudah sangat lelah...""Lelah?" Julian terkekeh rendah di atas punggung Maya. Suara beratnya bergetar di keheningan kamar. Pria itu menunduk, menempelkan dada tegapnya yang hangat dan bersimbah keringat tipis ke p

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   30 - Klaim Tanpa Sisa

    "Kamu... milikku... tidak ada yang boleh memilikimu."Bisikan itu mengalun pelan, hampir tak terdengar di telinga Maya. Gerakan Julian begitu lambat, sementara sentuhan jemarinya mengambang halus menelusuri permukaan kulit leher Maya, memicu desir panas yang membuat bulu kuduknya meremang seketika."Ju-Julian..." desah Maya, tubuhnya menggeliat tanpa sadar di bawah kukungan tegap pria itu.Sentuhan lembut namun mengunci itu terasa seperti godaan yang mematikan sekaligus candu. Maya memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menahan gelombang gairah yang mendadak melambung tinggi akibat perlakuan Julian. Sensasi hangat dari jemari Julian seolah sengaja membakar sisa-sisa pertahanan logikanya.Julian tidak memberi ruang untuk Maya berpikir. Pria itu menurunkan bibirnya ke leher halus Maya, menghisap kulit mulus di sana dengan tekanan yang dalam dan sengaja—meninggalkan tanda kepemilikan yang memerah dan menyengat."Julian... jangan..." erang Maya pelan, tangannya yang gemetar naik dan me

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   29 - Nama yang Dihapus

    "Sudah bangun, hm?"Bisikan bernada rendah itu menjadi hal pertama yang menyapa indra pendengaran Maya saat matanya perlahan terbuka. Sinar matahari pagi menerobos tipis dari celah gorden setinggi langit-langit, menyinari kamar utama penthouse yang masih temaram.Maya tersentak kecil saat menyadari posisi tubuhnya. Semalaman ia tertidur lelap di atas dada bidang Julian. Tangan tegap pria itu masih melingkar protektif di pinggang polosnya, mengunci tubuh Maya rapat tanpa memberi celah sedikit pun untuk bergerak.Maya mencoba menggeser tubuhnya mundur, tetapi cengkeraman tangan Julian di pinggangnya justru makin mengetat."Jangan bergerak dulu," gumam Julian seraya menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Maya. Pria itu menghirup aroma tubuh Maya yang baru bangun tidur dengan hembusan napas hangat yang membuat bulu kuduk Maya meremang instan. "Biarkan seperti ini sebentar lagi."Maya menahan napas, dadanya yang kaku beradu langsung dengan dada tegap Julian. "Julian... ini sudah pagi. Lepaska

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   28 - Terperangkap Dalam Buaian

    "Tatap mataku dan katakan kalau kamu membencinya, Maya."Suara serak Julian memecah keheningan kamar yang remang. Pria itu masih mengungkung tubuh Maya di atas ranjang, membiarkan bobot tubuh tegapnya menekan halus kehangatan paha Maya di bawah selimut sutra.Maya berpaling, berusaha menyembunyikan rona merah yang membakar pipinya. Sentuhan Julian yang mengusap jejak air matanya tadi masih meninggalkan sengatan panas di permukaan kulitnya. Hipnotis itu nyata. Setiap kata bujukan Julian yang manipulatif secara ajaib sanggup meredam kepanikan di dadanya, menggantikannya dengan rasa ketergantungan asing yang menakutkan.Julian menyenggol pelan rahang Maya dengan ujung hidungnya, menyusuri garis leher wanita itu hingga memicu gedebuk jantung Maya yang kian melaju liar."Jawab aku, Maya," desis Julian rendah. Jemari tebalnya merayap menyusup di bawah ikatan selimut, membelai pinggang polos Maya yang hanya terbalut pakaian dalam tipis. Usapannya begitu santai namun penuh klaim kepemilikan.

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   27 - Ini Bukan Rumah

    "Melangkah satu senti saja lagi dari ambang pintu itu, Maya... dan aku pastikan kamu tidak akan bisa berjalan selama seminggu."Suara Julian mengalun rendah dari arah sofa kulit di sudut kamar utama penthouse. Tidak ada nada membentak, tidak ada bentakan kasar. Akan tetapi dari nada dingin suaranya sanggup membekukan telapak kaki Maya yang baru saja hendak menginjak lantai koridor luar.Maya membeku di ambang pintu yang sedikit terbuka.Jemarinya yang memegang gagang pintu gemetar hebat. Ia perlahan berbalik, menatap Julian yang sedang melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja marmer dengan gerakan yang sangat santai—terlalu santai untuk seseorang yang baru saja melontarkan ancaman berbahaya."Aku hanya... mau mengambil udara segar, Julian

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   26 - Kuasa Mutlak

    "Buka matamu, Maya. Tatap pria yang baru saja membuatmu bergetar seperti ini."Suara berat Julian berbisik tepat di depan bibir Maya yang bengkak dan basah. Napas Julian masih berhembus hangat, memburu pelan di atas permukaan kulit Maya yang memerah.Maya mencengkeram kemeja Julian dengan sisa tenaganya, dadanya naik turun drastis usai gelombang puncak kenikmatan baru saja menghantam seluruh saraf tubuhnya. Matanya terpejam rapat, menyembunyikan rasa malu dan kehampaan yang langsung menyergap begitu pusaran gairah itu mereda.Namun, Julian tidak membiarkannya bersembunyi.Ibu jari Julian yang masih basah terulur, mengusap sudut bibir Maya yang agak gemetar, lalu berpindah menekan dagu Maya dengan cukup kuat—memaksa kepala Maya terangkat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status