Compartir

Mas, Sakit....

Autor: Strawberry
last update Fecha de publicación: 2026-06-24 18:49:07
“Mas… Sakit…” erang Bening meringis, air matanya menetes di sudut mata saat rasa sesak dan robekan kecil mulai terasa di bawah sana. Tubuhnya mendadak kaku.

Banyu berhenti bergerak. Dia mengecup bibir Bening berkali-kali, mengalihkan rasa sakit itu dengan lumatan-lumatan lembut yang menenangkan, sembari tangannya terus mengusap pinggang Bening agar kembali rileks. Pria itu menahan diri dengan sangat keras, membiarkan tubuh Bening beradaptasi terlebih dahulu dengan ukurannya.

Rasanya terlampau se
Strawberry

Bantu support-nya buat Bening, ya!

| 6
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Kejutan

    “Om Hanung ngapain ke sini?” tegur Banyu langsung, suaranya dalam dan menegang.Ia berdiri di depan pintu yang terbuka lebar. Tatapannya mengunci sosok pria tampan dengan mantel panjang yang melangkah santai melintasi halaman, menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya yang disetrika licin.Hanung menghentikan langkah tepat di undakan teras. Senyum tipis mengukir bibirnya, datar tanpa raut bersalah sama sekali. “Sabar dulu... jangan emosi pagi-pagi begini.”“Ada apa, Mas Banyu?”Suara Bening terdengar dari belakang. Wanita itu melangkah menyusul ke pintu, disusul Pak Harjanto, Bu Retno, dan Tara yang ikut bangkit dari meja makan. Kehadiran Hanung yang mendadak seketika mengubah suasana pagi yang hangat menjadi kaku bercampur tegang.Hanung melirik Bening sekilas, lalu mengalihkan pandangannya pada pria berjas di sampingnya. Pria itu dengan sigap melangkah maju seraya menyerahkan sebuah map kulit berwarna coklat tua ke hadapan Banyu.“Ini apa, Om?” tanya Banyu tidak ber

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Selamat Pagi

    “No-No-No, dokter Tara yakin? Aku gak mau Nawang mikir macem-macem tentang aku” tolak Larasati.“Mikir apa emangnya?”Larasati menggigit ujung selimutnya dan terdiam.Di luar pintu paviliun, ketukan Nawang kembali terdengar pelan namun menuntut. "Bang Tara? Apa Kak Laras di dalam?"“Pakai pakaianmu cepat,” bisik Tara tenang meski rahangnya mengetat.Dengan sigap tapi sebisa mungkin tanpa suara, Larasati memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu memakainya kembali dengan jemari gemetar. Tara sendiri dengan cepat mengenakan kemeja dan celana panjangnya. Pria itu menyisir rambutnya dengan jari sebelum melangkah membukakan pintu.Pintu terkuak. Nawang berdiri di sana dengan raut bingung seraya memegang senter ponsel.“Ada apa, Wang?” tanya Tara datar, menutupi kecanggungan yang tersisa.Nawang mencondongkan kepala, mencoba melihat ke dalam paviliun yang remang. “Kak Laras ada di dalam, Bang? Tadi Nawang terbangun mau ke kamar mandi, tapi kok Kak Laras belum di kamar. Mobil Kak

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Malam Yang Sunyi

    Deru air dari kamar mandi masih terdengar halus, memecah sepinya malam di rumah dinas di mana Banyu dan Bening sekarang tinggal. Banyu masih telentang di kasur, menatap langit-langit kamar seraya menggelengkan kepala pelan. Senyum tipis yang geli bercampur pasrah mengukir bibirnya. Rencana malam romantis pertamanya setelah resmi menjadi suami-istri yang dibayangkannya berjalan indah harus kandas seketika oleh siklus bulanan sang istri.“Ning?” panggil Banyu setengah berteriak dari atas ranjang. “Perlu diambilkan pembalut di tas kamu gak?”Pintu kamar mandi terbuka sedikit, hanya menampilkan kepala Bening dengan wajah yang memerah padam hingga ke ujung telinga.“Tolong ambilkan pembalut di tas kain yang merah ya, Mas...” cicit Bening pelan, malu setengah mati.Banyu terkekeh, lalu bangkit merapikan pakaiannya dan melangkah santai mengambilkan keperluan istrinya. Kendati malam itu tidak berjalan sesuai ekspektasi, rasa hangat di dada Banyu tidak berkurang sedikit pun. Ia paham, perja

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah    Malam Pertama

    “Ning... maaf ya belum bisa memberikan istana buatmu.”Banyu menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berbalik menatap Bening yang sedang berdiri di tengah ruang tamu rumah dinas. Pria itu menyapu pandangan ke sekeliling bangunan sederhana yang sepi itu, memancarkan rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan.Bening tersenyum hangat. Ia melangkah maju satu pijakan, menyapukan kedua tangannya ke atas hingga melingkar sempurna di leher Banyu.“Hush! Mas... aku ini bukan ratu yang butuh istana,” potong Bening lembut, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. “Lagipula aku suka dengan kehidupan yang tenang seperti ini. Apalagi ada Mas Banyu di sampingku.”Banyu terkekeh rendah, rasa haru menyusup cepat ke dalam dadanya. Ia mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya di dahi Bening seraya berbisik parau, “Tapi kamu... tetap ratu di dalam hatiku, Ning.”“Gombal,” sahut Bening terkekeh pelan.Belum sempat Bening menarik kembali tangannya, Banyu menyusupkan kedua tangannya ke bawah

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Di Bawah Kepungan Hasrat

    “Dokter Tara... tolong jangan tolak aku lagi... kumohon...”Suara Larasati terdengar serak dan gemetar di ceruk leher pria itu. Napasnya yang berembus hangat menyapu kulit dada tegap Tara yang tak tertutup kain, meninggalkan getaran halus yang menjalar cepat ke seluruh tubuh sang dokter.“Aku sudah menunggu Dokter sejak masih jadi mahasiswa baru... jangan dorong aku menjauh malam ini,” bisiknya lagi dengan nada menghiba yang teramat pasrah.Tara terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya kaku, sementara pikirannya yang masih dibayangi rasa kehilangan atas pernikahan Bening kini makin berantakan oleh keberanian Larasati yang begitu mendadak. Dinding pertahanan yang dibangunnya rapat-rapat terasa goyah.“Laras... jangan gila,” desis Tara dengan suara parau. Tangannya terangkat, berniat mencengkram kedua bahu Larasati untuk mendorong gadis itu memberi jarak. “Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?.”Namun Larasati tidak memberi celah sedikit pun. Sebagai seorang dokter yang paham betul

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Bayang-Bayang yang Tersisa

    “Jadi malam pertama pengantin baru di mana ini?” goda Mbak Lastri seraya mengedipkan sebelah matanya saat Bening sedang membereskan sisa piring bekas tamu di dapur.Pipi Bening mendadak merona. Ia memukul pelan lengan sepupunya dengan lap kain. “Di rumah dinas Mas Banyu, Mbak. Paviliun belakang akan dipakai Dokter Tara malam ini, kasihan kalau dia harus balik ke kota kemalaman.”Mbak Lastri terkekeh pelan, lalu menepuk-nepuk pundak Bening. “Ya sudah, sana berkemas. Kasihan suamimu sudah nungguin di depan mobil dari tadi.”Di ruang tamu yang mulai sepi, Dokter Tara masih berdiri menyandarkan punggungnya di dekat jendela. Di matanya masih tersimpan raut sedih yang teramat dalam. Namun, saat Bening berjalan mendekat untuk pamit, Tara memaksakan bibirnya untuk tersenyum manis. Ia menatap Bening yang kini berstatus istri Banyu—tersenyum bahagia dengan binar mata yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bagi Tara, kebahagiaan Bening adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya merelakan w

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Lurah Tampan

    "Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Dengar Apa Kata Orang!

    Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tolong...

    "Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Perut Saya, Mbak!

    "Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status