LOGIN“Kamu sudah sampai? Syukurlah…selamat istirahat ya…” pesan dari Bening terlihat pop up di layar ponselnya. Nawang tersenyum tipis.“Ya..Mbak juga…segera kasih aku ponakan lucu!” balas Nawang terkekeh sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Kehangatan pancuran air hangat di kamar mandi berhasil meluruhkan sisa-sisa rasa canggung dan pegal usai perjalanan panjang. Nawang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu mengenakan setelan piyama kain katun berwarna krem lembut yang terkesan sopan namun nyaman. Pipinya yang tadi sempat memerah padam akibat insiden telepon salah sambung itu perlahan mulai kembali normal.Sebenarnya bukan salah sambung, sih….Nawang keluar dari kamar, berniat membawa cangkir kosong ke dapur. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendapati Bagas sudah berada di ruang makan kecil yang menyatu dengan dapur bersih.Pria itu tampak jauh lebih segar. Rambut hitamnya yang pendek masih sedikit lembab usai mandi, tersisir rapi ke belakang tanpa tata gaya yang berlebi
“Kita sudah sampai...”Sebuah usapan halus di bahu menyadarkan Nawang dari tidurnya. Ia membuka mata perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan penglihatannya dengan remang lampu garasi. Di sampingnya, Bagas sedang menatapnya lembut dengan senyum tipis di bibir.Nawang buru-buru menegakkan posisi duduknya. “Ah... Sudah sampai, ya, Mas? Biar aku yang menggendong Lily,” tawarnya merasa agak sungkan.“Tidak usah. Biar aku yang menidurkan Lily di kamarnya dulu. Setelah itu baru aku tunjukkan kamar kamu,” sahut Bagas tenang.Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat mereka sampai di kediaman Bagas. Perjalanan memakan waktu lebih lama dari perkiraan karena Bagas sengaja menahan laju kendaraan demi kenyamanan Lily yang tertidur sepanjang jalan.Nawang mengangguk patuh. Ia turun dari mobil, mengambil kopernya dari bagasi lalu melangkah mengekor di belakang Bagas menuju pintu depan. Begitu Bagas menekan bel, tak lama kemudian seorang perempuan setengah baya—mungkin berusia lima puluhan—m
Sementara itu, mobil yang ditumpangi Nawang sudah memasuki kota.Lampu jalanan mulai menyala satu per satu saat sedan hitam yang dikendarai Bagas melaju membelah jalur antarkota. Di dalam kabin, suasana hening menyelimuti. Musik instrumental ber-volume rendah mengalun pelan dari head unit, berpadu dengan dengkur halus Lily yang sudah tertidur lelap di car seat belakang.Nawang memiringkan posisinya, memusatkan perhatian pada anak kecil di belakang. Ia menjangkau selimut tipis Lily yang agak merosot, menariknya perlahan hingga menutupi dada sang balita. Usapan lembut Nawang di kepala Lily membuat napas anak itu makin teratur.Bagas melirik dari kaca spion tengah. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Terima kasih, Wang. Lily kalau sudah tidur memang nyenyak sekali, tapi selimutnya sering terlepas.”“Sama-sama, Mas,” sahut Nawang seraya kembali membetulkan posisi duduknya. “Lucu banget kalau lagi tidur gini. Wajahnya mirip sekali sama Mas Bagas.”Bagas terkekeh pelan. “Banyak yang bilang beg
“Apa ini reaksi Mas Banyu yang selama ini terlihat tidak peduli pada adiknya?” goda Bening di saat suara deru mesin mobil Bagas telah lama lenyap ditelan jarak, meninggalkan pekarangan rumah utama yang mendadak terasa begitu lengang. Banyu hanya terdiam, dia kembali masuk ke ruang tengah tapi tatapannya masih menatap sisah-sisah keberadaan Nawang.Setelah itu, Bening mengumpulkan sisa-sisa cangkir teh dan piring kecil di meja ruang tamu, membawanya perlahan ke dapur. Denting halus keramik yang beradu dengan seng wastafel menjadi satu-satunya suara yang mengisi kesunyian sore itu.Usai membasuh piring, Bening berjalan kembali ke ruang tengah. Langkah kakinya terhenti saat melihat Banyu masih duduk terpaku di kursi kayu dekat jendela. Pria itu menatap lurus ke luar, ke arah jalanan desa yang mulai temaram diterpa jingga senja. Wajahnya tenang, namun tatapan matanya menyimpan beban berat yang enggan ia utarakan.Bening menarik napas pendek lalu melangkah mendekat. Ia berdiri di samping
Suara ketukan bagasi mobil yang ditutup oleh Banyu menandai akhir dari masa persiapan singkat Nawang menuju kota. Banyu melangkah mendekat, menatap adik satu-satunya dengan tatapan yang berat antara rela dan tidak.“Hati-hati di jalan, Wang. Kalau sudah sampai rumah Mas Bagas, langsung kabar-kabari Mas sama Bening,” ujar Banyu seraya merangkul dan mengecup puncak kepala adiknya hangat.“Iya, Bang. Pasti,” bisik Nawang serak. Ia lalu beralih memeluk Bening sebentar, menyerap sisa-sisa kehangatan dari rumah utama sebelum akhirnya masuk dan duduk di samping kemudi.Mobil sedan hitam itu perlahan bergerak meninggalkan pekarangan. Lewat kaca jendela yang terbuka separuh, Nawang menatap Mas Banyu dan Bening yang berdiri berdampingan di bawah naungan pohon mangga. Lambaian tangan Bening yang makin mengecil di kejauhan menjadi penanda bahwa langkah barunya kini benar-benar telah dimulai.Di kursi belakang, Lily—balita tiga tahun itu—sudah duduk manis di car seat khusus anak. Tangan mungilnya
“Lho, ada tamu? Siapa namanya, Dik?” sapa Banyu ramah seraya menunduk ke arah anak kecil yang sedang duduk manis di pangkuan Nawang.Banyu dan Bening muncul bersamaan dari arah ruang tengah. Keduanya cukup terkejut mendapati seorang pria asing duduk di ruang tamu, sementara putri kecilnya yang berusia sekitar dua atau tiga tahun itu tampak asyik memeluk boneka kelinci di pangkuan Nawang.Bagas langsung berdiri dengan raut penuh rasa hormat. “Pak Lurah, Mbak Bening... Maaf sekali pagi-pagi begini saya sudah bertamu.”“Panggil saja Banyu. Kita tidak sedang di kantor desa,” seloroh Banyu ramah, mencairkan suasana hingga disambut kekehan kecil dari mereka yang ada di ruangan.“Ini Mas Bagas membawakan sarapan buat kita, Bang,” sela Nawang mengalihkan perhatian ke kantong di atas meja.“Pas sekali. Kebetulan tadi Mas mau mengajak Bening beli sarapan keluar,” sahut Banyu. Pandangannya lalu tertuju pada Bagas. “Datang cuma untuk mengantar sarapan ini, Mas Bagas?”“Sebenarnya tidak hanya itu,
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te







