LOGINJulian langsung meraih tetikus dan mematikan layar komputer tersebut dengan satu gerakan kasar. Ia bahkan menarik kabel daya dari balik meja hingga layar monitor itu padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan tipis di sudut ruang kerja.Pria itu terkeh rendah, sebuah cibiran penuh nada meremehkan terpancar dari wajahnya. "Siapa pun yang menyiapkan jebakan ini, aku tidak akan percaya," gumamnya datar. "Aku, Julian Vane, hanya percaya dengan bukti."Maya menahan napas, menatap Julian yang masih berdiri sangat dekat dengannya. Pesan berwarna merah di layar tadi masih terbayang jelas di benaknya. Kalimat itu terngiang-ngiang, menanamkan benih keraguan yang makin membesar di dalam dadanya."Julian..." suara Maya bergetar pelan. "Pesan itu... apa maksudnya? Ayahku membunuh ayahmu?"Julian bergeming sejenak. Pria itu menunduk, menatap wajah Maya yang kini diliputi rasa cemas dan kebingungan. Jemari Julian yang panjang terulur, mengusap lembut rahang Maya, mengunci pandangan wanita itu agar hanya
"Apa itu?" tanya Julian dan Sean hampir bersamaan, menoleh lurus ke arah suster yang berdiri di ambang pintu medis.Suster itu menyerahkan kantung plastik bening tersebut kepada Julian. "Kami menemukannya di saku gaun anak ini saat melepas pakaian luarnya, Tuan. Ada bekas cairan racun di dalamnya."Julian menerima kantung itu, matanya terpaku pada botol kaca mini serta selembar kertas kecil bertulisan tangan yang terikat di leher botol. Huruf-huruf di kertas itu membentuk inisial yang teramat dikenal Julian—inisial nama almarhumah ibu Maya. Segalanya tersusun begitu rapi, seolah menunjuk dengan telunjuk lurus bahwa Maya adalah dalang di balik semua ini.Evelyn mendongak pelan dari bangku tunggu, matanya terbelalak menatap botol itu. "Itu... botol apa, Julian? Jangan katakan kalau..."Maya menahan napasnya. Rasa takut dan cemas membeku di dadanya saat melihat raut wajah Julian yang mengeras. Seluruh bukti fisik seolah dirancang untuk menghancurkannya, dan Maya sudah bersiap menghadapi
"Sejam yang lalu? Artinya dia keracunan di rumahku?" tanya Julian. Suaranya rendah namun penuh penekanan yang menuntut kejelasan.Dokter itu mengangguk pelan, memperlihatkan papan data medis di tangannya. "Benar, Tuan Vane. Racun ini memperburuk penyakit dasarnya dan memicu kejang hebat yang baru saja terjadi. Jika terlambat sepuluh menit saja dibawa ke sini, nyawanya tidak akan tertolong."Evelyn menjerit histeris, menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. "Julian... apa yang diminum anakku? Dia tidak pernah asal mengambil makanan atau minuman. Dia selalu meminta izin padaku jika ingin meminum sesuatu!"Suara Evelyn terdengar sumbang di koridor rumah sakit yang lengang, dipenuhi tangis penyesalan yang pecah. Wanita itu menoleh perlahan ke arah Maya yang berdiri di samping Julian, menatapnya dengan raut wajah hancur namun tanpa nada menuduh yang vulgar."Hari ini... dia hanya minum minuman yang diberikan Nona Maya," lanjut Evelyn lirih, air matanya menetes makin deras.
"Tuan Julian! Buka pintunya! Anak kecil itu... dia mendadak kejang! Apa yang harus kami lakukan"Kepanikan dalam suara Sean langsung menghancurkan keheningan kamar. Julian beranjak dari kasur dengan gerakan cepat, menarik celana dan kemeja hitamnya tanpa sempat mengancingkan bagian dada sepenuhnya. Maya menyambar piyama sutranya, mengikuti langkah lebar Julian yang memutar kunci pintu dan berhambur keluar.“Bodoh, kenapa gak langsung ke rumah sakit! Ayo!”Di lorong depan kamar sebelah, Evelyn berlutut di lantai sambil memeluk tubuh kecil putrinya yang gemetar dan tidak sadarkan diri. Busa tipis muncul di sudut bibir anak itu, sementara pecahan gelas kaca berserakan di sekitar mereka."Julian! Tolong aku! Dia tidak bernapas dengan benar!" jerit Evelyn histeris saat melihat keberadaan Julian.Julian tak membuang waktu untuk bertanya. Pria itu menyambar tubuh anak kecil itu ke dalam dekapannya, melangkah lebar menuju tangga tanpa memperdulikan hal lain. "Sean, siapkan mobil sekarang!" p
Pilihan yang ditawarkan Julian menggantung di udara, terasa tebal di antara deru napas mereka yang saling beradu. Maya menatap pria di atasnya dengan mata bersabut gairah. Pertanyaan itu terdengar begitu arogan, khas seorang Julian Vane yang selalu menuntut kepasrahan total tanpa celah sedikit pun.Maya mencoba menarik napas, mencari sisa kekuatan untuk melawan dominasi pria itu. Namun, pergerakan jemari Julian yang bergerak perlahan di titik sensitifnya membuat tubuhnya justru mengkhianati pikirannya sendiri. Sebuah desahan halus lolos begitu saja dari bibir Maya yang memerah basah."Kamu... selalu memaksaku..." bisik Maya parau, jemarinya yang gemetar tertanam di antara helaian rambut hitam Julian."Aku tidak memaksamu, Maya," balas Julian rendah. Pria itu menyusupkan wajahnya ke leher Maya, memberikan kecupan-kecupan menuntut yang membuat tubuh wanita itu merinding hebat. "Aku hanya memberimu kenyataan. Kamu tidak bisa pergi dariku, dan tubuhmu tahu itu."Julian tidak menunggu jawa
"Lepaskann…. aku tidak akan cemburu pada lelaki yang tidak bertanggung jawab pada anaknya!"Ucap Maya seraya menghentakkan badannya, menepis cengkeraman tangan Julian yang melingkari pinggangnya. Matanya menatap Julian dengan luapan emosi yang membara.Julian bergeming, menatap wanita di depannya dengan kilat mata yang tak tertebak. Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya."Hey.. kenapa kamu marah-marah kalau memang tidak cemburu?"Maya terdiam. Tenggorokannya mendadak mengering. Ucapan Julian barusan memukul telak pertahanan batinnya. Ia memalingkan wajah, enggan menatap binar keangkuhan dari pria yang selalu berhasil membalikkan keadaannya itu."Kamu bahkan tidak bertanya dulu, langsung main tuduh dan marah-marah," lanjut Julian dengan suara beratnya yang mengalun tenang. Pria itu melangkah maju satu tapak, mengikis kembali jarak yang baru saja Maya buat."Bagaimana aku tidak menuduh?!" potong Maya parau, suaranya gemetar menahan gejolak di dadanya. "Wajah anak itu... dan ucap







