MasukSuara ketukan bagasi mobil yang ditutup oleh Banyu menandai akhir dari masa persiapan singkat Nawang menuju kota. Banyu melangkah mendekat, menatap adik satu-satunya dengan tatapan yang berat antara rela dan tidak.“Hati-hati di jalan, Wang. Kalau sudah sampai rumah Mas Bagas, langsung kabar-kabari Mas sama Bening,” ujar Banyu seraya merangkul dan mengecup puncak kepala adiknya hangat.“Iya, Bang. Pasti,” bisik Nawang serak. Ia lalu beralih memeluk Bening sebentar, menyerap sisa-sisa kehangatan dari rumah utama sebelum akhirnya masuk dan duduk di samping kemudi.Mobil sedan hitam itu perlahan bergerak meninggalkan pekarangan. Lewat kaca jendela yang terbuka separuh, Nawang menatap Mas Banyu dan Bening yang berdiri berdampingan di bawah naungan pohon mangga. Lambaian tangan Bening yang makin mengecil di kejauhan menjadi penanda bahwa langkah barunya kini benar-benar telah dimulai.Di kursi belakang, Lily—balita tiga tahun itu—sudah duduk manis di car seat khusus anak. Tangan mungilnya
“Lho, ada tamu? Siapa namanya, Dik?” sapa Banyu ramah seraya menunduk ke arah anak kecil yang sedang duduk manis di pangkuan Nawang.Banyu dan Bening muncul bersamaan dari arah ruang tengah. Keduanya cukup terkejut mendapati seorang pria asing duduk di ruang tamu, sementara putri kecilnya yang berusia sekitar dua atau tiga tahun itu tampak asyik memeluk boneka kelinci di pangkuan Nawang.Bagas langsung berdiri dengan raut penuh rasa hormat. “Pak Lurah, Mbak Bening... Maaf sekali pagi-pagi begini saya sudah bertamu.”“Panggil saja Banyu. Kita tidak sedang di kantor desa,” seloroh Banyu ramah, mencairkan suasana hingga disambut kekehan kecil dari mereka yang ada di ruangan.“Ini Mas Bagas membawakan sarapan buat kita, Bang,” sela Nawang mengalihkan perhatian ke kantong di atas meja.“Pas sekali. Kebetulan tadi Mas mau mengajak Bening beli sarapan keluar,” sahut Banyu. Pandangannya lalu tertuju pada Bagas. “Datang cuma untuk mengantar sarapan ini, Mas Bagas?”“Sebenarnya tidak hanya itu,
“Angg.... Bening.... ah... Bening...”Banyu mengerang rendah saat merasakan kehangatan di dalam sana menjepitnya sangat erat. Ia mempercepat gerakannya beberapa saat lagi, sebelum akhirnya membenamkan miliknya sedalam mungkin dan menyemburkan seluruh benih hangatnya di dalam rahim Bening.Gumpalan gairah itu pecah bersamaan. Banyu menjatuhkan tubuhnya di atas Bening, menyandarkan kepalanya di leher sang istri seraya mengatur napasnya yang sangat terengah. Bening melingkarkan kedua tangannya di punggung Banyu yang basah oleh keringat, mengusapnya penuh kelembutan.Hening kembali menguasai kamar utama. Hanya ada deru napas mereka berdua yang perlahan mulai teratur. Banyu mendaratkan kecupan-kecupan halus di rahang, pipi, hingga dahi Bening yang lelah.“Terima kasih, Ning,” bisik Banyu tulus, menatap mata Bening yang masih berembun manis. “Semoga benih Mas kali ini jadi, ya, biar rumah ini makin hangat.”Bening tersenyum tipis, merapikan rambut Banyu yang basah. “Amin, Mas. Semoga Tuhan
“Mas Banyu tadi menelepon siapa?” tanya Bening seraya merapikan tumpukan pakaian di atas tempat tidur.Banyu tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bening dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang istri.“Tara,” jawab Banyu pelan. “Aku minta tolong dia carikan rumah sewa atau kos yang aman buat Nawang. Yang dekat dengan firma hukum tempat dia magang nanti.”Jemari Banyu mulai bergerak usil, mengganggu tangan Bening yang sedang melipat kemeja.“Oh, ya? Dokter Tara apa kabarnya, ya?” celetuk Bening polos.“Kenapa menanyakan dia? Kangen?” tanya Banyu dengan nada pura-pura cemburu.Bening terkekeh pelan. “Kenapa harus kangen kalau di sini saja sudah ada yang paling ganteng?”Tawa Banyu pecah. Ia gemas lalu mengecup leher Bening bertubi-tubi hingga membuat istrinya geli setengah mati.“Mas... Lepas, Mas! Geli!” pekik Bening pelan.Banyu tidak menggubris. Tangannya justru terulur merosotkan tali daster katun Bening yang tipis, meluruhkan
“Tidak menyangka, kan, bakal bertemu pengacara di desa ini dan malah ditawari tempat magang?” goda Bening seraya menyenggol pelan lengan Nawang saat mereka melintasi halaman rumah utama. “Coba kalau tadi kamu tidak mau ikut ke sungai, mana bisa ketemu?”Nawang terkekeh kecil, rasa berat di dadanya sedikit terangkat oleh godaan sang kakak ipar. “Mbak Bening ini ada-ada saja.”Suara pintu depan yang terbuka menyambut kedatangan mereka. Banyu yang sedang duduk di ruang tengah langsung mendongak, menatap istri dan adiknya yang baru masuk sambil membawa tas plastik berisi makanan.“Dari mana saja kalian?” tanya Banyu, beranjak dari duduknya.“Kan Mas yang minta aku membawa Nawang jalan-jalan,” jawab Bening diiringi senyum.Banyu tersenyum tipis, merangkul pinggang Bening lalu mengecup puncak kepalanya sekilas. Namun, keningnya mendadak berkerut. “Waktunya keramas ini... Bau asam! Ayo, Mas bantu keramasi di kamar mandi.”“Duh... Segitunya pamer di depan orang jomblo,” celetuk Nawang seraya
“Ternyata ada tempat seindah ini di sini, ya, Mbak?” tanya Nawang. Langkah kakinya yang tadinya terseret kini melangkah mendahului Bening, menyusuri jalan setapak di antara rindangnya pepohonan karet.“He-eh. Ini salah satu alasanku betah tinggal di desa ini,” jawab Bening lembut. “Selain karena janjiku pada Bapak dan Ibu untuk tidak meninggalkan desa ini.”Nawang mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Bening dengan pandangan yang dalam. “Mbak... saat Bapak dan Ibu Mbak meninggal dulu, apa yang Mbak Bening lakukan?”Bening tersenyum tipis. Tatapannya menerawang jauh, mengenang masa-masa tergelap dalam hidupnya. “Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi saat itu. Bapak meninggal tidak lama setelah Ibu pergi. Lalu aku menikah dengan Mas Pram. Tapi sehari setelah kami menikah, Mas Pram meninggal... Dia memang meninggalkan banyak harta agar aku bisa bertahan hidup, tapi tetap saja, selama satu tahun aku terus dibodohi dan diakal-akalin sama keluarganya. Dua istrinya.”“Pasti M
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu







